<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559</id><updated>2012-01-14T21:22:38.658-08:00</updated><title type='text'>artikel</title><subtitle type='html'>Anda bisa langsung menulis resensi Anda sendiri dengan klik link komentar.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>213</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6542393690223375894</id><published>2010-05-01T00:35:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:36:07.782-07:00</updated><title type='text'>The Ghost Writer (2010)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Roman Polanski&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu hal yang membuat Saya begitu antusias dengan The Ghost Writer: Saya adalah fan dari film thriller misteri Chinatown (1974) karya Polanski dan Saya selalu menjadi fan film sejenis. Maksudnya, film yang membeberkan misteri dari sudut pandang tokoh utamanya, walaupun di sini Ewan McGregor bukanlah detektif, tetapi ia tetap mengambil posisi detektif bersama penontonnya. Ini adalah cara storytelling yang sempurna untuk sebuah film thriller misteri, yang dipastikan bisa memberi memorable cinematic experience. Berdasarkan novel The Ghost karya Robert Harris, The Ghost Writer adalah sebuah kisah thriller politik dengan tokoh utama seorang penulis (McGregor) yang mendapat pekerjaan untuk menjadi sebuah penulis buku riwayat hidup seorang tokoh politik, mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan), yang belakangan menuai kontroversi sebagai penjahat perang akibat konspirasinya berkaitan dengan Perang Irak. Misteri dibangun dengan petunjuk dari ghost sebelumnya yang baru saja tewas tenggelam, memiliki koneksi yang berkaitan dengan orang-orang di sekitar kehidupan Lang. The Ghost Writer memiliki kasus serius yang menarik dengan pengembangan plotnya yang membuat penonton menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya, tokoh-tokoh memorable yang diperankan dengan baik, tone visual dan scoring yang dingin, serta eksekusi kisah yang sangat manis. Luar biasa. Menegangkan dan menghibur. Salah satu film terbaik tahun ini. (1 Maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6542393690223375894?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6542393690223375894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6542393690223375894' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6542393690223375894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6542393690223375894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/ghost-writer-2010.html' title='The Ghost Writer (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6845688123604205554</id><published>2010-05-01T00:34:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:35:11.683-07:00</updated><title type='text'>Date Night (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Shawn Levy&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam film action-romantic-screwball comedy ini, dua bintang TV top, Steve Carrell dan Tina Fey, berperan sebagai Phil dan Claire Foster, pasangan suami istri membosankan asal New York yang pada suatu malam kencan, kesalahan pahaman tentang pencurian flashdrive membuat mereka harus berhadapan dengan mafia. Itu adalah pengalaman unik yang tidak terlupakan bagi mereka, sekaligus pengalaman menontonyang cukup lucu dan menghibur bagi kita, penonton. Steve Carrell dan Tina Fey adalah kunci dari atmosfir humor film ini. Kalaupun humor-humor di film ini terasa kering, paling tidak Carrell dan Fey membawakannya secara lepas sehingga tetap saja kelihatan menyenangkan. Yang menarik di sini adalah pengembangan plot yang unik, di sepanjang penyelidikannya, pasangan Foster bertemu beberapa pasangan sebagai refleksi kehidupan rumah tangga mereka (diperankan banyak cameo), dan seorang ahli senjata berotot yang tidak pernah memakai baju (Mark Wahlberg). Tentu sangat menyenangkan sekali menghabiskan waktu di bioskop untuk melihat kolaborasi Carrell-Fey yangs sangat komikal dan menghibur dalam satu layar. (1 Maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6845688123604205554?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6845688123604205554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6845688123604205554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6845688123604205554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6845688123604205554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/date-night-2010.html' title='Date Night (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7772924292322927936</id><published>2010-05-01T00:32:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:33:15.609-07:00</updated><title type='text'>Ip Man 2 (2010)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Wilson Yip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayang sekali Saya belum sempat menonton film pertamanya. Ip Man 2 adalah kelanjutan kisah semi biografi grandmaster Ip Man (Donnie Yen) yang sekarang dikisahkan melakukan migrasi ke Hong Kong bersama keluarganya, dan membuka sekolah seni bela diri Wing Chun. Diceritakan dari pemuda bernama Wong Leung (Huang Xiaoming) yang akan menjadi salah satu muridnya sampai konflik antar sekolah seni bela diri. Ip Man 2 memiliki banyak adegan perkelahian yang sangat menarik dan menghibur dengan koreografi yang cantik-credit khusus untuk Sammo Hung sebagai koreografernya. Saya perhatikan sering penonton secara spontan berdecak kagum melihat indahnya gaya bertarung yang ditampilkan. Di sini ada beberapa sequence yang mempertemukan berbagai gaya dari seni bela diri cina. Walau di sini kita tahu kalau masih belum bisa melihat Bruce Lee dewasa, Saya merasa Xiaoming (entah disengaja atau tidak) merefleksikan akting dari Bruce Lee itu sendiri. Untuk semua fans film kung fu, seri Ip Man adalah film wajib khususnya di era sinema modern Hong Kong. (1 Maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7772924292322927936?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7772924292322927936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7772924292322927936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7772924292322927936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7772924292322927936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/ip-man-2-2010.html' title='Ip Man 2 (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5763038994967869103</id><published>2010-05-01T00:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T01:46:03.193-07:00</updated><title type='text'>Iron Man 2 (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Jon Favreau&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Iron Man pertama tidak hanya film yang menghibur, tetapi juga film yang memiliki kualitas. Saya cinta itu. Sayang sekali Iron Man 2 hanya mengulang kembali film pertamanya-seolah-olah film ini hanya menjual sosok War Machine saja, dan anehnya justru menghilangkan poin-poin yang membuat Iron Man pertama banyak menuai pujian. Kali ini, superhero narsis Tony Stark (Robert Downey Jr.) harus berhadapan dengan pesaing bisnisnya di bidang persenjataan, Justin Hammer (Sam Rockwell), yang bekerja sama dengan fisikawan asal Rusia, Ivan Vanko (Mickey Rourke) yang belakangan menjadi Whiplash. Salahkan naskahnya yang ditulis oleh aktor-menjadi-penulis naskah baru Justin Theroux. Sifat narsis Favreau mulai berkembang, disalurkan dengan menjadi Jar Jar Binks film ini. Plotnya datar dan sama sekali tidak memiliki pondasi yang kokoh. Ditambah dengan diselipkannya banyak sub plot kurang penting yang dipanjang-panjangkan, membuat cerita filmnya tampak ditulis ngawur. Ada yang ingat panjangnya sequence Grand Prix (terlihat di trailernya) yang dijaga oleh satpam-satpam yang lebih memilih mengamankan penonton daripada menolong Tony yang siap dibantai di tengah arena? Atau ulang tahun Stark? Theroux terlalu menggampangkan semuanya sampai mematikan logika film ini sendiri. Di film pertamanya, karakter Tony dibuat justru lebih menarik daripada Iron Man itu sendiri, namun di sini sama sekali tidak terlihat ada perkembangan yang menarik dari Tony. Dan sang antagonis, Hammer…siapa Dia lagi? Oh, hanya pesaing bisnisnya. Dan pameran CGI, yea, pertempuran robot-robot yang sangat panjang di akhir film dengan eksekusi secepat kilat. Sangat membosankan dan tidak ada yang menarik untuk disaksikan lagi. (30 April 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5763038994967869103?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5763038994967869103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5763038994967869103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5763038994967869103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5763038994967869103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/iron-man-2-2010.html' title='Iron Man 2 (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2157758960940771935</id><published>2010-05-01T00:30:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:31:06.932-07:00</updated><title type='text'>Clash of the Titans (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Louis Leterrier&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Remake dari film tahun 1981 yang berjudul sama. Clash of the Titans adalah re-imagine dari kisah manusia setengah dewa, Perseus (Sam Worthington). Diceritakan ayah kandung Perseus, Zeus (Liam Neeson), murka karena manusia-manusia yang ia ciptakan kini menantangnya. Ia mendengarkan saran adiknya, Hades (Ralph Fiennes) untuk melepas monster laut Kraken yang akan menghancurkan kota Argos atau kurban berupa putri Andromeda (Alexa Davalos) sebagai gantinya. Apa yang tidak Saya suka dari film aslinya, sudah diperbaiki di versi remakenya. Petualangan Perseus dengan fellowshipnya sudah jauh tampak serius dan meyakinkan.  Dan akhirnya si burung hantu robot Bubo hanya tampil sebagai cameo di sini. Tentu di sini terlihat kalau film ini banyak memiliki perubahan dari versi aslinya. Personil fellowship yang lebih berperan termasuk love interest yang diganti menjadi wanita awet muda, Io (Gemma Artherton) dan lain-lain. Arti Clash di sini berhubungan dengan politik para Titans di Olympus. Sejujurnya, untuk latar belakang konfliknya, kali ini Saya lebih suka jika mereka memakai plot aslinya. Persamaannya tentu kedua film ini sama-sama pamer efek visual-dimana ada kemajuan pesat dalam bidang teknologi selama hampir 30 tahun. Dan lihat adegan Medusa yang sekarang cantik dan semakin berbahaya. Standar tapi menghibur, Saya lebih versi ini dibanding pendahulunya. (30 April 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2157758960940771935?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2157758960940771935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2157758960940771935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2157758960940771935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2157758960940771935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/clash-of-titans-2010.html' title='Clash of the Titans (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-373839411784067961</id><published>2010-05-01T00:29:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:30:08.037-07:00</updated><title type='text'>Clash of the Titans (1981)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Desmond Davis&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini adalah salah satu film paling terkenal dari produser/ahli efek visual stop motion Ray Harryhausen yang tahun ini. Temanya sangat menarik, mengisahkan ulang cerita seorang manusia setengah dewa, Perseus (Harry Hamlin), yang terkenal dilukiskan sedang mengangkat kepala Medusa. Ya, Perseus akan menghadapi Medusa berwajah mengerikan (itu menjadi salah satu sequence yang sangat memorable sampai sekarang) untuk menyelamatkan seorang putri, Andromeda (Judi Bowker), yang akan dijadikan kurban untuk raksasa laut Kraken. Akan ada banyak sekali makhluk mitologi yang dipamerkan dengan efek stop motion yang terkadang terlalu berlebihan. Satu hal di film ini yang Saya suka adalah kondisi dewa-dewa di Olympus benar-benar “clash”. Semua dewa terlihat egois terutama pertikaian antara Zeus (Laurence Olivier)-yang merupakan ayah kandung Perseus-, dengan Thetis (Maggie Smith). Di sisi lain, Saya selalu merasa film ini dibuat terlalu konyol, kekanak-kanakan (tetapi mempunyai pemandangan payudara dan pantat wanita)  dengan banyak lemparan humor kering bagi sebagian penonton dewasa dan bagian terburuknya adalah penampilan seekor robot burung hantu (robot di jaman itu!?) bernama Bubo. Sebagai penonton yang sekarang sudah bertambah dewasa, Saya sekarang kurang bisa menikmati film ini lagi. Film ini dibuat ulang untuk rilis tahun 2010. (30 April 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-373839411784067961?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/373839411784067961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=373839411784067961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/373839411784067961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/373839411784067961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/clash-of-titans-1981.html' title='Clash of the Titans (1981)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-9133584461188839146</id><published>2010-05-01T00:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:28:59.782-07:00</updated><title type='text'>How to Train Your Dragon (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Dean DeBlois &amp;amp; Chris Sanders&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan mudah Saya bisa mengatakan kalau How to Train Your Dragon adalah film terbaik yang pernah diproduksi oleh Dreamworks Animation. Saya yang tidak pernah menjadi fans animasi-animasi dreamworks yang biasanya tumpul dan terlalu kekanak-kanakan, tapi sekarang merasa cukup terkejut dengan kisah film ini yang sangat menyentuh hati tanpa perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya lebih untuk versi 3D nya. Dreamworks seperti sudah belajar mengapa animasi Pixar begitu dicintai sampai saat ini. Ceritanya sangat sederhana. Tentang remaja bernama Hiccup (Jay Baruchel), satu-satunya personil bangsa Viking yang tidak punya nyali dan kemampuan untuk membunuh naga. Sampai akhirnya ia bersahabat dengan seekor naga jenis misterius Nightfury yang dinamainya Toothless (Ompong). How to Train Your Dragon memiliki semua yang diharapkan dari sebuah film animasi. Ia memiliki cerita yang menarik tentang keluarga dan persahabatan dengan hewan. Adegan aksi yang sangat menghibur dan memanjakan mata. Serta hubungan antar Hiccup dan si Ompong yang sangat hangat, tentunya menyentuh penonton di semua umur dan khususnya anak-anak akan bermimpi memiliki seekor naga sebagai hewan peliharaan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-9133584461188839146?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/9133584461188839146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=9133584461188839146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/9133584461188839146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/9133584461188839146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-dragon-2010.html' title='How to Train Your Dragon (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-867353810934496106</id><published>2010-05-01T00:23:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T00:42:21.829-07:00</updated><title type='text'>True Legend (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Yuen Woo Ping&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;True Legend atau dengan judul aslinya Su Qi-Er menceritakankan tentang kisah hidup ahli silat legendaris, Su Can (Chiu Man-Cheuk), sang penemu jurus tinju mabuk. Untuk semua fans film kung fu, True Legend adalah sebuah film wajib. Di sini koreografer silat Yuen Woo Ping langsung turun tangan menjadi sutradara. Ya, akan ada banyak adegan silat dengan koreografi yang breath-taking dengan tingkat kekerasan yang dieksploitasi. Akan ada juga sequence silat yang melibatkan setting CGI dan Jay Chou memakai wig putih. Film ini juga mendapat dukungan dari tokoh film silat legendaris seperti Gordon Liu sebagai sosok tokoh yang sudah lama hilang dari arena film silat jaman sekarang. Walaupun Saya masih sedikit sensitif dengan unsur fantasi film ini, tetapi beberapa poin film ini menjawab kerinduan Saya terhadap film silat jaman dulu. Untuk semua fans film kung fu, True Legend adalah sebuah film yang patut dicoba, dan ambil kesempatan melihat penampilan terakhir yang pendek dan memorable dari (alm.) David Carradine. (30 April 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-867353810934496106?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/867353810934496106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=867353810934496106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/867353810934496106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/867353810934496106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/05/true-legend-2010.html' title='True Legend (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-812444825702964186</id><published>2010-03-24T11:22:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T11:23:46.682-07:00</updated><title type='text'>Hachiko: A Dog's Story (2009)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Lasse Hallstrom&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Semoga ini bukan spoiler, Saya pikir semua orang sudah tahu kisah anjing Akita legendaris asal jepang, Hachiko, yang sampai akhir hayatnya setia menunggu majikannya yang sudah meninggal di stasiun kereta api Shibuya-dan patung sang anjing sekarang berdiri di stasiun itu. Sebelumnya sempat difilmkan oleh jepang dan menjadi hits di negaranya, berjudul Hachikô monogatari (1987). Dan ini adalah versi bulenya dengan Richard Gere sebagai sang professor. Perlu diakui, ini adalah film tear jerker yang sangat efektif-Anda tidak perlu menjadi penyayang anjing untuk ikut berbagi air mata. Akhir cerita yang mengharukan-Saya menonton film ini di bioskop, ketika lampu dinyalakan kembali, Saya melihat banyak penonton wanita menangis. Tokoh Professor Parker (diperankan dengan baik oleh Gere) terutama Hachi sendiri adalah tokoh-tokoh yang sangat loveable dan mereka memiliki chemistry yang pas. Kisahnya sendiri sangatlah hangat, penuh kasih dan cocok untuk semua keluarga. Masalahnya adalah, apakah kisah itu tetap menarik saat dituturkan menjadi sebuah film panjang? Ini jelas contoh adaptasi cerita yang memang sangat sulit untuk dilakukan, dan akhirnya Saya sempat merasa bosan di pertengahan film. Karena ini adalah cerita mengenai penantian. Sejak Hachiko menanti di stasiun sampai film selesai, akan ada banyak sekali repetisi sequence. Sub plot yang variatif memang sudah ditambahkan, tetapi tetap kurang menarik. (25 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-812444825702964186?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/812444825702964186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=812444825702964186' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/812444825702964186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/812444825702964186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/hachiko-dogs-story-2009.html' title='Hachiko: A Dog&apos;s Story (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-8254289191707454826</id><published>2010-03-24T10:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T11:25:30.285-07:00</updated><title type='text'>Shutter Island (2010)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Nilai: A-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Martin Scorsese&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mungkin ini bukanlah tipe film yang diharapkan penonton dari Martin Scorsese. Ini juga bukanlah film tipe oscar-yang Saya yakini adalah alasan mengapa jadwal akhir tahun bisa dimundurkan menjadi februari. Shutter Island adalah film misteri thriller seperti film-film Hitchcock. Berdasarkan novel karya Dennis Lehane (Mystic River, Gone Baby Gone), Shutter Island bercerita mengenai US marshal, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio), dan mitranya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), yang melakukan investigasi terhadap kasus hilangnya salah seorang pasien wanita di Rumah Sakit Jiwa Ashecliff di pulau terpencil Shutter Island. Sekilas, penonton manapun pasti sudah bisa menebak twist terbesar film ini sebelum lima menit pertama. Film ini tidak hanya mengenai bagian klise itu. Tapi ada juga beberapa twist yang mungkin terlewatkan pada first viewing ditambah ending yang tricky. Penuturannya lah yang lebih istimewa. Bagaimana misteri semakin dibuka lantas diburamkan dan realita diparalelkan dengan memori pernikahan, Nazi sampai perang dingin (Saya mencoba untuk menghindari spoiler-Saya banyak menemui review Shutter Island yang penuh spoiler tanpa peringatan sebelumnya). Dan Shutter Island adalah sebuah thriller yang efektif dengan cerita yang mencekam, adegan dan kata-kata yang menjijikkan. Film ini memiliki atmosfir klasik yang kental. Musik di filmnya terdengar seperti film-film misteri thriller era 40an, dan visualnya sangat cantik dalam konteks yang kelam-menyerupai film noir kuno lengkap dengan hujan, petir, rokok, penggunaan layar hijau-dan gaya naratif. Dan tentu saja, Saya pikir bahwa perlu menonton Shutter Island lebih dari satu kali untuk mencerna lebih dalam lagi tentang isi filmnya. (23 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-8254289191707454826?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/8254289191707454826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=8254289191707454826' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8254289191707454826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8254289191707454826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/shutter-island-2010.html' title='Shutter Island (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3441619184992121464</id><published>2010-03-17T11:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T11:18:10.610-07:00</updated><title type='text'>2012 (2009)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: D&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Roland Emmerich&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Emmerich kembali membuat film kiamat yang bagaikan sekuel untuk film pemanasan global-nya dulu, The Day After Tomorrow. Pertama, tentu apa yang ditampilkan dalam film ini membayar tuntas setiap rupiah harga tiketnya-kota LA yang tenggelam, jalanan yang terbelah sampai ke lahar, pegunungan Himalaya yang dihantam ombak, dll. Dengan kondisi: Anda adalah penonton yang siap dibodohi Emmerich dan hanya mengharapkan adegan animasi bencana itu. Visual efeknya memang dashyat sekali. Apa benar 21 desember 2012 nanti akan seperti yang digambarkan di filmnya? Tidak tahu. Siapa peduli? Ini adalah cerita fiksi, Emmerich bebas menghancurkan bangunan apa saja yang ia inginkan. Yang penting adalah visual effectnya memuaskan. Tapi ceritanya? Staff pemerintahan Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor), mengetahui gejala kiamat akibat aktivitas matahari dan tenaga tektonik. Seorang penulis fiksi ilmiah, Jackson Curtis (John Cusack), mengajak mantan istrinya,Kate (Amanda Peet), anak-anak mereka, dan pacar Kate sekarang, untuk mencari kapal-kapal raksasa milik amerika yang disiapkan sebagai Noah’s Ark modern. Emmerich sama sekali tidak ingin belajar, dan tetap mengulangi kesalahan yang sama yang dia lakukan pada The Day After Tomorrow. Dia suka membuat ketegangan murahan. Untuk sebagian penonton (tipe di atas), itu sangat fun. Bagi Saya, itu menjengkelkan. Seperti biasa, akan ada bagian dimana si tokoh utama sebenarnya adalah si pembuat onar, namun ia berhasil meraih simpati orang-orang. Maksud Saya: Siapa gerangan Jackson ini? Anak indigo? Bukan. Nabi? Bukan. Situasi yang tidak logis itu dipaksakan untuk masuk semata-mata demi slogan mentah tentang kemanusiaan. Itu sangat menganggu kenyamanan saat menonton. Terakhir mengenai kontroversi film ini yang dianggap musyrik bagi beberapa lembaga agama di Indonesia, jangan percaya mereka yang bahkan mungkin belum menyaksikan secara langsung film ini. 2012 adalah film yang harmless. Murni hiburan. (17 maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3441619184992121464?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3441619184992121464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3441619184992121464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3441619184992121464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3441619184992121464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/2012-2009.html' title='2012 (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3540961289769636967</id><published>2010-03-17T11:16:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T11:17:00.900-07:00</updated><title type='text'>The Twilight Saga: New Moon (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Chris Weitz&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika seseorang bukan pemuja Twilight Saga dan ketampanan vampir berkulit putih pucat Edward Cullen (Robert Pattinson), maka orang itu pasti di kubu yang sentimen karena hypenya. Saya akui kualitas cerita Twilight dan New Moon memang seperti opera sabun dan fokusnya tanggung dimana-mana, tapi Saya tidak bisa bohong kalau ternyata secara aneh Saya bisa menikmati kedua film itu lengkap dengan unsur cheesy nya sebagai guilty pleasure. Benar-benar cheesy-itu hanya rahasia gadis-gadis Cullen yang sampai bisa histeris di gedung bioskop mendengar one liner Cullen sebagai penutup New Moon. Dalam New Moon, manusia serigala berbadan kekar Jacob Black (Taylor Lauter-dengan gaya rambut yang sudah gaul), akan membuka baju untuk membuat penonton gadis bersorak dan menjadi orang ketiga ketika Edward menghilang meninggalkan Bella Swan (Kristen Stewart) sendirian. Sebenarnya ada topik lain dalam New Moon selain cinta segitiga itu, namun Saya memilih untuk tidak membocorkannya. Dengan cerita yang lebih memaksa dari prekuelnya, eksploitasi fisik sempurna aktor aktrisnya yang tiada henti, dan New Moon tetap seperti drama remaja feminin sekalipun sutradara wanita Catherine Hardwicke yang menyutradari Twilight, sudah digantikan oleh Chris Weitz. Paling tidak film ini mengajarkan kalau jangan sampai urusan cinta mengganggu urusan sekolah. Trio Stewart-Pattinson-Lautner sudah menjadi idola remaja, pendapatan New Moon sudah laris manis, dan sebuah sekuel untuk season selanjutnya, The Twilight Saga: Eclipse, siap dirilis pertengahan tahun ini. (17 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3540961289769636967?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3540961289769636967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3540961289769636967' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3540961289769636967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3540961289769636967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/twilight-saga-new-moon-2009.html' title='The Twilight Saga: New Moon (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1655457483077447047</id><published>2010-03-16T11:28:00.002-07:00</published><updated>2010-03-16T11:29:21.307-07:00</updated><title type='text'>The Song Remains the Same (1976)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Peter Clifton &amp;amp; Joe Massot&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini adalah dokumenter konser “band terbesar di dunia”, Led Zeppelin, di Madison Aquare Garden pada tanggal 27, 28, 29 juli 1973-tetapi jangkauan lagunya sampai pada album Physical Grafitti (1975) tepatnya pada lagu Bron-Yr-Aur. Sebenarnya Saya menyadari kalau film dokumenter musik ini sebenarnya sangat jelek, tetapi kenyataannya DVD-nya adalah salah satu judul yang paling sering Saya putar hingga kini-dan itu hanya karena Saya adalah fan dari Led Zeppelin. Berbeda dengan dokumenter konser The Rolling Stones arahan Martin Scorsese, Shine A Light, yang memang disamping performa band yang cadas, dokumentasinya juga sangat menarik. Bagaimana dengan The Song Remains the Same? Sebenarnya ini adalah sebuah konser yang luar biasa. Tetapi untuk versi film, para pencetus filmnya ingin menambahkan adegan fantasi yang hanya merusak isi konsernya dan memperpanjang durasinya. Seperti contoh adalah sequence fantasi Robert Plant yang menjadi ksatria berkuda menyerupai Monty Python and the Holy Grail, atau sequence milik Jimmy Page yang mencari sosok Hermit tua di atas gunung. Apa tidak ada hal yang lebih menarik untuk disaksikan? Itu jelas menghilangkan mistis dari Zeppelin. Dan dokumentasi konsernya juga tidak baik. Terlalu banyak penggunaan efek saat editing sama sekali tidak terlihat keren-justru sebaliknya, itu terlihat norak. Penampilan Zeppelin (di panggung) memang sangatlah energik dan eksotis. Ada nilai sensualitas yang diumbar Plant yang tampil dengan baju kekecilan khasnya, Jimmy Page dengan double-neck SG nya, John Paul Jones yang menggunakan hairdo Anton Chigurh, dan tenaga John Bonham saat menghantam drum. Trek The Rain Song terdengar sangat indah dalam versi live ini. Ada Dazed and Confused versi 26 menit. Mereka juga membawakan beberapa lagu-lagu hits seperti Whole Lotta Love, Black Dog, Rock n Roll, The Song Remains the Same dan tentunya Stairway to Heaven, Bagian terbaik konser ini menurut Saya adalah pada lagu Since I’ve Been Loving You. (13 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1655457483077447047?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1655457483077447047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1655457483077447047' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1655457483077447047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1655457483077447047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/song-remains-same-1976.html' title='The Song Remains the Same (1976)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5274008886250715151</id><published>2010-03-16T11:28:00.001-07:00</published><updated>2010-03-16T11:28:36.422-07:00</updated><title type='text'>The Final Destination (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: F&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: David R. Ellis&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini adalah film 3d kedua yang Saya tonton setelah animasi Pixar’s Up. Alias merupakan film pertama murni orientasi 3D yang Saya tonton. Saya tidak suka jika para produser terlihat norak dengan teknologi 3D. Menurut Saya, teknologi 3D bukan penemuan yang se-brilian itu. Tapi sekarang penggunaan yang berlebihan justru menambah satu ramalan buruk terhadap masa depan industri perfilman. The Final Destination adalah salah satu korban dari teknologi tersebut. Ini adalah film yang sangat membosankan, klise, dan jelek. Bahkan 3D pun tidak bisa menolong film ini dari rasa jenuh. Yang terburuk dari tiga prekuelnya yang “hanya” menggunakan format 2D. Ceritanya mirip seperti para pendahulunya, beberapa remaja tampan-cantik menjadi survivor dalam sebuah kecelakaan di arena balapan mobil, salah satu dari mereka mempunyai kesaktian untuk menerawang masa depan dan menyadari bahwa kematian akan memburu mereka satu per satu. Orang-orang yang antusias terhadap film ini mengatakan kepada Saya bahwa mereka tertarik melihat cara mati yang kreatif. Jangan harap proses kreatif itu terlihat di sini. Si penulis terlihat mulai malas untuk membunuh tokoh-tokohnya sehingga ada beberapa yang begitu gampangnya dibunuh dengan cara yang paling “umum”, sisanya dibunuh dengan cara yang berlebihan..anehnya. (13 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5274008886250715151?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5274008886250715151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5274008886250715151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5274008886250715151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5274008886250715151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/final-destination-2009.html' title='The Final Destination (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6791880519822051630</id><published>2010-03-16T11:21:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T11:22:27.822-07:00</updated><title type='text'>The Imaginarium of Dr. Parnassus (2009)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Terry Gilliam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal pertama yang perlu diketahui di sini adalah Terry Gilliam sedang membuat film fantasi. The Imaginarium of Dr. Parnassus adalah sebuah fantasi yang psychedelic. Kedua, ini adalah film paling terakhir milik (alm.) Heath Ledger yang hanya sempat menyelesaikan syuting untuk adegan-adegan di London. Ceritanya mengenai grup pertunjukan keliling pimpinan Dr. Parnassus (Christopher Plummer), yang tiba-tiba menemukan seseorang yang tergantung di bawah jembatan, Tony (Heath Ledger), yang selanjutkan akan bergabung bersama mereka untuk membantu memenuhi kesepakatan yang pernah dilakukan Dr. Parnassus dengan seorang Setan, Mr. Nick (Tom Waits), tentang penyerahan anak perempuan sang dokter, Valentina (Lily Cole), saat ia berumur 16 tahun. Cermin ajaib milik Dr. Parnassus memiliki efek imajinasi yang edan seperti saat memakai narkoba. Itu seperti sebuah dunia parallel-yang semuanya divisualisasikan dengan CGI. Cermin tersebut adalah alasan paling logis bagi Gilliam untuk menaruh semua imajinasinya yang ganjil dengan desain megahnya. Untuk tokoh imaginarium Tony sendiri dilanjutkan oleh tiga aktor: Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell. Saya sangat suka dengan sequence-sequence fantasi aneh dan cantik dari kepala Gilliam untuk film ini. Masalahnya sekarang adalah bahwa ternyata Saya tidak terlalu menyukai plot film ini sendiri. (17 maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6791880519822051630?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6791880519822051630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6791880519822051630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6791880519822051630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6791880519822051630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/imaginarium-of-dr-parnassus-2009.html' title='The Imaginarium of Dr. Parnassus (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6958857183827369330</id><published>2010-03-16T11:19:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T11:21:42.070-07:00</updated><title type='text'>Green Zone (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Paul Greengrass&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Matt Damon dan Greengrass adalah dua kolaborator dari dua film Bourne terakhir. Anda pasti tahu gaya visual Green Zone akan menggunakan kamera handheld yang shaky dengan editing yang ketat dari banyak shot pendek. Sangat mirip dengan Bourne. Kisahnya sendiri adalah fiksi, diadaptasi oleh penulis naskah Mystyc River, Brian Helgeland, terinspirasi dari buku non-fiksi Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq’s Green Zone yang menceritakan salah satu konspirasi paling menarik dalam perang Irak. Chief Roy Miller (Damon) memimpin unit yang memburu lokasi-lokasi WMD yang hasilnya selalu kosong. Ia mulai mencurigai intel mereka yang hanya bisa diakses oleh seorang agen intelijen amerika serikat, Poundstone (Greg Kinnear). Dengan bantuan agen CIA Martin Brown (Brendan Gleeson), reporter Lawrie Dayne (Amy Ryan) dan seorang penduduk lokal, Freddy (Khalid Abdalla), Miller mencoba untuk langsung berunding dengan Jenderal Al Rawi (Igal Naor), salah satu orang kepercayaan Saddam, mengenai keberadaan WMD itu. Film perang irak yang ideal? Ya, ini adalah deal terbaik sebuah film yang memilih fokus pada kejadian perang irak itu sendiri untuk saat ini. Cukup mengejutkan ternyata ada yang berani mengangkat kisahnya, konspirasinya-yea, tapi jaman Bush memang sudah berakhir. Ceritanya memang padat. Alurnya cepat. Dan banyak referensi menarik dari dialog-dialognya seperti pada adegan di area penggalian tanah. Green Zone adalah salah satu contoh aksi thriller yang geram dengan cerita yang bagus. (16 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6958857183827369330?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6958857183827369330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6958857183827369330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6958857183827369330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6958857183827369330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/green-zone-2010.html' title='Green Zone (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2381997517006521886</id><published>2010-03-12T10:27:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T10:28:00.747-08:00</updated><title type='text'>Paranormal Activity (2009)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Oren Peli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini adalah salah satu film yang terkenal dengan viral marketingnya. Berbiaya hanya US$ 15.000, keuntungan…jangan ditanya. Saya memang tidak terlalu memfavoritkan film ini, tetapi jujur saja, lantas Saya memberi nilai tinggi untuk film ini dengan pertimbangan ada beberapa adegan yang menghantui Saya sampai menyebabkan susah tidur malam harinya. Terutama di Indonesia-negara dimana hantu adalah hal yang paling ditakuti penduduk-, hype Paranormal Activity sangat kuat seperti sebuah urban legend. Ceritanya mengenai pasangan Micah dan Katie yang sekarang tinggal satu rumah, menyadari bahwa Katie sedang diganggu sosok halus, dan Micah mencoba memecahkan misteri ini dengan merekam aktivitas mereka selama tiga minggu. Apa yang terjadi ketika mereka sedang tidur? Dipastikan sebagai salah satu ekor The Blair Witch Project (1999), film ini dibuat menyerupai sebuah video amatir: kamera handheld, fokus objek yang tidak beraturan, bahkan tidak ada credit dari awal sampai akhir film. Ending film ini ada tiga versi, kebetulan Saya mendapat alternate ending yang lebih “disturbing” daripada theatrical endingnya. Tidak yakin apakah horrornya tetap terasa saat menonton ramai-ramai di ruang theater, karena sepertinya Paranormal Activity dibuat lebih cocok sebagai home-viewing experience. Tutup pintu kamar, matikan lampu, keraskan volume, tonton film ini sendirian. Perlu Saya akui, selain video Mereana Mordegard Glesgorv, Paranormal Activity adalah film paling menyeramkan yang pernah Saya tonton selama bertahun-bertahun terakhir. (12 maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2381997517006521886?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2381997517006521886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2381997517006521886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2381997517006521886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2381997517006521886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/paranormal-activity-2009.html' title='Paranormal Activity (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-195012085284352630</id><published>2010-03-12T10:25:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T10:26:43.943-08:00</updated><title type='text'>Forgetting Sarah Marshall (2008)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Nicholas Stoller&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini adalah salah satu film dari alumnus Judd Apatow, jadi setidaknya sekarang ada sedikit gambaran tentang isi filmnya. Bintangnya adalah sang aktor utama sekaligus penulis naskah Jason Segel. Forgetting Sarah Marshall adalah film feel-good yang sangat lucu dan jujur tentang seseorang yang didepak pacar dan menghadapinya sebagai seorang pria. Peter Bretter (Segel dan penisnya) adalah seorang komposer musik serial TV Crime Scene, telah mengencani sang bintang utama serial tersebut, Sarah Marshall (Kristen Bell), selama lima tahun dan akhirnya ditinggalkan demi seorang rocker inggris eksentrik, Aldous Snow (Russell Brand). Lantas, Peter disarankan berlibur ke Hawaii. Di sana ia mendapat simpati si resepsionis hotel, Rachel (Mila Kunis), yang memberinya inap gratis…tetapi bencana datang ketika Sarah Marshall dan pacarnya juga menginap di hotel yang sama. Empat tokoh utama dalam film ini sangat menarik dan istimewa. Terutama untuk karakter Peter begitu nyata. Sebagian pria akan seperti menertawakan masa lalu mereka sendiri saat melihat refleksi sikap dan pemikiran Peter yang masih terkena sindrom patah hati. Banyak adegan dan situasi yang sangat lucu dan menyenang untuk dilihat selama mereka di Hawaii. Dan yang membuat Saya semakin suka film ini adalah eksekusinya yang memuaskan. Saya tidak akan membocorkan lebih jauh, Anda akan mengerti setelah menonton filmnya. Saya cinta film ini bahkan melebihi dua film top yang memasang Apatow sebagai sutradaranya sendiri, Knocked Up dan 40-Years-Old Virgin. (13 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-195012085284352630?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/195012085284352630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=195012085284352630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/195012085284352630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/195012085284352630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/forgetting-sarah-marshall-2008.html' title='Forgetting Sarah Marshall (2008)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2047560640371126629</id><published>2010-03-09T09:02:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T09:03:54.274-08:00</updated><title type='text'>The Hurt Locker (2009)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Kathryn Bigelow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemarin The Hurt Locker dianugerahi piala-piala oscar termasuk untuk film terbaik, hari ini filmnya diputar di bioskop terdekat. Ini adalah sebuah film drama perang yang mengisahkan tentang seorang penjinak bom professional yang terlihat ceroboh, Sgt. William James (diperankan dengan sangat baik oleh Jeremy Renner-dan dia juga mendapatkan sebuah nominasi untuk ini), yang baru bergabung dengan tentara elit amerika di Irak. Hari-hari bertugas di irak dihitung mundur. James bekerja sama dengan Sgt. Sanborn (Anthony Mackie), seorang negro yang memegang posisi sebagai sniper yang menjadi cover saat James menjinakkan bom-bom. Bigelow dan penulis naskah Mark Boal secara unik memilih untuk memandang perang irak dari sudut pandang seorang monster perang, bukan seorang pahlawan perang. Bagi William: war is a drug. Ada tentara yang ingin cepat-cepat pulang ke Amerika dan berkeluarga, ada yang justru sangat menikmati suasana perang. Selain masalah psikologi seorang tentara amerika itu, ada sebuah drama yang sangat bagus berupa interaksi antara William dan Sanborn dari awal mereka bertemu sampai akhirnya mereka mulai saling mengenal satu sama lain. Film ini juga memiliki beberapa sequence action dan suspense yang diperlihatkan secara detail. The Hurt Locker menyorot salah satu konflik batin yang paling menarik dari sebuah cerita perang. Salah satu film perang terbaik yang pernah Saya lihat selama bertahun-tahun. (9 maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2047560640371126629?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2047560640371126629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2047560640371126629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2047560640371126629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2047560640371126629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/hurt-locker-2009.html' title='The Hurt Locker (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2596846016429976366</id><published>2010-03-09T09:01:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T09:02:18.663-08:00</updated><title type='text'>Haunted Universities (2010)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: F&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sutradara: Bunjong Sinthanamongkolkul, Sutthiporn Tubtim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Entah kenapa sekarang perfilman thai kecanduan membuat horor keroyokan. Saya tahu dari jaman Three, lantas ada Phobia dan sekuelnya, entah apa lagi judul lainnya. Dan yang terakhir Haunted Universities. Film ini juga terdiri dari empat cerita yang terpisah, dan pada akhirnya ditemukan sebuah benang merah yang menghubungkan keempat cerita itu. Ada hantu toliet wanita, hantu kekasih, hantu kamar mayat dan hantu gadis penasaran. Sebenarnya apa perlu Saya menulis artikel ini? Saya cukup menikmati dwilogi Phobia. Tapi Haunted Universities? Ceritanya sangat “maksa”, gampangan, membosankan, tidak menyeramkan, bahkan film ini mencoba melucu di beberapa sequence horror. Dan mengapa ada banyak sekali jenis hantu di sini? Darimana hantu-hantu supporting tersebut berasal? Saya belum menemukan jawaban yang lebih tepat daripada dari naskahnya itu sendiri. (9 maret 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2596846016429976366?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2596846016429976366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2596846016429976366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2596846016429976366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2596846016429976366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/haunted-universities-2010.html' title='Haunted Universities (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5102011013260315819</id><published>2010-03-09T08:53:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:56:43.948-08:00</updated><title type='text'>Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Chris Columbus&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Chris Columbus kali ini gagal untuk memulai seri adaptasi novel seperti yang ia lakukan pada Harry Potter. Saya pribadi belum pernah membaca novel Percy Jackson. Tetapi Saya memang tidak suka dengan plot film ini walaupun temanya memang menarik dan Saya merasakan bahwa ini adalah sebuah feel-good film. Nampaknya dewa laut Poseidon (Kevin McKidd) kembali melakukan poligami dengan manusia bernama Sally Jackson (Catherine Keener) sehingga menghasilkan manusia setengah dewa baru bernama Percy Jackson (Logan Lerman)-berbeda dengan Perseus walaupun akan ada banyak kemiripan diantara mereka. Ceritanya gampangan seperti ini ini: Percy dituduh telah mencuri petir milik Zeus (Sean Bean) dan diancam untuk mengembalikannya dalam 10 hari, di sisi lain, Hades (Steve Coogan) menginginkan petir itu dari Percy dengan cara menyandera sang ibu. Ditemani oleh anak Athena, Annabeth (Alexandra Daddario) dan manusia kambing, Grover (Brandon T. Jackson), Percy harus berhadapan dengan monster-monster yunani untuk melewati jalan tol menuju neraka. Ada banyak hal lucu di sini, mulai dari Medusa (Uma Thurman)-itu adalah bagian paling menarik dalam film ini, sequence di vegas yang diiringi lagu Lady Gaga, Hades yang diperankan Steve Coogan berpenampilan gaul dan (tanpa bermaksud rasis) dewa-dewa yunani tiba-tiba banyak yang menjadi negro. Filmnya memang fun dan enjoyable, cocok dicoba untuk mengisi waktu luang, tetapi filmnya tetap kurang berkenan karena dangkalnya cerita. Bahkan anak kecil pun tetap ingin tahu alasan yang logis mengapa Zeus awalnya menuduh Percy. Maaf untuk terlalu menganggap serius film ini. Saya pribadi merasa kalau cerita filmnya sudah mulai diputar-putar di area yang tidak masuk akal. (9 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5102011013260315819?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5102011013260315819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5102011013260315819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5102011013260315819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5102011013260315819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/percy-jackson-and-olympians-lightning.html' title='Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5429810017570961205</id><published>2010-03-05T07:24:00.001-08:00</published><updated>2010-03-05T07:24:47.726-08:00</updated><title type='text'>14 Blades (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Daniel Lee&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Daniel Lee sebelumnya sudah pernah mengarahkan film kolosal Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon-yang sayangnya belum Saya tonton. 14 Blades adalah kisah yang terlalu “klasik” dengan penggarapan yang terlalu “modern”. Apa itu bagus? Kombinasi yang tidak cocok bagi Saya. Bercerita tentang seorang ksatria sakti (Donnie Yen) bersenjatakan empat belas pedang yang sekarang menjadi seorang buronan kerajaan. Ia dan side-kick sekaligus tawanannya (Zhao Wei), akan berpetualang, bertemu pasukan kerajaan yang saking tololnya sampai tidak bisa membedakan mana pria mana wanita, bertemu bandit gurun (mengingatkan Saya pada Crouching Tiger Hidden Dragon) dan melawan seorang ksatria wanita bernama Tuo Tuo (Kate Tsui) yang memiliki kemampuan selevel penyihir. Satu kondisi yang harus Saya terangkan: bahwa ternyata ini adalah film fantasy! Ketika itu, Saya tidak siap dengan mindset seperti itu. Dan terakhir, 14 termasuk salah satu korban teknologi. Seperti saat seseorang baru bisa memakai program VFX, 14 sangat banyak memasukkan CGI untuk membuat adegan action yang super stylish…dan jatuhnya seperti film aksi modern lainnya…adegannya menjadi sangat tidak masuk akal. Dan praktek gaya MTV yang bermain fast forward (aksi film kolosal memakai fast forward???) juga sangat tidak enak dipandang mata. (5 maret 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5429810017570961205?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5429810017570961205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5429810017570961205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5429810017570961205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5429810017570961205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/14-blades-2010.html' title='14 Blades (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-888314113985312799</id><published>2010-03-05T07:21:00.000-08:00</published><updated>2010-03-05T07:24:02.181-08:00</updated><title type='text'>Tooth Fairy (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Michael Lembeck&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Entah kenapa Dwayne “The Rock” Johnson akhir-akhir ini senang bermain film anak-anak. Dan beruntung dia mendapat peran yang loveable bagi anak-anak. Dan kebetulan Saya senang menikmati film-film keluarga yang fun dan harmless. Tetapi dalam kasus Tooth Fairy ini, mungkin filmnya menghibur, tapi humor sejenis permen yang merubah pita suara benar-benar tidak berfungsi untuk Saya dengan kata lain, humornya sering jatuh menjadi kering. Oh, dan mengenai ceritanya? The Rock mendapat kutukan menjadi peri gigi karena dia mencoba mengatakan kepada seorang anak kalau peri gigi itu tidak ada. Refleksinya sekarang, film ini mencoba untuk memberi tahu kepada anak-anak untuk percaya pada mimpi. Benar anak-anak harus mempunyai mimpi. Tapi lebih sempit lagi, Saya menemukan kesan kalau film ini mengajarkan kalau anak-anak harus percaya pada peri gigi. Jadi pesan moral film ini bullshit kecuali mengenai Fender Stratocaster yang memang gitar kelas peri. (1 februari 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-888314113985312799?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/888314113985312799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=888314113985312799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/888314113985312799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/888314113985312799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/tooth-fairy-2010.html' title='Tooth Fairy (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-8159212657960786679</id><published>2010-01-21T07:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T07:53:25.424-08:00</updated><title type='text'>The Spy Next Door (2010)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Brian Levant&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kita semua tahu The Spy Next Door hanya sebuah guilty pleasure bagi anak-anak untuk mengisi akhir minggu. Filmnya ultramega predictable. Jangan jauh-jauh, bahkan beberapa tahun sebelumnya sudah ada The Pacifier dengan tema yang identik. Lantas kenapa perlu dikritik secara teknis? Kita lihat dari pertama, mantan agen CIA Bob Ho (Jackie Chan) mengurus anak-anak yang membenci mereka, melewati hari-hari dengan sial, menghajar mafia dengan kung fu di depan anak-anak (percaya tidak percaya, bahkan anak-anak itu sendiri sempat menghajar para mafia) dan perlahan anak-anak pun suka kepadanya. Bagi sebagian besar orang, itu sudah pasti sangat membosankan. Bagi semua orang (termasuk Saya sendiri), pasti sudah tahu filmnya dangkal. Tapi anehnya, Saya bisa ikut tersenyum menonton film ini. Terkadang ikut tertawa. Entahlah. (17 januari 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-8159212657960786679?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/8159212657960786679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=8159212657960786679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8159212657960786679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8159212657960786679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/spy-next-door-2010.html' title='The Spy Next Door (2010)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-4686719287469810709</id><published>2010-01-21T07:50:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T08:04:06.231-08:00</updated><title type='text'>Thriller: A Cruel Picture (1974)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Bo Arne Vibenius&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menurut Quentin Tarantino, film grindhouse buatan Swedia ini adalah ini film balas dendam paling liar (lihat saja pengaruhnya dalam Kill Bill). Ini adalah film X-Rated sejati. Film aksi balas dendam yang berisikan adegan seks mesum seperti film porno yang pernah kita tonton. Gaya aksi yang old school: slow motion dan long shot yang ingin membuktikan kalau stunt itu nyata. Peran gadis bisu bermata satu adalah salah satu peran esensial dari ikon film seksploitasi Christina Lindberg. Memang, ini adalah salah satu film balas dendam paling menarik yang pernah dibuat. Salah satu film grindhouse yang paling Saya sukai. Ceritanya sederhana. Seorang gadis yang diperkosa, belajar karate, menembak dan ngebut untuk membunuh orang yang sudah memaksanya menjadi pelacur. Film yang tidak punya batas kejahatan. (21 januari 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-4686719287469810709?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/4686719287469810709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=4686719287469810709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4686719287469810709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4686719287469810709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/thriller-cruel-picture-1974.html' title='Thriller: A Cruel Picture (1974)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7028911111522224499</id><published>2010-01-21T07:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T07:54:24.801-08:00</updated><title type='text'>Rumah Dara (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B+&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Mo Brothers&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karakter Dara pertama kali muncul di film pendek berjudul Dara dengan tema yang mirip film hong kong The Untold Story, sempat dimasukkan ke dalam antologi horror berjudul Takut (DVD nya sudah beredar). Saya tidak begitu menikmati versi film pendek itu, tapi Saya benar sangat menikmati film panjang tokoh Dara yang berjudul Rumah Dara. Masih memakai formula paling klasik dan universal untuk sebuah film slasher…sekelompok anak muda terjebak di rumah sang penyiksa. Kali ini adalah Rumah Dara-yang penghuninya benar seperti robot. Baiklah, Saya yakin Mo Brothers memang tidak ambisius untuk menjadikan ini sebagai thriller tercerdas. Melainkan lebih ingin membuatnya sebagai pengalaman sinematik film eksploitasi kekerasan. Yang membuat film ini memorable tentu karakter Dara, yang sekarang mulai terasa mengapa dia adalah sosok antagonis yang spesial. Sikap dingin, mimik menyeramkan, dan tentu saja penampakan khas wanita indonesia tempo doeloe. Saya yakin tokoh Dara akan menjadi the godmother icon of indonesian blood splattered/torture porn films. (21 januari 2010)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;NB: Untuk sebuah film dengan label 18+, artinya LSF menghalalkan kekerasan berdarah, tetapi mengharamkan seks. Tidak adil.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7028911111522224499?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7028911111522224499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7028911111522224499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7028911111522224499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7028911111522224499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/rumah-dara-2009.html' title='Rumah Dara (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-8420610465627117459</id><published>2010-01-14T03:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T03:54:56.278-08:00</updated><title type='text'>Suster Keramas (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: F&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutradara: Helfi Kardit&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Panjang sekali ceritanya kenapa Saya bisa menonton film ini (Lebih baik jangan ditanya). Pertama, Saya sama sekali tidak keberatan dengan film yang tidak cerdas. Asalkan film itu tidak membosankan dan menjengkelkan. Istilahnya adalah guilty pleasure. Sedangkan, Suster Keramas adalah contoh film sampah-guilty pleasure gagal. Membosankan. Niat menakut-nakuti malah tidak seram. Niat melucu malah jatuhnya kering. Ini adalah film horor nurseploitation (khas Indonesia) yang mirip dengan tema Candyman/Panggil Namaku 3x dicampur dengan sexploitation. Masalahnya adalah, mengapa Helfi Kardit masih berniat membuat sebuah film sexploitation jika ia tahu kalau maksimal hanya akan berani pamer belahan dada? Dari situ sudah jelas keberadaan film ini sangat dipaksakan. Dan anehnya LSF tidak melarang film ini. Aku kehilangan respek terhadap Helfi Kardit sejak film Lantai 13. Di sini Ia bahkan tidak punya niat berpikir untuk menaruh kamera dengan “wajar”. Suster Keramas seperti FTV horror di bioskop…dengan penampilan khusus seniman dari Jepang, Rin Sakuragi. (14 januari 2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-8420610465627117459?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/8420610465627117459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=8420610465627117459' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8420610465627117459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8420610465627117459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/suster-keramas-2009.html' title='Suster Keramas (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3205612537829625991</id><published>2010-01-09T09:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T11:07:06.024-08:00</updated><title type='text'>Sherlock Holmes (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sutradara: Guy Ritchie&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari awal seakan-akan kita sudah diperingatkan kalau Sherlock Holmes versi film ini, tidak sama dengan Sherlock Holmes versi novel (lihat saja dari cast Jude Law sebagai dr. Watson). Guy Ritchie (Snatch dan Lock, Stock and Two Smoking Barrels) membuat interpretasi sendiri tentang Sherlock Holmes. Jauh dari apa yang digambarkan Sir Arthur Conan Doyle. Untuk versi film ini Holmes akan menangani kasus yang lebih-besar-dari-kehidupan: penganut ilmu hitam Tuan Blackwood bangkit dari kubur! Lebih menarik? Hmmm…tidak. Daripada membuat film misteri yang kental, Ritchie lebih memilih membuat film aksi hiburan kelas bulu terbang. Dan memang menghibur. Apa yang ada dalam film adalah serangkaian adegan aksi Zorro dan visual efek ledakan. Selain sebagai pria yang hobi menebak-nebak setiap detail mini, Holmes di sini juga terlihat sebagai jagoan kung fu…dan guru ilmu hitam yang baik. Di sekuel nanti, Harry Potter tentu memerlukan Holmes untuk memecahkan misteri di Hogwarts. (9-januari-2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3205612537829625991?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3205612537829625991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3205612537829625991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3205612537829625991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3205612537829625991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/sherlock-holmes-2009.html' title='Sherlock Holmes (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5107078111416670477</id><published>2010-01-08T08:45:00.001-08:00</published><updated>2010-01-09T09:59:45.754-08:00</updated><title type='text'>Avatar (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sutradara: James Cameron&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama-tama, dari banyaknya biaya yang terpakai untuk film ini, sepertinya itu akan lebih ke visual efek dan 3D daripada plot. Tidak perlu didebat kalau gambarnya sangat apik. Jadi, sudah harga mati untuk menonton Avatar hanya dalam 3D dan layar yang lebar. Anda menonton 2D di layar TV (apalagi iPod), Anda kehilangan sebagian besar poin kemana semua uang itu habis. Saya tidak mengatakan kalau Avatar sebenarnya film jelek. Ceritanya sendiri seperti Charles Darwin yang sedang menulis Pocahontas. Ditambah keprihatian terhadap kasus global warming dan peperangan. Yea, Cameron kembali memberikan cinematic experience seperti dalam Titanic. Misinya memang untuk membawa penonton ke dalam dunia 3D baru. Buktikan salah satunya dengan naga-naga yang terbang di antara tanah melayang! Cameron mungkin saja membawa pulang oscar untuk sutradara terbaik nanti tapi visual effect-nya sudah pasti membuahkan oscar untuk planet pandora dan penghuninya makhluk smurf raksasa yang pintar berakting itu...atau masuk ke dalam best animated feature saja? (8-januari-2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5107078111416670477?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5107078111416670477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5107078111416670477' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5107078111416670477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5107078111416670477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/avatar-2009.html' title='Avatar (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1227298139307590321</id><published>2010-01-03T10:21:00.001-08:00</published><updated>2010-01-09T10:02:02.611-08:00</updated><title type='text'>Sang Pemimpi (2009)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sutradara: Riri Riza&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sekuel dari blockbuster Indonesia, Laskar Pelangi. Sang Pemimpi bercerita mengenai Ikal remaja bersama dua teman barunya. Film ini tidak hanya mengenai penghidupan dan proses pembelajaran, namun juga masa cinta monyet, era dangdut masih menjadi agama, dan sinema Indonesia yang masih bernafaskan seks-dengan sensor film yang masih waras. Sebuah kisah SMA yang sangat jujur. Mira Lesmana, Riri Riza, Andrea Hirata, terima kasih banyak sudah membuat Sang Pemimpi. Saya sangat menikmati tiap detik filmnya yang begitu luar biasa. Sang pemimpi adalah film Indonesia favorit Saya dalam satu dekade ini sejak kebangkitan perfilman Indonesia. (3-januari-2010)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1227298139307590321?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1227298139307590321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1227298139307590321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1227298139307590321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1227298139307590321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/sang-pemimpi-2009.html' title='Sang Pemimpi (2009)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5459181601206644234</id><published>2010-01-03T09:54:00.001-08:00</published><updated>2010-05-01T01:41:52.270-07:00</updated><title type='text'>The 7th Voyage of Sinbad (1958)</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada alasan kenapa film ini kalah jauh dibanding King Kong (1933). Mereka sama-sama mengguncang bioskop dengan efek visual stop motion monster-monster raksasa. Tapi The 7th Voyage of Sinbad benar memiliki formula yang cheesy: jin anak kecil, misteri sebuah puisi, antagonis yang sangat mudah membohongi sang jagoan utama. “Lihat cyclops! Lihat wanita ular menari! Lihat burung berkepala dua! Lihat naga api! Lihat cyclops bertarung melawan naga!(?)” Karya esensial dari ahli efek visual sekaligus produser film ini, Ray Harryhausen. (3-januari-2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5459181601206644234?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5459181601206644234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5459181601206644234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5459181601206644234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5459181601206644234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/01/7th-voyage-of-sinbad-1958.html' title='The 7th Voyage of Sinbad (1958)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-8141376280437397277</id><published>2009-11-06T01:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T01:25:33.793-08:00</updated><title type='text'>Inglourious Basterds</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A+&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;/ / / 6 November 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Weinstein Company&lt;br /&gt;Jenis: Perang, Komedi&lt;br /&gt;Sutradara: Quentin Tarantino&lt;br /&gt;Pemain: Brad Pitt, Christopher Waltz, Melanie Laurent, Michael Fassbender&lt;br /&gt;Penulis: Quentin Tarantino&lt;br /&gt;Sinematografer: Robert Richardson&lt;br /&gt;Durasi:152 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kembali menulis resensi setelah disibukkan kegiatan-kegiatan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tiga kali menonton film ini sejak dirilis di bioskop nasional bulan lalu. Seperti film Tarantino lainnya, Inglourious Basterds adalah jenis film yang akan Saya tonton berulang-ulang, sampai mungkin bisa meniru dialognya dan semakin sering ditonton, rasanya semakin nikmat. Filmnya sangat lucu, menegangkan, sinting dan menghibur. Inglourious Basterds mungkin bukan film terbaik tahun ini, tetapi Saya yakin Saya tidak akan menemukan yang lebih memuaskan lagi—inilah film nomer satu Saya untuk tahun ini. Jika Anda belum menontonnya, fans QT atau tidak—kecuali Anda adalah seorang Neo Nazi atau negro penganut Spike Lee, berhenti membaca tulisan ini (sebelum Saya membocorkan spoiler apapun), dan beli tiketnya untuk pertunjukan hari ini...sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun yang lalu, Quentin Tarantino mengatakan bahwa ia akan membuat sebuah film western spaghetti dengan tema Perang Dunia II. Ya, Inglourious Basterds adalah The Good, The Bad and the Ugly versi eurowar/macaroni combat. Judulnya sendiri diambil dari judul film eurowar kelas b terkenal produksi tahun 1978, The Inglorious Bastards, karya Enzo Castellari (yang juga tampil sebagai cameo dalam film ini). Sekedar sebagai tribute, Saya akan membagi tulisan ini ke dalam beberapa bab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLOT&lt;br /&gt;Mengambil konsep The Good, The Bad and The Ugly, Inglourious Basterds juga menceritakan satu misi suci yang melibatkan tiga pihak—Amerika, Prancis dan Inggris. “Once Upon A Time in Nazi Occupied France”—terdengar seperti tribute untuk Sergio Leone (Once Upon A Time in the West, Once Upon A Time in America)—, Col. Hans Landa (Christopher Waltz) dari Nazi yang dikenal dengan istilah “The Jew Hunter” datang ke sebuah peternakan milik Perrier LaPadite (Denis Menochet)...untuk memburu yahudi. Dari situ muncul gadis yahudi-prancis Shosanna Dreyfuss (Melanie Laurent) yang berhasil lolos dari Landa dan akan menjadi tokoh sentral dalam film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, kita bertemu jagoan perang kita, Lt. Aldo Raine (Brad Pitt) yang memimpin sekelompok tentara yahudi-amerika yang dikenal sebagai The Basterds untuk menyamar ke prancis dan mengupas kulit kepala para anggota Nazi. Masing-masing serdadu memiliki hutang 100 kulit kepala Nazi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun setelah keluarga Dreufuss dibantai, Shosanna menjalankan usaha bioskop dan berkenalan dengan pahlawan perang Nazi, Frederick Zoller (Daniel Bruhl), yang naksir kepadanya. Petualangan Zoller sebagai sniper baru saja dieksploitasi sebagai film propaganda Nazi, Nation’s Pride, oleh sutradara sekaligus petinggi Nazi, Joseph Goebbels (Sylvester Groth), dengan Zoller sendiri yang menjadi bintang film memerankan dirinya sendiri. Perkenalan tersebut membuat premiere Nation’s Pride akan dipindahkan ke bioskop milik Shosanna. Dan berita itu menarik perhatian Amerika dan Inggris untuk membuat jebakan bagi Jerman di dalam bioskop itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKSPLOITASI&lt;br /&gt;Tarantino adalah penggemar film eksploitasi. Dan kecintaannya itu sudah ditunjukkan dengan berbagai tribute yang ia perlihatkan di film-filmnya. Lihat film blaxploitation Jackie Brown yang langsung memakai ratu film blaxploitation, Pam Grier. Atau Kill Bill yang seperti Justice League tokoh-tokoh ikonik film eksploitasi. Dan tentu saja puncaknya di Death Proof. Dalam Inglourious Basterds, ia mencampur adukkan Nazisploitation, Spaghetti Western dan Macaroni Combat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagline dalam trailernya mewakili isi film ini, “Perang dari mata Quentin Tarantino”. Dia membuat ending alternatif untuk Perang Dunia II. Lihat? Film itu tidak selalu harus menjadi reka ulang sejarah. Braveheart dan Merah Putih jelek karena tidak sesuai sejarah? Meh. Film adalah seni. Dan sinema punya kebebasan dan kewenangan tersendiri untuk itu. Tarantino hanya menulis ulang sejarah dengan cara yang agak konyol—Watchmen adalah contoh yang jauh lebih konyol. Tetapi tetap saja perubahan itu sah. Pembuat film itu Tuhan sebuah alternate world, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Tarantino ingin Ennio Morricone langsung untuk mengisi score Inglourious Basterds. Akhirnya batal karena kejar tayang di Cannes dan ia akhirnya memilih-milih karya-karya Morricone sebelumnya ditambah track score beberapa film italia kuno terkenal, musik pembuka The Alamo juga dipakai sebagai musik pembuka film ini dan intro musik tema Dark of the Sun juga sempat terdengar di sini. Oh, Tarantino memang ahli dalam urusan membuat track lagu yang unknown menjadi terdengar cool setelah sinkron dengan videonya. Tidak perlu adegan musikal seperti dalam Reservoir Dogs atau Pulp Fiction. Lagu Cat People milik David Bowie akan jadi lagu yang banyak diincar penonton film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk filmnya ini, Tarantino sampai merealisasikan (dengan cara yang komikal) tokoh nyata seperti Joseph Goebbels, Winston Churcill bahkan Adolf Hitler—Martin Wutkee memerankan tokoh Hitler yang sangat sangat sangat komikal dan lucu. Memasukkan unsur mexican stand off (Saya tidak mengerti mengapa istilah ini harus ikut diterjemahkan oleh penerjemah di Indonesia) sebagai ciri film western spaghetti dan sengaja menaruh negro bernama Marcel (Jacky Ido) sebagai proyeksionis sekaligus kekasih Shosanna—dibandingkan Zoeller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STYLE&lt;br /&gt;Saya lihat Inglourious Basterds adalah film termahal yang pernah dibuat Tarantino—dengan biaya sekitar US$ 70 juta. Dan sekaligus menjadi film tersukses Tarantino melampaui Pulp Fiction.  Ia juga tidak kehilangan ciri khasnya di sini walaupun Inglourious Basterds mungkin adalah filmnya yang paling pop menyaingi Kill Bill volume 1. Di dalam Inglourious Basterds masih terlihat gaya shot-in-the-trunk yang sangat melekat itu dan penuturannya tetap terdiri dari beberapa bab seperti sebuah buku—walaupun kali ini alurnya tidak benar-benar diacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quentin Tarantino adalah salah satu orang terlucu dalam industri perfilman (paling tidak menurut selera humor Saya). Ia selalu membuat film yang komikal, eksentrik dan bajingan atau berpura-pura menjadi serius. Bahkan dalam humor pop pun (lihat adegan tes aksen italia) yang biasanya bukan jenis humor Saya, ia tetap membuatnya menjadi sangat lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarantino ingin meninggalkan kesan vintage dalam filmnya. Logo jadul Universal, opening title yang khas film tua dan font hitam-kuning terlihat dalam film ini. Walaupun sinematografinya memang megah dan modern (termegah dan termodern yang pernah terlihat di film-filmnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan filmnya tetap saja talky. Di promosi memang semua terlihat memegang senjata, tapi peluru yang ditembakkan dalam film ini jumlahnya tidak seberapa. Ini yang membuat khas Tarantino. Jumlah sequence dalam film berdurasi relatif panjang ini bisa dihitung. Biasanya lebih banyak dihabiskan untuk dialog—sekalipun tidak ada pengaruh terhadap cerita, tapi Tarantino punya tujuan jelas mengapa dia sengaja memanjang-manjangkan dialog: filosofi, atmosfir dan refrensi. Saya ambil satu contoh bab pertama saat Landa menginterogasi tuan LaPadite. Bisa saja Tarantino menggantinya hanya sebagai flashback singkat. Tapi jika ia melakukan itu: Kita tidak akan pernah tahu seberapa manis, lucu, cerdik, bengis sosok Landa sehingga horror Landa akan hilang ketika ia berbagi frame dengan Shosanna untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam The Good, The Bad and The Ugly (yang ia sebut sebagai film terhebat sepanjang masa), di dalam Inglourious Basterds juga memiliki konsep yang serupa. Dari tiga pihak yang ingin meledakkan satu audi yang dipenuhi teroris Nazi itu, Tarantino memilih untuk mendeskripsikan secara khusus masing-masing pihak sampai bagaimana mereka bisa berhubungan satu sama lain. Bab pertama milik Shosanna, bab kedua milik Aldo, bab keempat milik agen inggris Archie Hicox (Michael Fassbender).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARAKTER&lt;br /&gt;Tarantino biasa membuat karakter-karakternya sangat berkesan—walau itu karakter utama, maupun karakter asal lewat. Suka memberikan gambaran yang berlebihan (dalam artian yang baik). The Basterds adalah ibarat Dirty Dozen milik Tarantino. Ia memasukkan berbagai karakter unik di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Aldo Raine diambil dari aktor Aldo Ray yang telah membintangi banyak film perang. Dijuluki Aldo The Apache karena ia memilih untuk tidak mengajarkan moral kepada Nazi, melainkan berperang dengan sistem Apache milik suku Indian. Brad Pitt adalah aktor paling top yang pernah bermain di film Tarantino—ketika dalam Pulp Fiction, Travolta masih dalam posisi sebagai aktor tenggelam. Dengan kumis dan aksen amerika yang medok, Brad Pitt tampil baik dan sekali waktu repetisi baris yang diucapkan seperti refleksi dari karakter Tyler Durden di Fight Club.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua anggota unik dalam The Basterds; Sgt. Donny Donowitz (Eli Roth) dan Hugo Stiglitz (Til Schweiger). Donowitz yang dijuluki The Bear Jew dikenal suka memukul kepala Nazi menggunakan baseball bat—dan adegan ketika Hitler marah-marah mengenai julukan The Bear Jew adalah salah satu adegan terlucu dalam film ini. Hugo Stiglitz adalah sosok perwira yang dingin, psikopat, bengis, tidak banyak bicara dan memiliki musik tema tersendiri (lagu tema film Slaughter yang dibintangi Jim Brown) untuk adegan flashback khususnya. Nama Hugo Stiglitz sendiri diambil dari nama aktor yang sering membintangi film mexploitation (eksploitasi orang meksiko; seperti tema favorit Robert Rodriguez) kuno, Hugo Stiglitz. Baik Roth maupun Schweiger adalah seorang sutradara. Roth terkenal dengan Hostel-nya dan menyutradarai film Nation’s Pride yang diputar di film ini, sedangkan Schweiger baru-baru ini membintangi film buatan Uwe Boll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quentin Tarantino memang yang pantas dijuluki bajingan tak terhormat nomor satu di sini. Di jajaran cast, gelar itu pantas diraih oleh Christopher Waltz. Tarantino sempat mengatakan kalau Hans Landa adalah karakter terbaik yang pernah ia ciptakan. Dan peran itu dilakukan dengan sangat brilian oleh Waltz. Di awal tahun nanti, Waltz harus ada dalam acara oscar, minimal sebagai nominator, kalau bukan sebagai pemenang. Dia membawakan gambaran peran kolonel Hans Landa yang komikal sekaligus keji itu bisa dibandingkan dengan Jack Sparrow milik Johnny Depp atau Joker milik Heath Ledger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Shosanna yang sebenarnya merupakan karakter paling sentral dalam film ini. Diperankan oleh Melanie Laurent (Senang melihatnya di film ini). Selain sebagai (lagi-lagi) wanita yang ingin membalas dendam, Shosanna digambarkan sebagai wanita dengan keeksotisan film noir. Smoking woman in red.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pihak yang membantu dalam misi ini. Diantaranya adalah aktris populer jerman sekaligus agen ganda inggris Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger). Dia adalah penjelmaan penari yang juga agen ganda, Mata Hari—dalam salah satu adegan permainan kartu, referensi ini terlihat. Dan pihak inggris ada kritikus film merangkap agen inggris Archie Hicox. Beberapa orang tidak mengenal wajahnya, dia muncul di adegan yang melibatkan cameo Mike Myers, Fassbender memiliki kumis, sedangkan ketika pertemuannya dengan Hammersmark, Fassbender adalah serdadu tanpa kumis yang berbicara bahasa jerman dengan menggunakan logat inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIL&lt;br /&gt;Tarantino memperhatikan hal sekecil aksen. Rata-rata situasi adegan tiba-tiba meruncing akibat aksen yang salah. Dan banyak juga hal trivial yang ingin disampaikan. Seperti contoh kebudayaan pasukan jerman memesan tiga scotch itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada yang Saya lewatkan, Inglourious Basterds adalah film terlucu sejak American Dreamz. Semua humor tentang negro, The Kid, Lillian Harvey, kejanggalan aksen, berhasil memancing tawa Saya. Dan salah satu bagian terbaik dalam film ini adalah eksekusinya yang luar biasa manis.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan terutama jika Anda adalah seorang fans, dialog renyah khas Tarantino yang sebenarnya menjadi kekuatan utama film ini tentunya yang paling ditunggu. Dimasukkan ke dalam plot yang jenius membuat Inglourious Basterds adalah sebuah instant classic!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-8141376280437397277?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/8141376280437397277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=8141376280437397277' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8141376280437397277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8141376280437397277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/11/inglourious-basterds.html' title='Inglourious Basterds'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7151851640193359309</id><published>2009-11-06T01:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T01:23:22.750-08:00</updated><title type='text'>The Hangover</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 6 November 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Komedi&lt;br /&gt;Sutradara: Todd Phillips&lt;br /&gt;Pemain: Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha&lt;br /&gt;Penulis: Jon Lucas &amp;amp; Scott Moore&lt;br /&gt;Sinematografer:&lt;br /&gt;Durasi: 100 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hangover adalah film yang sangat lucu. Ketika mengenai ras, memang terlihat kaukasia adalah ras nomor satu di Hollywood. Ketika mengenai seks, candaannya tidak kekanak-kanakan. Saya tahu ada banyak klise di dalamnya. Tetapi film tipe seperti ini tidak perlu dinilai secara akademis, teknis dan tidak perlu oscar. Sekarang apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hangover dibuat oleh Todd Phillips yang juga membuat film Old School dan Road Trip. Bisa dilihat banyak persamaan diantaranya. Karena Saya belum melihat Old School, Saya coba ambil perbandingan dengan Road Trip. Mulai dari perjalanan sekelompok lelaki yang menghadapi masalah yang sebenarnya kecil dan konyol, lantas eksekusinya juga tak kalah konyol. Juga sama-sama memiliki karakter nerd yang biasa dipojokkan teman-temannya untuk mengeluarkan credit card. The Hangover adalah Road Trip versi pria dewasa (yang mencoba bertindak seperti remaja cowok). Dan dibandingkan Road Trip atau komedi sejenisnya, The Hangover jauh lebih lucu dan menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan dibuka dengan teaser yang memperlihatkan kondisi mengerikan. Phil (Bradley Cooper) dengan kondisi urak-urakan, darah di mulutnya, dan lokasi di daerah tandus mencoba menelepon seorang wanita dan mengatakan bahwa temannya, Doug (Justin Bartha) tidak akan bisa datang di hari pernikahannya. Seberapa kacau? Kacau sekali. Terutama jika Anda pernah menjadi bujangan dan mengacaukan malam bersama teman-teman dekat, rasanya benar-benar messed up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dimulai dari dua hari sebelum prolog itu, sebuah pesta bujang (ya, pesta bujang. Tema paling universal dan klasik di genre seperti ini. Boys will be boys) yang diadakan sekelompok pria; Phil, Doug, Stu (Ed Helms) dan Alan (Zach Galifianakis), calon adik ipar Doug. Mereka akan melakukan perjalanan ke Vegas. Menginap di Caesar’s Palace. Semenyenangkan itu. Tetapi rupanya pria-pria ini tidak bisa terkontrol di Vegas. Di keesokan pagi, tiba-tiba Doug menghilang. Kamar mereka hancur lebur, TV, kursi, tirai, termasuk ada ayam, harimau bahkan seorang bayi. Stu yang seorang dokter gigi bahkan sekarang kehilangan satu giginya. Separah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dalam petualangan mencari temannya yang hilang, mereka menemukan kalau mereka sekarang mengendarai mobil polisi, menyandera mafia cina Mr. Chow (Ken Jeong), menikahi seorang penari telanjang, Jade (Heather Graham), bahkan harus berurusan dengan Mike Tyson. Itu adalah situasi-situasi yang tak terduga dan kita melihatnya menjadi sangat lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan dilakukan oleh seorang pria tampan, seorang nerd dan bintangnya, Alan, pria overweight brewok yang biasanya memandang kasus dari kaca mata orang idiot. Sebodoh Dustin Hoffman dalam Rain Man—parodi Rain Man di sini membuat Saya rindu ingin menyaksikan kembali Rain Man. Yeah, tiga tokoh unik dalam satu paket. Perjalanan apa yang lebih lucu dari itu? Walaupun kritikus pun tidak perlu menilai akting aktor-aktor di sini. Mereka tampak bermain sangat lepas dan sangat menikmati peran mereka. Begitu juga dengan Todd Phillips. Ia sepertinya sangat menikmati film barunya ini. Dan kebetulan filmnya menghibur (dan juga bagus). Saya sebagai penonton juga bisa ikut menikmati filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskahnya ditulis oleh Jon Lucas dan Scott Moore yang membuat Ghost of Girlfriends Past dan Four Christmases.The Hangover bukan seperti film-film Judd Apatow. Film ini bukan film manis (kecuali Heather Graham yang memang manis). Dan karena Saya kurang bisa menikmati candaan-candaan Apatow, The Hangover ini terasa jauh lebih nakal, kotor, liar, tak terkontrol, teler, alkohol yang membuatnya menjadi lebih lucu. Salah satu yang terbaik di genrenya selama beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, jenis American Pie adalah salah satu yang paling terkenal menyaingi The Fast and the Furious. Seharusnya, daripada mengikuti American Pie 4 dan 5, orang-orang memilih untuk menonton The Hangover. Tetapi sambutan di bioskop kurang hangat. Ugh, Saya benci hal semacam itu. Tidak ada nama franchise dan kurangnya promosi? Itu kenapa Saya mencoba untuk menulis resensi ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya tidak akan banyak membocorkan isi film ini. Ajak teman-teman sepermainan menonton The Hangover. Saya yakin, itu membuat weekend menjadi menyenangkan; menonton rame-rame sebuah film untuk seru-seruan. Satu lagi. Eksekusi film ini sangat manis sekali.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7151851640193359309?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7151851640193359309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7151851640193359309' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7151851640193359309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7151851640193359309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/11/hangover.html' title='The Hangover'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-980337481176810674</id><published>2009-09-09T13:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T13:03:49.220-07:00</updated><title type='text'>G.I. Joe: The Rise of Cobra</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: D+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 7 September 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Paramount Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Stephen Sommers&lt;br /&gt;Pemain: Channing Tatum, Marlon Wayans, Sienna Miller, Ray Park&lt;br /&gt;Penulis: Stuart Beattie &amp;amp; David Elliot &amp;amp; Paul Lovett&lt;br /&gt;Sinematografer: Mitchell Amundsen&lt;br /&gt;Musik: Alan Silvestri&lt;br /&gt;Durasi: 118 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.I. Joe adalah film berdasarkan mainan plastik buatan Hasbro seperti Transformers. Tahun ini Paramount dan Hasbro mengeluarkan dua film mainan mesin uang mereka. Transformers: Revenge of the Fallen yang lebih dulu keluar, mendapat nilai minimum dari Saya. G.I. Joe juga sama-sama Saya beri nilai merah, namun setidaknya film ini tidak sebusuk, semelelahkan dan semenjengkelkan Transformers: Revenge of the Fallen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.I. Joe adalah nama sebuah tim militer elit yang terdiri dari beberapa pasukan dengan keahlian di bidang masing-masing. Dalam dunia G.I. Joe ada banyak sekali karakter-karakter dengan asal usul yang cukup singkat. Ada tentara lapangan, pilot, ahli menyamar, senjata berat sampai yang paling ikonik dan terfavorit, seorang ninja bule berkostum kulit yang sedang menjalani vow of silence, Snake Eyes (Ray Park—aktor yang memerankan Darth Maul dan X-Men’s Toad). Organisasi antagonis bernama Cobra juga memiliki satu ninja, Storm Shadow (Byung Hun-Lee) yang menjadi lawan akrobat Snake Eyes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar pengingat saja, sub-title film ini adalah The Rise of Cobra yang artinya organisasi Cobra baru akan terbentuk dalam seri ini—Destro dan Cobra Commander masih belum muncul dalam wujud akhirnya atau kasarnya, akan ada sekuel. Untuk seri pertama ini, diceritakan satu senjata rahasia ultramega berbahaya yang bisa memberikan efek kehancur yang luar biasa bernama nanomite yang sedang jatuh ke tangan yang salah, seorang desainer senjata berlogat Skotlandia bernama James McCullen (Christopher Eccleston).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan daftar karakter dalam film ini sekaligus plot filmnya, pimpinan G.I. Joe, Jendral Hawk (Dennis Quaid), baru saja merekrut dua anggota baru, seorang tentara lapangan, Duke (Channing Tatum) dan ahli penerbang Ripcord (Marlon Wayans). Bersama dengan Snake Eyes, sosok negro stereotype macho, ganas dan angker ahli senjata berat Heavy Duty (Adewale Akinnuoye-Agbaje), hacker Breaker (Said Taghmaoui) dan wanita tangguh Scarlett (Rachel Nichols), mereka bersama-sama mencegah keempat misil nanomite agar jangan sampai menghancurkan objek target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snake Eyes memiliki Storm Shadow sebagai partner sirkusnya. Seorang karakter antagonis sentral, wanita tangguh yang memiliki masa-masa romantis dengan Duke, The Baroness (Sienna Miller—yang nyaris tidak bisa dikenali), adalah lawan catfight Scarlett dari The Joes. Marlon Wayans memerankan Ripcord yang sebenarnya berfungsi lebih sebagai badut dengan segala tingkahnya yang ceroboh, bodoh dan slapstick. Namun untungnya ia juga diberi kesempatan untuk mencium Nichols dalam film ini. Aktor muda yang sedang naik daun, Joseph Gordon-Levitt berperan sebagai ilmuwan bertopeng The Doctor yang akan menjadi Cobra Commander di film berikutnya. Ada pula dua cameo dari film yang membesarkan Sommers, The Mummy, yaitu Brendan Fraser sebagai Sergeant Stone dari The Joes dan  Arnold Vosloo sebagai ahli penyamaran di Cobra, Zartan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini seperti X-Men pertama lengkap dengan merekruit dua tokoh sentral ke dalam tim, menceritakan sedikit latar belakang para member The Joes—di sini menggunakan flashback. Jika Brian Singer mengambil proyek G.I. Joe mungkin dia akan fokus kepada tokoh-tokohnya yang berhamburan. Tapi tidak untuk Sommers, ia tetap mengedepankan pameran aksi, ledakan, dan efek visualnya. Maaf Saya harus memberi tahu ini, mendengar empat misil diluncurkan jadi mengingatkan Saya terhadap tragedi 9/11 terlebih karena salah satu misil ditujukan ke The White House.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, teknologi di film ini memang sangat canggih. Bahkan lebih canggih dari mobil yang bisa salto dan menghilang dalam Die Another Day. Ada kostum metalik yang bisa bergerak sesuai pemikiran kita, markas di daerah kutub, dan pesawat yang bisa mengidentifikasi perintah berbahasa (kalau Saya tidak salah ingat) Celtic. Ia membuat film mainan yang memenuhi fantasi anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa Stephen Sommers dan Michael Bay (mungkin Rob Cohen lagi satu sebagai pengganti Sommers dalam The Mummy: Tomb of the Emperor Dragon) bagai pinang dibelah dua. Saya jarang bisa menikmati karya-karya mereka yang cenderung membuat film untuk memanjakan mata bocah laki-laki berumur 13 tahun dengan ledakan dari opening credit sampai ending film dan gadis cantik. Dalam seri kedua Transformers, Saya sudah mulai bosan dengan smack down robot-robotan itu. Dan di G.I. Joe adalah extravaganza ledak-ledakan khas militer dengan bonus senam aerobik ninja. Itu pasti terdengar menyenangkan bagi orang lain. Tapi melihat aksi yang tidak habis-habis juga selama hampir dua jam bukanlah jenis film yang bisa menghibur Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali, satu killer scene G.I Joe memperlihatkan penghancuran salah satu bangunan ikonik dunia, Menara Eiffel di Paris—sementara dalam Transfomers: Revenge of the Fallen, ada robot memanjat piramida di Mesir. Sequence eye candy itu memerlukan waktu puluhan menit ditambah Ripcord dan Duke versi CGI memakai kostum canggih melompat-lompat di jalanan sambil menghindari tembakan. Lagi-lagi, ini hanyalah sebuah sequence uji coba senjata seperti yang kita lihat dalam Terminator Salvation. Kalau bisa begitu, rasanya mudah sekali untuk menulis naskah film aksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa film musim panas memang harus memiliki naskah buruk? Apa kadar aksi harus berlebihan seperti ini? Saya hanya bisa memastikan bahwa jika Anda ingin menonton G.I. Joe (Entah Anda fans Snake Eyes, kolektor mainan G.I. Joe, fans Sienna Miller yang ingin melihat sang idola memakai baju ketat dan payudara yang diperbesar atau sekedar ingin menghabiskan waktu luang), nama Stephen Sommers sebagai sutradara sudah berkata jauh lebih banyak daripada trailer dan sinopsisnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-980337481176810674?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/980337481176810674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=980337481176810674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/980337481176810674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/980337481176810674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/09/gi-joe-rise-of-cobra.html' title='G.I. Joe: The Rise of Cobra'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5326381937951593582</id><published>2009-09-07T22:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T02:34:53.388-07:00</updated><title type='text'>Merantau</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 6 September 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Merantau Films&lt;br /&gt;Jenis: Aksi&lt;br /&gt;Sutradara: Gareth Evans&lt;br /&gt;Pemain: Iko Uwais, Sisca Jessica, Christine Hakim, Donny Alamsyah&lt;br /&gt;Penulis: Gareth Evans, Daiwanne Ralie (penerjemah)&lt;br /&gt;Sinematografer: Matt Flannery&lt;br /&gt;Durasi: 135 menit&lt;br /&gt;Rating: Dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan agustus ini, ada dua film Indonesia besar yang menjadi sorotan utama dunia sinema Indonesia: film silat berjudul Merantau dan film perang berjudul Merah Putih. Dua film ini memiliki beberapa persamaan: 1) Dipromosikan secara besar-besaran. 2) Merupakan hal yang relatif baru sejak kebangkitan kembali perfilman indonesia. 3) Diperankan Donny Alamsyah. 4) Sama-sama dikomandoi bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, Merantau adalah film kelas B dengan promosi kelas A—sudah sampai membuat character poster untuk tokoh pendukungnya. Sebelum Anda mengecapnya sebagai kritikan, Indonesia memang sudah banyak memiliki film B baik itu disengaja (film-film horror pada umumnya dan koleksi KK Dheraj) maupun tidak disengaja seperti film gore yang semakin banyak diproduksi belakangan ini termasuk jenis eksploitasi seni bela diri macam Merantau. Sering saya senang menikmati film B. Tapi khusus untuk Merantau, entah Saya harus mengkategorikan film kelas C atau Z, film ini adalah hiburan yang sangat sangat sangat melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuda (Iko Uwais) adalah pemuda Minang Kabau (Sumatera Barat) yang jago silat Harimau. Di sana, jika seorang pemuda ingin membuktikan diri menjadi orang, ia harus menjalani tradisi Merantau. Pergi meninggalkan ibundanya, Wulan (aktris Indonesia favorit Saya Christine Hakim), dan kakaknya, Yayan (Donny Alamsyah) yang sudah lebih dahulu pergi Merantau, Yuda mengembangkan sayap ke ibu kota, Jakarta, untuk mengajar silat. Di Jakarta, ia mencari masalah dengan germo bernama Johni (Alex Abbad) yang melakukan kekerasan terhadap seorang penari gogo cantik, Astri (Sisca Jessica).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perantauannya, Yuda bertemu dengan Eric (Yayan Ruhlian), sesama pemuda Minang Kabau yang mencari uang dengan mengikuti pertarungan-pertarungan ilegal, Adit (Yusuf Aulia), si pencopet kucel yang ternyata adalah adik kandung Astri dan dua bule Ratger (Mads Koudal) dan Luc (Laurent Buson) yang merupakan pelanggan nomor satu Johni. Dalam kota penuh kekerasan, ada satu orang yang akan bertarung—Yuda, yang akan menendang pantat anak buah Johni dan dua bule itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa alasan Yuda ke Jakarta? 1) Mengajar silat seperti yang ia bilang di filmnya. 2) Agar setting filmnya bisa pindah dari Minang Kabau ke Jakarta. 3) Untuk memukul orang-orang Jakarta. Di sepanjang film, Yuda menggunakan ilmu silatnya untuk membela wanita lemah yang bahkan bukan merupakan love interestnya. Ia memang menemukan refleksi buruk dari dirinya pada Eric. Tapi Yuda sendiri menegakkan hukum secara ilegal sebagai vigilante. Tidak ada polisi dan pistolnya, baku hantam di sepanjang film. Jakarta adalah kota yang korup, huh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plotnya mirip dengan film thailand Ong Bak. Ceritanya memang buruk—tapi itu memang sudah standar film kelas B eksploitasi seni bela diri. Gareth Evans memuat baris promosi bahwa Merantau akan memperkenalkan “silat” kepada dunia. Justru dari semua pesan yang ingin disampaikan, Saya lebih menangkap dengan nasihat tersurat yang dikemukakan Christine Hakim bahwa tidak perlu merantau untuk membuktikan diri sebagai pria sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Merantau, Evans membuat film dokumenter The Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat bersama Christine Hakim. Saya yakin itu ada hubungannya dengan casting Hakim untuk film ini. Iko Uwais mungkin akan menjadi idola baru setelah Merantau—ia tampan, atletis dan memiliki kesan suka menolong yang lemah. Dari beberapa sisi, ia mirip Tony Jaa saat ia membintangi Ong Bak. Dan Sisca Jessica tidak mendapat porsi banyak untuk perannya (berperan sebagai penari gogo, ia tidak pernah ditunjukkan menari gogo di film ini) kecuali untuk berteriak “tai!” berkali-kali ke Johni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sangat sangat merasa bersalah jika memandang sebuah film murni hiburan dari sudut pandang kualitas. Dalam Merantau, tonjokan menggantikan porsi dialog. Didukung dengan koreografi pertarungan yang wah, pergerakan kamera yang dinamis, aktor-aktor yang memang bisa berkelahi, seharusnya memang Merantau bisa menghibur. Merantau memang menghibur—tapi, seperti yang Saya bilang tadi, terlalu banyaknya aksi dalam filmnya dan durasi yang terasa terlalu panjang membuat filmnya sendiri tidak menghibur, justru melelahkan (film ini mempunyai international cut yang durasinya lebih menarik: 106 menit). Paling tidak, itu yang Saya rasakan—antisipasi Saya tinggi terhadap semua gebak gebuk itu hanya bertahan sampai setengah jam pertama saja. Jaman sekarang, sudah sangat banyak ada film dengan storyboard menawan, namun tetap saja dasar sebuah film itu adalah garis ceritanya. Untuk ukuran film Indonesia—tidak bermaksud merendahkan, hanya membuat sebagai perbandingan—tidak bisa Saya sangkal kalau Merantau adalah sebuah sample kemajuan pesat dalam urusan teknisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Merantau ada banyak tokoh, tetapi tidak efektif. Ini yang sebenarnya membuat Saya gregetan karena membuat filmnya kehilangan gregetnya. Tokoh Yayan sang kakak contoh kecilnya. Pertama ia muncul hanya sebagai referensi. Di akhir ia hanya muncul untuk mengangkat bakul tomat (kalau Saya tidak salah ingat). Donny Alamsyah seakan-akan tampil hanya sebagai cameo. Dan kasus Eric adalah salah satu contoh penyia-nyiaan tokoh sentral. Dia sudah digunakan untuk menyampaikan bahwa Silat tidak boleh digunakan secara egois. Dan sudah habis fungsi tokoh ini. Dari semua pertarungan yang Yuda lakukan dengan berbagai macam preman di lokasi manapun di Jakarta, duel one by one dengan Eric seharusnya menjadi klimaks dalam film ini—terlebih karena keduanya bertarung menggunakan dasar seni bela diri yang sama, Silat Harimau, yang awalnya ingin diperkenalkan itu.. Namun apa jadinya? Ternyata final boss nya adalah Ratger dan Luc yang secara mengejutkan juga jago berantem. Eksekusi yang dilakukan terlalu bertele-tele juga semakin memperpanjang anti klimaks film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih, Saya tidak bisa menikmati Merantau bahkan sebagai sebuah guilty pleasure. Berbekal naskah yang sangat lemah tetapi teknis kelas internasional, Merantau sudah diputar di berbagai negara di luar Indonesia. Kalau begitu selamat saja &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; buat perfilman Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5326381937951593582?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5326381937951593582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5326381937951593582' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5326381937951593582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5326381937951593582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/09/merantau.html' title='Merantau'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1660572347402708331</id><published>2009-08-04T03:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T03:48:38.325-07:00</updated><title type='text'>Infernal Affairs</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 2 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002&lt;br /&gt;Media Asia&lt;br /&gt;Jenis: Drama; Kriminal&lt;br /&gt;Sutradara: Wai Keung Lau &amp;amp; Alan Mak&lt;br /&gt;Pemain: Tony Leung Chiu-Wai, Andy Lau, Eric Tsang, Anthony Wong&lt;br /&gt;Penulis: Alan Mak &amp;amp; Felix Chong&lt;br /&gt;Sinematografer: Yiu-Fai Lai &amp;amp; Wai-keung Lau&lt;br /&gt;Musik: Kwong Wing Chan&lt;br /&gt;Durasi: 101 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, Martin Scorsese membuat remake drama kriminal The Departed yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Matt Damon. Film produksi Hong Kong, Infernal Affairs, adalah versi asli The Departed yang membuat dirinya memenangkan oscar untuk pertama kalinya sepanjang karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon duo sutradara Infernal Affairs; Andrew Lau dan Alan Mak, tidak terima dengan kemenangan The Departed di ajang oscar. The Departed memiliki detail plot yang nyaris identik dengan Infernal Affairs—bahkan untuk gips tangan, bioskop murah sampai acara menebak-nebak polisi. Jelas The Departed dan Infernal Affairs memiliki gaya yang sangat berbeda—Anda tahu, itu film kriminal Martin Scorsese dengan dialog yang lebih renyah dan banyak tulisan Monahan. Tapi bagaimanapun juga, Infernal Affairs tidak akan ditonton orang sebanyak sekarang jika The Departed tidak menjadi hits di oscar lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infernal Affairs adalah sebuah kisah tikus-dan-kucing antara polisi vs triad. Bos triad, Sam (Eric Tsang), mengutus Lau (Andy Lau) untuk mengikuti akademi kepolisian, naik pangkat dan menjadi mata-mata triad di sana. Begitu pula dengan, Kapten Wong (Anthony Wong) dari kepolisian, ia mengutus anak baru, Yan (Tony Leung Chiu-Wai), untuk menyusup ke kelompok Sam dan menjadi mata-mata polisi di sana. Itu adalah misi undercover jangka panjang, saling adu strategi untuk mengukap identitas masing-masing sebelum lawan yang membongkarnya. Baik Sam dan Wong sudah sadar bahwa sang “tikus” sudah menysup diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infernal Affairs adalah sebuah drama kepolisian. Jadi ini bukanlah seperti film-film John Woo atau Johnnie To. Tidak ada banyak baku tembak di film ini. Yang ada adalah perang strategi menggunakan otak, kata-kata dan telepon genggam mereka. Tapi jika Anda tahu tipe seperti apa Infernal Affairs itu, film tersebut adalah salah satu contoh yang terbaik di jenisnya. Ia memiliki semuanya. Cerita yang menarik, adu strategi yang cerdas, tensi film yang menegangkan, twist yang efektif, karakter-karakter yang abu-abu, kali ini ditambah adegan tear-jerker yang didramatisir dengan flash back. Filosofi dan studi karakter dalam film ini sangat kaya dan menarik. Dengan durasi yang relatif pendek untuk sebuah film bermuatan berat, Infernal Affairs tentu memiliki alur yang cepat dan baris-baris dialog yang semuanya penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan antara The Departed dan Infernal Affairs. Pertama adalah mengenai style filmnya. Infernal Affairs tampil sangat elegan khas film aksi hong kong ketika The Departed sangat kotor. Durasi juga adalah perbedaannya. The Departed memilki durasi 2,5 jam alias hampir satu jam lebih panjang dari Infernal Affairs. Itu membuat The Departed memiliki alur lebih detail lengkap dengan banyak latar belakang dalam penuturannya. Karakter dalam The Departed lebih sedikit tetapi penampilannya lebih berkesan. Seperti contoh adalah tokoh milik Vera Farmiga terlihat lebih efektif dibanding menjadi dibagi dua seperti di sini (diperankan oleh Sammi Cheng dan Kelly Chen sebagai dua love interest tokoh utamanya). Contoh lainnya adalah tokoh Mark Wahlberg. Dan perbedaan terbesar adalah masalah logika vs perasaan. Itu menentukan keputusuan terakhir yang diambil tokoh Lau (Atau Colin dalam The Departed) dimana Saya memilih untuk tidak membocorkannya. Dalam The Departed, semuanya seperti memiliki bukti yang jelas sehingga logika tertinggi pun tidak mampu menyangkalnya, dan Infernal Affairs memiliki kaitan dengan kepribadian tokoh Lau itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infernal Affairs bercerita mengenai identitas diri dan kebohongan. Kalimat “siapa adalah siapa” sangat pas untuk film ini. Yan adalah polisi undercover dimana hanya dia dan Wong sajalah dua orang yang tahu bahwa dia adalah polisi. selebihnya, semua hanya mengetahui bahwa dia adalah antek-antek Sam. Setelah sepuluh tahun, dia merasa muak dengan misi nya ini dan ingin kembali hidup normal. Untuk totalitasnya, bahkan Yan difungsikan sebagai bagian yang mencicipi kokain baru yang dibeli Sam. Di sisi sebaliknya, Lau adalah salah satu tokoh yang dingin, abu-abu ambigu dan menjengkelkan. Mereka berdua pernah berpapasan ketika di kamp pelatihan sebagai pemuda bau kencur, lantas bertemu lagi di toko audio sebagai musuh bebuyutan yang tidak kenal satu sama lain dan akhirnya di sebuah adegan ikonik di atas atap bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cast film ini begitu bagus. Tony Leung Chiu-Wai adalah aktor kesayangan Wong Kai Wai, sempat tampil di box office internasional Hero, dan terakhir tampil di film NC-17 milik Ang Lee, Lust, Caution dan epik dwilogi Red Cliff arahan John Woo. Andy Lau adalah salah satu bintang paling besar di hong kong—tidak hanya telah membintangi lebih dari 100 judul film, tetapi juga dia adalah seorang penyanyi. Penampilan Tony Leung Chiu-Wai dan Andy Lau sangat menarik. Yan bisa meraih simpati tertinggi penonton ketika Lau tampil tanpa emosi, penuh keraguan dan rahasia dalam mimiknya. Begitu juga dengan Anthony Wong dan Eric Tsang sebagai cast senior dalam Infernal Affairs. Eric Tsang seperti Jack Nicholson, begitu lepas, ceria memerankan bos mafia di negaranya—bedanya, tokoh Sam ini masih ingat Tuhan dan mau sembahyang. Kalau Frank Costello memberi gambar porno ke biarawati.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Infernal Affairs telah memenangkan berbagai penghargaan sekaligus menjadi box office di negara asalnya dan menelurkan dua sekuel termasuk satu remake yang disutradarai seorang legenda hidup Martin Scorsese. Dengan berbagai alasan, ini adalah salah satu terbesar (jika tidak ada yang terlewatkan, juga termasuk yang terbaik) dalam sinema hong kong modern ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1660572347402708331?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1660572347402708331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1660572347402708331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1660572347402708331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1660572347402708331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/08/infernal-affairs.html' title='Infernal Affairs'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2386763435973936698</id><published>2009-08-02T06:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-02T06:16:26.529-07:00</updated><title type='text'>Rebel Without A Cause</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 2 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1955&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Nicholas Ray&lt;br /&gt;Pemain: James Dean, Natalie Wood, Sal Mineo, Corey Allen&lt;br /&gt;Penulis: Nicholas Ray, Irving Shulman, StewartStern&lt;br /&gt;Sinematografer: Ernest Haller&lt;br /&gt;Musik: Leonard Rosenman&lt;br /&gt;Durasi: 111 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tentang aktor James Dean, ia adalah aktor remaja legendaris yang meninggal akibat kecelakaan mobil di tahun 1955 ketika masih berusia 24 tahun—satu bulan sebelum film ini dirilis. Tahun 2005—memperingati 50 tahun kematian James Dean, Warner Bros. merilis box set DVD ketiga film layar lebar James Dean; East of Eden, Rebel Without A Cause, dan Giant. Ketiganya adalah film bagus, dan ia adalah aktor pertama yang mendapat nominasi oscar secara posthumous dalam East of Eden. Tapi apa yang menjadikan James Dean seorang ikon adalah perannya sebagai Jim Stark dalam Rebel Without A Cause lengkap dengan kostum andalan T-Shirt putih, jaket merah dan celana jeans nya. Dan James Dean sendiri memang merupakan sosok pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Rebel Without A Cause diambil dari buku psikologi terbitan tahun 1944, Rebel Without A Cause: The Hypnoanalysis of a Criminal Psycopath karangan psikiater Robert M. Lindner. Isi filmnya sendiri konon sudah cukup memuat isi buku tersebut. Rebel Without A Cause adalah film remaja yang harus ditonton satu keluarga. Film ini mengajarkan banyak hal yang perlu direnungkan. Jaman sudah berubah. Kita mengenal istilah “remaja masa kini” yang berbeda dengan remaja tempoe doeloe. Bagaimana harus menjadi ayah yang tegas namun bisa mengerti keadaan anak, bagaimana juga anak mengalami masa pubertas dan sering berapi-api jika sudah menyangkut harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama kita, Jim Stark (James Dean), adalah remaja yang suka memberontak tanpa alasan. Keluarganya sering berpindah-pindah tempat tinggal dan di rumah barunya sekarang, Stark kembali membuat ulah. Di awal film, dia ditemukan sedang mabuk di malam hari dan orang tuanya menemuinya di kantor polisi. Dia tidak suka melihat ayahnya, Frank Stark (Jim Backus) begitu lemah dan mau saja diperbudak oleh ibunya (Ann Doran), dan ia juga tidak suka dengan neneknya yang suka sok tahu dan menguasai keadaan. Di sisi lain, Jim sendiri paling tidak suka jika dirinya diejek “pengecut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan barunya, Jim bertemu dengan tetangganya, seorang gadis bernama Judy (Natalie Wood), dan seorang pemuda penyendiri yang akan menjadi teman dekatnya, bernama Plato (Sal Mineo). Di sekolah barunya, Jim adalah korban bully geng yang dipimpin Buzz (Corey Allen)—teman dekat Judy. Gangster sekolahan ini mengejek Jim “pengecut”. Tentu Jim marah dan terjadilah adu kejantanan diantara mereka yang beresiko besar bahkan untuk nyawa mereka…hanya demi harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter-karakter dalam Rebel Without A Cause adalah salah satu sample menarik untuk dijadikan studi—karena sifat-sifatnya begitu nyata. Dan tingkah laku tokoh-tokohnya mencerminkan sesuatu yang agak tabu untuk era 1955. Remaja adalah fase kehidupan manusia yang paling berbahaya. Karena mereka merasa merdeka, harus melanggar aturan, menggebu-gebu, rela melawan rasa takut, menganggap diri mereka jagoan, dan sangat menjungjung hal konyol yang mereka sebut harga diri. Dan sebenarnya itu adalah sebuah bentuk pemberontakan tanpa alasan. Di satu adegan, ketika Jim ditantang sebuah perlombaan yang melibatkan mobil curian oleh Buzz, ia bertanya kepada Buzz mengapa mereka harus melakukan itu. Jawaban Buzz? “You got to do something?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buzz dan geng nya adalah kelompok yang berkuasa di SMA, mereka menganggap diri mereka berkuasa dan mendapat kepuasan dari menyiksa kaum nerd—untuk film ini, contoh kaum nerd adalah Plato. Plato selalu tutup mulut. Ia pendiam dan berasal dari keluarga yang bisa dibilang cukup mampu—Saya melihatnya dari rumahnya. Berbeda dengan Jim, ketika ia ditantang oleh Buzz, ia selalu menerimanya hanya untuk membuktikan diri, bahwa dia bukan pengecut. Dari adu pisau, sampai lomba terjun dari tebing. Karena itu, di satu kesempatan, Buzz mengaku kalau ia menyukai Jim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, mengenai keberadaannya sebagai pria, Jim Stark bertanya ke ayahnya tentang apa yang bisa dilakukan ketika ia harus menjadi seorang pria. Ayah Jim tentu sudah dewasa, sudah melewati masa remaja, dan mengatakan ke Jim bahwa hal yang dilakukannya akan sangat konyol kalau kembali diingat ketika ia sudah dewasa kelak. Apa itu harga diri yang mereka maksud? Itu yang membedakan antara “cowok” dan “pria”, sekaligus menyatakan mengapa remaja begitu bandel sampai mereka sendiri tetap menggila walaupun tahu resikonya. Jim hanya tidak ingin menjadi pengecut, seperti ayahnya yang sering menjadi pembatu rumah tangga, hanya saja ia menanggapi masalah itu dengan cara yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter lain adalah Plato. Ia hidup tanpa orang tua di rumah mewahnya hanya bersama seorang pembantu negro yang mulai berperan sebagai sosok ibunya. Dan Plato juga ingin hidup bebas seperti mimpi para remaja lainnya. Walaupun seorang korban bully, ia memiliki sebuah pistol yang di dapat dari laci ibunya. Plato adalah karakter yang sangat menarik. Ia begitu ingin memiliki keluarga yang harmonis, tidak peduli dengan uang, melainkan hanya ingin kebersamaan. Seperti ciri-cri orang anti sosial, ia tidak mau tahu bahaya ketika ia melukai orang yang dibencinya. Dalam pencarian kasih sayang dan sosok keluarga yang harmonis, dalam satu adegan, Plato bertingkah seperti anak-anak ketika Jim dan Judy ia anggap sebagai ayah dan ibunya. Tidur di kaki mereka dan tidak ingin ditinggal semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang cukup dibicarakan tentang tokoh Plato adalah dalam kaitannya dengan orientasi seksnya. Banyak yang mengatakan bahwa ia adalah seorang gay. Plato mengelus-elus Jim ketika mereka ada tur di sebuah planetarium, dan ia begitu lembut dan seperti penuh kecemburuan setiap berinteraksi dengan Jim. Bahkan di satu kesempatan, Plato sempat mencoba peruntungannya dengan bertanya kepada Jim apakah Jim mau menginap di rumahnya karena tidak ada seorang pun di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh lainnya adalah Judy. Kali ini dalam kaitan dengan seks remaja, Judy adalah salah satu gadis sekolah yang ikut dalam acara geng-geng tersebut. Tidak tahu apakah dia juga siap di gangbang oleh Buzz cs atau bagaimana, Judy sedang mengalami usia yang suka akan ciuman dan rangsangan. Untuk berpamitan, ia mencium bibir ayahnya. Namun sang ayah merespon dengan buruk. Seharusnya itu hal yang wajar. Saya pernah membaca bahwa sang ayah takut akan adanya ketertarikan seksual terhadap anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika masalah harga diri itu bisa sampai melibatkan polisi? Bagaimanapun juga, remaja itu masih bergantung sama orang tua, dan secara paksa harus menaati hukum. Dalam Rebel Without A Cause adalah contoh masalah remaja yang tidak suka keadaan keluarganya hingga pelanggarannya pun sampai membuat mereka berurusan dengan polisi. Mereka bermain pisau, bahkan pistol, memukul memakai rantai bahkan mencuri mobil. Ini mengapa Saya katakan kalau Rebel Without A Cause adalah salah satu film remaja terbaik sekaligus menjadi contoh paling bagus untuk diteliti dan diambil pesan moralnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kaitan dengan orang tua, remaja-remaja bandel di sini adalah contoh anak yang tidak terima dengan keadaan keluarganya. Film ini memiliki contoh problem keluarga yang nyata. Anak yang ditinggalkan rang tuanya seperti Plato, ataupun ayah Judy yang memiliki ketakutan kalau anaknya memiliki nafsu birahi yang besar untuk gadis seumurannya. Di sini, jenis keluarga Stark adalah contoh yang paling sering dibicarakan. Anak yang sudah terlanjur benci orang tua-nya, orang tua yang salah mengawasi anaknya—menjadi over-protective namun tidak tahu apa yang telah dilakukan anaknya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rebel Without A Cause memiliki naskah yang ditulis dengan sangat apik. James Dean, Natalie Wood dan Sal Mineo menunjukkan akting yang bagus di bawah arahan Nicholas Ray—Wood dan Mineo masing-masing mendapatkan nominasi oscar untuk perannya dalam film ini. Dengan cerita yang menarik, menegangkan, penuh pesan moral dan kasus &amp;amp; karakter yang bisa dibahas secara kritis, Rebel Without A Cause adalah salah satu contoh film remaja klasik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2386763435973936698?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2386763435973936698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2386763435973936698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2386763435973936698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2386763435973936698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/08/rebel-without-cause.html' title='Rebel Without A Cause'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1300631475339372861</id><published>2009-07-31T01:57:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T02:04:57.580-07:00</updated><title type='text'>Angels &amp; Demons</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 29 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Columbia Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Ron Howard&lt;br /&gt;Pemain: Tom Hanks, Ewan McGregor, Ayelet Zurer, Stellan Skarsgård&lt;br /&gt;Naskah: Daid Koepp &amp;amp; Akiva Goldsman berdasarkan novel karya Dan Brown&lt;br /&gt;Sinematografi: Salvatore Totino&lt;br /&gt;Musik: Hans Zimmer&lt;br /&gt;Durasi: 134 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angels &amp;amp; Demons sebenarnya adalah prekuel dari novel kontroversial The Da Vinci Code, namun untuk versi film, Angels &amp;amp; Demons disihir menjadi sebuah cerita sekuel. Saya bukan pembaca kedua novel itu, dan secara pribadi Saya tidak suka The Da Vinci Code yang menghadiahkan nominasi Razzie sutradara terburuk bagi sineas kaliber oscar seperti Ron Howard. Namun, sukses besar juga tampak pada perolehan dollar The Da Vinci Code membuat tim sukses Hanks-Howard bersama penulis Koepp-Goldsman kembali ingin meraup keuntungan lewat Angels &amp;amp; Demons—dan semua seri Robert Langdon lainnya yang hak adaptasinya sudah dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Angels &amp;amp; Demons tidaklah sampai kontroversial menyebutkan seperti saat Yesus melakukan hubungan seks dengan Maria Magdalena. Justru pihak vatikan sendiri menyukai versi film ini. Lihat? Ron Howard-Tom Hanks sekarang membuat film yang aman. Penilaian kritikus terhadap Angels &amp;amp; Demons sangat beragam. Saya pribadi cenderung menyukai Angels &amp;amp; Demons. Ini merupakan perbaikan dari The Da Vinci Code. Karena film ini sudah enak ditonton—sementara Saya tidak nyaman menyaksikan prekuelnya—cerita investigasi vatikan dalam Angels &amp;amp; Demons jauh lebih cocok dijadikan sebuah film dibanding tour dunia Robert Langdon di film pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang memang senang kontroversi dan konspirasi. Lagi, setelah Knowing, ini adalah kisah perselisihan antara agama dan ilmu pengetahuan. Angels &amp;amp; Demons mengenai misteri perang dingin Gereja Katolik melawan kelompok Illuminati. Sudah berabad-abad lamanya, pihak Gereja Katolik memerangi para ilmuwan semacam Galileo karena agama dan ilmu pengetahuan memang tidak bisa disatukan—Illuminati bisa saja memburu pihak gereja atau siapapun yang menghalangi mereka menciptakan dunia baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang simbolis Professor Robert Langdon (Tom Hanks) mendapat panggilan dari polisi vatikan ketika ia sedang berenang. Ia ditunjukkan sebuah ambigram “Illuminati” untuk menarik perhatiannya (sekedar catatan: John Langdon, seorang penulis buku ambigram, adalah inspirasi Brown untuk tokoh Robert Langdon-nya itu). Itu mengenai misteri kematian Paus yang diduga berkaitan dengan Illuminati. Karena rasa ingin tahu yang besar ditambah kesempatan mendalami sejarah Illuminati dari arsip rahasia vatikan, Langdon menerima tawaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasusnya berkaitan dengan zat anti-matter yang mempunyai daya ledak besar disembunyikan dalam salah satu lokasi di vatikan sehingga mengancam keberadaan kota itu. Misteri menuntun Langdon dengan mengikuti gereja tempat empat calon Paus baru diculik dan dibunuh pada jam 8, 9, 10, 11 dengan petunjuk elemen ambigram “earth”, “air”, “fire” and “water” dan jam 12, zat anti-matter itu akan meledak. Dalam pemecahan teka-teki ini, dia didampingi oleh ilmuwan cantik Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) dan diawasi oleh komandan Richter (Stellan Skarsgard) ketika pemilihan Paus baru dilakukan dengan pimpinan Cardinal Strauss (Armin Mueller-Stahl). Oh, Saya lupa, ada juga tokoh Camerlengo (Ewan McGregor) yang merupakan bocah kesayangan Paus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, terlihat sangat cerdas bagaimana Dan Brown mengait-ngaitkan Illuminati dengan kasus bom vatikan ini. Kadang kala, itupun terasa…aneh, karena sepertinya hanya Langdon yang bisa memecahkan itu. Perencanaan super matang yang diselimuti leh tujuan yang…tidak kalah aneh. Dan kalau berbicara mengenai twist, kejutan itu sebaiknya bisa ditutup lebih matang lagi oleh cast directornya. Tidak perlu sebuah twist jika tidak bisa menutupinya dengan benar. Saya mengerti karena ini adalah adaptasi novelnya. Ada kala dimana saat di novel tampak heboh, tetapi di visual tampak konyol. Adegan cheating dalam Angels &amp;amp; Demons terlihat murahan—seperti yang Saya lihat dari adaptasi novel misteri And Then There Were None. Kalau Anda membuang semua pemikiran intelektual saat menonton dan tidak mencoba memprediksi apa yang terjadi—dengan kata lain, ikuti saja merasa dikejar jam demi jam yang dilalui Langdon—, Angels &amp;amp; Demons itu adalah sebuah thriller efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Langdon adalah seorang yang selalu memakai logika dan tidak percaya Tuhan. Dia berkata kepada Carmelengo di Vatikan, “Faith is a gift that I have yet to receive,” Tetapi dia mungkin adalah orang paling pintar di dunia jika kasus sudah mengenai misteri keagamaan. Vittoria datang karena bom rakitannya diculik seseorang misterius di laboraotium milik ayahnya. Dan Ayelet Zurer menggantikan posisi Audrey tautou sebagai partner wanita Langdon—sayang sekali Zurer kurang beruntung bisa satu poster dengan Tom Hanks seperti Tautou dalam The Da Vinci Code. Datang lagi tokoh-tokoh pendukung yang menjengkelkan seperti Carmelengo, Richter dan Strauss. Semuanya pintar di kepala, bodoh di mata. Pria Irlandia Ewan McGregor dipasang menjadi Camerlengo Italia??? &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk film summer, Angels &amp;amp; Demons adalah sebuah guilty pleasure yang sangat menghibur. Lengkap dengan unsur pop dan adegan-adegan corny, tetapi ini adalah bagaimana seharusnya sebuah thriller itu menjadi efektif. Howard menciptakan atmosfir ketegangan dengan memainkan antisipasi penonton seperti yang ia lakukan untuk film kelas oscar-nya Frost/Nixon. Angels &amp;amp; Demons adalah sebuah fast-paced thriller. Bersiap saja untuk film The Lost Symbol atau mungkin lagi-lagi melihat Ron Howard mendapat nominasi Razzie tahun depan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1300631475339372861?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1300631475339372861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1300631475339372861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1300631475339372861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1300631475339372861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/angels-demons.html' title='Angels &amp; Demons'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-603159776246367787</id><published>2009-07-18T12:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T12:48:01.614-07:00</updated><title type='text'>Stalag 17</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 19 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1953&lt;br /&gt;Paramount Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Drama, Perang, Komedi&lt;br /&gt;Sutradara: Billy Wilder&lt;br /&gt;Pemain: William Holden, Robert Strauss, Peter Graves, Harvey Lembeck&lt;br /&gt;Penulis: Billy Wilder &amp;amp; Edwin Blum berdasarkan naskah karya Donald Bevan &amp;amp; Edmund Trzcinski&lt;br /&gt;Sinematografi: Ernest Laszlo&lt;br /&gt;Musik: Franz Waxman&lt;br /&gt;Durasi: 120 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: NR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kerja sama kedua antara Billy Wilder dan aktor William Holden setelah kesuksesan &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/sunset-boulevard.html"&gt;Sunset Blvd.&lt;/a&gt; tiga tahun sebelumnya. Paska Sunset Blvd. sebelum Stalag 17, sebenarnya Wilder sempat menyumbang satu judul film klasik Ace in the Hole. Wilder memang salah satu sutradara terbesar sekaligus yang terbanyak menciptakan film-film klasik. Pertama, Wilder membuat salah satu film-noir paling diagungkan sepanjang masa, Double Indemnity. Lantas ada judul Sunset Boulevard, Ace in the Hole, Stalag 17, Sabrina, The Seven Year Itch yang terkenal dengan adegan rok terbang Marilyn Monroe, Some Like It Hot, The Apartment, Kiss Me Stupid dan The Fortune Cookie. Lihat, Wilder bisa membuat film apa saja, drama kelam seperti Sunset Blvd, kom-rom bersama Monroe dan aktor kesayangannya, Jack Lemmon, dan Stalag 17 adalah film drama perang. Dari sekian judul langganan all-time list tadi, ternyata menurut IMDb, filmografi Wilder sebagai sutradara hanya berjumlah 27 judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit catatan trivia film ini, sebenarnya William Holden bukanlah pilihan pertama Wilder untuk memerankan Sgt. Sefton. Kirk Douglas sempat ditawarkan peran ini namun menolaknya karena ia tidak terkesan oleh drama panggungnya. Awalnya karakter itu adalah untuk Charlton Heston, namun tokoh Sefton ditulis menjadi sinis maka nama Holden menjadi pilihan Wilder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stalag 17 bukanlah film perang. Tapi film drama dengan setting di jaman Perang Dunia II. Seperti yang dikatakan narrator film ini, tidak banyak film yang menceritakan POW (Prisoner of War). Ironis sekali karena Billy Wilder pindah dari Jerman ke Hollywood tahun 30-an karena Nazi yang mulai berkuasa. Dan ia membuat film tentang kekejaman NAZI dengan banyak selera humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti film POW lainnya—ambil contoh referensi modern yang juga bagus, Rescue Dawn, film ini sama-sama mengenai upaya para tahanan untuk bisa kabur dari barak-barak yang dijaga ketat oleh tentara-tentara jerman kejam bersenjata. Tapi Stalag 17 juga bukanlah ajang survival dari hutana atau kejaran tentara. Tapi seperti drama penjara yang penuh percakapan pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya adalah tentang upaya kabur dari kamp stalag 17 yang dikomandoi oleh Von Scherbach (Otto Preminger) yang terkenal bertangan besi. Konon waktu itu tidak ada orang yang bisa keluar dengan keadaan selamat. Sekelompok pria asal amerika di salah satu barak di sana mencoba menyusun strategi untuk kabur. Di saat semua serius dengan rencananya, Shefton hanya bisa bertaruh bahwa upaya itu gagal. Selalu saja rencana mereka diketahui pihak Jerman, sampai akhirnya mereka percaya bahwa ada seorang mata-mata Jerman diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak tokoh di dalam film ini. Dan tokoh-tokohnya menarik. Kita perkenalkan satu per satu. Tokoh utama kita adalah Sgt. Sefton (William Holden), yang sinis dan menjadi petugas barter barang di area stalag 17. Lantas ada si “gede ondo”Animal (Robert Strauss) yang terobsesi dengan Betty Grable dan kaki indah terasuransinya. Ada sohib Animal, Saphiro (Harvey Lembeck). Si pemarah Hoffy (Richard Erdman) yang merupakan pemimpin barak mereka. Si pirang yang biasa dipanggil Blondie (Robert Shawley). Petugas keamanan, Price (Peter Graves). Seorang pria paranoid yang suka memainkan alat tiup, Joey (Robinson Stone), dan masih banyak lagi seperti sang koki yang selalu meyakinkan diri, tahanan berkaki satu, orang kepercayaam Shefton yang bernama Cookie (Gil Stratton), dan lain-lain. Warga-warga amerika itu diawasi oleh Sgt. Schulz (Sig Ruman) yang mau bercanda dan berbaur dengan para tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stalag 17 adalah salah satu film Wilder yang paling menguntungkan. Diangkat dari drama panggung, kemudian sukses secara komersil dan kualitas menjadi sebuah film yang akhirnya berlanjut menjadi serial televisi Hogan’s Heroes yang dirilis pada tahun 1965. Naskahnya memang sangat brilian dengan gaya penyutradaraan Wilder yang juga membuat film ini enak dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stalag 17 banyak dibumbui komedi. Akan ada banyak humor-humor khas Rescue Dawn ataupun The Shawshank Redemption. Walau komedi itu adalah elemen yang sering membuat film manapun menjadi lebih pop, tetapi Stalag 17 tetap memiliki taring sebagai film drama serius. Dialog-dialognya tajam dan cerdas. Intrik-intriknya menarik, kongkalikong antara Jerman dan agen undercovernya mengundang antisipasi. Mengandung twist dan eksekusi yang sangat manis—proses syuting itu dilakukan sequence demi sequence, saat syuting adegan klimaks, banyak aktor-aktor yang terkejut dengan terungkapnya misteri film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Performa aktor-aktor dalam film ini sungguh memikat. Penampilan Holden di sini jauh lebih sinis, berbahaya dan dingin dibandingkan perannya sebagai Joe Gillis dalam Sunset Boulevard. Tokohnya sangat menarik ditambah penampilan yang memukau membuat dirinya meraih satu-satunya oscar sepanjang karirnya lewat film ini. Di sisi pemeran pendukung, jika Anda sudah menonton film ini, pastinya akan sangat terkesan dengan penampilan luar biasa Robert Strauss yang ultramega blo’on dan kucel sebagai Animal. Strauss hanya mendapatkan nominasi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka dengan dimasukkannya tokoh Schulz sehingga filmnya sendiri sangat manusiawi dan pada akhirnya tokoh itu juga membuat ceritanya semakin masuk akal. Lantas juga dengan adegan bola voli itu, penyambutan wanita rusia, dan lain-lain. Banyak tipikal adegan favorit Saya seperti debat antara para tahanan yang berbicara mengeluarkan pendapat sesuai dengan karakter-karakter mereka sendiri. Bagaimana mereka bersatu merasa senasib sepenanggungan adalah hal lainnya yang selalu menarik perhatian Saya. Wilder yang sudah berusaha mengkambing hitamkan tokoh Shefton dari awal adalah bagian dari yang Saya suka. Kita tentu tahu bukan Shefton pelaku utamanya. Dan ketika Shefton tahu siapa tikus diantara mereka, ia tidak akan memberitahukan siapa-siapa. Seperti yang dijelaskan kepada Cookie, “lantas kalau sudah mengetahui, mau diapakan?” Saya cinta sekali quote dingin dan rasional dari Shefton itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stalag 17 adalah satu film menarik yang bersifat universal bagi semua penonton. Alurnya ringan, menghibur, penuh candaan, tetapi serius dan cerdas di satu sisi. Dan satu poin plus yang Saya sematkan untuk film ini adalah (dengan berhasil) mereka membuat kita para penonton bersimpati untuk para korban perang itu. Itu bagaimana film seperti ini sudah bekerja secara efektif.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-603159776246367787?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/603159776246367787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=603159776246367787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/603159776246367787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/603159776246367787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/stalag-17.html' title='Stalag 17'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1496096049085153661</id><published>2009-07-18T07:10:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T12:09:30.717-07:00</updated><title type='text'>Sunset Boulevard</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 18 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1950&lt;br /&gt;Paramount Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Billy Wilder&lt;br /&gt;Pemain: William Holden, Gloria Swanson, Erich von Stroheim, Nancy Olson&lt;br /&gt;Penulis: Billy Wilder, Chalers Brackett &amp;amp; D.M. Marshman Jr.&lt;br /&gt;Sinematografer: John F. Seitz&lt;br /&gt;Musik: Franz Waxman&lt;br /&gt;Durasi: 100 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: NR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering sekali rasanya Saya lesu dan ogah-ogahan menulis resensi untuk film-film bioskop baru yang Saya tonton seperti Drag Me to Hell bahkan Harry Potter and the Half-Blood Prince. Rasanya Saya tidak memiliki sesuatu yang sangat menarik untuk dituangkan ke dalam tulisan—dan Saya lebih ingin tiduran atau menonton film lainnya. Namun, setelah menonton Sunset Boulevard milik Billy Wilder, Saya kembali merasa kalau Saya mempunyai satu referensi menarik yang ingin Saya bagikan ke semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tentang Billy Wilder, dia adalah sutradara legendaris yang memiliki awal karir di Jerman. Hijrah ke Hollywood karena Hitler mulai berkuasa. Wilder adalah salah satu dari sedikit sutradara sepanjang masa yang telah membuat film-film yang begitu klasik, berkualitas di ajang perhargaan, sekaligus menghibur. Filmografi-nya banyak mengandung judul-judul yang biasa muncul di top 100 all time versi manapun. Di film Sunset Boulevard ia mengajak aktor William Holden yang waktu itu masih tidak terkenal, dan kembali bekerja sama dengannya dalam film klasik &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/stalag-17.html"&gt;Stalag 17&lt;/a&gt; dan Sabrina (ketiga DVD film-film tersebut sempat dipaketkan dalam satu box set). Wilder termasuk salah satu sosok paling besar diantara tahun 40-an 50-an yang menjadi era keemasan Hollywood. Dia adalah jembatan yang membuat film bertema modern dengan gaya yang klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah film sepanjang masa. Selalu berada di posisi-posisi atas dalam top list manapun baik itu yang akademik seperti AFI, atau kritikus film bahkan orang-orang awam dalam IMDb. walaupun tidak memenangkan best picture dalam oscar pada tahunnya-dimana itu dimenangkan oleh All About Eve. Sekarang secara pribadi, Sunset Boulevard adalah salah pengalaman menonton paling hebat. Salah satu yang terbaik, yang paling menghibur dan paling mengerikan yang pernah Saya tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunset Boulevard adalah film yang menceritakan tentang perfilman. Bukan sebuah komedi gelap industri film (memang ada beberapa satir yang sangat menusuk), tapi mengenai sindrom Hollywood yang diterjemahkan dengan cara yang penuh humor sekaligus menyeramkan. Bisnis film sudah mulai berubah karena dialog sudah menjadi unsur film itu tersendiri. Joe Gillis (William Holden) adalah penulis film kelas B yang dihadapi masalah keuangan. Suatu hari, di saat ia dikejar oleh petugas keuangan, Gillis bersembunyi di sebuah mansion tua. Pemilik mansion itu adalah ratu film era bisu yang kini kebintangannya mulai meredup, Norma Desmond (Gloria Swanson), yang tinggal bersama pembantunya yang setia, Max von Mayerling (Erich von Stroheim). Desmond meminta bantuan Gillis untuk membantu penulisan naskah film “Salome” yang akan dibintangi Desmond. Dan pada akhirnya Desmond menawarkan sebuah ancaman kepada Gillis untuk menulis naskah itu di mansion-nya dengan bayaran gaya hidup glamour khas super star Hollywood. Gillis bersedia saja dijadikan tahanan, sampai akhirnya tingkah Desmond mulai melewati batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seseorang yang sama sekali tidak punya bayangan sinopsis terhadap film ini sebelum menontonnya, Saya merasa ada banyak twist yang menggedor tersebar di sepanjang film—dan Saya melihat beberapa resensi film ini, hampir semuanya memberi tahu bagian mengejutkan itu. &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Jadi untuk selanjutnya, Saya pikir mungkin akan ada spoiler. Diharapkan berhenti membaca sebelum menontonnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sunset Boulevard memiliki plot yang sangat kelam, nakal dan jenius. Akan banyak ada twisting plot dan adegan-adegan mengejutkan—bisa Saya katakan dalam cara yang membuat ngilu. Dua tokoh sentral dan dua tokoh pendukung dalam film ini memiliki karakterisasi yang sangat dalam dan istimewa. Aktor aktrisnya memberikan performa yang sangat luar biasa. Sunset Boulevard memiliki perpaduan tokoh-tokoh dengan sifat-sifat sinis, egois, misterius dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Joe Gillis menggambarkan sosok pria sinis yang sangat menginginkan uang dan gaya hidup mewah, namun juga tidak ingin menjadikan dirinya seorang gigolo. Ia juga sempat dianggap seorang penulis sell-out oleh seorang wanita calon penulis muda bernama Betty Schaefer (Nancy Olson), yang mengagumi tulisan Gillis sebelumnya. Lihat? Penulis itu serba salah: harus memasukkan hal-hal cheesy yang sebagian besar penonton inginkan agar naskahnya mau diterima produser atau harus menulis sebaik mungkin untuk memuaskan kaum minoritas yang mengerti film. Itulah bagaimana industri film itu berjalan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norma Desmond adalah salah satu tokoh psikopat paling mengerikan sekaligus ikonik dalam sejarah perfilman. Salah satu korban paling mengerikan dari sindrom kebintangan Hollywood. Belum siap mental akan popularitas. Tidak bisa menerima kenyataan. Seorang gadis berumur 18 tahun yang terjebak di tubuh wanita tua berusia setengah abad—dan akan semakin menua. Ia juga mendatangkan ahli kecantikan berharap agar wajahnya kembali bersinar dalam sorotan kamera. Pernah membayangkan satu rumah dengan wanita posesif dan egois yang selalu dengan manjanya meminta segala sesuatu lewat sebuah ancaman? Norma Desmond adalah salah satu contoh paling real dari bahaya akan sifat narsis yang sangat berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang selalu memberi kejutan adalah si pelayan setia Max von Maryeling—yang menjadi unsur misteri dalam film ini. Wajahnya yang dingin menyimpan jutaan rahasia. Dan seiring waktu, ia akan membeberkan kejutan demi kejutan dan akan mengundang rasa kasihan penonton melihat korban sejati dari Nyonya Desmond—tokoh von Mayerling ini sangat “mengganggu” Saya sejak mengetahui latar belakangnya. Dan tokoh lainnya adalah Betty Schaefer yang dipakai untuk melambangkan seseorang yang manis dan baik. Kehadirannya berpengaruh pada realita yang mulai dijauhi Gillis serta berperan dalam klimaks film ini di akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penokohan yang sangat baik di sini juga diimbangi dengan penampilan yang luar biasa. Keempat aktor aktris film ini masing-masing meraih nominasi oscar untuk perannya. William Holden berhasil memerankan tokoh Gillis dan membawa film ini dari kaca mata tokohnya—yang dipakai sebagai narrator juga. Karakter nenek gila Desmond adalah salah satu tantangan yang besar. Dan Gloria Swanson memberikan penampilan penampilan terbaiknya di sepanjang karirnya sehingga tokoh Desmond itu sangat melekat pada dirinya. Ini mengingatkan Saya terhadap tokoh antagonis wanita yang juga sama terkenalnya dan sama sintingnya, Cruela De Ville dari kartun 101 Dalmatians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menambah mistis film ini adalah bagaimana kecocokan cerita film ini terhadap pemain-pemainnya. Mereka seakan-akan memerankan diri sendiri di dalam layar. Aktris Gloria Swanson bukanlah pilihan pertama Wilder untuk memerankan Norma Desmond—melainkan Mae West. Sutradara George Cukor memberi pendapat kepada Billy Wilder untuk mempertimbangkan Swanson sebagai pemeran Desmond. Wilder merasa bahwa Swanson dilahirkan untuk peran Desmond karena pada waktu itu, Swanson adalah salah satu contoh aktris yang kebintangannya juga sudah meredup sama seperti tokoh Desmond. Begitu juga dengan von Stroheim yang berperan sebagai von Mayerling. Satu fakta yang mengerikan, di sebuah adegan di dalam film, Max memutarkan Desmond dan Gillis sebuah cuplikan film bisu produksi tahun 1929 berjudul Queen Kelly yang diceritakan sebagai film pada masa kejayaan Desmond. Dan Max ternyata diketahui sebagai istri pertama dari Desmond yang pertama kali meroketkan nama Desmond. Sekarang, kenyataannya adalah, film Queen Kelly itu adalah film yang disutradarai oleh Erich von Stroheim sendiri dengan bintang Gloria Swanson muda, dan di masa syuting, mereka juga sempat terlibat cinta lokasi. Serupa dengan yang digambarkan di film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pihak mengatakan kalau Sunset Boulevard lebih tajam dari All About Eve yang menceritakan tentang theater (Sayang sekali Saya belum mendapatkan kesempatan menonto All About Eve). Sementara Sunset Boulevard disebut-sebut film terbaik yang menggambarkan tentang Hollywood. Billy Wilder juga menggambarkan Hollywood dengan menggunakan referensi-referensi nyata dan cameo pekerja-pekerja Hollywood langsung untuk memerankan diri mereka sendiri dalam filmnya ini. Sebut saja komedian legendaris era film bisu Buster Keaton, Anna Q. Nilsson, H. B. Warner sampai sutradara legendaris Cecil B. De Mille.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visual yang ditampilkan dalam Sunset Boulevard sangatlah menarik. Dari setelah opening credit yang menyorot mobil-mobil polisi berjalan, ada adegan awal yang memorable terlihat mayat Gillis mengapung di kolam renang yang diambil dengan sudut pandang dari bawah kolam. Begitu juga berikutnya, banyak adegan-adegan memorable seperti saat Desmond menirukan gestur raja komedi era film bisu Mack Sennett dan Charlie Chaplin, Desmond memamerkan bukti-bukti masa kejayaannya yang sudah lampau, pesta tahun baru yang hanya dirayakan berdua, adegan saat Desmond mengunjungi studio Paramount dan melihat Cecile B. De Mille sedang memfilmkan Samson and Delilah, sampai adegan penutup film ini dimana ia saking menari-narikan gerakan-gerakan mengerikan karena saking senangnya kembali disorot kamera. Banyak juga quote-quote berkesan di sepanjang film seperti saat pertemuan pertama Gillis dengan Desmond. Desmond berkata, “I am big. It’s the pictures that got small,” atau kalimat penutup dari Desmond, “There’s nothing else. Just us, and the cameras, and those wonderful people out there in the dark. All right, Mr. De Mille. I’m ready for my close up,”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setting yang kelam, nuansa mansion yang tua dan seperti rumah hantu, juga didukung musik yang pas dari Franz Waxman, membuat Sunset Boulevard menjadi contoh film yang paling mendekati sempurna. Tema yang unik, kelam, satir dan kreatif ini disutradarai oleh Wilder dengan gaya yang relatif kuno. Tidak bisa dipungkiri, memang benar Sunset Boulevard adalah salah satu yang terbesar sepanjang masa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="640" height="505"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/UwxGbhclIGw&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/UwxGbhclIGw&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="505"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1496096049085153661?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1496096049085153661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1496096049085153661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1496096049085153661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1496096049085153661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/sunset-boulevard.html' title='Sunset Boulevard'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7210291977763132263</id><published>2009-07-17T10:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T10:32:41.439-07:00</updated><title type='text'>Harry Potter and the Half-Blood Prince</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 17 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Fantasy&lt;br /&gt;Sutradara: David Yates&lt;br /&gt;Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Michael Gambon&lt;br /&gt;Penulis: Steve Kloves dari novel karya J.K. Rowling&lt;br /&gt;Sinematografer: Bruno Delbonnel&lt;br /&gt;Musik: Nicholas Hooper&lt;br /&gt;Durasi: 153 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry Potter keenam ini adalah film Harry Potter pertama yang Saya buatkan resensinya. Pertama-tama, Saya mohon maaf karena Saya termasuk Muggles—sama sekali awam tentang Harry Potter dan novel-novelnya. Saya tidak mengerti dengan Order of the Phoenix (benar, tidak mengerti dengan film anak-anak…hmmm…remaja) karena banyaknya referensi novelnya dengan durasi yang relatif pendek. Sejauh ini, seri film Harry Potter memang hampir selalu terjaga atmosfir serta kualitasnya. Sederhana saja, karena film-film itu begitu enak ditonton, tidak ambisius untuk menerjemahkan seluruh isi novelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang apa yang mengkhawatirkan dari Order of the Phoenix sudah mulai dijawab. Penulis Steve Kloes sudah mencomot bagian-bagian novel secara pas. Dan Yates justru membuat film berdurasi lebih panjang dari novel yang tebal halamannya lebih tipis—lebih banyak bicara, lebih sedikit aksi, dan tentunya referensi tidak terlalu banyak. Banyak sekali fans Harry Potter yang selalu mengeluhkan filmnya dengan alasan yang klasik: banyak bagian buku yang dihilangkan. Beruntunglah Saya tidak membaca novel dan tidak tahu apa yang hilang di filmnya—yang Saya tahu, film Harry Potter sekarang sudah kembali enak untuk ditonton. Titik. Dalam kasus ini, potongan-potongan yang hilang itu konon adalah beberapa yang paling menarik dalam cerita Half Blood Prince—salah satunya adalah masa lalu Tom Riddle. Baiklah, bahkan sampai film ini pun Saya belum menemukan petunjuk kala Dumbledore adalah seorang gay—yang menurut Saya adalah salah satu bagian paling menarik dalam keseluruhan serinya. Serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tahun keenam bagi tiga tokoh utama kita: Harry Potter (Daniel Radcliffe), Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson) di sekolah sihir Hogwarts. Hogwarts kini semakin terasa tidak aman karena Voldemort alias Tuan Dia-Yang-Tidak-Boleh-Disebutkan beserta antek-anteknya kembali dan membawa masa-masa suram di dunia sihir. Harry mendapatkan dirinya sebagai “The Chosen One”, sementara rivalnya dari tahun pertama, Draco Malfoy (Tom Felton), terpilih sebagai anak buah nenek sihir jahat Bellatrix (Helena Bonham Carter) cs. Kepala Sekolah Hogwarts, Prof. Albus Dumbledore (Michael Gambon) meminta tolong kepada Harry untuk membujuk guru lama, Prof. Horace Slughorn (Jim Broadbent) agar bersedia membuka memorinya yang berkaitan dengan cara mengalahkan Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti formula biasanya, cerita Harry Potter semakin kelam dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan Half-Blood Prince yang menjadi film Potter terkelam sampai saat ini—langit hitam, terror setan, makhluk jahat berbentuk seperti Gollum, kematian tokoh penting, dan lain-lain. Tapi itu bukan berarti film ini berbahaya bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan. Penggemar Harry Potter dari era Sorcerer’s Stone yang dulu masih kecil kini sudah mulai melewati masa pubertas. Begitu juga dengan tokoh Harry. Jaman cinta monyet seperti saat bersama Co Chang sudah lewat. Harry menemukan cintanya dengan Ginny Weasley (Bonnie Wright), Hermione mulai cemburu melihat Ron menjadi incaran gadis-gadis Hogwarts. Bumbu cinta SMA itupun semakin dewasa dengan adegan ciuman dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping urusan cinta-cintaan, jalannya cerita juga diimbangi dengan kehidupan biasa di Hogwarts. Belajar meracik ramuan sampai pertandingan Quidditch yang khas itu. Tidak ada hubungannya dengan cerita memang—justru masa lalu Tom Riddle dihilangkan untuk bagian-bagian ini. Tapi itu perlu. Karena suasana, feel dan atmosfir dari franchise Harry Potter pun tetap harus sekuat tahun pertama dimana misteri belum terlalu banyak bagi Harry kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh pendamping yang sempat hanya menjadi pemanis di beberapa episode terakhir Harry Potter sekarang mendapatkan peran yang signifikan. Draco Malfoy contohnya. Kapan terakhir dia menarik perhatian? Lebih dari lima tahun yang lalu tepatnya dalam Chamber of Secrets. Guru killer Severus Snape (Alan Rickman) juga mendapat porsi yang penting. Namun simpati terbesar ada di Dumbledore. Jika peran bijaknya dirasa mulai membosankan akhir-akhir ini, Dumbledore adalah karakter yang paling bisa meraih respek penonton di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Radcliffe semakin terasah saja seiring seri ini berlanjut dan tokoh Harry Potter semakin berkembang. Begitu juga dengan Emma Watson dan Rupert Grint yang selalu bisa menyelamatkan adegan membosankan dengan kekonyolannya atau sekedar menambahkan keceriaan—casting yang sangat tepat. Gambon tampil memikat dan Alan Rickman seperti biasanya selalu melebur dalam tokoh Snape yang sangat ikonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Yates yang tetap akan melanjutkan menjadi sutradara dua film Harry Potter selanjutnya, mengemban tugasnya dengan cukup baik sekarang. Visual film ini juga sangat kuat. Tone warna mono, gelap dan terkadang menyala. Setting yang dulunya berwarna sekarang sudah dibuat rapuh dan mengerikan. Sinematografer Bruno Delbonnel juga berperan dalam fotografi-fotografi indah di sepanjang film.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupun begitu, dua film terakhir Harry Potter bukanlah termasuk film favorit Saya (sekaligus film Harry Potter favorit Saya). Half-Blood Prince lumayan bagus—sedikit kemajuan dibanding Order of the Phoenix, atau obat bagi film-film summer tahun ini yang kebanyakan busuk. Itu membuat Saya kembali bersemangat mengikuti petualangan Harry selanjutnya. Sekarang tersisa dua film Harry Potter lagi untuk rilis tahun 2010 dan 2011 yaitu Harry Potter and the Deathly Hallows bagian 1 dan 2. Produser tampaknya kurang siap menerima kenyataan kalau kisah Harry Potter memang sebenarnya tinggal satu bab lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7210291977763132263?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7210291977763132263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7210291977763132263' title='346 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7210291977763132263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7210291977763132263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/harry-potter-and-half-blood-prince.html' title='Harry Potter and the Half-Blood Prince'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>346</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2911144358338268258</id><published>2009-07-05T07:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T07:17:42.284-07:00</updated><title type='text'>Drag Me to Hell</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Universal Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller, Komedi&lt;br /&gt;Sutradara: Sam Raimi&lt;br /&gt;Pemain: Alison Lohman, Justin Long, Lorna Raver, Dileep Rao&lt;br /&gt;Penulis: Sam Raimi &amp;amp; Ivan Raimi&lt;br /&gt;Sinematografer: Peter Deming&lt;br /&gt;Musik: Christopher Young&lt;br /&gt;Durasi: 99 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Spider-man, Sam Raimi dikenal sebagai sutradara film horror berating NC-17, Evil Dead. Setelah menutup trilogy Spider-Man dengan bagian yang buruk, Raimi seakan kembali ke akar-akarnya—horror. Itu yang memancing banyak filmgoer untuk datang ke bioskop, disamping remaja fans horror jumlahnya sangatlah banyak. Saat Drag Me to Hell dirilis di bioskop-bioskop, judul Evil Dead II (yang disebut-sebut terbaik di trilogy-nya, tetapi sayang sekali Saya belum menontonnya) kembali sering terdengar, disamping banyak respon positif buat Drag Me to Hell ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang-bayang dengan Evil Dead dan Bruce Campbell, Drag Me to Hell tetap memiliki trademark Evil Dead. yaitu komedi. Sekedar catatan: coba tengok rating film ini. Bukan R, apalagi NC-17, tetapi PG-13. Artinya tidak akan ada darah berceceran dimana-mana, dan Alison Lohman tidak akan memperlihatkan dadanya seperti yang dilakukan Katie Holmes dalam film Raimi lainnya The Gift. Tapi tetap saja, Sam Raimi dan horror-komedi adalah salah satu reuni paling segar akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christine Brown (Alison Lohman), seorang wanita muda yang bekerja di sebuah bank menjadi petugas peminjaman uang. Suatu hari, ia menolak perpanjangan pinjaman seorang nenek, Nyonya Ganush (Lorna River), sehingga nenek itu harus dungsikan dari tempat tinggalnya. Arwah penasaran Nyonya Ganush selalu menghantui Christine dan setelah hari ketiga, arwah Christine akan diseret ke neraka. Mencegah ini, Christine bersama pacarnya, Clay Dalton (Justin Long), meminta pertolongan seorang ahli spiritual Rham Jas (Dileep Rao) untuk mengusir roh jahat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton Drag Me to Hell adalah pengalaman film horror yang sesungguhnya di bioskop—yang terkental sejak The Village milik Shyamalan lima tahun lalu. Saya tdak yakin apakah orang amerika tetap takut melihat hantu tak terlihat ataupun sekedar bayangan setan bertanduk. Tapi semua penonton di bioskop lokal tegang, menjerit, dan antisipasi terhadap kejutan-kejutan berikutnya sangatlah besar. Ini bukan seperti suasana bioskop yang hening. Semua mencoba mengacaukan situasi, mendahului garis start efek kejutan. Raimi membawa penonton secara paksa untuk menemukan situasi-situasi yang tidak diinginkan. Istilahnya, real horror show. Raimi akan bangga melihat filmnya sukses sebagai sebuah film horror/thriller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komedi juga banyak diselipkan untuk mencairkan suasana. Banyak penonton tertawa menyaksikan film ini. Di saat adegan seram yang ramai, Raimi menaruh selera humornya—sejujurnya, Saya sering tidak mengerti letak lucu film ini. Di saat giliran atmosfir horror tradisional yang penuh keheningan, Raimi tetap tidak bermain-main. Ia membuat penonton merasa jijik, najis dengan menggunakan lendir. Dan disitu penonton biasanya kembali tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Lohman yang berteriak, berlarian, dibanting-banting tapi sekaligus menjadi jagoan di sepanjang film merefleksikan formula horror tradisional—pasti korban adalah seorang wanita, melihat cowok berlarian sambil berteriak bukanlah hal yang ingin dilihat penonton manapun. Di sini Lohman sellau berperan dalam one-man show, kalaupun ia menelepon pacarnya, setan tetap mengguncang ia sendirian. Lohman tidak akan bisa menggantikan Bruce Campbell, tapi di sini, menyenangkan melihat ia cocok diteror setan. Ditambah melihat wajah tua Nyonya Ganush yang sudah mengerikan, jackpot bagi fans horror.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Film ini tidak akan pernah memuaskan dari segi tema atau karakterisasi—kecuali untuk eksekusinya yang manis dan mengandung…er…pesan moral. Banyak klise, twist yang predictable, bagian-bagian pointless yang terlalu panjang. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bisakah Saya banyak memberkan komentar terhadap film horror murni yang sudah berhasil membuat penonton menjerit? Tetap, Drag Me to Hell adalah satu contoh dari film horror yang bagus. Dan ini adalah film yang khusus ditonton sebagai pengalaman di bioskop, Anda mencoba menonton film ini di DVD, hanya akan terasa buang-buang waktu kecuali Anda memiliki sound system yang luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2911144358338268258?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2911144358338268258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2911144358338268258' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2911144358338268258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2911144358338268258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/drag-me-to-hell.html' title='Drag Me to Hell'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3306080455898444512</id><published>2009-07-02T07:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T10:52:02.218-07:00</updated><title type='text'>Transformers: Revenge of the Fallen</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: F&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 28 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Paramount&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Michael Bay&lt;br /&gt;Pemain: Shia Labeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson&lt;br /&gt;Penulis: Ehren Krugrer &amp;amp; Roberto Orci &amp;amp; Alex Kurtzman&lt;br /&gt;Sinematografi: Ben Seresin&lt;br /&gt;Musik: Steve Jablonsky&lt;br /&gt;Durasi: 150 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Saya memulai membicarakan film ini, Saya perlu memberi catatan: faktanya adalah Saya menyukai Transformers pertama—Saya tahu filmnya memang jelek, tetapi Transformers sangatlah menghibur. Ketika sekuel ini mulai dirilis, Saya yakin kalau Transformers: Revenge of the Fallen akan menjadi salah satu film tersukses dalam daftar box office all time, bercermin dari kesuksesan sekuel seperti The Dark Knight dan Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest. Dan seperti yang Saya duga, pendapatannya dalam lima hari saja sudah menembus US$200 juta—terbesar kedua setelah The Dark Knight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dimulai dengan setting tahun 17.000 Sebelum Masehi dengan robot-robot membantai suku-suku primitif. Kembali ke masa kini, kita bertemu lagi Sam Witwicky (Shia Labeouf) dan pacarnya, Mikaela (Megan Fox), di pihak tentara ada Captain Lennox (Josh Duhamel) dan Sgt. Epps (Tyrese Gibson), di pihak robot ada Optimus Prime (disuarakan oleh Peter Cullen) dan Bumblebee mewakili Autobot. Yang bisa Saya katakan tentan plot film ini adalah, robot The Fallen dari Decepticon, yang merupakan bos dari Megatron (disuarakan oleh Hugo Weaving) telah bangkit dan berniat menghancurkan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertama kali pihak Paramount mempublikasikan foto-foto robot-robot baru yang akan berperang dalam film ini, Saya menjadi sudah hilang feeling melihat bagaimana sekarang Transformers begitu show-off, bukan sebagai film yang waras lagi, tetapi seperti iklan untuk memperkenalkan produk-produk robot di filmnya--seperti contoh kesalahan sejenis dalam X-Men Origins: Wolverine. Di sini ada tiga robot sepeda motor wanita yang disebut Arcee, robot raksasa Devastator, robot tua Jetfire yang desainnya sudah dilengkapi jenggot logam, serta yang cukup kontroversial, dua robot kembar menjengkelkan Mudflap dan Skids yang sempat dicap negro karena bisa berbicara hip hop—dan itu dipakai untuk memancing tawa penontonnya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah sangka, seperti yang Saya sebutkan di atas, Saya suka Transformers pertama, tetapi yang kedua ini…entah apa poin film ini? Setelah mendapatkan kubus di film pertama, rasanya sudah tidak ada yang perlu diceritakan lagi, dank arena sudah terlanjur diceritakan, film ini tidak mempunya arah, terus menyambung, menemukan teka-teki baru, pergi ke lokasi baru, bertemu robot baru…episode-episode ini begitu pointless, membingungkan dan membosankan. Tentu Saya lebih memilih di rumah menyaksikan drama korea Boys Before Flowers yang sama bertele-telenya, tetapi lebih menghibur dan terarah dibanding harus mengantri dari jam 9 pagi seperti saat Saya mengejar pemutaran perdana film ini—apa yang Saya coba sampaikan di sini adalah, memainkan antisipasi penonton itu jauh lebih menghibur daripada jor-joran memamerkan kekuasaan efek visual untuk memanjakan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada adegan dalam Transformers 2 ini yang bisa membuat pantat Saya berbunga-bunga seperti dalam beberapa adegan Transformers pertama—kemunculan pertama Optimus Prime, pengorbanan Bumble Bee sampai klimaksnya pertarungan di kota dengan banyak adegan slo-mo (bagian Iron Hide menembak sambil berguling bak koboi adalah yang paling membuat penonton histeris)…semuanya benar-benar terasa klimaks. Untuk Revenge of the Fallen? Dari awal sudah ada pesta robot-robotan di asia, ketika yang seharusnya menjadi bagian klimaks, yaitu perang di Mesir, apa yang Saya rasakan? Tidak ada, padahal efek visualnya sama canggihnya dengan yang pertama. Jadi, karena apa? Karena Saya seperti tidak ada antisipasi lagi untuk meneruskan menonton film ini. Semuanya begitu terasa monoton, diulang-ulang, hanya berpindah lokasi saja dari kota menuju hutan dan gurun pasir. Penggunaan CGI itu hanya dimanfaatkan sebagai ajang pameran, sama sekali tidak efektif. Sebagai perbandingan yang cukup adil, aksi dalam Terminator Salvation itu jauh lebih badass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durasi dalam film ini terlalu panjang. Yang membuat Saya lelah adalah bagaimana penyakit kuno Bay untuk mendramatisir banyak adegan…walaupun adegan itu kurang penting. Kita tidak membicarakan banyaknya adegan para tentara dengan helikopternya tampak siluet di sore hari, tapi tokoh-tokoh seperti Sam dan Mikaela. Apapun yang terjadi dengan Sam—entah dia patah hati, terluka bahkan mati…siapa yang peduli lagi? Sesedih dan seromantis apapun momen yang digambarkan Bay, semuanya terasa mubazir. Kita tahu di akhir kisah Sam tidak mungkin mati! Kalaupun mati, pasti akan hidup kembali entah bagaimana caranya. Jadi apa poinnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian mengganggu lainnya dalam film ini adalah tokoh-tokohnya yang mulai menjengkelkan dan kehadirannya untuk menghadirkan simpati atau memperuncing situasi…justru terasa menggangu. Selain dua robot cerewet itu, ada mama dan papa Sam yang selalu menjadi badut dalam filmnya…entah sang mama bertindak sinting atau bagaimana. Dan satu lagi, humor-humor dalam Transformers 2 terlalu banyak. Baiklah kalau memang efektif, tapi hampir semuanya justru garing, maksa dan...dan banyak. Ada yang masih menertawakan humor anjing jantan bertingkah mesum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin melanjutkan menulis artikel ini karena hanya akan berisikan kebodohan-kebodohan film ini—dan itu akan membuat Anda muak. Saya tidak akan sengaja mencari-cari poin plus film ini (sayangnya, Saya bukanlah tipe penonton yang memuja-muja suatu film hanya karena efeknya canggih—kembali mengingatkan istilah “efektif” tadi) seperti Saya tidak akan sengaja mencari-cari kejelekan film ini. Semua yang Saya tulis di atas itu…istilahnya…more than meets the eye. Adegan Megan Fox nungging di atas motor adalah adegan terbaik di sepanjang film. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Spoiler:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ada satu bagian yang membingungkan dalam filmnya. Sam menemukan keris saktinya menjadi abu. Dan setelah ia sempat mati sesaat, baru tiba-tiba serbuk itu kembali menjadi keris. Bagaimana bisa? Apa berarti Sam harus mati dulu untuk bisa turn-on kembali Optimus Prime?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3306080455898444512?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3306080455898444512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3306080455898444512' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3306080455898444512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3306080455898444512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/07/transformers-revenge-of-fallen.html' title='Transformers: Revenge of the Fallen'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2206647353677354743</id><published>2009-06-22T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:05:25.861-07:00</updated><title type='text'>Night at the Museum: Battle of the Smithsonian</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 23 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;20th Century Fox&lt;br /&gt;Jenis: Komedi, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Shawn Levy&lt;br /&gt;Pemain: Ben Stiller, Amy adams, Robin Williams, Hank Azaria&lt;br /&gt;Penulis: Robert Ben Garant &amp;amp; Thomas Lennon&lt;br /&gt;Sinematografi: John Schwartzman&lt;br /&gt;Musik: Alan Silvestri&lt;br /&gt;Durasi: 105 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Night at the Museum yang pertama adalah film yang bodoh, ceria dan tidak lucu—paling tidak menurut pendapat pribadi Saya. Sayangnya film itu sukses yang artinya akan ada sekuelnya dengan formula yang sama ditambah mengumpulkan kembali tim sukses film pertama. Hasilnya? Film yang serupa dibuat kembali dengan budget raksasa sebesar US$150 juta dan harapan kembali bisa menghibur penonton lamanya. Sekuel Night at the Museum ini lebih bodoh, lebih ceria dan lebih tidak lucu dibanding pendahulunya. Dan sayangnya juga, melihat dari data box office, Night at the Museum: Battle of Smithsonian kembali sukses besar. Jadi bersiap saja akan ada sekuel Night at the Museum berikutnya beberapa tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plotnya menceritakan si penjaga malam museum, Larry Daley (Ben Stiller), kini sukses dengan penemuannya, senter-menyala-di-kegelapan. Di museum tempat ia bekerja dulu, kini sedang direnovasi, sebagian besar mainan-mainan di sana akan dipindah ke gudang museum besar di Institusi Smithsonian…lengkap dengan tablet yang membuat benda mati itu hidup di malam hari. Larry harus menyelamatkan teman-teman lamanya dari ancaman firaun bule Kah Mun Rah (Hank Azaria) dan mengembalikan tablet itu ke tempat lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Saya hanya ingin memberi catatan: mungkin hanya Saya saja yang tidak tertawa di bioskop. Saya menilai film ini jelek sederhananya karena film ini gagal memancing tawa Saya (Saya tidak akan memberikan nilai bagus hanya untuk mewakili pendapat orang lain). Mengingat seseorang pernah protes ke Saya di blog ini karena Saya tidak bisa menikmati humor anak-anak, Saya perlu tekankan kalau Saya di sini mengeluarkan pendapat bukan melalui kacamata sebagai anak-anak, remaja, atau kakek-kakek—tetapi Saya memakai sudut pandang Saya sendiri. Jadi jika Anda adalah penggemar Night at the Museum pertama, jangan protes…berhenti saja membaca artikel ini sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan, mungkin 90% joke yang dilempar di sepanjang film Saya anggap gagal. Humor yang ada dalam Night at the Museum ini sebagian besar adalah antara humor slapstick dan budaya. Mengingat Saya bukanlah penggemar humor slapstick, sekarang budaya adalah bahasan kali ini. Parodi memang salah satu jenis humor paling disukai jaman sekarang. Bukan tipe candaan universal, tetapi biasanya efektif. Kita melihat referensi Star Wars, Sesame Street, 300, Hip Hop, Muhammad Ali, dan lain-lain. Mungkin bagian itu menyenangkan untuk dilihat. Dan humor tampar menampar dengan monyet yang terkenal dan tidak lucu di Night at the Museum pertama kembali ada di sini. Surga bagi fans…benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang perlu dibahas? Oh…setidaknya Saya akan menulis sesuatu tentang film ini agar Saya ingat isi filmnya beberapa bulan ke depan. Mulai dari bagian terbaik: Amy Adams. Ben Stiller, Owen Wilson, Steve Coogan dan Robin Williams memang nama-nama besar dalam film ini, tapi satu-satunya nama yang paling bersinar justru datang dari Amy Adams sebagai pemeran wanita udara nomor satu, Amelia Earhart. Dia bisa menjadi love interest, side kick, pemberi semangat filmnya, dan sebagai pemanis, dia benar-benar manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada banyak sekali tokoh-tokoh yang dihidupkan dalam film ini—berarti anak-anak sedikit-sedikit mendapat pelajaran sejarah lewat film ini. Koboi Jedediah (Owen Wilson), ksatria Octavius (Steve Coogan) dan Theodore Roosevelt (Robbie Williams) kembali tampil sebagai cast lama. Di museum baru, selain Amelia Earhart dan Kah Mun Rah, ada patung Thinker, cupid, Abraham Lincoln, Albert Einstein, Jendral Custer (Bill Hader), Ivan The Terrible (Christopher Guest), Napoleon Bonaparte (Alain Chabat) dan yang terlucu, Al Capone (John Benthral). Bagian hitam-putih mungkin adalah momen favorit Saya di film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terburuknya adalah bagaimana film ini benar-benar tidak punya struktur cerita. Semuanya…tidak memiliki poin. Kah Mun Rah mencuri tablet dan berniat membangkitkan pasukan dari neraka. Saya tidak mengerti. Toh, museum itu akan lebih banyak memiliki koleksi boneka di siang harinya. Atau untuk sekedar fun? Apakah bangkitnya para pasukan neraka itu benar-benar menghibur kita? Lihat? Apa yang seharusnya menjadi klimaks yang dibangun dari awal film ini, akhirnya hanya dijadikan sebuah candaan-satu-menit. Dan faktor klise juga tidak bisa lepas, dari cerita, joke, sampai eksekusinya. Mereka tidak akan bisa menutup filmnya dengan baik jika mereka seperti memaksa memasukkan pesan moral seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Angin summer tahun ini belum ada yang segar sejauh yang Saya hirup—Saya masih mengharapkan pada hari itu Saya mendapatkan tiket Angels &amp;amp; Demons. Night at the Museum: Battle of Smithsonian bukanlah film favorit Saya. Saya pikir Saya ingin humor yang lucu—tidak peduli itu bodoh atau cerdas—yang penting lucu, dan Saya akan suka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2206647353677354743?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2206647353677354743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2206647353677354743' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2206647353677354743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2206647353677354743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/night-at-museum-battle-of-smithsonian.html' title='Night at the Museum: Battle of the Smithsonian'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2395777286020425109</id><published>2009-06-05T06:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T06:57:57.013-07:00</updated><title type='text'>Dawn of the Dead</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 4 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;Universal Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Zack Snyder&lt;br /&gt;Pemain: Sarah Polley, Ving Rhames, Jake Weber, Mekhi Phifer&lt;br /&gt;Penulis: James Gunn dari naskah asli karya George A. Romero&lt;br /&gt;Sinematografer: Matthew F. Leonetti&lt;br /&gt;Musik: Tyler Bates&lt;br /&gt;Durasi: 100 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remake Dawn of the Dead abad millennium ini jauh berbeda dengan &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/dawn-of-dead.html"&gt;Dawn of the Dead&lt;/a&gt; (1978) versi asli milik George Romero—kecuali sama-sama mengenai zombie dan memiliki setting di sebuah mall. Sutradara film ini adalah Zack Snyder yang belakangan mulai terkenal lewat dua adaptasi novel grafik dewasanya, 300 dan Watchmen, yang terkenal stylish itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romero pernah mengatakan kalau film ini lebih bagus dari yang ia harapkan, dan Dawn of the Dead versi baru ini lebih seperti game arcade Space Invaders. Benar. Lebih menjadi sebuah aksi daripada horror. Semua orang membawa senjata lengkap bahkan gas propana sebagai bahan peledak. Sekelompok survivor dengan jumlah yang sangat banyak (tidak seperti di versi aslinya yang hanya empat orang) selalu berkumpul bersama-sama. Dengan gambaran seperti itu, sekarang Saya bertanya: bagaimana cara membuat situasi menjadi menyeramkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang yang terdiri dari seorang perawat wanita, pria biasa, polisi kulit hitam, sepasang kekasih asal afrika dan rusia berhasil lolos dari kejaran zombie dan memutuskan untuk bersembunyi di mall. Di sana mereka bertemu tiga satpam mall, lantas partai itu semakin dimeriahi oleh nenek-nenek, kakek-kakek, pemain organ, sepasang ayah dan anak perempuan, pria kaya yang brengsek dan boneka seks cantik berambut pirang. Mereka harus punya rencana untuk bisa kabur dari daerah itu dan bertahan dari serangan mayat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sekali tokoh di film ini. Namun banyak yang tidak berkesan. Saya paling suka dan simpati terhadap karakter sepasang kekasih calon orang tua yang beda ras itu. Mereka menggambarkan sosok Fran dan Stephen di film aslinya—walaupun di mata Saya, Ana (Sarah Polley) sang perawat yang sebenarnya mewakili tokoh Fran. Karakter yang dibawakan Ving Rhames adalah cerminan Ken Foree tahun 1978. Tokoh yang jumlahnya sangat banyak tidak bisa menyelamatkan film ini—dalam sebuah komentar dalam versi Director’s Cut, Snyder mengajak kita untuk melihat tokoh-tokohnya. Itu tidak efektif saja bagi Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan-adegan awal sebelum mereka memasuki mall cukup menegangkan—dan Romero sendiri mengakui itu. Sebuah virus yang juga tidak diketahui asal-usulnya tersebar dan menyebabkan korban yang terinfeksi akan menjadi zombie. Penyebaran terjadi melalui gigitan. Suatu pagi ketika gadis kecil pemain sepatu roda itu menjadi zombie (seperti yang terlihat di trailernya) dan menyerang Ana adalah salah satu momen paling mengerikan di sepanjang film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang untuk selanjutnya momen-momen mengerikan itu tetap ada, walaupun Saya tidak bisa dan mau merekomendasikan untuk menghindari spoiler juga. Adegan sadis masih tetap ada. Beberapa cukup efektif seperti yang melibatkan gergaji mesin itu (Anda akan tahu jika sudah menontonnya). Tetap saja tingkat gory film ini masih kalah dengan apa yang diperlihatkan Romero tiga puluh tahun yang lalu. MPAA sekarang sudah mulai keras kepala—sedikit-sedikit sudah bermain rating NC-17 yang artinya sama dengan kerugian bagi produser. Saya sudah menonton Unrated Director’s Cut film ini, ada beberapa tambahan kepala yang meledak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang terjadi seiring perkembangan zaman. Sinema yang lebih modern ini sering tidak mengindahkan aturan-aturan tradisional. Seperti kasus Dawn of the Dead ini. Tingkat gory yang melempem serta tidak banyaknya adegan yang mampu membuat penonton menjerit seolah diganti dengan efek visual yang dashyat, ledakan dan api dimana-mana, baku tembak dengan gaya keren. Di sini kita takkan melihat mayat hidup terpeleset di air mancur atau bermain dengan boneka, seperti dalam film horror zombie modern 28 Days Later, ada semacam inovasi baru, para zombie dibuat lebih jenius, bisa berlari cepat bahkan mungkin berpikir. Zack Snyder juga membawa sekolah film slow motion nya di sini. Jadi terlihat seperti “Wanted” dengan musuh zombie. Ia menunjukkan bagaimana cara menembak zombie dengan keren atau sekedar menunjukkan dengan keren bagaimana cara menembak zombie. Untuk beberapa alasan, Saya jadi rindu horror gory tradisional era 70-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan konyol tetap ada—ingat, semodern-modernnya film ini, aslinya Dawn of the Dead tetaplah jenis film sampah dan gaya Snyder dalam versi modern ini hebatnya cukup bisa menghapus anggapan itu. Ada saja tokoh yang arogan bertindak bodoh berlari diantara kerumunan zombie—meski pada akhirnya sudah dibuatkan alasan mengapa hal itu tidak seharusnya dicap bodoh. Sequence mereka menggunakan mall sebagai arena hiburan tetap ada diantaranya untuk membuat film porno dan adu tembak antara Kenneth (Ving Rhames) dengan Andy, pria yang tinggal sendiri di toko senjata seberang mall. Masalahnya di sini adalah, dari banyak bumbu yang dimasukkan, bagian percintaan itu membuat filmnya sendiri terlihat kagok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan versi aslinya, Saya lebih suka versi Romero itu karena beberapa alasan yang Saya sebut di atas—film ini masih punya kelebihan dibanding versi Romero, yaitu akting aktor-aktor di film ini lebih baik daripada Ken Foree cs. Sebagai tambahan, milik Romero benar-benar berhasil menggambarkan bagaimana bumi mulai kiamat sejak virus zombie ini tersebar (bagian geng motor itu adalah buktinya), lain dengan Snyder yang hanya fokus ke dalam karakter-karakter yang jumlahnya banyak itu sehingga garis besarnya hanya upaya untuk selamat dari serangan zombie. Versi remake ini juga jauh lebih serius tanpa diselipkan celetukan-celetukan lucu seperti versi aslinya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Salah satu bagian favorit Saya di sepanjang film adalah ketika cameo Ken Foree tampil sebagai penyiar acara televisi kembali membawakan penggalan pidato kepercayaan sakti, “Hell is overflowing, and Satan is sending his dead to us. Why? Because, you have sex out of wedlock, you kill unborn children, you have man on man relations, same sex marriage. How do you think your God will judge you? Well friends, now we know. When there is no more room in hell, the dead will walk the earth.”&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2395777286020425109?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2395777286020425109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2395777286020425109' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2395777286020425109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2395777286020425109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/dawn-of-dead_05.html' title='Dawn of the Dead'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3808117001255110421</id><published>2009-06-05T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T12:35:20.734-07:00</updated><title type='text'>Dawn of the Dead</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 4 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1978&lt;br /&gt;United Film&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: George A. Romero&lt;br /&gt;Pemain: David Emge, Ken Foree, Scoff F. Reiniger, Gaylen Ross&lt;br /&gt;Penulis: George A. Romero&lt;br /&gt;Sinematografer: Michael Gornick&lt;br /&gt;Musik: The Goblins &amp;amp; Dario Argento&lt;br /&gt;Durasi: 126 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: Not Rated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuel dari &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/night-of-living-dead.html"&gt;Night of the Living Dead&lt;/a&gt; yang dirilis sebelas tahun sebelumnya dengan biaya yang murah dan setting farmhouse seadanya, George Romero mendapat panggilan dari Hollywood untuk membuat film horror. Dan ia mengatakan “kita sedang memikirkan sekuel Night of the Living Dead,” kepada salah seorang sineas Italia. Sineas Italia sinting yang dihubungi adalah Dario Argento (Suspiria, The Beyond)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita memiliki sebuah mall. Kita bisa membuat jadi setting film serangan nuklir. Bagaimana jika menjadi serangan zombie?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dawn of the Dead adalah bagian paling terkenal dari seri The Living Dead milik Romero—sekaligus menjadi film paling terkenal dengan setting di sebuah mall. Pada jamannya, Dawn juga mengundang kontroversi dan sedikit ada kendala di MPAA. Bila dalam Night of the Living Dead sama sekali tidak ada adegan sadis yang sampai ke tahap menjijikkan, sekarang, dalam Dawn of the Dead, kita akan melihat yang jauh lebih sakit dari itu, film sudah berwarna, close up adegan zombie memakan daging manusia seperti melahap roti, darah muncrat dimana-mana, kepala dibelah, leher digorok dan make up zombie yang lebih menjijikkan dengan daging keluar dimana-mana—sebagian besar zombie diberi bedak biru di sini. Mungkin inilah seri The Living dead yang paling mendekati horror sampah Italia seperti The Beyond milik Argento atau City of the Living Dead milik Lucio Fulci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan sequence di stasiun televisi, diberitahu bahwa sebuah virus misterius tersebar, menyebabkan mereka yang mati menjadi hidup, dan membunuh mereka yang hidup. Tidak diketahui darimana datangnya virus itu, dari bidang kesehatan atau militer, yang jelas penyebarannya adalah lewat gigitan (atau pertukaran cairan tubuh seperti AIDS?). Zombie-zombie sudah banyak tersebar dan membahaykan kota-kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas empat tokoh utama kita, gadis yang bekerja di stasiun televisi itu, Fran (Gaylen Ross), suaminya sang pilot, Stephen (David Emge), polisi bernama Roger (Scott F. Reiniger) dan seorang polisi misterius, Peter (Ken Foree), kabur menggunakan sebuah helicopter dan mendarat di sebuah mall yang diputuskan sebagai tempat tinggal mereka untuk sementara. Dan di sana, mereka pun harus bisa bertahan hidup dari serangan zombie karena cepat atau lambat, zombie akan mencari tempat persembunyian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“When there’s no room in hell. The dead will walk the earth”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa alasan, Saya mengatakan film ini sangat overrated. Saya cinta sekali Night of the Living Dead (bisa Anda lihat berapa nilai yang Saya beri untuk film itu), tetapi Dawn of the Dead—yang sering disebut-sebut para kritikus salah satu film horror terhebat yang pernah dibuat—hmm…istilahnya “tidak sehebat itu”. Jika Anda pembaca setia blog Saya, pasti sudah tahu bagaimana Saya menggilai horror sampah yang ceritanya busuk, akting jelek asalkan penuh darah, kekerasan, bahkan seks. Akting para aktor-aktor Dawn of the Dead sudah benar jelek sekali. Tetapi di banyak adegan, justru terlihat konyol jika adegan-adegan yang seharusnya menyeramkan diiringi musik taman kanak-kanak khas mall. Dan satu kelemahan film ini adalah durasinya yang terlalu panjang. Kalaupun Dawn of the Dead gagal sebaai film horror, setidaknya, film ini berhasil sebagai film komedi. Ini bukan sindiran. Tetapi Dawn of the Dead lah yang memiliki sindiran itu. Juga banyak terselip humor-humor dadakan yang sangat efektif, keluar begitu saja dari mulut tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan sadis di sini banyak sekali. Seperti yang kita ketahui, MPAA dulu jauh lebih lembek, film-film gory tahun 70-an memang berisi banyak adegan menjijikkan yang tidak akan pernah ditampilkan di film-film horror sekarang—termasuk remake &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/dawn-of-dead_05.html"&gt;Dawn of the Dead&lt;/a&gt; tahun 2004 milik Zack Snyder. Momen-momen mengejutkan juga masih banyak tersebar dimana-mana—yang membuat Dawn of the Dead tetaplah film horror, bukan tembak-tembakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin plus yang Saya lihat dalam film ini adalah Romero berhasil membuat era seperti post-apocalyptic di tahun 1970-an dengan zombie disebut-sebut ancaman untuk hari kiamat. Maksud Saya, atmosfir film ini begitu putus asa. Kekacauan dimana-mana. Petinggi yang mencoba memberikan pesan moral lewat acara berita, stasiun televisi yang memberikan info kadaluwarsa, geng motor, penggunaan zombie sebagai latihan menembak atau sekedar bersenang-senang, perencanaan parah untuk menanggulangi masalah zombie dan pemandangan kota mati tentunya. Begitu juga dengan yang dialami empat tokoh utama, mereka berbagi rokok, minum Jack Daniel, dan bertindak sesuai karakter mereka sendiri. Bumbu percintaan di film ini sama sekali tidak membuat film ini tampak lemah. Justru konflik rumah tangga yang ada akan memperkuat kesan keputus asaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini dikenal dengan beberapa alegorinya. Salah satu yang paling terkenal adalah budaya konsumen amerika yang sangat rakus. Mereka berkumpul di mall hanya atas dasar insting, saling berebut, dan memakan yang hidup. Dan Romero kembali memberikan eksploitasi ras. Ken Foree mewakili Duane Jones dalam Night of the Living Dead yang sama-sama negro, tangguh dan bersenjata—dan tokoh ini juga terlihat sebagai pelayan kulit putih dalam satu adegan. Lihat juga tokoh polisi gemuk di awal film yang gemar menembaki kaum negro dan Puerto rico. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mohon dicatat: untuk film seperti ini, Dawn of the Dead sudah sangat cerdas dan tidak kacangan. Tokoh-tokohnya sangat tegar—itu membuat kita peduli sama mereka. Ending versi bioskopnya—ataupun ending alternatif yang asli dari naskahnya—tidak buruk, tapi bisa dibuat lebih baik dari itu (sejak Night of the Living Dead, entah kenapa Saya selalu memiliki ekspetasi untuk kejutan yang serupa). Pendapat Saya di artikel ini berbeda dengan pendapat publik maupun kritikus-kritikus lainnya. Mungkin juga Anda akan suka film ini. Anda takkan pernah tahu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/xYbSEGUk9lo&amp;amp;hl=" fs="1&amp;amp;" width="640" height="505" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3808117001255110421?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3808117001255110421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3808117001255110421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3808117001255110421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3808117001255110421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/dawn-of-dead.html' title='Dawn of the Dead'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5835902001412006378</id><published>2009-06-03T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T01:13:14.971-07:00</updated><title type='text'>Night of the Living Dead</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 3 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1968&lt;br /&gt;Image Ten&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: George A. Romero&lt;br /&gt;Pemain: Duane Jones, Judith O’Dea, Karl Hardman, Marilyn Eastman&lt;br /&gt;Penulis: John A. Russo &amp;amp; George A. Romero&lt;br /&gt;Sinematografer: George A. Romero&lt;br /&gt;Durasi: 96 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: Not Rated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah memutarkan film ini kepada seseorang. Tetapi Saya tidak mengatakan kalau film ini produksi lebih dari 40 tahun yang lalu dan Saya berbohong kalau penggunaan sinematografi hitam putih itu untuk mereduksi tingkat kekerasan filmnya. Hasilnya? Dia sangat suka filmnya. Dia sempat mengatakan kalau filmnya menegangkan, penuh kejutan dalam adegan horornya maupun ceritanya. Jika Saya mengatakan yang sebenarnya tentang tahun pembuatan film ini, tentu responnya tidak akan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Night of the Living Dead adalah film pertama dari seri Dead milik the godfather film zombie, George A. Romero, sekaligus merupakan judul pertama dalam daftar filmografi George A. Romero. Sekuelnya, &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/dawn-of-dead.html"&gt;Dawn of the Dead&lt;/a&gt; adalah yang paling terkenal dan disebut-sebut lebih baik dari seri pertamanya. dari sudut pandang pribadi Saya sendiri, Night of the Living Dead adalah bagian terbaik di lima serinya (akan terus bertambah) sekaligus—jika tidak ada yang Saya lewatkan—merupakan film zombie terbaik yang pernah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan sepasang saudara di sebuah kuburan. Seorang zombie menyerang mereka yang mengharuskan si gadis, Barb (Judith O’Dea), melarikan diri ke sebuah rumah yang tak jauh dari lokasi. Di sana, ia bertemu pria hitam (Duane Jones), dan beberapa orang yang masih selamat. Mereka harus bisa bertahan hidup paling tidak untuk satu malam mayat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mengapa Saya cinta film ini adalah cerita yang sangat sederhana, produksinya pun tidak kalah sederhana, biaya murah, setting yang berputar-putar di rumah itu saja, darah tidak harus diwarnai merah, namun bisa menjadi film yang kuat, dengan horror dan ketegangan yang sangat efektif ditambah bonus beberapa kejutan di dalamnya. Romero yang duduk di beberapa kursi (sutradara, sinematografer, penulis, editor, dll) dalam pembuatan film ini, memaksimalkan semua modal kecil yang ia dapat untuk membuat yang terbaik—dan benar, film ini layak dicap klasik kalau saja tidak disebut-sebut underrated (dan ingat bahwa ini adalah debut Romero).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Night of the Living Dead adalah sebuah film eksploitasi zombie yang biasanya diputar di bioskop grindhouse atau bioskop drive in. Dan juga sebagai blaxploitation yang kesan itu semakin diperkuat di endingnya. Kebanyakan film-film seperti ini dijauhi dan hanya disukai kalangan fanatik karena tingkat kekerasan dan ketelanjangan yang menjijikkan. “Terlalu jelek malah menjadi bagus,” istilah mereka. Mungkin inilah yang membuat film ini begitu diremehkan—sebenarnya horror jika saja dibuat menarik, akan bisa memberikan kepuasan sekaligus menjadi pengalaman yang menyenangkan. Istilah tadi memang berlaku untuk menikmati film-film eksploitasi horror (biasanya Italia) milik Argento, Fulci, Bava sampai D’amato yang suka membumbui dengan sexploitation. Tapi Saya serius mengatakan kalau Night of the Living Dead di mata Saya menjadi bagus karena saking buruk filmnya. Memang ini adalah contoh satu dari beberapa berlian yang terselip diantara sampah-sampah. Ini memang film bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai film eksploitasi, Night of the Living Dead tidak menampilkan kekerasan yang berlebihan bahkan sama sekali tidak ada adegan telanjang. Dan faktor hitam putih seharusnya bisa mengurangi tingkat kekerasan—karena tidak ada warna merah di layar. Berbeda dengan Dawn of the Dead yang berwarna, darah dimana-mana sapai memberikan close up saat para zombie menggigit para korban—yang seperti itu Saya sebut eksploitasi. Night of the Living Dead jadi terlihat seperti horror yang sopan dan berbudi pekerti. Itulah yang mengejutkan Saya, justru bagaimana film kecil, murah dan sederhana ini bisa kembali memberikan Saya pengalaman yang Saya inginkan dari sebuah film horror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rindu akan adrenalin khas horror yang sudah lama tidak Saya rasakan—terakhir adalah saat menonton versi original The Omen, menjerit di tengah-tengah film, menyumpah-nyumpahi para tokoh, memukul-mukul paha sendiri dan secara refleks berkata, “lari, bodoh!”, “ada zombie di belakangmu”, dan dalam adegan itu, film ini tetap tidak membodohi penonton untuk sekedar menjual ketegangan. Jadi yang membuat Saya mengerenyit saat menonton adalah pada ide Romero itu. Bagaimana ia menciptakan adegan-adegan yang tidak biasa, dan sangat mengganggu dengan grafik yang tidak menjijikkan—dan di satu adegan legendaris film ini, sebenarnya Romero sudah melunakkan idenya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sistem franchise (James Bond contohnya), formula dalam Night of the Living Dead saking klasiknya, sampai membuat Saya berpikir bahwa itu adalah sebuah patokan. Terjebak di suatu gedung yang dikelilingi zombie—dan sekedar catatan, tidak pernah disebut kata “zombie” dalam film ini—, gadis kulit putih, pria negro tangguh yang memegang senjata, sepasang kekasih, dan lain-lain. Lebih baik Saya tidak menyebutkan tag yang terlalu banyak untuk mengurangi spoiler. Seperti itu kan formula film zombie? Konfliknya hanya dibolak-balik sekitar itu, mungkin endingnya dari ditolong polisi menjadi berhasil kabur, atau apalah contohnya. Night of the Living Dead adalah salah satu pionirnya. Itu jenius.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Night of the Living Dead juga mempunyai remake resmi yang sudah berwarna seperti yang pada tahun 1990 dan versi 3D tahun 2006. Tapi tetap saja tidak ada yang sebaik originalnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5835902001412006378?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5835902001412006378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5835902001412006378' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5835902001412006378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5835902001412006378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/night-of-living-dead.html' title='Night of the Living Dead'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5489461274506030308</id><published>2009-06-02T10:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T10:30:33.776-07:00</updated><title type='text'>X-Men Origins: Wolverine</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 1 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;20th Century Fox&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasy&lt;br /&gt;Sutradara: Gavin Hood&lt;br /&gt;Pemain: Hugh Jackman, Live Schreiber, Danny Huston, Lynn Collins&lt;br /&gt;Penulis: David Benioff &amp;amp; Skip Woods&lt;br /&gt;Sinematografer: Donald M. McAlpine&lt;br /&gt;Musik: Harry-Gregson Williams&lt;br /&gt;Durasi:107 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wolverine adalah tokoh pertama yang diangkat dalam seri X-Men Origins—untuk selanjutnya akan ada Magneto, dan mungkin seiring film ini dirilis, Gambit, Deadpool dan Emma Frost juga akan dibuatkan seri origin-nya. Origin memang selalu menjadi istilah yang sangat menarik—terutama sejak kita mengenal Batman Begins dan Casino Royale. Begitu juga film ini diharapkan menjadi auto-biografi tokoh komik nomer satu sepanjang masa. Hugh Jackman tetap berperan sebagai Wolverine. Ia bangga melakukan itu, ikut menjadi produser film ini dan rela bangun tidur di tengah malam untuk minum protein. Tapi nama yang paling menarik di sini tetap Gavin Hood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada Saya sebut X-Men Origins: Wolverine sebuah film yang mengupas secara lengkap tentang asal usul Wolverine, film ini malah menjadi seri X-Men keempat hanya saja sekarang menggunakan sistem prekuel karena X-Men: The Last Stand dirasa sulit untuk dilanjutkan. Gambaran paling pas untuk X-Men Origins: Wolverine adalah pameran superhero dan pria tampan berprotein tinggi. Akan ada banyak sekali mutan terkenal di sini dan mereka hanya tampil sangat sebentar untuk sekedar menunjukkan kekuatan spesial yang mereka miliki saja—dan naskahnya yang menyuruh Wolverine untuk berhadapan dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog film ini bersettingkan tahun 1840 di Kanada. Memperlihatkan Logan dan Victor kecil. Dan opening credits nya memakai background Perang Saudara, Perang Dunia ! dan II serta Perang Vietnam yang melibatkan dua pria Kanada yang sudah dewasa itu, James Howlett AKA Logan AKA Wolverine (Hugh Jackman) dan Victor Creed AKA Sabretooth (Live Schreiber). Lantas mereka direkrut Jendral William Stryker (Danny Huston) untuk bergabung bersama pasukan khusus mereka yang terdiri dari mutan-mutan sakti. Merasa dijadikan hewan pembunuh, Logan meninggalkan Victor dan pasukan Stryker tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan sudah Logan hidup normal sebagai tukang kayu dan memiliki kekasih mutan yang juga seorang guru SD, Kayla (Lynn Collins). Di suatu hari, Stryker kembali muncul dan ingin merekrut Logan untuk sebuah eksperimen menciptakan Weapon X bersenjatakan logam adamantium. Itu akan diperlukan untuk bisa mengalahkan Victor yang kembali mengganggu ketenangan hidup sang Wolverine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam petualangan Wolverine kali ini, akan ada banyak mutan sekedar lewat menghiasi layar. Saat masih bergabung dalam pasukan elit Stryker, sebut saja ada: Fred Dukes AKA Blob (Kevin Durand) yang kuat, elektrokinesis Chris Bradly (Dominic Monaghan), jago pedang yang banyak mulut Wade Wilson AKA Deadpool (Ryan Reynolds), mutan berkemampuan teleport John Wraith AKA Kestrel (Will.i.am) dan mutan jago tembak David North AKA Agent Zero (Daniel Henney). Setelah itu, terlihat juga Scott Summers AKA Cyclops muda, Emma Frost yang bisa mengubah kulitnya menjadi berlian serta yang paling ditunggu-tunggu, Gambit (Taylor Kitsch). Apa yang membuat Wolverine harus bertemu semua mutan ini dalam waktu yang singkat? Tentu hanya naskahnyalah yang menyuruh. Semua orang menjadi saling melemparkan peran seperti sebuah lari estafet. Kehadiran mutan kelebihan berat badan Blob hanya terkesan seperti pengundang tawa anak-anak saja, diperkenalkannya Cyclops juga terkesan sekedar ingin menunjukkan bahwa tidak ada X-Men tanpa Cyclops. Tidak ada poin penting dari sekedar menjadi catwalk bagi pahlawan super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa Saya tangkap dari Wolverine? Inilah apa yang biasanya menjadi daya tarik film origin. Apa yang ada di pikiran Bruce Wayne sehingga ia merasa harus menjadi Batman? Apa yang membuat Tony Stark menjadi Iron Man dan memerangi kejahatan? Itu hal yang tidak bisa ditemukan secara lengkap di dalam Wolverine kecuali mengapa ia bisa mendapatkan cakar adamantium dan mengapa ia bisa hilang ingatan saja. Dan kita mengetahui kalau ternyata Wolverine sudah berusia lebih dari seratus tahun tanpa mengalami penuaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang membuat ekspetasi sedikit tinggi adalah nama Gavin Hood. Dia telah membuat Tsotsie. Paling tidak kita ingin suguhan yang mendekati Batman Begins atau Tsotsie versi X-Men. Dan lantas Saya melihat durasi film ini sungguh tidak biasa. Satu setengah jam dan banyak tokoh di dalamnya. Ramalan buruk yang senada ketika sutradara sekelas Marc Forster ditunjuk menyutradarai Quantum of Solace yang panjang durasinya juga sama kontroversialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai memahami mengapa Wolverine pantas dijadikan film pendek. Hasil akhir film ini adalah sebuah film pop corn biasa—yang otomatis berarti tidak perlu durasi yang lama untuk memanjang-manjangkan cerita. Dan justru aneh kalau durasinya terlalu panjang dengan cerita seadanya (lihat Terminator Salvation). Naskah yang sangat buruk hanya mengandalkan aksi dimana-mana—benar berarti di berbagai setting. Lubang plot? Banyak sekali. Sesuatu yang diharapkan bisa menjadi twist juga sudah dapat ditebak sebelumnya—bahkan ada bagian dimana Saya baru sadar kalau Saya baru saja melihat sebuah twist tanpa Saya peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tokoh protagonis di sini sudah pasti bahu membahu dan kemunculannya itu selalu tepat di saat yang mendesak dan diharapkan. Jadi Wolverine tidak mungkin mati. Kalaupun mati, dia akan hidup kembali lagi sebentar. Dan ada satu adegan yang merupakan sebuah klise di film-film aksi kelas B seperti khas Desperado milik Robert Rodriguez. Ya, banyak adegan aksi yang dramatis. Termasuk perkenalan tokoh Gambit muda yang terlihat sangat flamboyan itu (ini seharusnya bisa menyaingi popularitas Edward Cullen di mata gadis remaja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X-Men Origins: Wolverine masih lebih bagus dibanding X-Men: The Last Stand yang Saya nilai bodoh sekali. Melihat Wolverine dan Sabretooth bagai Batman dan Joker yang saling melengkapi hidupnya adalah satu dari sedikit hal yang menarik di film ini. Aksi seru? Memang. Anak-anak pasti suka. Menghibur? Pasti. Terutama jika Anda penggemar komik. Akan ada Wolverine yang mengendarai chopper bahkan terbang menusuk sebuah helicopter dan bergaya dengan api sebagai latar belakangnya. Keren? Yang ini Saya hanya bisa bilang “tergantung”. Selain Anda tertarik hanya karena ingin menyaksikan aksi mutan favorit Anda yang belum mendapat porsi dalam trilogy X-Men, tidak ada hal menarik yang perlu di lihat di sini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5489461274506030308?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5489461274506030308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5489461274506030308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5489461274506030308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5489461274506030308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/06/x-men-origins-wolverine.html' title='X-Men Origins: Wolverine'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-390365625294272911</id><published>2009-05-31T11:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T10:28:56.391-07:00</updated><title type='text'>Terminator Salvation</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 29 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fiksi Ilmiah&lt;br /&gt;Sutradara: McG&lt;br /&gt;Pemain: Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Bryce Dallas Howard&lt;br /&gt;Penulis: John Bracanto &amp;amp; Michael Ferris&lt;br /&gt;Sinematografi: Shane Hurlbut&lt;br /&gt;Musik: Danny Elfman&lt;br /&gt;Durasi: 115 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai membicarakan filmnya, Terminator Salvation adalah film pembuka summer di bioskop di daerah Saya. Hari itu Saya langsung menonton Terminator Salvation dan X-Men Origins: Wolverine. Rasanya bioskop sudah menjadi seperti taman bermain anak-anak dan pusat komedi putar. Satu studio adalah pameran robot-robotan, satu studio lagi adalah pameran mutan-mutan berkekuatan super. Seperti berada di dufan, apa yang dilihat bukanlah film dengan naskah yang ditulis dengan matang—melainkan hanya rekaman full aksi dengan ledakan dan efek yang luar biasa. Kita harus murni mencari hiburan di sini. Dan sedikit cerita, saat Terminator Salvation diputar, ada saja yang masih bisa membuat kerusuhan di studio dengan menghidupkan handphone. Yang Saya sayangkan adalah orang itu baru saja melewatkan serangkaian adegan perang berbiaya 2 triliun rupiah lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin orang yang Saya sebut di atas pasti tetap mengerti plot filmnya. Karena saat kita berbicara tentang serangkaian adegan aksi dalam film ini, topik itu tidak akan selesai-selesai—Terminator Salvation memang sebagian besar hanya berisikan adegan aksi tanpa cerita. Jika Anda sudah menontonnya, Anda akan tahu kemana saja larinya uang 2 triliun itu. Penuh ledakan, aksi robot super besar, tembak-tembakan, kejar-kejaran di udara, motor-motoran, dan semua hal berbau aksi futuristik. Di berbagai kesempatan, pahlawan kita di film ini bertindak hanya atas dasar tuntutan naskah saja—dengan kasarnya hanya mencari ide agar bisa menampilkan aksi yang lebih banyak. Padahal, salah satu yang menjadi harapan positif para fans Terminator untuk Salvation setelah pesimis mendengar masuknya nama McG adalah naskah yang berkali-kali dirombak oleh penulis-penulis top seperti Paul Haggis dan Jonathan Nolan. Sekarang, tetap saja semuanya menjadi film full aksi khas summer. Banyak orang sudah lelah mendengar Saya berkomentar seperti ini. “Jangan menonton film summer kalau meremehkan aksi khas summer,” kata mereka. Di sini sebagai pembelaan, Saya bukan seorang yang anti pop atau bagaimana, jika kita sudah membicarakan hiburan, itu akan jauh lebih subjektif dibandingankan membicarakan kualitas. Tidak semua orang bisa terhibur dengan film full aksi, beberapa orang justru terhibur melihat adegan romantis, sebagian lagi terhibur menyaksikan naskah yang enak disantap—Saya masuk dalam kategori ini. Sejujurnya, dengan menghentikan kerja otak Saya saat menonton film ini, saya cukup merasa terhibur melihat semua suguhan di layar—tolong perhatikan kalimat tadi agar Saya tidak dicap hanya mencari-cari kesalahan sebuah film pop. Poin Sya adi sini adalah, Terminator Salvation memang tidak punya cerita yang baru—kalaupun temanya menarik, itu memang sepenuhnya milik Terminator milik Cameron, Salvation hanya mengungkit secuil saja sebagai jembatannya. Dengan cerita yang sebenarnya sangat sangat sangat pendek, serangakaian adegan aksi dipanjang-panjangkan hingga film ini berhasil menjadi durasi dua jam. Menurut Saya, sebagai penyeimbang antara cerita yang singkat dengan aksi yang mahal, durasi film ini menjadi terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2018, di hari kiamat, para pasukan pemberontak masih terus berperang melawan Skynet untuk bisa bertahan hidup. Banyak orang percaya masa depan manusia bergantung pada nabi muda, John Connor (Christian Bale). Pusat komando gerakan pemberontak yang dipimpin oleh Jendral Ashdown (Michael Ironside) menemukan bom yang bisa menghancurkan skynet dan Connor bersedia menjadi sukarela untuk melakukan misi suci itu. Ternyata ayah Connor yang di tahun ini masih remaja, Kyle Reese (Anton Yelchin) beserta banyak tawanan manusia lainnya masih terjebak di markas skynet yang membuat Connor harus lebih dulu menyelamatkan sang calon ayah. Dalam misi pribadinya ini, Connor dibantu oleh pria kekar dari tahun 2003, Marcus Wright (Sam Worthington), untuk bisa menembus skynet dan menyelamatkan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminator Salvation punya feel yang beda dari tiga film terminator sebelumnya. Saya katakan kalau Terminator Salvation seperti Transformers ditambah dengan Mad Max. Setting-nya sangat depressing memperlihatkan bumi post-apocalyptic. Daripada disebut aksi kucing-tikus seperti sebelumnya, Terminator Salvation lebih cenderung menuju jenis film perang dengan warna yang dikurangi serta nyaris selalu kecoklatan seperti Saving Private Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara masalah pameran robot, Terminator Salvation adalah seri Terminator yang paling banyak menampilkan robot seri T. Bukan lagi robot yang bisa meleleh atau robot berkedok wanita seksi, tetapi apa yang ada di Terminator Salvation adalah tipe robot-robot raksasa seperti Transformers. Lihat juga mototerminator. Seri T primitif seperti T-600 dan tentu saja ikon seri Terminator, T-800. Semua desain itu sudah dibuat oleh maestro efek khusus Stan Winston, sebelum ia meninggal di tengah-tengah produksi film ini. Dan visual akhirnya sangat extravaganza. Boleh diadu dengan kemegahan Transformers—dan memang sepertinya Terminator Salvation pasti akan menjadi pembanding saat sekuel Transformers dirilis beberapa minggu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam Worthington mencuri perhatian lewat perannya sebagai pria dari masa lalu yang kembali idup di masa depan, Marcus Wright—ia sudah menutup peran sentral John Connor. Christian Bale membawa emosi khas Batman ke dalam tokoh John Connor. Ia marah-marah dengan logat amerika. Menyinggung kontroversi di balik syuting Terminator Salvation—dimana Bale mengeluarkan kata-kata kasar kepasa sinematografer Shane Hurlbut yang berjalan melewati kamera ketika Bale melakukan pengambilan gambar—Bale tetap memberikan yang terbaik walaupun kita tahu sudah tahu kalau tidak ada penokohan luar biasa dalam naskahnya dan efek visual serta akting para robot pun akan menjadi scene stealernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru akan mulai menyinggung plotnya, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;jadi untuk seterusnya akan ada spoiler&lt;/span&gt;. Bagi orang yang sudah menonton ketiga seri Terminator sebelumnya—untuk Salvation, jembatannya khusus untuk Terminator pertama saja—pasti sudah tahu ending film ini. Kyle Reese muda (Anton Yelchin) pasti selamat dan ketika dewasa (dalam The Terminator diperankan Michael Biehn) akan dikirim oleh anaknya, John Connor, kembali ke masa lalu untuk mencari ibunya, Sarah Connor (dulu diperankan Linda Hamilton). Walaupun begitu, Salvation masih memiliki beberapa twist yang bisa memancing spontanitas decak penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang cukup menarik dalam Terminator Salvation yang bisa diperhatikan. Pertama tentunya setting pasca kiamat yang sangat depressing. Tingkah para pemberontak yang seperti robot menyiksa manusia setengah robot Marcus. Quote legendaris seperti “I’ll be back,” kembali dimunculkan di sini walaupun sepertinya sangat memaksa. Dan kejutan terbesar datang dengan munculnya kembali CGI dari Arnold Schwarzenegger sebagai T-800 dalam pertempuran klimaks John. Cukup cerdik karena nada pesimis fans selalu mempertanyakan Terminator tanpa Schwarzenegger. Dengan aksi megah yang membuat mata terpaku, Terminator Salvation adalah contoh film yang harus lewat memanaskan musim panas.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Masalahnya di sini adalah: Saya tidak akan memfavoritkan film yang membuang puluhan menit durasinya agar tokoh jagoannya bisa diperlihatkan menguji sinyal ampuh pembasmi robot itu. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-390365625294272911?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/390365625294272911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=390365625294272911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/390365625294272911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/390365625294272911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/terminator-salvation.html' title='Terminator Salvation'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1527855331035958347</id><published>2009-05-23T02:43:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T13:14:18.098-07:00</updated><title type='text'>Knowing</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 23 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Summit Entertaiment&lt;br /&gt;Jenis: Thriller, Fiksi Ilmiah&lt;br /&gt;Sutradara: Alex Proyas&lt;br /&gt;Pemain: Nicolas Cage, Chandler Carterbury, Rose Byrne, Lara Robinson&lt;br /&gt;Penulis: Juliet Snowden &amp;amp; Stiles White&lt;br /&gt;Sinematografi: Simon Duggan&lt;br /&gt;Musik: Marco Beltrai&lt;br /&gt;Durasi: 122 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knowing adalah film pertama yang membuat Saya ingin terus mencari tahu sesuatu di balik ceritanya sejak The Dark Knight tahun lalu—dimana Saya terus mempelajari psikologi balik The Dark Knight. Sekarang, dalam Knowing, yang menurut Saya merupakan patokan seperti apa definisi sebuah fiksi ilmiah yang sebenarnya, kita dituntut menyadari dan melakukan riset “mengapa dan bagaimana” untuk semua aspek bahkan hal-hal trivial film ini. Dan itu membuat Knowing “seharusnya” juga menjadi topik utama diskusi film selama berminggu-minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat reaksi publik terhadap film ini. Film ini sudah dipastikan akan menguntungkan para produsernya mengingat biaya yang hanya US$ 50 juta. Lantas sebagian besar kritikus justru menghina film ini—hanya Roger Ebert dan sedikit sisanya saja yang memberikan jempol naik untuk film ini. Memang Saya cukup mengerti sebagian alasan mengapa mereka tidak suka Knowing. Apakah film ini underrated? Pasti. Banyak yang menghina bagian ending, logika dan Nicolas Cage dalam film ini. Untuk dua hal pertama, lebih baik tidak Saya bahas di sini—sebagai gantinya, Saya akan menulis artikel lain yang membedah film ini (dan akan ada banyak spoiler di sana), dan untuk Nicolas Cage, memang Saya akui akhir-akhir ini ia sering sekali memilih film yang dibenci kritikus (Ghost Rider, Bangkok Dangerous). Melihat formula film disaster dengan pahlawan seorang Nicolas Cage? Sudah punya anggapan buruk sebelumnya kan? Yang perlu diperhatikan di sini juga nama sutradara Alex Proyas. Dia boleh gagal dalam I, Robot, tapi cobalah juga untuk memperlebar sudut pandang kita melihat mahakaryanya, sebuah film fiksi ilmiah berjudul Dark City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkejut mengetahui Knowing diputar cukup cepat di Indonesia. Knowing bukanlah film besar calon blockbuster. Itu film action disaster. Menghibur? Sangat. Untuk sebuah film thriller, Knowing justru sangatlah menegangkan seperti mesin pengebor jantung. Visual efek megah? Sudah lengkap. Sangat imajinatif walaupun dengan biaya relatif murah, tetapi apa yang Saya lihat di layar melebihi apa yang biasa Saya lihat di film-film pesta visual efek khas musim panas. Adegan yang membuat penonton sampai terbuai terbang ke angkasa? Tentu ada. Dan memang sangat memberi efek kejutan. Twist? Ada. Memang beresiko jika memiliki twist. Logika setiap penonton berjalan sendiri-sendiri. Tapi Saya bisa menangkap twist film ini. Itu hal yang wajib ada di setiap film komersil yang disertai kualitas. Sekarang, apa yang dimiliki Knowing tetapi tidak dimiliki film-film bagus lainnya adalah: makna dalam di balik ceritanya—yang bukan merupakan pesan moral. Tetapi suatu teori yang harus direnungkan, dipikirkan, dicari tahu, dan dibahas. Sebenarnya bisa saja Anda duduk, menonton, merasakan ketegangan, film selesai dan Anda menutup kasusnya—itu mungkin berakhir dengan Anda menghina balik film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knowing akan jauh lebih berarti jika kita memiliki keinginan, keingin tahuan dan kehausan untuk membedah film ini. Darimana Saya tahu hal itu—semua bagian film yang dipercaya merupakan alegori, bahkan menjadi parallel dengan Ezekiel? Saya percaya di beberapa bagian film ini, merupakan simbol-simbol yang disampaikan lewat adegan sampai property dan nama tokoh yang aneh. Saya merasakan aura itu—seperti aura yang dimiliki Pan’s Labyrinth. Kita bicarakan ini di tempat lain—pastinya setelah Anda sendiri menonton film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dimulai tahun 1959—Saya membuat catatan di bagian awal-awal Knowing, film ini sedikit terlihat seperti film horror, didukung dengan set yang cukup depressing, darah, score yang membuat bulu kuduk berdiri dan sebuah misteri besar di dalamnya. Di sebuah SD di Massachusetts, semua siswa merayakan peresmian sekolahnya dengan membuat sebuah kapsul waktu yang akan diisi oleh kertas gambaran masa depan yang dibuat siswa-siswa sekolah itu. Dan kapsul itu disimpan selama lima puluh tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, waktunya membuka kapsul waktu yang sudah lama terkubur itu. Ketika anak-anak lainnya mendapat bermacam-macam gambar seperti gambar pesawat luar angkasa, seorang anak bernama Caleb (Chandler Carterbury) justru mendapat kertas yang penuh berisikan angka-angka. Kertas itu dulunya ditulis oleh siswi aneh bernama Lucinda (Lara Robinson). Ayah tunggal Caleb, seorang ilmuwan bernama John Koestler (Nicolas Cage), mulai terobsesi dengan angka-angka itu sejak ia mencoba-coba melakukan riset dan ternyata angka-angka itu adalah semacam petunjuk terhadap kejadian-kejadian yang terjadi selama lima puluh tahun belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John terseret dalam obsesi barunya ini sampai melibatkan anak dan cucu Lucinda, Diana (Rose Byrne) dan Abby (kembali diperankan Lara Robinson). Anda tidak akan melihat hal murahan seperti Diana yang menjadi love interest bagi John. Menemukan pria-pria berpakaian aneh seperti seorang pemuja setan, sampai harus mengakhiri rasa ingin tahunya terhadap angka-angka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal menarik dalam tokoh John adalah, dia seorang ilmuwan astronomi yang memandang hal secara realistis dan logis. Rekan dosennya di MIT, Phil Beckman (Ben Mendelsohn), awalnya menganggap kalau John sudah dibuat gila dengan rasa penasarannya itu. Mengingat, John awalnya adalah pria yang mengatakan kalau segala sesuatu di dunia ini berlangsung begitu saja—tidak ada yang mengatur sebelumnya. “Shit just happens,” katanya di kelas. Cage memerankan tokoh John dengan baik. Dia bukan pahlawan jago tembak lagi di sini, dia merasakan keragu-raguan, kepanikan, kasih sayang, kecemasan bahkan ketakutan akan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah akan dicap cult classic atau ikut punah, Saya berpikir Knowing adalah sebuah film wajib tonton—salah satu film terbaik yang pernah Saya tonton. Dengan berbagai alasan subjektif dan alegori-alegori itu, film ini “seharusnya” masuk jajaran fiksi ilmiah klasik. Namun kalaupun Anda tidak setuju, Anda tidak sendirian—tetapi Saya sangat berharap agar orang-orang setidaknya mau membuat sebuah interpretasi daripada sekedar menikmati Knowing selayaknya film action disaster pop corn milik Roland Emmerich—baik Proyas dan Snowden menolak memberikan interpretasi mereka terhadap karya mereka ini. Karena walaupun akhirnya Anda mungkin tetap membenci film ini, paling tidak Anda bisa menghargainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knowing mempertanyakan: apakah kejadian-kejadian di hidup sudah diatur sehingga bisa diramal sebelumnya? Apakah hal-hal berbau supranatural seperti Tuhan itu memang ada? Atau itu terjadi karena proses yang bisa dimasukkan ke dalam bidang pengetahuan? Bagaimana jika Anda sudah mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup ini selanjutnya? Apalagi jika yang Anda ketahui itu sebuah kejadian besar? Dan yang paling mendasar bagi para pembenci logika dalam Knowing: adakah makna tersembunyi atau simbol yang ingin disampaikan lewat ending yang sangat absurd dan tidak biasa itu? Itu pekerjaan rumah penonton Knowing. Saya rasa cukup sekian saja dulu pertemuan kita kali ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Teori dalam Knowing&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Knowing adalah salah satu film terbaik yang pernah Saya tonton—yang menurut Saya merupakan patokan seperti apa definisi sebuah fiksi ilmiah yang sebenarnya, kita dituntut menyadari dan melakukan riset “mengapa dan bagaimana” untuk semua aspek bahkan hal-hal trivial film ini. Dan itu membuat Knowing “seharusnya” juga menjadi topik utama diskusi film selama berminggu-minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya tidak sedikit yang bisa kita bahas dalam Knowing. Teologi, agama, simbol-simbol adalah hal-hal yang perlu dibahas. Tentu saja Saya sendiri tidak akan bisa menemukan semuanya dalam waktu singkat dan menggunakan pikiran sendiri saja. Saya melakukan riset, mengeklik Google, bertanya-tanya kepada orang-orang (terutama jika sudah berkaitan dengan ajaran Kristen—karena Saya bukan pemeluk agama Kristen), membaca blog-blog dari kritikus film maupun penonton-penonton yang sudah membuat interpretasinya sendiri-sendiri. &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karena itu, akan ada banyak spoiler. Diharapkan tidak melanjutkan membaca jika belum menontonnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering terdengar gosip, kalau sutradara Alex Proyas termasuk salah seorang penganut aliran scientology. Sedikit banyaknya, hal itu sangat tercermin dalam Knowing. Apakah kejadian-kejadian di hidup sudah diatur sehingga bisa diramal sebelumnya? Apakah hal-hal berbau supranatural seperti Tuhan itu memang ada? Atau itu terjadi karena proses yang bisa dimasukkan ke dalam bidang pengetahuan? Adakah makna tersembunyi atau simbol yang ingin disampaikan lewat ending yang sangat absurd dan tidak biasa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan bernama John Koestler (Nicolas Cage) mengatakan kalau semua terjadi begitu saja. Ia sedang membersihkan rumah dan di waktu yang bersamaan, istrinya terjebak dalam sebuah kebakaran—dan John tidak merasakan itu. Bahkan di saat orang yang kita sayang sedang menghadapi kematiannya, kita tidak bisa merasakannya—jelas John tidak memiliki kemampuan The Shining milik Stephen King itu. Atau apakah The Shining itu memang ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1959, di sebuah SD, siswi aneh bernama Lucinda (Lara Robinson) menuliskan sederet angka-angka yang akan dimasukkan ke dalam kapsul waktu yang akan dibuka lima puluh tahun mendatang. Ternyata angka-angka itu merupakan sebuah ramalan terhadap kejadian-kejadian besar yang terjadi selama lima puluh tahun ke depan. Ramalan terakhir terjadi tahun 2009. Apa itu berarti Lucinda hanya menerawang sampai tahun 2009? Atau memang tidak ada lagi yang bisa diramalkan sejak tahun 2009? Itu adalah hari kiamat bumi. Dan bagaimana Lucinda bisa mengetahuinya? Karena dia memiliki kekuatan mistis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada perayaan lima puluh tahun SD tersebut, anak John, Caleb (Chandler Carterbury), mendapatkan kertas berisikan angka-angka itu ketika teman-temannya mendapat kertas ramalan berupa kendaraan luar angkasa. Dan dia sudah seperti ditakdirkan menerima kertas itu. Karena John akan mengambilnya dan meneliti pola dalam angka-angka itu—dengan kata lain, sudah ditakdirkan (atau “direncanakan”?) jauh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekakuan John itu mulai pudar ketika menemukan penggalan angka 9112001 dalam kertas. 9-11-2001 hari dimana anak-anak Al Qaeda meng-hijack pesawat dan menabrakkannya ke gedung kembar WTC. Dan selanjutnya terdapat angka 2996 yang menunjukkan jumlah korban yang tewas dalam kejadian itu. Untuk nomor-nomor selanjutnya, sepanjang hari John selalu googling dan ramalan itu sangat akurat menunjukkan tanggal dan jumlah korban banyak kecelakaan besar akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John mulai melaporkan keanehan ini ke rekan dosen di MIT, Phil Beckman (Ben Mendelsohn). Phil menyarankan agar John melupakan obsesi barunya terhadap angka-angka itu—ia menganggap John mulai gila. Di sini, John mulai mempertanyakan, apakah sesuatu itu benar terjadi begitu saja seperti yang ia percayai selama ini? Atau memang sudah ditakdirkan untuk terjadi? John pasti mencari tahu soal ini. Terutama ketika ramalan menunjukkan akan ada kecelakaan dengan jumlah korban yang cukup besar dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama ia membuktikan itu—dan dia memang sudah ditakdirkan agar bisa percaya, John menemukan angka-angka yang jelas bukan merupakan tanggal atau sebagainya. Terjebak di kemacetan lalu lintas, dalam GPS ia melihat angka-angka yang belum terpecahkan itu sebagai koordinat bujur dan lintangnya. Lantas, ada sebuah adegan kecelakaan pesawat yang pasti membuat siapapun yang menontonnya tercengang—termasuk Saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari di mana akan terjadi sebuah kecelakaan besar lagi, John justru berusaha melawan takdir itu dengan mencegah sebuah kecelakaan. Ia pergi ke sebuah stasiun kereta api bawah tanah mencari orang yang dicurigakan membawa bom. Berhasil menangkap pria itu, justru sebuah kecelakaan kereta api yang terjadi. Knowing memang menunjukkan bahwa sesuatu sudah menjadi garis tangan kita—tidak akan bisa diubah. Harus dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saat kita mengetahui bahwa dunia akan kiamat? Sesuai bidangnya, John segera meneliti bahwa akan terjadi sebuah ledakan matahari mahadashyat big bang yang akan membumihanguskan bumi kita ini sehingga tak akan ada satupun organisme tersisa di bumi ini. Kali itu, John sudah bersama Caleb serta mengajak Diana (Rose Byrne) dan Abby (Lara Robinson) yang merupakan anak dan cucu Lucinda. Dia tahu kalau mereka takkan selamat, tetapi John masih mencari cara terbaik bagaimana bisa melindungi anak-anak itu dari kiamat. Terdengar aneh? Itulah sebuah insting kasih sayang itu—dan sebenarnya memang John takut akan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah adegan, diperlihatkan Caleb kesurupan seperti Lucinda dan ikut-ikutan menulis angka-angka itu di sebuah kertas. Kita tidak pernah tahu dengan jelas angka-angka berapa saja yang ia tulis—dan memang tidak ada tujuan mengapa kita harus tahu dan alasan mengapa harus diberi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, mereka berempat dihantui oleh pria-pria berkerudung yang selalu berbisik kepada Caleb dan Abby di tengah malam. Di jam-jam terakhir akhir dunia, Caleb dan Abby diundang para pria-pria berkerudung itu untuk menaiki “pesawat luar angkasa” milik mereka. Akhirnya pria-pria misterius itu menunjukkan wujud aslinya—berbentuk manusia, tetapi bersinar, mengkilap seperti Klaatu dalam The Day The Earth Stood Still baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka alien atau malaikat? Itu pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Mereka tidak punya sayap—tetapi punya pesawat luar angkasa. Ada yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya mempunyai sayap—tetapi itu benar luput dari pandangan Saya. Entahlah. Saya menurut Saya, mereka adalah malaikat dalam versi baru. Dikaitkan dengan pengetahuan dan masa kini—dan untuk terhindar dari pengaruh mistis, Saya pikir Proyas menggunakan sosok alien sebagai malaikat penyelamat dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kemudian dipertanyakan: mengapa hanya dua Caleb dan Abby? Mengapa John tidak boleh ikut? Padahal John orang baik yang berjuang untuk anaknya. Saya bertanya tentang ini kepada seseorang dan ia mengatakan bahwa menurut ajaran Kristen “hanya sedikit yang terpilih,” Satu hal yang baru Saya ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan film berakhir dengan Caleb dan Abby berada di sebuah padang rumput lengkap dengan satu pohon besar. Mereka menjadi Adam dan Hawa yang baru? Ya. Saya juga mendengar kalau Proyas adalah penganut New Age alias percaya bahwa kiamat bukan berarti akhir dari segalanya. Akan ada sebuah kehidupan baru sebagai siklus. Itu mengapa Caleb juga membuat ramalannya tersendiri. Dan masalah Adam dan Hawa ini…terlihat tidak hanya satu UFO yang berangkat. Tetapi jumlahnya cukup banyak. Saya yakin itu sepenuhnya adalah tentang hari kiamat di tahun 2012 menurut kalender suku Maya kuno. Caleb beserta anak-anak lainnya adalah anak-anak indigo (tingkat tertinggi evolusi manusia memiliki kemampuan membaca pikiran, melihat masa depan, dan memiliki nilai kreativitas dan pemikiran lebih dari yang manusia atau anak-anak pada umumnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga alien dalam film ini sudah mengetahui hari kiamat sebelum tahun 1959. Karena itu ia meminjam tubuh Lucinda untuk menuliskan sebuah ramalan untuk lima puluh tahun ke depan. Jika beanr begitu, alien pasti sudah memiliki kekuatan seperti Tuhan. Jadi siapa yang menyelamatkan kita? Mereka yang “tidak terlihat” yang berada di alam di atas alam manusia? Atau yang “belum terlihat” yang tinggal di luar planet kita? Teori alien dan Ketuhanan adalah hal yang bertentangan. Dan Proyas menggabungkannya menjadi satu. Semua orang bisa mengira bahwa Proyas penganut scientology. Hal-hal berbau supernatural dijelaskan secara ilmiah dalam Knowing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di atas adalah hal berat yang tidak mungkin menemukan akhir penyelsaian jika diperdebatkan—kecuali manusia bisa melihat kehidupan masa lalu atau fenomena alien sudah terungkap jelas. Knowing juga bisa dibilang secara tidak langsung menyinggung masalah pemanasan global. Bukan persuasif. Hanya menunjukkan bagaimana jika bumi kiamat terkena letusan big bang matahari. Knowing memang bukan film untuk diambil pesan moralnya apalagi persuasif. Knowing hanya memebrikan kita beberapa topik untuk direnungkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Ada beberapa hal menarik seputar film ini yang tidak Saya cantumkan seperti bagaimana Ebert mengait-ngaitkan nama tokoh-tokoh dalam Knowing ke dalam agama. Contohnya adalah Koetsler…nama yang tidak umum, kan? Juga Saya sempat sekilas mendegar arti beberapa properti dalam film ini seperti mengapa dipakai kapsul waktu dan sebagainya. Untuk lebih jauh mengenai hari kiamat 2012, bisa di klik &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/2012_doomsday_prediction"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1527855331035958347?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1527855331035958347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1527855331035958347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1527855331035958347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1527855331035958347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/knowing.html' title='Knowing'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5932395021852571396</id><published>2009-05-20T01:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T01:52:28.388-07:00</updated><title type='text'>Push</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 18 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Summit Entertaiment&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Paul McGuigan&lt;br /&gt;Pemain: Chris Evans, Dakota Fanning, Camila Belle, Djimon Hounsou&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penulis: David Bourla&lt;br /&gt;Sinematografi: Peter Sova&lt;br /&gt;Musik: Neil Davidge&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Durasi: 111 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman superhero seperti sekarang, bahkan sudah banyak superhero mulai tidak mengenakan kostum khusus lagi seperti pahlawan dahulu. Beberapa juga diciptakan langsung demi keperluan film tanpa mengadaptasi media seperti komik sebelumnya. Ambil contoh yang mendekati saja—serial TV Heroes. Dalam dunia Heroes, terdapat banyak manusia dengan kekuatan super. Ada manusia terbang, manusia pengendali waktu, manusia yang melihat masa depan, manusia tidak bisa mati dan lain-lain. Begitu juga dalam Push. Akan ada berbagai jenis superhero berkedok manusia biasa di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem dalam Push mengingatkan Saya terhadap film superhero lainnya milik Walt Disney (lihat Sky High). Kenapa? Karena beberapa jenis kekuatan dimiliki sang protagonis dan kita tidak perlu khawatir jika pahlawan kita menemukan jalan buntu dalam jebakan musuh. Karena salah satu dari mereka pasti memiliki kekuatan yang pas untuk mengeluarkan mereka dalam masalah. Itu ditandai dengan jenis kekuatan yang begitu spesifik. Ingat mengapa ada bocah bersinar? Karena mereka akan terperangkap dalam gelap. Dan mengapa ada gadis tikut? Karena suatu keadaan memaksa mereka untuk memasuki lubang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dalam dunia Push, ada berbagai macam jenis kekuatan: mover—bisa telekinetic, watcher—memprediksi masa depan, pusher—bisa mengendalikan pikiran orang lain, shifter—bisa memanipulasi fisik benda. Ada juga beberapa kekuatan lainnya yang membantu proses twist film ini seperti penyembuh, teriakan maut seperti dalam Kung Fu Hustle, Shadow yang bisa membuat orang yang disekitarnya tidak bisa dilacak. Sudah hafal dengan daftar tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus dalam film ini adalah sebuah koper yang dijaga erat-erat—seperti dalam Pulp Fiction, yang beriskan serum yang bisa mengakibatkan kematian bagi pada superhero. Dimulai dari jaman Nazi menciptakan manusia super sampai sekarang, dilanjutkan oleh sebuah divisi yang dipimpin oleh seorang pusher bernama Henry Carver (Djimon Hounsou) dengan bodyguardnya, seorang mover bernama Victor (Neil Jackson)—dipastikan menjadi duel terakhir antara mover vs mover. Seorang pusher bernama Kira (Camila Belle) berhasil selamat menjadi kelinci percobaan untuk serum mematikan itu dan melarikan diri ke Hong Kong sehingga menjadi target utama Carver sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, kita bertemu dua pemain utama kita, seorang pusher amatir Nick Grant (Chris Evans) yang kini sedang membantu watcher kecil Cassie Holmes (Dakota Fanning) menyelamatkan ibunya. Mereka bertemu Kira dan terjadilah kejar-kejaran antara Nick cs, divisi milik Carver, dan triad superhero asal Hong Kong. Oh, dalam adu fisik dan pikiran itu, Nick juga ditemani beberapa superhero lainnya dengan kekuatan yang sangat unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bermain video game Heroes berjenis strategi role playing . Ada banyak tokoh yang ternyata memiliki kenangan masa lalu satu sama lain, akhirnya kembali dipersatukan oleh sutau benda—dalam hal ini maksudnya isi koper itu. Setiap tokoh juga memiliki karakteristik fisik tersendiri yang cukup kartunis. Contoh, Dakota Fanning dengan pakaian ala gadis tidak baik selalu membawa buku gambar seperti salah satu tokoh Heroes itu. Lawannya, seorang watcher asal cina, selalu mengemut lollipop di setiap gilirannya masuk kamera. Dan Cliff Curtis juga menjadi shifter, tampak sebagai tokoh paling elegan dengan selalu terlihat memakai setelan klasik jas hitam yang menawan—dan ia ditemukan di tempat yang mewah sedang memainkan sulap kartu disamping seorang wanita bar. Seperti Heroes juga, alur dalam Push memang padat dan berjalan dengan cukup cepat—walaupun masih disediakan tempat untuk beristirahat, tetap saja waktu mengaso itu tidak cukup lama. Dan sekarang dengan memiliki finishing sebuah strategi spesifik yang Saya banding-bandingkan dengan Sky High tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam Push, kita diperkenalkan beberapa tokoh yang bisa mengontrol pikiran dan memori seseorang, tentunya akan menghasilkan banyak twist tersebar dalam filmnya—disamping memang, banyak sekali tokoh baru yang selalu akan memegang peranan penting nantinya. Ya, Push adalah gudang dari twist—jumlahnya sangat banyak, namun tak ada satupun yang benar-benar efektif. Sayang sekali Push tidak cukup kuat untuk mempengaruhi pikiran Saya saat menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Push memiliki penjahat yang rasanya ingin sekali kita tonjok di muka—contohnya pria-pria cina yang hobi berteriak itu. Dan adegan membuat kita menggigil merasa tidak nyaman melihat anak manis seperti Dakota Fanning berakting sebagai anak umur tiga belas tahun memakai rok pendek, sepatu boots, cat rambut seperti seorang hippie kurang kerjaan yang siap memegang pistol seperti diarahkan John Woo…dan mabuk-mabukan. Cukup aneh melihat Dakota sekarang sudah besar dan berdandan seperti Hannah Montana dalam film ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5932395021852571396?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5932395021852571396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5932395021852571396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5932395021852571396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5932395021852571396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/push.html' title='Push'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7804862485067215371</id><published>2009-05-18T01:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T01:18:35.084-07:00</updated><title type='text'>Race to Witch Mountain</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 17 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Walt Disney&lt;br /&gt;Jenis: Petualangan, Fiksi Ilmiah&lt;br /&gt;Sutradara: Andy Fickman&lt;br /&gt;Pemain: Dwayne Johnson, AnnaSophia Robb. Alexander Ludwig, Carla Gugino&lt;br /&gt;Penulis: Matt Lopez dan Mark Bomback&lt;br /&gt;Sinematografi: Greg Gardiner&lt;br /&gt;Musik: Trevor Rabin&lt;br /&gt;Durasi: 98 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Race to Witch Mountain adalah versi baru dari Escape to Witch Mountain (1975)—istilah remake tidak tepat di sini. Sekarang mungkin sudah jamannya film fantasy yang melibatkan anak-anak dengan bodyguard pria dewasa. Contoh paling aktual adalah Journey to the Center of the Earth 3D dan yang akan datang adalah Land of the Lost. Di sini Dwayne Johnson—sudah mulai tidak memakai nama ring WWF The Rock lagi—adalah tukang pukul bagi dua anak-anak imut—pekerjaan nyaris serupa yang pernah diambil aktor berbadan besar Vin Diesel dalam The Pacifier. Ini memang murni film hiburan yang ditujukan untuk anak-anak—tentu saja karena ini film Disney dan berating PG yang terlalu mentah untuk sebuah aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plotnya seperti ini. Sebuah UFO jatuh di Race Mountain yang sekarang menjadi dearh terlarang yang diamankan pemerintah. Seorang supir taksi di Las Vegas bernama Jack Bruno (Dwayne Johnson), menerima penumpang tak diundang berupa dua anak kecil, Seth (Alexander Ludwig) dan Sara (AnnaSophia Robb) yang ternyata adalah alien yang kedatangannya diincar pemerintah—dipimpin oleh Henry Burke (Ciaran Hinds)—untuk dipakai sebagai kelinci dalam eksperimen rahasia. Belakangan, ditemani dengan Dr. Alex Friedman (Carla Gugino), seorang ahli terhadap hal-hal berbau makhluk luar angkasa, mereka mencari cara untuk bisa mengantar dua alien kecil itu pulang ke planet mereka setelah sebuah misi yang bisa menyebabkan punahnya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan “kabur”. Kata “balapan” dalam judul berarti memang ada semacam pacuan terhadap waktu, Henry Burke, dan seorang prajurit berjubah hitam dari luar angkasa—yang pastinya diakhiri dengan aksi smackdown The Rock vs Darth Vader itu. Dan aksinya sama sekali tidak membahayakan bagi anak-anak. Race to With Mountain adalah sebuah family-ride yang aman—dan memuaskan anak-anak—kecuali untuk aksinya yang tidak seru lagi bagi pria berumur. Apa yang Anda harapkan dari film Disney, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat banyak sekali bagian-bagian klise. Juga seekor anjing yang ikut dalam konvoi pimpinan Jack Bruno. Cerita boleh sangat medioker, kurang menarik dan membuat Saya berpikir, “Untuk apa membuat ulang film ini?” Untuk satu alasan, Saya menemukan satu sentuhan jenius dalam Race to Witch Mountain. Yaitu dengan dipilihnya AnnaSophia Robb dan Alexander Ludwig sebagai sosok alien. Kenapa? Alien yang berwujud manusia. Tidak hanya menciptakan sosok idola baru bagi anak-anak, namun apa keraguan yang dikemukakan Jack Bruno itu benar. Apa alien harus pendek, berwarna hijau, berkepala besar, memiliki antenna, dan lain-lain? Kita melihat E.T. milik Spielberg, Alien menderita microcephaly milik Ridley Scott dan James Cameron, Predator, dan sekarang adalah alien berwujud anak-anak. Sentuhan itu dipermulus lagi dengan duet Jack Bruno dan Alex Friedman ibarat Dana Scully dan Fox Mulder dalam The X-Files dimana satu termasuk “kaum yang percaya” satunya lagi “kaum tidak percaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mengenai masalah cast, sebenarnya kehadiran Dwayne Johnson sebagai Jack Bruno sangat tidak diperlukan di sini—kecuali untuk bisa menunjukkan aksi gulatnya dan menarik perhatian fansnya untuk memasuki bioskop. Kita sudah punya dua alien kecil yang memiliki kemampuan superhero layaknya seorang dewa, mengapa kita perlu seorang supir taksi? Ada sedikit bentuk “curang” di sini. Tapi kehadiran Dwayne Johnson untungnya justru mempersegar suasana. Dia sangat disukai penonton dan patut memberi contoh yang baik. Tokoh Jack Bruno yang dibawakannya juga sukses memancing tawa baik anak-anak maupun orang dewasa—lihat bagaimana ia merasa percaya diri melindungi anak-anak dari serangan alien…dengan membawa pentongan? Itu mengingatkan Saya terhadap jagoan otot besar-otak nol-hati besar lainnya seperti Brendan Fraser. Mereka lah yang biasanya menjadi penyelamat film ini. Dan benar, menurut Saya, memang banyak ada bagian-bagian yang tidak diduga justru membuat Saya tertawa dengan aneh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Race to Witch Mountain bukanlah film yang jelek. Dengan aksi yang bersahabat, cerita ringan dan tidak membosankan, melihat The Rock bersama Alexander Ludwig dan aktris kecil yang masa depan karirnya cukup menjanjikan, AnnaSophia Robb, dan seekor anjing juga, berpacu ke Witch Mountain bersaing melawan pria berjas hitam dan alien berjubah hitam adalah hal menarik untuk menghidupkan suasana weekend…bersama anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7804862485067215371?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7804862485067215371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7804862485067215371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7804862485067215371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7804862485067215371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/race-to-witch-mountain.html' title='Race to Witch Mountain'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5062016481848642151</id><published>2009-05-17T03:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T03:16:29.045-07:00</updated><title type='text'>Fast &amp; Furious</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 17 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Universal Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Aksi&lt;br /&gt;Sutradara: Justin Lin&lt;br /&gt;Pemain: Paul Walker, Vin Diesel, Jordana Brewster, Michelle Rodriguez&lt;br /&gt;Penulis: Chris Morgan&lt;br /&gt;Sinematografi: Amir Mokri&lt;br /&gt;Musik: Brian Tyler&lt;br /&gt;Durasi: 105 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trilogi Fast and Furious sudah menjadi budaya pop tersendiri di Indonesia. Semua orang mengaguminya selayaknya franchise Spider-Man, The Lord of the Rings dan American Pie. Memang Fast and Furious seterkenal itu. Namun juga tidak kalah overrated menyaingi franchise Saw. Sudah tiga film beredar dan ketiganya sukses—khususnya di Indonesia, bioskop selalu menjadi seramai arena balapan liar. Dan sudah berani Saya jamin, Fast &amp;amp; Furious hanyalah sebuah pengulangan formula prekuel-prekuelnya. Seperti tagline-nya: New Model. Original Parts. Sama saja rasanya seperti menonton film Fast and Furious lainnya, hanya saja model ceritanya baru—belum tentu beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti The Fast and the Furious, 2 Fast 2 Furious dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift, installment keempat ini jauh lebih bisa disebut sebagai sebuah nostalgia terhedap mereka yang rindu terhadap original parts-nya, yakin Vin Diesel dan Paul Walker. Justlin Lin dari Tokyo Drift kembali menjabat sebagai sutaradara dengan Vin Diesel kali ini juga bertindak sebagai boss produser. Mengambil setting setelah 2 Fast 2 Furious, dan sebelum Tokyo Drift Bagi fans fanatik The Fast and the Furious, tentu merupakan sebuah euforia melihat reuni Diesel-Walker-Brewster-Rodriguez ditambah cameo dari tokoh Tokyo Drift. Aksi mobil-mobilan yang cepat ditambah ekspresi geram Vin Diesel. Mereka pasti suka film ini dan tidak jarang terdengar ovation saat credit title diputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan sebuah aksi kejar-kejaran mobil yang justru paling memukau dan klimaks di sepanjang satu setengah jam lebih ke depan. Empat mobil yang dikomandoi Dominic Toretto (Vin Diesel) dan pacarnya, Letty (Michelle Rodriguez), mencuri empat gerbong bensin yang ditarik sebuah truk super panjang. Kecepatan tinggi, drifting 190 derajat, melompat dari satu mobil ke mobil lain…semuanya begitu klasik. Yang membuat menarik adalah ditambahnya rute turunan yang tajam sebagai bagian pemungkas opening sequence itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, justru dalam sebuah film kebut-kebutan, Saya paling merasa fun ketika adegan free run seperti dalam Casino Royale sebagai perkenalan tokoh agen FBI bernama Brian O’Conner (Paul Walker). Di sini Brian diceritakan sudah lima tahun tidak bertemu dengan Dom dan akhirnya kembali ditakdirkan bersama dalam sebuah situasi—dimana Dom adalah karakter kunci bagi Brian untuk bisa menembus sebuah gembong narkoba raksasa. Kembali berurusan seperti masa-masa tua, mengencani adik Dom, Mia (Jordana Brewster), terlibat dalam balapan liar dalam sebuah aksi undercover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya maju mundur berputar-putar dalam skala itu saja. Seperti biasa, mobil cepat hasil modifikasi, gadis-gadis seksi, musik hip hop, apalah lagi yang biasa dilihat dalam balapan ilegal malam hari. Akan ada banyak adegan yang melibatkan mobil cepat dan muscle car. Dominic vs Brian, Dominic-Brian vs gembong narkoba, balapan kartun di dalam terowongan, mobil mahal meledak, mobil jungkir balik, mobil terbang, Vin Diesel geram, Paul Walker mencium Jordana Brewster, Paul Walker dihajar Vin Diesel, Paul Walker dan Vin Diesel bercanda ria, banyak lagi contohnya. Dan tidak harus menemukan situasi yang pas untuk kebut-kebutan itu, justru kebut-kebutan itulah yang menciptakan situasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk fans The Fast and the Furious, silakan lewatkan dua paragraf ke depan yang berisikan pendapat pribadi Saya ini. Apa hubungan antara cepat dan geram bagi Saya? Saya geram karena film ini terasa tidak cepat selesai. Mari kita berkata jujur, perlu diakui cerita Fast &amp;amp; Furious memang tidak bagus. Dari segi manapun. Plotnya sering keluar rute sembarangan—dan semakin keluar hingga terjadi overlap. Justru semakin ke belakang, cerita dan tensi ketegangan malah semakin menurun sehingga menjadi anti klimaks yang panjang. Mungkin inilah seri Fast and the Furious terburuk setelah 2 Fast 2 Furious. Tapi sangatlah tidak adil dan bijak jika menilai film pop corn keju seperti Fast &amp;amp; Furious dari segi kualitas. Semuanya tentang film ini adalah having fun: sit back, relax, enjoy the ride. Apa Anda setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Anda saja yang tidak tahu bagaimana cara bersenang-senang”, seseorang pernah mengatakan itu kepada Saya. Sekarang giliran Saya untuk berkata jujur. Sebagai pandangan pribadi, Saya tidak perlu sampai pegangan erat-erat apalagi mengencangkan sabuk pengaman saat melihat aksinya di layar yang sangat besar. Karena justru Saya merasa bosan di saat orang lain merasakan berliter-liter adrenalin yang dipompa habis-habisan. Kenapa? Semua hal berbau ledakan dan kebut-kebutan mobil yang standar harus absent di semua film aksi itu bukanlah hal yang bisa menghibur Saya. Saya yakin bukan Saya saja yang aneh seperti itu. Mungkin juga karena sudah pernah melihat adegan mobil-mobilan yang jauh lebih spektakuler dalam Bullitt? Entahlah. Untuk itu Saya peringatkan bagi fans The Fast and the Furious untuk jangan mempercayai kata-kata Saya karena…Anda mengharapkan adegan seru tentang mobil-mobilan yang banyak dibantu efek visual memukau, Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan…dan jumlahnya memang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin musim panas sudah mulai berhembus sejak april. Anak club dan otomotif pasti over excited melihat pameran mobil modifikasi di layar. The Fast and the Furious benar-benar tipikal film pop. Adegan aksi yang dikemas semenarik mungkin, semenegangkan mungkin, semegah mungkin yang diharapkan bisa menjadikan weekend Anda sangat menarik—yang sayangnya gagal membuat pengalaman menonton Saya menjadi menyenangkan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5062016481848642151?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5062016481848642151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5062016481848642151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5062016481848642151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5062016481848642151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/fast-furious.html' title='Fast &amp; Furious'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7192405501118973771</id><published>2009-05-13T08:18:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T03:50:22.485-07:00</updated><title type='text'>Dragonball Evolution</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 7 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;20th Century Fox&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: James Wong&lt;br /&gt;Pemain: Justin Chatwin, Emmy Rossum, Chow Yun Fat, James Marsters&lt;br /&gt;Penulis: Ben Ramsey dari komik karya Akira Toriyama&lt;br /&gt;Sinematografi: Robert McLachlan&lt;br /&gt;Musik: Brian Tyler&lt;br /&gt;Durasi: 85 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja Saya berhasil mengumpulkan ketujuh Dragon Ball di dunia…Saya akan meminta agar komik Dragonball tidak diadaptasi dengan hasil akhir seperti Dragonball Evolution. Kata “evolusi” di sini justru bermakna kemunduran seribu langkah yang menyebabkan Dragonball Evolution tidak bisa tersaring dalam seleksi alam. Lepas dari menghibur-atau-tidak, mirip-atau-tidak dengan komiknya, visual efeknya-keren-atau-kartunis, lucu-atau-serius, tetap saja, dilihat dari sisi manapun, Dragonball Evolution adalah film sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari salah satu komik jepang paling populer seantero dunia karya Akira Toriyama. Di Indonesia sendiri, Dragonball masih tetap sakti walaupun mulai kalah pamor dibanding Naruto atau Bleach—maaf Saya memang bukan penggemar berat anime, tetapi Saya masih tahu tentang Dragonball sebagai tontonan masa kecil Saya. Sebenarnya, sebelumnya, Dragonball juga pernah difilmkan secara live action oleh non-hollywood (dulu cukup sering diputar di stasiun televisi swasta). Melihat Goku dimanusiakan mungkin adalah mimpi semua orang. Tetapi semua orang kecewa dengan dipilihnya Justin Chatwin sebagai bule Goku. Apa yang Anda harapkan? Orang Jepang ataupun Amerika, tidak akan ada yang cocok menjadi Goku. Itu realita. Hadapilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plotnya untuk film ini sangatlah sederhana sekali. Musuh utamanya adalah Lord Piccolo (James Masters) yang diceritakan “sudah kembali” dari penjara dan berencana ingin mengumpulkan ketujuh bola naga untuk menguasai dunia. Tokoh utama kita, seorang remaja nerdy jago silat bernama Goku (Justin Chatwin), baru saja mendapatkan sebuah bola naga dari kakeknya, Gohan (Randall Duk Kim), sebagai hadiah ulang tahunnya ke delapan belas. Pesan terakhir Gohan kepada Goku adalah untuk menemui Master Roshi (Chow Yun Fat), dan bersama-sama mengumpulkan sisa bola naga itu sebelum gerhana bulan. Bersama Bulma (Emmy Rossum) dan Yamcha (Joon Park), mereka mencegah niat jahat Piccolo beserta gadis ninjanya (Jamie Chung) untuk membangkitkan naga Shen Long yang konon katanya bisa mengabulkan permintaan apapun bagi mereka yang berhasil mengumpulkan ketujuh bola naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada Bejita (Vegeta untuk versi barat), musuh utamanya adalah alien bernama Picollo—yang kali ini tanpa antenna, jubah putih, dan penutup kepala berwarna ungu. Diawali drama remaja ala High School Musical, mengenai kisah cinta Goku dengan gadis cina yang ternyata jago silat, Chi Chi, dan dilanjutkan ke petualangan penuh sihir. Tone filmnya memang gelap—tidak seperti animenya yang terang benderang, dan beberapa perubahan memang dilakukan sehingga Dragonball versi film terlihat beda dengan kartunnya. Sebagai contoh, Goku tidak terlihat menaiki awan dan tidak bisa berubah menjadi super saiya. Bulma menjadi gadis teknologi bersenjatakan pistol canggih, Yamcha menjadi seperti seorang preman pasar dan mempelajari bahasa gaul lewat acara televisi, Roshi sendiri tidak tua, botak dan bercangkang— untunglah dia tetap cabul di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ras dan pemindahan setting cerita memang kontroversial. Bagaimanapun, Dragonball adalah film Hollywood di bawah bendera Fox—bahkan tokoh Sifu Norris menjadi seorang negro di sini. Untuk urusan cast, banyak terjadi miscast. Justin Chatwin memiliki wajah boyish yang sah-sah saja menjadi Goku dengan gaya rambut tetap jering penuh semprotan haispray. Emmy Rossum memang tidak berambut biru dan dia terlihat seksi di sini. Chow Yun Fat adalah miscast terbesar film ini. Pertama, dia bukan pelawak. Dia tidak bisa memaksakan diri begitu saja tertawa di depan kamera yang justru membuat dirinya tampak konyol tanpa membuat situasi menjadi konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya semua nada pesimis itu sudah bergema sejak pertama kali proyek Dragonball ini diumumkan. Hadirnya James Wong—pria di balik seri The X-Files dan Final Destination—sebagai sutradara serta raja komedi Stephen Chow sebagai produser tidak banyak membantu menurunkan caci maki yang justru semakin keras sejak poster dan trailernya dipublikasikan. Yang Saya tidak mengerti di sini adalah, Dragonball tidak seharusnya menjadi sebuah film “idealis”. Saya yakin sekali tujuan utamanya untuk mengumpulkan dollar sebanyak-banyaknya. Itu hanya bisa dilakukan dengan mengundang penonton ke bioskop dan memuaskannya. Justru Saya mendengar semua keluhan fans itu. Dragonball tidak hanya mengecewakan fans lama yang kini sudah beranjak dewasa, tetapi filmgoer umum di seluruh dunia pun tidak suka dengan kualitas dan sisi hiburan film ini. Untuk kali ini, bodoh-bodohan saja, Saya tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan agar hasilnya menjadi lebih baik kecuali jangan pernah membuat adaptasi semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk isi filmnya sendiri, mudah sekali ditebak, penuh adegan super klise yang artinya jauh dari kata evolusi itu sendiri. Beberapa bagian klise itu justru sangat menjengkelkan di mata non-penonton sinetron. Yang bisa Saya dapat, inti dari film ini adalah bagaimana Goku mempelajari kamehameha dan menggunakannya untuk mengalahkan Picollo—juga tentang bagaimana Goku harus bisa mengendalikan diri ketika ia berubah menjadi king kong bernama Oozaru. Visual efek naga Shen Long juga sangat laughable—maklum, ini film berbiaya hanya US$45 juta, bukan US$100 juta seperti estimasi sebelumnya. Ini benar-benar film yang ditujukan untuk anak-anak yang mau saja menerima naskah buruk dan mudah percaya melihat efek komputer di layar. Saya sudah memberitahu kualitas film ini, selanjutnya itu adalah urusan letak “fun” dari film ini—yang bersifat terlalu subjektif sehingga sia-sia saja Saya beberkan, walaupun sejujurnya, Saya memang tidak terhibur menonton film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebagai perkabulan mimpi fans (itupun kalau ada) Dragonball Evolution, film ini kemungkinan akan dibuatkan sekuelnya kelak (James Masters sudah dikontak untuk tiga film)…dan sepertinya tetap tidak terlalu setia dengan komiknya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7192405501118973771?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7192405501118973771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7192405501118973771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7192405501118973771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7192405501118973771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/05/dragonball-evolution.html' title='Dragonball Evolution'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-213402791457250008</id><published>2009-03-18T07:16:00.001-07:00</published><updated>2009-03-18T07:20:23.075-07:00</updated><title type='text'>Journey to the Center of the Earth</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;/ / / 18 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;New Line Cinema&lt;br /&gt;Jenis: Petualangan, Fiksi Ilmiah&lt;br /&gt;Sutradara: Eric Brevig&lt;br /&gt;Pemain: Brendan Fraser, Josh Hutcherson, Anita Briem&lt;br /&gt;Penulis: Michael Weiss dan Jennifer Flackett &amp;amp; Mark Levin, berdasarkan novel karya Jules Verne&lt;br /&gt;Sinematografi: Chuck Shuman&lt;br /&gt;Musik: Andrew Lockington&lt;br /&gt;Durasi: 92 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya film ini tidak perlu diresensi karena walaupun Saya memberikan nilai F pun, sama sekali tidak akan mengurangi niat menonton Anda yang tertarik. Karena Journey to the Center of the Earth (ataupun film-film 3D lainnya yang dirilis belakangan ini) sama sekali tidak mempedulikan aspek-aspek film bahkan logika, melainkan hanya sebuah gambar bergerak yang biasa diputar di taman bermain anak-anak. Yang penting adalah, bagaimana mereka menciptakan kesempatan untuk di shoot secara fist-person view ataupun menyebabkan sebuah objek terlempar ke luar layar menuju muka penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan adaptasi orang ketiga dari novel fiksi ilmiah Journey to the Center of the Earth karya Jules Verne yang ditulis tahun 1864—film adaptasi karya Verne paling terkenal adalah Around the World in 80 Days. Seorang ilmuwan bernama Trevor (Brendan Fraser) menemukan buku kakaknya, Professor Lidenbrock, yang menyatakan bahwa ada pipa vulkanik di bawah bumi. Bersama keponakannya, Sean (Josh Hutcherson), ia melakukan perjalanan ke pusat bumi ditemani oleh pemandu gunung, Hannah (Anita Briem). Catatan: buku Lidenbrock itu adalah novel Verne. Dan di film disebutkan bahwa Lidenbrock adalah seorang Vernian (pengikut Jules Verne).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang karena ini adalah film sekelas konsumsi theme park, apa yang perlu Saya bahas? Eric Brevig adalah spesialis efek visual yang sekarang naik pangkat menjadi sutradara (Saya ucapkan selamat pada Mr. Brevig). Namun kenyataannya efek visual filmnya sendiri jauh lebih pincang dibanding Jurassic Park tahun 1993 lalu. Dalam filmnya sendiri bahkan tidak ada penokohan serius dan tidak ada susunan plot yang tabrakan atau bertindihan. Semuanya adalah petualangan. Dan kita hanya mengikuti mereka saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menonton film ini dalam 2D—baiklah, sejujurnya ada sebuah kesalahan. Saya mengira memasuki bioskop yang memutar filmnya secara 3D. Saya berprasangka kalau film ini memakai kacamata 3D merah-biru seperti yang dipinjamkan saat pertunjukan Spy Kids 3D: Game Over. Ternyata Saya salah. Selain bioskopnya tidak lagi meminjamkan kaca mata itu, warnanya bukan lagi merah-biru, namun magenta-hijau. Lantas apa yang Saya temukan dalam film ini? Ceritanya begitu jelek, ketegangan tidak muncul sama sekali, efek 3D—yang menjadi tujuan utama film ini dibuat—malah tidak terasa. Murahnya film ini begitu kentara, namun tetap saja balita-balita itu sangat menikmati suguhan salah hambar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, entah mengapa akhir-akhir ini Saya mulai menyukai dunia khayalan seperti ini (lihat Bedtime Stories). Jadi, jika saja Saya menonton versi 3D, mungkin saja Saya tidak bisa melupakan pengalaman ini. Dalam Journey to the Center of the Earth, semua yang Anda inginkan ada—yah, Saya mereka-reka itu seandainya yang Saya tonton adalah 3D. Mulai dari kelajuan tinggi di rel kereta yang sangat mirip dengan yang ada pada Indiana Jones and the Temple of Doom, hutan jamur raksasa, piranha &amp;amp; dinosaurus laut, tumbuhan pemakan daging, puncaknya adalah Tyrannosaurus Rex—belum lagi ditambah adegan terjun dari ketinggian dan adegan selancar. Anda akan melihat itu sangat menarik terutama jika Anda adalah anak-anak dan sedang berdiri di depan bioskop Plaza Senayan XXI dan Studio XXI Plaza Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brendan Fraser kembali memerankan versi Indiana Jones lainnya selain Rick O’Connor dalam trilogy The Mummy. Dan di sini, ialah yang paling lucu. Fraser memiliki bakat alami menjadi pelawak dengan memainkan mimik orang tolol bingungnya itu. Saya selalu tertawa melihat sosoknya (bahkan saat di film sebusuk The Mummy: The Tomb of the Dragon Emperor itu). Ia tetap tampak tolol sekalipun saat bagian ingin merebut si pemandu gunung yang pasti menjadi love interest-nya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang lain, Saya menonton film ini bersama keluarga. Satu orang mengkritik tentang hal yang tidak masuk akal dalam film ini. “Mengapa semua karakternya tampak senang dan tidak takut mneghadapi apapun?” Memang buang jauh-jauh logika. Tidak akan ada dunia di bawah perut bumi. Dan yang juga membuat Saya mengerenyit, dari arah mana Hannah bisa muncul dengan perahu dari rahan dinosaurus itu jika sungai itu merupakan sungai satu arah yang arusnya kencang? Contoh lainnya? Sangat banyak ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, Saya sangat suka adegan kereta Indiana Jones itu (terkadang dipakai sudut panadng orang pertama yang pasti membuat penonton mengencangkan sabuk pengamannya). Sekalipun ini adegan menyontek, tetap saja menegangkan…walau melihatnya 2D. Dan adegan lautan dinosaurus itu, sebuah adegan yang pastinya bisa menjadi sangat kolosal jika saja efeknya seperti apa yang kita lihat dalam Pirates of the Caribbean: At World’s End. Namanya juga film anak-anak, mereka pasti tetap melihat kartun itu sebagai sosok yang cukup nyata. Ditambah, gaya film ini yang tampak menggurui anak-anak—dengan: menyebutkan satu kata bahasa alien, lantas seseorang menanyakan artinya, dan diberikan penjelasakan panjang lebar secara tersurat, dan itu terjadi berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sudah mendapat gambaran mengenai pameran yang akan Anda saksikan ini, kan? Pastinya akan sangat buang-buang waktu menonton di bioskop standar. Film ini jelek. Menghibur? Mungkin. Kalaupun Anda masih tetap berniat menontonnya…ingat tulisan Saya di atas? Saya tidak mungkin mengurangi niat orang yang memang awalnya tertarik mencoba roller coaster misteri ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;catatan: versi Blu-ray Disc-nya memiliki format 3D dengan kacamata yang dijual terpisah.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-213402791457250008?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/213402791457250008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=213402791457250008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/213402791457250008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/213402791457250008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/03/journey-to-center-of-earth.html' title='Journey to the Center of the Earth'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5466277374400808043</id><published>2009-03-18T02:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T04:04:28.517-07:00</updated><title type='text'>Hellboy II: The Golden Army</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: B+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 18 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Universal Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Fantasi, Horror&lt;br /&gt;Sutradara: Guillermo Del Toro&lt;br /&gt;Pemain: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones, Luke Gross&lt;br /&gt;Penulis: Guillermo Del Toro berdasarkan komik karya Mike Mignola&lt;br /&gt;Sinematografi: Guillermo Navarro&lt;br /&gt;Musik: Danny Elfman&lt;br /&gt;Durasi: 110 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hellboy pertama adalah salah satu film superhero terbaik yang pernah dibuat—kalaupun Anda tidak setuju, tetap saja Hellboy pertama mendapat peringkat salah satu film superhero dengan pandangan dan imajinasi fantasi paling tinggi yang pernah difilmkan. Sang pendongengnya adalah Guillermo Del Toro—yang juga pernah membuat film superhero Blade II dan sebuah film fantasy klasik modern kelas oscar Pan’s Labyrinth. Spesialis di bidang yang hampir sama dengan Tim Burton. Del Toro tentu saja tidak memiliki ciri khas “gelap vs terang”, tetapi khayalannya itu menggabungkan gelap dan terang hingga baur. Melihat kembali trek yang pernah dibuat Del Toro, ia sangat banyak membuat film yang bagus. Saya akan selalu menantikan The Hobbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sekuel lainnya, The Dark Knight, Hellboy II melanjutkan cerita film pertamanya dengan pendekatan yang lebih kepada kreasi penulis naskahnya, bukan dari komiknya lagi, bertemu dengan musuh yang kali ini tidak ada kaitannya dengan masa lalunya, namun pintar mengeluarkan kata-kata manis untuk mempengaruhi Hellboy agar percaya bahwa dia seorang vigilante aneh yang tidak diperlukan manusia. Hellboy kecil—terlihat seperti nightcrawler merah—diceritakan sebuah dongeng oleh Professor Broom (John Hurt) sebuah cerita tentang legenda tentara emas yang kita tahu sendiri, menjadi sebuah prolog untuk kisah film ini. Kisahnya seperti dongeng-dongeng lainnya. Manusia dan Troll hidup bermusuhan. Agar tidak perlu membangunkan kembali mesin pembunuh tentara emas yang “indestructible” dan hanya akan menimbulkan pertumpahan darah saja, antara raja peri dan manusia membuat kesepakatan bersama. Dari tiga bagian mahkota kunci pembangkit tentara emas yang , satu di bawa manusia, dua dibawa troll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kini, Pangeran Nuada (Luke Gross), bersama bodyguardnya, seekor troll gua raksasa, Mr. Wink, merasa manusia telah melanggar perjanjian mereka. Mall, tempat parkir. Para troll hidup tersembunyi di bawah kolong jembatan. Setelah menirukan gaya akrobatik wu shu a la Li Mu Bai dalam Crouching Tiger Hidden Dragon, Nuada merebut kembali mahkota dari tangan manusia, dan mengancam akan membuat sebuah perang bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke protagonis, kita bertemu tiga jagoan kita, si anak setan merah Hellboy (Ron Perlman), pyrokinetic panas Liz Sherman (Selma Blair), dan makhluk amfibi Abe Sapien (Doug Jones). Kali ini ditambah robot tabung gas asal Jerman, Johann Krauss (James Donn) sebagai pemimpin baru mereka dalam misi-misi selanjutnya. Seiring aliran arus percintaan antara Hellboy dan Liz yang sedang dilanda masalah, mereka harus menjaga Putri Nuala (Anna Walton), kembaran baik yin yang Pangeran Nuada yang membawa salah satu potongan dari mahkota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sangat ingin Saya sampaikan adalah seberapa besar pengaruh Star Wars dalam film ini—dan itu tetap membuat Saya takjub. Pasar Troll memberikan kesan mirip bar alien di Star Wars. Penuh makhluk-makhluk dengan anatomi yang aneh, dipoles bukan dengan CGI, namun kostum dan make up yang menjijikkan. Saya sangat cinta pada bagian ini. Guillermo Del Toro memvisualisasikan seluruh ide-idenya, sketsa-sketsa monsternya yang ada dalam buku catatan yang selalu ia bawa kemana-mana. Troll yang membawa tumor berbentuk bayi, troll yang mempunyai kepala berbentuk katedral, dan makhluk-makhluk aneh lainnya. Saya yakin, itu semua spesies ciptaan Del Toro sendiri, bukan rekaan Mignola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal dalam imajinasi Del Toro yang tak terbatas itu kembali dilukis sempurna oleh sinematografernya yang loyal, Gullermo Navarro. Settingnya (segala aspek visualnya) membuat kita terbuai terbang tinggi. Peri Kematian (juga diperankan Doug Jones) dan pondoknya mirip dengan apa yang kita lihat dalam Pan’s Labyrinth. Juga fisik peri yang sama dengan Legolas dalam The Lord of the Rings lengkap dengan rambut kuningnya. Del Toro kembali bermain-main dengan makhluk dongeng yang kali ini dibuat mengerikan, contoh: peri gigi yang memang suka memakan gigi manusia. Dewa Hutan, Elemental, yang dibuat mengundang simpati kita, dan lain-lain. Walaupun kesannya, Hellboy II adalah pamer efek, make up dan tentunya merupakan pameran monster Del Toro, hasil akhir yang terlihat di layar tetap saja menakjubkan, tidak yang memalukan, bahkan cukup untuk memanjakan mata Saya. Penggunaan CGI sangat baik dan efektif (lagi-lagi kecuali untuk Liz yang membara) dengan budget yang saktinya hanya sekitar USD 85 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang paling menarik adalah tentang tiga tokoh protagonis itu. Hellboy II Saya anggap sebagai refleksi horror monster klasik universal. Hellboy seperti pencerminan dari Monster Frakenstein yang besar, kuat, mengerikan namun tolol (terlihat cuplikan Bride of Frankenstein, sebuah film yang menunjukkan bahwa monster juga bisa jatuh cinta). Abe Sapien kali ini memiliki porsi yang lebih besar. Abe adalah karakter yang sangat unik, dipercaya sebagai otak, intelek dari tim. Memiliki adegan aksi memorable saat mengeluarkan breakdance melawan Mr. Wink. (terlihat juga cuplikan Creature From the Black Lagoon, yang menampilkan manusia insang sedang jatuh cinta). Dan mereka memiliki momen persahabatan yang sangat ganjil, lucu sekaligus menyentuh, yaitu saat mabuk bersama dan menyanyikan lagu Cant Smile Without You milik Barry Manilow. Liz Sherman? Yang paling menarik adalah hairdo barunya yang gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hellboy II memang terlalu banyak terdapat aksi para monster, namun masih bisa disisipkan berbagai konflik kemanusiaan. Dalam hal ini: cinta. Lucu saja melihat kisah cinta wanita api dan setan anti api yang seperti kisah remaja. Dan kisah cinta lainnya yang seperti dikatakan Doug Jones dalam sebauh wawancara, “seperti anak umur 13 tahun yang pertama kali mengenal cinta,” Sikap arogan Hellboy yang sedang bertengkar karena cinta, juga masalah klasik vigilante yang dihadapi semua superhero di seluruh dunia. Juga diselipkan beberapa kejutan tak terduga. Di sini sikap kritis Del Toro terlihat jelas. Ia menginginkan semua detail. Seperti percakapannya mengenai The Dark Knight, Del Toro ingin tahu segala tentang Bruce Wayne, bahkan siapa yang mencuci kostum Batman. Dan hal itulah yang menjadi kelebihan saat diterapkan dalam Hellboy II. Dan alangkah baiknya jika mengikuti film pertamanya terlebih dahulu. Del Toro sendiri mengatakan bahwa Ia sudah memperkenalkan tokoh-tokohnya di film pertama, sekarang, Ia hanya tinggal mengembangkan saja. Dengan kata lain, itu akan jauh  mempermudah mendalami tokoh-tokohnya, seperti refrensi mengapa Hellboy tidak tega melihat kucing dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Ron Perlman sebagai Hellboy masih sebaik yang pertama. Ia tampil begitu hidup, gesture yang luwes dengan vokal yang meyakinkan dibalik kostum dan make up tebal. Kali ini, suara Abe Sapien diisi sendiri oleh Doug Jones (pada film pertama, suara diisi oleh David Hyde Pierce). Del Toro beruntung memiliki tim sukses yang handal dalam bidangnya—berakting di dalam kostum. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hellboy II bukanlah film cerdas—ada beberapa logika yang tidak jalan sesuai realita (bukan pada daya khayal, namun Saya serius membicarakan detail plot sekarang). Lebih baik tidak Saya buka di sini. Tetap saja, dengan semua aksi, visual yang mencengangkan, Hellboy II adalah film yang bagus dan sangat menghibur—oh Saya lupa tentang humor-humor efektif yang dilempar di sepanjang film (perhatikan humor orang Jerman saat Krauss pertama kali muncul). Dan pertarungan terakhir antara Hellboy dan Pangeran Nuada bagaikan The Rock vs Jet Li. Hellboy II adalah film yang sangat panas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5466277374400808043?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5466277374400808043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5466277374400808043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5466277374400808043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5466277374400808043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/03/hellboy-ii-golden-army.html' title='Hellboy II: The Golden Army'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-2725701826729990245</id><published>2009-03-08T08:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T06:33:18.499-07:00</updated><title type='text'>Halloween</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 8 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;Dimension Films&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Rob Zombie&lt;br /&gt;Pemain: Malcolm McDowell, Daeg Faerch, Tyler Mane, Sheri Moon Zombie&lt;br /&gt;Penulis: Rob Zombie berdasarkan naskah oleh John Carpenter dan Debra Hill&lt;br /&gt;Sinematografi: Phil Parmet&lt;br /&gt;Musik: Tyler Bates&lt;br /&gt;Durasi: 109 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah remake dari film horror klasik tahun 1978 buatan John Carpenter. Film orisinilnya sangatlah luar biasa. Selain memang terkenal sangat mengerikan dan memberi ketegangan luar dalam yang meninggalkan bekas luka di hati penonton, tanpa perlu menggunakan film remaja (khususnya teritori horror remaja) sebagai tolak ukur, Halloween tetap saja merupakan film yang luar biasa—tidak overrated seperti The Texas Chainsaw Massacre ataupun sejenisnya. Sekarang, mengapa perlu dibuat ulang lagi? Sebenarnya Saya benci sekali jika seseorang membuat ulang sebuah film yang bagus. Pertanyaannya: untuk apa? Untuk uang. Hal itu berlaku untuk The Texas Chainsaw Massacre, Friday the 13th, The Hills Have Eyes, My Bloody Valentine, dan lain-lain. Namun untuk Halloween, Saya tidak keberatan jika dibuat ulang. Alasannya hanya satu: Sang wizard of gore kali ini adalah Rob Zombie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok ikonik psikopat pembunuh berantai bernama Michael Myers akan terlihat berbeda jika ditangani oleh Zombie. Halloween pertama diikuti oleh sekuel-sekuelnya yang busuk. Jadi remake adalah langkah terbaik jika ingin benar-benar membangkitkan kembali Mike Myers dari kubur. Zombie memiliki ciri khas dalam film-filmnya. Ini adalah film ketiga Zombie. Film sebelumnya, The Devil’s Reject, adalah salah satu film yang paling Saya favoritkan pada tahunnya. Zombie terlihat matang dalam ensiklopedi dan mempunyai refrensi banyak dari film-film horror cult, film eksploitasi jenis yang diputar dalam bioskop grindhouse. Isi filmnya selalu gila-gilaan, absurd, sadis dan penuh kekerasan serta ketelanjangan. Dan soundtracknya sekarang dipenuhi tembang-tembang rock klasik seperti Love Hurts milik Nazareth sampai Tom Sawyer milik Rush. Sebuah feel yang tentu berbeda dari cita rasa Zombie sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zombie tetap setia dengan apa yang dilukis oleh Carpenter hampir tiga puluh tahun yang lalu. Plot cerita, nama karakter, adegan (ingat ketika Myers menutupi tubuhnya dengan tirai dan memakai kaca mata?), termasuk menyertakan quote dari versi aslinya. Zombie adalah zombie. Ia tetap memiliki trademark bahkan saat pengalaman pertamanya dalam menggarap film horror-slasher seperti ini. Satu sentuhan paling istimewa yang membuat Halloween terbaru tidak sekedar nampak seperti mayat hidup, melainkan juga memiliki jiwa adalah: prolog yang panjang, menceritakan bagaimana Michael Myers kecil (Daeg Faerch) memiliki psikologis yang dirusak oleh lingkungannya dan keluarganya.&lt;br /&gt;Cerita memliki dua babak. Dimulai ketika Michael Myers masih kecil, memiliki rambut pirang seperti Kurt Cobain dan berwajah jelek. Memiliki ibu seorang penari telanjang, Deborah (Sheri Moon Zombie), juga membuat teman-teman di sekolahnya mempermalukan keberadaan Myers. Myers sendiri termasuk siswa yang terisolasi baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga. Dalam suatu malam Halloween, di saat ibu Myers bekerja di seuah klub malam, Myers yang aslinya memang memiliki gen psikopat, tiba-tiba harus meledak ketika emosinya dipancing-pancing oleh pacar ibunya, Ronnie (William Forsythe). Ditinggalkan kakak perempuan dalam permainan permainan trick n treat hanya untuk berhubungan seks dengan pacarnya membuat Mike ingin menutupi wajahnya dengan topeng, membunuh satu persatu penghuni rumahnya dengan cara yang lebih brutal dibanding pembunuhan keluarga Manson, hanya meninggalkan adik perempuannya yang masih bayi dalam keadaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun berlalu di penjara tanpa berbicara. Michael Myers (Tyler Mane) sudah tumbuh sangat besar menjadi raksasa seperti seorang penderita gigantisme. Selama itu, Myers dirawat oleh Dr. Sam Loomis (Malcolm McDowell). Sampai akhirnya dia lepas, Michael Myers kembali memakai topeng putihnya, mengintai gadis-gadis yang hendak berhubungan seks dengan pacarnya (apa yang diperlukan Mike hanyalah teori bagaimana cara memperlakukan gadis cantik dengan benar), pulang kampung mencari adiknya yang sudah tumbuh gede menjadi gadis yang nakal—tetapi masih belum punya pacar, Laurie Strode (Scout Taylor-Compton), yang selalu bersama-sama dengan dua teman gadisnya yang tak kalah nakal dalam beraktivitas secara seksual. Dan di suatu malam Halloween, Myers datang membawa kematian ke kota kecilnya, mencari adik kesayangannya, dan terror pembunuhan dimulai lagi…lagi….dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang adalah: Zombie bukanlah sutradara film horror yang baik. Ia sama sekali tidak bisa menciptakan ketegangan di sepanjang film. The Devil’s Reject memang gory, tetapi itu tetap saja dibumbui selera humor Zombie yang nyeleneh sehingga filmnya tercium seharum darah segar. Akhirnya, yang menarik dalam Halloween ini hanyalah bagian ketika Mike masih kecil sampai bagaimana ia tumbuh menjadi seorang psikopat. Saat babak slasher dimulai, film menjadi semakin tidak menarik bahkan cenderung semakin lama semakin membosankan. Banyak sekali darah, ketelanjangan dan pembunuhan yang diumbar. Tetapi tetap saja gagal memancing kengerian khas Halloween.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zombie itu lebih tepat disebut pengkhayal yang hebat. Dan seorang pelawak yang hebat. Hanya saja di sini Zombie tidak bisa melempar humor-humornya seperti yang ia lakukan dalam film-filmnya terlebih dahulu. Hasilnya, Halloween menjadi film serius yang tidak cerdas bahkan Saya kesal karena merasa sangat dibodohi oleh dangkalnya film ini. Dan kali ini, Zombie tidak beres dalam menyusun naskahnya. banyak sekali terdapat lubang, benturan dan kementahan. Ini salah satu faktor utama mengapa saya tidak tumben tidak suka terhadap film bergenre Rob Zombie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bagian cast, tim The Devil’s Reject kembali muncul. Zombie kembali menelanjangi istrinya di depan kamera dan menyuruhnya memberikan hiburan seksual. Scout Taylor-Compton memang seksi. Tetapi tetap saja dia masih belum bisa menjadi bom seks seperti Jamie Lee Curtis dulu. Danielle Richards kembali harus menjadi korban Myers setelah tampil di dua sekuel Halloween sebelumnya. Yang paling unik adalah si Alex De Large dalam A Clockwork Orange, Malcolm McDowell sebagai Sam Loomis. Michael kecil diikutkan program orang jam oleh sang orang jam itu sendiri. Tetap saja tidak ada yang bisa tampil maksimal akibat minimalnya kekuatan naskah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di tahun Saya menulis artikel ini juga tersiar kabar kalau akan ada sekuel Halloween yang berjudul H2, dirilis kembali sebagai penutup summer tahun ini. Dan tetap disutradarai Rob Zombie. Daripada Saya menantikan kelanjutan dari pria gigantisme keterbelakangan mental bertopeng pengintai gadis-gadis seksi yang aktif secara seksual, Saya jauh lebih tertarik menyaksikan animasi The Haunted World of El Super Beasto dan aksi horror Tyrannosaurus Rex. Yang membuat Saya penasaran sampai sekarang adalah bagaimana cara Mike kecil memlester seluruh badan Ronnie tanpa membuat sang korban terbangun?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-2725701826729990245?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/2725701826729990245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=2725701826729990245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2725701826729990245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/2725701826729990245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/03/halloween-2007.html' title='Halloween'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-9172109155677298111</id><published>2009-03-07T18:24:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T18:25:05.296-08:00</updated><title type='text'>Yes Man</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 8 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Komedi, Romantis&lt;br /&gt;Sutradara: Peyton Reed&lt;br /&gt;Pemain: Jim Carrey, Zooey Deschanel, Bradley Cooper, Terrence Stamp&lt;br /&gt;Penulis: Nicholas Stoller dan Jarrad Paul &amp;amp; Andrew Mogel, berdasarkan buku oleh Danny Wallace&lt;br /&gt;Sinematografi: Robert D. Yeoman&lt;br /&gt;Durasi: 104 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kembali menulis resensi film setelah disibukkan kegiatan-kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tipikal film Carrey. Bisa Saya katakan seperti itu. Saya sudah bisa menebak semua unsur yang disajikan dalam film ini—mulai dari pembuka, konflik, jenis humor bahkan sampai endingnya—tetapi satu hal yang tidak terduga sebelumnya dari Yes Man adalah ternyata film ini tidak segaring yang Saya kira. Anda tahu sendiri: Carrey dan tema film ini sudah seperti pasangan suami istri. Orang yang selalu berkata “ya” langsung membuat otak kita mencerna kalau Carrey baru saja gagal tampil menyeramkan dan psikopat melalui The Number 23, kembali gagal lagi bersenang-senang dengan Fun With Dick and Jane, sehingga ia kini harus terpaksa menjual diri demi popularitas—kembali ke akar-akar klasik untuk apa wujud Carrey itu dilahirkan: slapstick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carrey dibesarkan dengan slapstick. Dumb and Dumber, The Mask, Ace Ventura, dan lain-lain (Anda pasti bisa menyebutkan, secara Jim Carrey mungkin adalah aktor Hollywood paling terkenal di Indonesia). Apa yang disuguhi dari tema orang yang selalu berkata “ya” sama saja dengan apa yang pernah ditampilkan Carrey dalam filmnya terdahulu, Liar Liar. Anggap saja seperti ini: Yes Man adalah film Liar Liar tanpa ada unsur magis. Apa itu masih menarik disaksikan? Karena nampaknya penonton sudah mulai bosan dengan gaya slapstick yang basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa yang baru dari Yes Man? Didalangi oleh sutradara Peyton Reed yang baru saja membuat penonton patah hati melalui The Break Up—yang mendapat promosi gratis melalui cinta lokasi antara Vince Vaughn dan Jennifer Aniston. Nicholas Stoller adalah nama yang paling bisa dijadikan ujung tombak. Karena walaupun dia juga yang menulis naskah Fun With Dick and Jane, tetapi Stoller adalah sutradara dari Forgetting Sarah Marshall yang begitu underrated dimana-mana tahun lalu. Disamping, ternyata, Yes Man bukan sepenuhnya komedi slapstick (apalagi didukung poster base jumping yang konon dilakukan sendiri oleh Carrey tanpa menggunakan stuntman), tetapi ini adalah sebuah komedi romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carrey berperan sebagai tokoh yang rasanya sudah sering ia perankan: Carl Allen. Seorang duda yang hidupnya sangat membosankan, terjebak dalam suatu rutinitas yang menciptakan sebuah kemonotonan hidup sampai membuat dirinya tidak bersemangat melakukan masturbasi. Selalu berkata “tidak” kepada siapapun membuat hidup Carl menjadi seperti teralienasi oleh perkumpulan manusia dan kawan-kawannya sendiri. Suatu saat, temannya yang tampak seperti gelandangan pengemis, mendatanginya dan memperkenalkan sebuah filsafat “manusia ya”—sebuah teori yang diciptakan oleh Terrence Bundley (Terrence Stamp)—yaitu untuk berkata “ya” dalam setiap kesempatan. Itu juga yang membuat hidup Carl berubah, melenceng dari rutinitas, dan bertemu wanita baru, Allison (Zooey Deschanel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa sentuhan manis yang Saya rasakan dalam film. Profesi Carrey sebagai pemberi pinjaman kredit di sebuah bank di Amerika (ya, Amerika), seperti secara tidak langsung merefleksikan sebuah profesi sebagai petugas asuransi kesehatan di Amerika (Saya melihat dari sudut pandang Michael Moore dalam Sicko). Tokoh gelandangan yang seperti memanfaatkan pertemuan “Yes Men” untuk bisa memeras semua pengikut fanatik aliran itu. Dan beberapa hal lain yang sebaiknya tidak Saya beberkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carrey dipastikan adalah satu-satunya aktor yang paling pas memerankan Carl. Karena Carl (atau Bruce, Dick, Ace dan yang lainnya) seperti sebuah kepribadian lain Carrey ketika ia berhadapan dengan kamera. Semua kelenturan bahasa tubuh, mimik manusia karet, keceriaan dan kesedihan yang dipancarkan sudah pas seperti yang kita harapkan dari Carrey. Carrey pasti tidak akan membawa pulang oscar tahun ini lewat Yes Man, tetapi bahkan Sean Penn pun mungkin tidak akan bisa memerankan Carl sebaik Carrey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling diperlukan dalam sebuah komedia romantis? Rasanya Saya sudah pernah mengatakan ini—sejak jaman Judy Garland  dan Mickey Rooney sampai era Tom Hanks dan Meg Ryan, chemistry antar tokoh utama berlawanan jenis adalah senjata utama kesuksesan sebuah komedi romantis—karena semakin kita bisa dibuai dan dibuat percaya akan adanya cinta, film itu semakin bisa dicintai dan diterima publik. Yes Man memeliki itu. Ada sesuatu yang spesial antara Carrey dan Deschanel. Disamping, Deschanel tampil baik di sini dan tokoh Allison adalah tokoh yang menarik sebagai love interest bagi Carl—karena Allison adalah karakter yang easy going, seperti tidak kenal rasa takut, tomboy, mudah bergaul, bersikap masa bodoh—kepribadian yang bertolak belakang dengan Carl. Tapi justru karena perbedaan itulah mereka tampak serasi. Begitu cocok di layar sampai kita pun bisa merestui hubungan mereka sampai rela melupakan hal konyol dan berlebihan yang diumbar film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa momen lucu dalam film ini. Dari adegan pembuka film di sebuah rental DVD saja sudah memperlihatkan komedi apa yang akan disuguhi. Sangat Jim Carrey. Dan saktinya, Saya bisa menertawakan itu. Seperti seorang nerd mitra kerja Carl yang merupakan fanboy Harry Potter—pesta kostum itu cukup lucu. Liburan spontan ke Nebraska adalah bagian paling indah, berwarna dan menarik di sepanjang film (base jumping itu hanya terlihat sekilas, lagipula itu tidak terlihat menarik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, yang paling berharga dalam Yes Man itu tetaplah pesan moralnya. Pernyataan Saya sedikit terdengar naïf, tetapi itulah yang ada. Saya mencoba bereksperimen sendiri, mengatakan “ya” kepada orang-orang itu memang membuat kita melenceng dari rutinitas, menemukan kejutan-kejutan baru dalam hidup, dan belum tentu membuat hidup kita lebih baik. Karena kita hanya membuka pintu untuk kesempatan-kesempatan itu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Silahkan katakan “ya” jika seseorang mengajak Anda untuk menonton film ini. Duduk dan nikmati saja kisah romantis khas Carrey ini. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan awal. Jelas-jelas Yes Man bukanlah tipe film yang Saya gemari. Ini terlalu ringan dan sangat mudah dilupakan. Tetapi lantas apakah Saya sebenarnya suka film ini? Ya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-9172109155677298111?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/9172109155677298111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=9172109155677298111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/9172109155677298111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/9172109155677298111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/03/yes-man.html' title='Yes Man'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-4332854360414970137</id><published>2009-01-29T00:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T05:29:42.642-08:00</updated><title type='text'>Twilight</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 29 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Summit Entertaiment&lt;br /&gt;Jenis: Romantis, Horror, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Catherine Hardwicke&lt;br /&gt;Pemain: Kristen Stewart, Robert Pattinson, Billy Burke, Ashley Greene&lt;br /&gt;Penulis: Melissa Rosenberg dari novel karya Stephenie Meyer&lt;br /&gt;Sinematografi: Elliot Davis&lt;br /&gt;Musik: Carter Burwell&lt;br /&gt;Durasi: 122 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara satu film terbaik tahun 2008 yang diadakan berdasarkan polling harian Jawa Post. Dalam box office, pendapatannya disebut salah satu yang paling menguntungkan sepanjang tahun. Tiba-tiba nama dan wajah Robert Pattinson terpampang dimana-mana. Twilight. Bukan jenis film Saya. Bisa dikatakan film ini overrated. Tetapi setelah Saya selesai menonton, lantas Saya mengerti darimana saja datangnya semua penghargaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twilight adalah film gadis. Diangkat dari novel karya Stephenie Meyer yang menjadi best seller, salah satu budaya pop yang baru muncul sejak Harry Potter berhenti menguasai lapangan. Naskahnya sendiri diadaptasi oleh Melissa Rosenberg, sang penulis Step Up. Dan sutradaranya? Kembali dengan anggapan hanya cewek yang tahu bener bahasa visual cewek, dia adalah Catherine Hardwicke, sutradara film Thirteen—Hardwicke di sini kembali memberi peran kepada Nikki Reed yang juga menulis naskah Thirteen. Dan Hardwicke sudah dipecat dari pembuatan sekuel untuk quadriology nya (New Moon, Eclipse dan Breaking Dawn).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Twilight adalah cerita romantis remaja biasa (benar-benar biasa, sudah jutaan cerita memiliki inti alur yang sama persis), dengan embel-embel vampire sebagai salah satu formulanya. Malah kalau dirasakan lebih jauh lagi, ceritanya kekurangan darah. Berbicara mengenai jenis film, Twilight adalah film fantasi yang benar-benar memenuhi fantasi setiap gadis sekolahan. Inti kisahnya adalah tentang cinta abadi. Akan ada cinta segitiga, kisah cinta dua makhluk yang berbeda dan tidak sempurna (walaupun fisik mereka sangat sempurna), prnsip mati untuk cinta adalah cara mati yang baik sampai diakhiri dengan malam prom. Nah, apalagi yang Anda harapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama kita adalah Bella (Kristen Stewart), gadis gothic pindahan dari Arizona, yang keberadaannya sebagai siswi baru di sebuah sekolah di Pacific Northwest, membuat ia tampak menjadi nerd yang cantik. Kemudian ia bertemu dengan Edward (Robert Pattinson), salah satu dari lima Cullen bersaudara yang aneh dan mengisolasi diri. Edward adalah laki-laki boysband dengan penampilan grunge—meremehkan perkumpulan manusia di sekitarnya. Ketika mereka ditakdirkan bersama (apa yang Saya bilang tadi, huh?), mereka merasakan sebuah cinta bersemi diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup mengenai hal cinta-cintaan itu, sekarang Bella mengetahui kalau Edward adalah seorang vampire yang modern. Yang memiliki kekuatan super, memiliki kecepatan super, tidak takut terkena cahaya, bisa meneliti bawang, bisa menyetir, mempunyai LCD dan mendengarkan musik Debussy (bukan Bach). Dengan hasratnya untuk memiliki dan meminum darah Bella, Edward menahan diri dan mencoba menjauh dari Bella. Namun sikap posesifnya ini juga membuat Bella terjebak dalam situasi yang berbahaya (Saya jelaskan nanti). Keluarga vampire vegetarian Cullen, kedatangan 3 orang tamu vampire buas (salah satunya adalah vampire Bob Marley). Dan satu dari mereka—yang mengincar Bella, konon katanya merupakan vampire paling hebat yang terlihat dalam 300 tahun terakhir. Saya tidak membuat lelucon ini, tapi itulah kisah Twilight yang novelnya laris 17 juta kopi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya ringan sekali. Walaupun ini teritori gadis, tetapi siapapun termasuk ibu-ibu juga ternyata bisa menikmati alurnya. Karena apa? Karena kita sudah biasa melihat yang sejenis dalam sinetron di layar televisi—lengkap dengan bonus klise-klise yang sangat khas itu. Begitu juga untuk wanita yang lebih berumur—pasti mereka pernah merasakan pengalaman menonton yang serupa. Beberapa adegan percintaan Twilight terlihat seperti film Bollywood. Tidur di taman dan saling tatap mata, berputar-putar di pohon, kamera yang berputar saat sebuah adegan romantis di tengah-tengah hutan (dengan pemotongan yang mengganggu mata Saya), Anda mengerti kalau sudah menyaksikan sendiri. Wajah tampan dan cantik juga mendominasi film ini. Ketampanan Robert Pattinson, si Cedric Diggory dalam Harry Potter, semakin didramatisir (close up+slow motion=stylish). Lihat dari adegan pertemuan pertama Edward dan Bella di kafetaria sampai ketika mereka resmi mempublikasikan hubungan saat di sekolah, mengingatkan Saya terhadap A Cinderella Story. Edward Cullen—lengkap dengan make up nya yang menakutkan bagi Johnny Depp—bisa disebut tokoh heart throbber baru tahun 2008 mengalahkan Joker versi Heath Ledger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, dan satu lagi. Film ini memiliki banyak adegan yang buruk, puncaknya adalah sentuhan super aneh pada adegan base ball dengan musik latar Supermassive Black Holes. Didukung juga oleh efek yang kacangan untuk adegan memanjat pohon, terbang, dan bergerak cepat. Bagi tipe penonton MTV, pasti sudah biasa menonton fast forward seperti itu. Dan satu hal menarik yang disentil sedikit adalah pertempuran abadi vampire dan manusia serigala dalam bentuk teman Bella yang termasuk suku Indian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristen Stewart dan Robert Pattinson adalah pasangan yang sangat serasi di layar. Saya mengetahui Kristen sejak Panic Room (dia masih sangat kecil saat itu), lantas Zathura, dan wajah cantiknya sempat terlihat sebentar dalam Into the Wild. Di mata remaja manapun di dunia ini, tampang baru mereka sudah seperti ikon baru,sama halnya dengan Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint. Mereka tidak menampilkan performa kelas festival, tapi mereka sudah melekatkan figurnya sebagai dua ikon penting. Ketika mereka terlihat bersama di layar, siapa pun tidak akan mengalihkan pandangan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lantas mengapa kesuksesan Twilight menjadi kolosal seperti ini? Selain tokoh Edward dan Bella menjadi lebih disayangi fans fanatiknya, mereka membuat gadis percaya akan cinta sejati. Karena tokoh Edward dan Bella yang penuh perbedaan, mereka saling terikat (entah bagaimana perasaan itu bisa muncul, tidak dijelaskan dengan cukup gamblang, dan pasti akan sangat sulit dijelaskan karena hal seperti itu perlu keajaiban untuk direalisasikan di dunia nyata). Dua orang tidak terkenal saling jatuh cinta. Mereka bertindak seolah-olah dunia milik mereka berdua. Dan Saya rasa Saya perlu mengatakan ini walaupun saya agak malu: duduk menonton selama dua jam dua menit itu tidak terasa Saya lalui.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-4332854360414970137?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/4332854360414970137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=4332854360414970137' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4332854360414970137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4332854360414970137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/twilight.html' title='Twilight'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7327173830970425930</id><published>2009-01-24T18:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T02:07:23.900-08:00</updated><title type='text'>Juno</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 25 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;Fox Searchlights Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Komedi, Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Jason Reitman&lt;br /&gt;Pemain: Ellen Page, Michael Cera, Jennifer Garner, Jason Bateman&lt;br /&gt;Penulis: Diablo Cody&lt;br /&gt;Sinematografi: Eric Steelberg&lt;br /&gt;Musik: Mateo Messina&lt;br /&gt;Durasi: 91 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menonton sebanyak dua kali, Saya semakin mengerti kenapa Juno dicintai banyak orang. Karena semakin Saya mendalami film ini (termasuk menonton ulang, melihat fitur dalam Blu-ray Disc nya, meneliti setiap aspek film ini termasuk mendengarkan soundtracknya), semakin besar cinta Saya terhadap film ini. Saya baru menyadari bahwa Juno bukanlah film remaja biasa—bahkan Juno juga layak membawa . Dan alasan mengapa Saya sudah berani menyebut bahwa film ini klasik dengan memberikan nilai sempurna adalah Saya yakin akan efek Juno terhadap Saya di kelanjutan nanti setelah Saya kembali menengok sebuah kisah remaja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Little Miss Sunshine membangkitkan semangat film indie Hollywood di ajang oscar, tahun ini, Juno tampil dengan gaya yang sangat sederhana dan mudah ditonton. Tetapi punya kualitas yang luar biasa. Dengan dibesut oleh Jason Reitman, sutradara Thank You For Smoking, Juno tidak akan terjebak dalam tipe film remaja yg stereotype. Berada di kelas yang lebih tinggi daripada Superbad (bagi Michael Cera pun, ini adalah kesempatan yang baik). Dan tentu, Juno menjadi favorit semua orang karena untuk ukuran film kelas oscar, Juno termasuk easy-viewing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juno adalah sebuah film coming-of-age mengenai seorang remaja enam belas tahun, Juno Macguff (Ellen Page) yang mendapatkan dirinya hamil setelah menoba melakukan hubungan seks dengan remaja kikuk yang merupakan salah satu teman terbaiknya di sekolah menengah pertama, Paulie Bleeker (Michael Cera), entah sebenarnya ide siapa itu. Dalam posisinya, Juno harus menemui sendiri pendewasaan yang belum saatnya—dituntut merasakan beban hidup di usianya yang masih belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kondisi yang runyam seperti ini, Juno mendapat dukungan penuh dari ayahnya (J.K. Simmons) dan ibu tirinya (Allison Janney) yang memang benar-benar bijak serta pengertian menghadapi “berkah utama Yesus di situasi parah” ini. Juga dari temannya yang juga aktif secara seksual, Leah. Paulie? Kita tahu dia masih paduli dengan Juno, hanya saja Juno mematahkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Juno ingin mengambil langkah aborsi. Namun ia menemukan alternatif yang lebih baik dengan menemukan sepasang kekasih yang ideal sebagai orang tua angkat untuk bayinya itu, Mark (Jason Bates) dan Vanessa Loring (Jennifer Garner)—walaupun ia sadar, keputusannya ini akan membuatnya menjadi legenda di kampusnya dimana semua orang menatap perutnya. Lebih baik daripada menggugurkan bayinya yang memiliki kuku jari. Mark adalah seorang rocker dan komposer komersil, dan Vanessa adalah istri yang berbahagia, menganggap dirinya terlahir untuk menjadi seorang ibu dan berpikir bahwa kaos grunge Superunkown milik Soundgarden itu bodoh. Mereka hidup sejahtera di sebuah rumah yang mewah. Lingkungan sempurna bagi sang bayi. Kita mengikuti perkembangan kehamilan dan batin Juno dari musim ke musim selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diablo Cody adalah penulis debutan. Sebelumnya dia adalah penari telanjang yang beralih menjadi penulis blog. Apa yang paling membuat Juno menarik? Naskahnya. Bisa dibilang sebuah mahakarya. Ceritanya yang unik, dan menarik dalam kesederhanaannya, semua tokoh-tokohnya juga ditulis dengan baik sehingga kita bisa membedakan dan percaya terhadap setiap karakter yang ditampilkan (termasuk salah satu cowok boysband sekolah yang diam-diam naksir dengan Juno). Memiliki bagian twisting, bagian yang menyentuh, dan endingnya yang aman-aman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Juno yang tomboy. bukan baik-baik berhasil mengundang simpati kita untuk ikut memikirkan masalahnya. Tokoh Michael Cera yang sudah mencoba menjadi coolm tetapi tetap tidak cool dan masih terlihat bloon adalah salah satu tokoh yang sangat dekat di hati kita. Begitu juga dengan ayah dan ibu tiri Juno, dengan Mark dan Vanessa. Semua tokohnya, bisa terurus dengan baik, lengkap dengan sifat alaminya, latar belakang, kebiasaan, dan kesukaan pribadi (tidak mengherankan membawa pulang naskah terbaik). Tic tac jeruk contohnya. Naskahnya jujur, bermakna, dan dekat dengan kehidupan membuat Juno bagai Bob Dylan di ajang oscar. Dan itu semua dilapisi dengan akting yang kuat dari para aktor-aktrisnya (Michael Cera, J. K. Simmons, Allison Janney, Jason Bateman, Jennifer Garner adalah cast yang tepat dan sangat kuat). Ellen Page tampil mengejutkan Saya terutama setelah idealisnya sempat hilang lewat X-Men: The Last Stand. Saya tahu Page adalah aktris remaja dengan jiwa yang benar-benar muda. Ia menyukai tantangan seperti yang ia ambil lewat Hard Candy dan menjadi skinhead dalam Mouth to Mouth. Di sini ia justru memberikan penampilan kelas oscar di usianya yang baru 20 tahun waktu itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sentuhan manis dalam film ini. Seperti pelajaran mengenai cinta dimana orang tua Juno bercerai dan menemukan pasangan baru, termasuk saat Juno menonton The Wizard of Gore yang memperlihatkan penyiksaan di bagian perut. Termasuk bagian yang hampir saja menjadikan Juno sebuah opera sabun yang melibatkan hubungan antara Mark dan Juno. Namun hasilnya? Dieksekusi dengan sangat manis hingga dijadikan sebuah pesan moral atau pelajaran etika buat Juno yang dikatakan memiliki selera humor yang tinggi. Untuk lebih memahami tokoh Juno, kita disodorkan narasi yang diisi oleh Juno, langsung mewakili apa yang dipikirkannya saat itu juga (sentuhan beberapa flashback singkat yang sangat berarti tiba-tiba terasa penting juga). Terlebih saat, kita melihat transformasi tokoh Juno…itu menyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat sekali sangat menikmati tiap adegan dari semua adegan sepanjang satu setengah jam ini. Ada banyak adegan bagus dan tidak ada adegan jelek. Itu sederhananya membuat Juno film yang sangat bagus. Semuanya, sejak Juno meminum berton-ton Sunny D, sampai adegan seks di kursi, rencana prom, kontrol kehamilan dengan ultrasound, betapa senangnya terlihat secara alami pada wajah Jennifer Garner saat membeicarakan mengenai bayinya, duet musik Juno dengan Mark, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juno adalah film remaja yang sempurna. Sempurna juga bagi remaja, tanpa harus mendapat rating Restricted seperti Almost Famous (Kalau tidak ada yang Saya lewatkan, Juno adalah film remaja terbaik sejak Almost Famous). Karena film ini dengan begitu manusiawinya, telah mengajarkan kita banyak hal. Tidak hanya tentang kehamilan dan apa yang baik dilakukan saat mencoba tegar menghadapi cobaan tak terduga, tetapi juga mengajarkan tentang musik rock dan siapa the godfather film horror slasher yang sesungguhnya (Dario Argento dan Herschell Gordon Lewis yang sebenarnya membuat salah satu franchise terburuk dunia, Saw, tampak seperti film Shirley Temple).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik di Juno didominasi lagu-lagu folks. Memiliki tone yang sama, antara visual dan audio saling mendukung. Serius. Siapa yang tidak terhantui dengan lagu The Kinks, Barry Louis Pollisar, Cat Power dan The Velvet Underground dalam film ini? Termasuk lagu asli gubahan dan ditampilkan oleh Kimya Dawson. Semuanya mengena langsung di saraf otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bisa tersenyum dengan komedi dan situasinya di awal film, dan bagian yang menyentuh dan romantis di bagian akhir film, Saya yakin sekali kalau Juno telah mengambil hati Saya. Pengalaman menonton yang memuaskan yang jarang didapat lewat film komedia remaja biasanya. Karena Saya bisa menikmati sekaligus meresapi film ini sampai ke hati.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7327173830970425930?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7327173830970425930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7327173830970425930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7327173830970425930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7327173830970425930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/juno.html' title='Juno'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6197797697341871781</id><published>2009-01-23T17:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-30T05:22:26.507-08:00</updated><title type='text'>Body of Lies</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 22 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Ridley Scott&lt;br /&gt;Pemain: Leonardo DiCaprio, Russell Crowe, Mark Strong, Golshifteh Farahani&lt;br /&gt;Penulis: William Monahan berdasarkan novel karya David Ignatius&lt;br /&gt;Sinematografi:&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 129 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara terbaik asal inggris saat ini, Ridley Scott, bersama penulis pemenang oscar lewat The Departed, William Monahan, kembali membuat film islam setelah epik kolosal perang salib mereka, Kingdom of Heaven, mencapai kerajaan neraka di tangga box office. Mereka tidak menyerah. Bahkan membuat film yang lebih berat dari itu. Lihat, ini adalah salah satu film dengan dream team di belakangnya. Dari posternya, Ridley Scott meyakinkan bahwa kita sedang menonton American Gangster dengan sedikit baku tembak dalam Black Hawk Down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Body of Lies berdasarkan novel karya David Ignatius. Mirip seperti The Kingdom (ingat kalimat pembuka "Those to whom evil is done Do evil in return"?), tetapi Saya lebih suka mengatakan kalau Body of Lies adalah film keras yang menggunakan unsur ketegangannya dibawa lebih dari sekedar ledakan atau tembakan peluru, tetapi story telling nya yang membawa kita menuju sebuah penyelidikan bak seorang detektif (atau agen CIA). Body of Lies memberikan permainan yang pas, memuaskan dan diinginkan bagi penonton kelas berat atau penggemar thriller yang sudah lelah dengan semua aksi kosong melompong itu. Kategori ini (seperti yang Saya jelaskan dalam tulisan tentang Michael Clayton), adalah mirip dengan yang kita rasakan saat menyaksikan American Gangster, The Departed dan contoh paling populer…The Dark Knight (coba perhatikan, apakah semua ketegangan itu datang dari aksinya?). Lompat dari satu negara ke negara lain, dialog dengan bahasa yang sophisticated, dan adegan serta cerita yang cepat bergulir. Saya tidak yakin ini adalah tipe film benar-benar pop, tapi masih ada sekelompok orang di luar sana yang menjadi maniak film sejenis. Mereka perlu cerita yang menegangkan, rumit dan cerdas lengkap dengan gaya yang cepat serta editing yang ketat dan terurus, bukan aksi yang mencoba menjadi horror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama kita adalah seorang agen rahasia CIA yang beroperasi di timur tengah, Roger Ferris (Leonardo DiCaprio) dan Ed Hoffman (Russell Crowe), seorang ‘boss’ yang mengontrol kerja Ferris lewat pengindraan jarak jauh melalui satelit, dan perintah eksekusi langsung melalui headset nya. Film dibuka dengan aksi teroris (sebuah ledakan besar yang sangat bagus dijadikan sebagai pembuka film sebelum judul, seperti film James Bond. Menunjukkan betapa keras dan kasarnya film ini pada nantinya) yang akan terus berlanjut dan sedang diselidiki apakah terror itu merupakan satu rantai dan dilakukan organisasi kejahatan muslim yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roger Ferris adalah agen yang langsung terjun di lapangan. Seperti Jason Bourne, tetapi Ferris jauh lebih tidak agen pembunuh super. Seperti James Bond, tetapi Ferris lebih berani mengotori tangannya selain menggunakan strategi dan kecerdasan. Ia mampu berbicara. Dalam cerita film ini saja, Ferris beroperasi di Jordan, Irak dan Syria (Oh, Saya baru ingat, ini thriller yang sejenis dengan Syriana yang kompleks itu). Ia lebih suka bekerja sendiri, terjebak dalam terror timur tengah dan kepercayaan dua pria besar, dan memiliki penyamaran yang bagus serta sikapnya menyenangkan. Ia sempat memiliki jenggot panjang seperti Osama, jago berbahasa arab (bahkan bisa membedakan aksen), dan terkadang harus berpakaian layaknya seorang muslim yang taat. Yang paling penting, Ferris adalah manusia biasa yang bimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Russell Crowe harus menambah beratnya sebanyak 50 pon untuk memerankan Ed Hoffman. Ed adalah pria yang santai, bisa bekerja dengan pikiran yang bercabang, mewakili gaya hidup orang amerika, dan seorang pria yang tambun. Selama kontak dengan Ferris, diperlihatkan Hoffman bisa berbicara tentang CIA saat mengantar anaknya sekolah, berkumpul bersama keluarga, dan kegiatan sehari-hari lainnya. Sikapnya terkadang terkesan egois, sehingga Hoffman kerap mengatakan "All you need to do is trust me, little buddy,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan mereka adalah menghentikan teror aktivis Al Qaeda yang bermarkas di Yordania, Al-Saleem (Alon Aboutboul)—memfiktifkan pengangkapan Osama Bin Laden? Ferris harus bekerja sama dengan kepala agen pertahanan Yordania, Hani Salaam (Mark Strong), yang terlihat seperti pria Yordania berkelas dan berwibawa. Satu peraturan dari Hani yang membebani pikiran Ferris, “do not lie to me” Cara kerja mereka yang penuh intrik sangatlah cerdas. Saya tidak berbohong kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridley Scott sempat mengatakan film ini tentang Islam. Saya lebih bisa mengatakn Body of Lies hanyalah tentang agen rahasia. Walaupun sisi pengaruh peradaban masih bisa dilihat di layar. Seperti adegan di rumah makan yang memperlihatkan pria amerika Ferris berkencan dengan wanita islam Yordania asal Irak yang menjadi perawatnya selama beroperasi di sana, Aisha (Golshifteh Farahani). Scott mengambil beberapa situasi dramatis pada adegan itu yang menunjukkan bagaimana tabu-nya hubungan itu. Juga bagaimana Al-Saleem tiba-tiba sudah keluar batas dan menjadikan aksi Ketuhanan itu menjadi sebuah perasaan sentimen, dengki dan iri hati sehingga membuatnya sebagai sebuah persaingan. Juga tidak ada politik di sini. Sejauh ini Saya tidak melihat adegan George W. Bush bernegosiasi dengan Osama Bin Laden. Adegan penyiksaan ala Hostel? Pasti ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Body of Lies bukan juga film kelas dan tipe oscar (terbukti saat nominasi diumumkan kemarin, satu nominasipun tidak didapat). Leonardo DiCaprio dan Russell Crowe tampil sangat gemilang sebagaimana biasanya mereka tampil. Tapi Mark Strong yang justru menebarkan pesona sebegitu harumnya. Kita mempunyai akting yang sangat bagus dalam peran yang hampir tidak memungkinkan aktor-aktornya membawa pulang piala oscar.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya memang belum ada waktu untuk terjun langsung dalam operasi CIA. Tapi Body of Lies meyakinkan Saya dengan segala cara-caranya yang brilian, dan alur yang cerdas. Dan walaupun Saya belum menemukan strategi itu dari Amerika untuk melawan kekuatan Islam…eh…teroris (sekarang sudah era Barrack Obama). Inilah kenyataan. Sederhananya, pada akhirnya film ini memang hanya menjadi sebuah film investigasi biasa. Tetapi Body of Lies cukup memuaskan Saya dengan caranya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6197797697341871781?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6197797697341871781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6197797697341871781' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6197797697341871781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6197797697341871781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/body-of-lies.html' title='Body of Lies'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-4079073604293091575</id><published>2009-01-22T00:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:39:10.451-08:00</updated><title type='text'>The Day the Earth Stood Still</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: D&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 22 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;20th Century Fox&lt;br /&gt;Jenis: Fiksi Ilmiah, Aksi&lt;br /&gt;Sutradara: Scott Derrickson&lt;br /&gt;Pemain: Keanu Reeves, Jennifer Connelly, Jaden Smith, Kathy Bates&lt;br /&gt;Penulis: David Scarpa&lt;br /&gt;Sinematografi:&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 103 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi aslinya tahun 1951, karya Robert Wise (dengan naskah oleh Edmund H. North) dianggap salah satu film sci-fi terbesar yang pernah dibuat. Tidak hanya terbesar. Namun sekarang sudah menjadi klasik—bertengger dalam 10 film fiksi ilmiah terbaik AFI. Itu film yang terlihat megah di jamannya, memperkenalkan robot bernama Gort untuk pertama kalinya di layar, memiliki sebuah metafora politik (seperti film alien lainnya, Invasion of the Body Snatchers), dan jalan ceritanya memang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi terbaru arahan Scott Derrickson yang baru sukses lewat The Exorcism of Emily Rose. Dari trailernya, Saya sudah memiliki firasat buruk kalau saat menonton remake ini adalah hari Saya tidak masih bertahan. Filmnya terlihat terlalu mewah, extravaganza, pamer efeknya terlalu berlebihan khas film-film fiksi ilmiah sekarang. Seharusnya dengan ide awal yang brilian, film ini bisa jauh lebih baik (atau lebih baik lagi, jangan dibuat ulang karena hanya akan merusak keasliannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam versi Wise, tema yang diangkat adalah tentang nuklir, dan masa-masa paranoia serta perang dingin mempunyai plot yang nyerempet ke Joseph McCarthy (lagi-lagi mengenai komunis). Sekarang: temanya diperbarui agar terkesan up to date dengan unsur politik yang jelas. Saya pernah membaca prediksi jika tema komunis pada versi aslinya akan terdengar kagok dan basi jika lagi dibuatkan filmnya sekarang. Hasilnya ini menjadi mengenai Al Gore dan pemanasan global (lagi-lagi mengenai pemanasan global). Juga sedikit mengenai Nabi Nuh dan kapalnya seperti Klaatu dan “kapal”nya yang membawa pergi makhluk-makhluk di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Helen Benson (Jennifer Connelly), seorang ilmuwan yang tiba-tiba didatangi tamu tak diundang utusan pemerintah untuk menyelidiki objek yang melaju secepat kilat hendak menabrak bumi. Ternyata itu hanyalah sebuah pendaratan makhluk luar angkasa di Central Park, yang ditonton sekelompok orang amerika, baik itu kalangan militer, ilmuwan, dan orang awam. Datang alien bernama Klaatu (Keanu Reeves) dan tukang pukulnya, robot raksasa bernama Gort. Klaatu ditembak, dan dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas setengah film terakhir, The Day The Earth Stood Still baru ini menunjukkan wujud aslinya sebagai film yang tak berarti, berlebihan dan membosankan. Satu adegan bagus (saat alien nongkrong di McDonald’s) tetapi penuh dengan klise yang biasanya didatangkan dari dua tokoh paling menjengkelkan di dunia hiburan era ini: sekretariat pertahanan Regina Jackson (Kathy Bates)—dengan keputusan-keputusannya yang tidak hanya merugikan dunia pada saat itu, tetapi juga merugikan penonton, dan Jacob Benson (Jaden Smith), anak tiri Helen yang tingkah lakunya sangat menjengkelkan dan memalukan. Terlalu banyak efek visual yang terlalu kelihatan palsu, eksekusi yang buruk, amukan Gort (dengan menjadi serangga besi) yang tidak bisa mencapai klimaks, serta aksi-aksi lainnya yang justru membuat film berdurasi pendek ini melelahkan dan kehilangan kesempatan untuk berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jaden Smith dan Kathy Bates mencetak jejak yang buruk lewat film ini, Keanu Reeves, seperti biasanya, kembali menunjukkan akting yang jelek. Satu poin baik mengapa Keanu yang dipilih. Mungkin sang pembuat film ingin alien yang dingin dan tanpa ekspresi seperti yang diperlihatkan dalam Invasion of the Body Snatchers ataupun Mr. Spock. Hollywood hanya punya dua nama, dan Hayden Christensen terlalu muda untuk peran ini. Jennifer Connelly, duh, setidaknya dia yang paling waras sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbandingan, pertama, Gort terlihat jauh lebih hebat dengan orang-di-dalam-kostum daripada menggunakan efek visual yang sangat kartun. Percayalah. Bahkan kalimat pemungkas “Klaatu Barada Nikto” tidak terdengar di sini. Entah apa gerangan yang menyebabkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Saya taruh maksud Saya disini, Saya bukan anti Al Gore. Beberapa alasan sudah Saya sebutkan. Dan Saya beri contoh lagi: Apa misi Klaatu di bumi tidak benar-benar tuntas. Ia mengharapkan kita, para manusia, untuk tidak membunuh satu sama lain, agar bumi bisa selamat (bilang saja agar tidak menebang hutan sembarangan!). Jika tidak, manusia yang akan dibunuh. Berkali-kali Jennifer Connelly mengatakan bahwa “Kita bisa berubah,” Dan setelah Klaatu mengikuti lomba menulis rumus dan mendengarkan musik Bach, omong kosong manis dan persuasif itu kembali diperkuat oleh seorang pemenang nobel yang diperankan oleh alumnus grup lawak Monty Python, John Cleese. Apa benar begitu? Apa jaminan yang langsung bisa membutakan makhluk secerdas alien sakti ini? Tidak masuk akal. Itu sebab mengapa remake ini jatuh ke dalam lubang hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali film yang baik itu tidak berdasarkan efek visual. Apa yang membuat karya Wise itu klasik juga karena certa dan pesan yang berbobot. Sesuatu yang dianak tirikan di versi millennium ini. Hindari saja global warming, agar tidak terjadi lagi invasi bioskop seperti ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-4079073604293091575?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/4079073604293091575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=4079073604293091575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4079073604293091575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4079073604293091575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/day-earth-stood-still.html' title='The Day the Earth Stood Still'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5398401028660807345</id><published>2009-01-16T07:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-30T05:18:31.023-08:00</updated><title type='text'>Under the Tree (Di Bawah Pohon)</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 11 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;Karya Set Film &amp;amp; Credo Cine Arts&lt;br /&gt;Jenis: Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Garin Nugroho&lt;br /&gt;Pemain: Marcella Zalianty, Nadia Saphira, Ayu Laksmi, Dwi Sasono, Ikranagara&lt;br /&gt;Penulis: Aramantono &amp;amp; Garin Nugroho&lt;br /&gt;Sinematografi: Yadi Sugandi&lt;br /&gt;Musik: Kadek Suardana &amp;amp; Wiwiex Sudarno&lt;br /&gt;Durasi: 95 menit&lt;br /&gt;Untuk: Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin Nugroho adalah salah satu sutradara angkatan tua yang masih aktif membuat film. Dosen IKJ ini selalu mempertahankan idealismenya, dan sesekali mencapai sukses besar seperti dalam “Cinta Dengan Sepotong Roti”. Bisa dilihat, film-filmnya lebih banyak didaftarkan di festival-festival luar negeri ketimbang beredar secara luas dan tidak ditonton di Indonesia. Pernahkah film anak papua yang ingin mencium gadis “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” dan mahakarya terakhirnya “Opera Jawa” lepas dalam format DVD? Beredar secara terbatas di bioskop dan hilan tanpa jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Opera Jawa, kini giliran Bali yang menjadi sorotan utama dalam kesepuluh Garin. Semalam saya berada di Bali, tempat pengambilan gambar film ini, berdiri diantara kru dan cast termasuk Garin Nugroho sendiri untuk menyaksikan Under the Tree. Garin mengatakan sendiri kalau Bali adalah penuh mistis. Bali yang Saya tempati memang penuh dengan hal-hal gaib setiap hari, setiap malam. Banyak kebudayaan menarik yang bisa disorot. Dan dalam satu kesempatan wawancara, Garin sempat mengatakan akan memasukkan adegan mistis berupa penggalan drama Calon Arang yang melibatkan dramawan kawakan Ikranagara untuk berperan sebagai mayat. Sekarang Saya menyaksikan sendiri apakah film Garin ini memang penuh mistis atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap memakai scenario tiga unsur (terpikir dengan 3 Doa 3 Cinta, Berbagi Suami, Sin City, dan banyak judul lainnya). Tiga wanita;.Maharani (Marcella Zalianty), Dewi (rocker Ayu Laksmi) dan Nian (Nadia Saphira), yang memiliki persamaan kisah yaitu mengenai hubungan anatara anak dan orang tua (tergambar dari opening credit-nya). Dan tentunya mereka kini sedang berada di Pulau Dewata. Maharani adalah wanita yang tidak peduli dengan Ibunya dan mencari jawaban di pulau spiritual ini. Dewi adalah penyiar radio yang sedang ditekan situasi untuk melakukan aborsi. Dan Nian adalah selebriti yang mengejar pria tua (I Love You, Kek?), yang diperankan Ikranagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga perempuan ini punya cerita. Subplot membuat sequence demi sequence semakin tumpang tindih. Nian dengan kisah Calon Arang yang bisa membahayakan nyawa pecintanya yang telah membuatkan tato di dadanya (Saya berasumsi, Nian tidak sedang ingin mencari seks). Maharani dengan kisah penari dan pemuda yang selalu ingat dengan Ibunya ketika mengintip Maharani (tetapi emuda itu tidak sambil masturbasi). Dewi juga memiliki bagian kenang-kenangan tentang tarian tradisional Bali. Lantas ada kisah cinta dua orang Bali yang terlibat kasus penjualan bayi. Dari situ, Saya menangkap kalau Garin memang ingin membuatkan cerita untuk kebudayaan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu, dalam festival sinema prancis, Saya sempat menonton film Toute La Boute Du Monde yang juga saat itu dihadiri oleh sutradara beserta pemainnya. Itu sepenuhnya menceritakan tentang Bali. Seperti yang tertulis di akhir film, “terima kasih untuk Bali atas inspirasinya,” Prancis membuatkan sebuah cerita tentang keindahan Bali. Sawah, pantai, dan keindahan tradisional lainnya. Apa yang digambarkan Garin, jauh lebih dalam, secara ia lebih dekat dengan Bali dan banyak orang Bali terlibat dalam proyeknya. Bali bukan lagi terlihat sebagai surga. Tetapi pasar bayi. Meskipun Garin tetap sengaja memasukkan tradisi dan budaya di Bali seperti Calon Arang, tarian tradisional, pura, dan yang lainnya. Dan lagu Que Sera Sera milik Doris Day dari film Hitchcock, The Man Who Knew To Much, menjadi seperti tema film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ditampilkan itu termasuk adegan yang simbolis, membuatnya seperti sebuah alegori agar tidak ada kesan memaksa. Calon Arang dan Kurawa masih bisa ditangkap sebagai lambang kasih sayang orang tua. Untuk beberapa adegan, Saya masih tidak mengerti. Ketika Maharani terbangun dan tiba-tiba seorang pria menari di dekatnya. Ataupun adegan paling memorable sepanjang film yaitu ketika Dwi Sasono memakaikan Marcella sebuah kamen (sejenis busana untuk menari Bali) dengan gaya seperti pasangan faking orgasme. Maaf untuk mengatakan ini sebelumnya. Apa Dwi Sasono menyentuh G-Spot nya? Karena selama Saya di Bali, Saya belum pernah cara memakai kamen seperti itu. Perlu diakui, itu adalah adegan paling berwarna sepanjang film. Tata cahaya, keintiman, gesture, ekspresi, semua diatur dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tentang sinematografi yang banyak dibicarakan itu. Banyak penonton yang mengkritik tentang sinematografi langsung dihadapan Garin. Mempermasalahkan tentang kamera yang goyang. Garin hanya bisa mengatakan dengan enteng, “Itulah yang membuat bagus,” Ketajaman gambar sangat minus, seolah-olah itu warnanya dikurangi sehingga seperti efek monokrom. Entah disebabkan pencahayaan yang kurang atau memang disengaja. Semuanya baik-baik saja. Dan Saya juga tidak bermasalah dengan gaya handheld untuk memperkuat citra artistiknya. Banyak extreme close up ditambah panning yang dilakukan seperti sebuah kriminal yang malah membuat beberapa penonton puyeng. Saya tidak bermasalah, Garin mungkin ingin mendramatisir adegannya. Tidak sia-sia karena Ayu Laksmi mendapat nominasi pada FFI dan Ariani justru menang. Yang sedikit menganggu adalah, mereka sedikit ke luar batas dalam menggunakan gaya ala handycam itu, terlihat pada beberapa adegan justru terlihat seperti kamera amatir yang menggunakan zoom in dan zoom out serba canggung dalam satu adegan singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin mengajak beberapa maestro seni asal Bali yang selama ini belum sempat unjuk gigi secara nasional (dan sayang sekali kali ini, Under the Tree hanya diputar secara terbatas). Seperti Ni Ketut Cenik (80), Ayu Ketut Muklen, Ni Ketut Arini, I Ketut Rina dan dr. Bulan Trisna Djelantik. Berbicara soal akting orang Bali ini, saat diartikan ke dalam sebuah subtitle English, “feel” Bali-nya tidak terasa. Padahal yang mereka ucapkan sangat nyata, seperti ketika orang-orang Bali berbicara di kehidupan nyata. Alami, mengalir seperti air mistis. Tidak heran jika saat pemutaran di Bali, banyak orang-orang tertawa mendengar logat khas mereka yang medok—terutama subplot seorang wanita gendut yang cemburu dengan pria gondrong bermotor besar itu, sebuah bagian pemancing tawa terbesar. Konon, saat di lokasi syuting, Garin tidak memberikan pemain-pemainnya skenario.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ketika Saya tidak dapat mengartikan film ini, Saya menyadari bahwa hanya itu penjelasan film ini. Tidak ada klimaks atau adegan yang menghubungkan dengan mempertemukan ketiga tokoh itu. Mereka hidup dalam masalah sendiri-sendiri. Ketika sebuah kisah cinta tiba-tiba menjadi kisah perdagangan bayi, memang itulah yang sebenarnya ingin diungkapkan Garin. Under the Tree intinya ternyata tentang krisis sosial. Menurutnya, krisis lingkungan itu terjadi karena ada krisis sosial. Jadi untuk menanggulangi krisis lingkungan itu, harus memecahkan krisis sosial terlebih dahulu. "Kalau tidak ada daya upaya, tentu perhatian mereka pada lingkungan. Ya...dirusaklah hutan untuk memenuhi kebutuhan," Tapi kenapa harus Bali? Karena Garin membuatkan cerita untuk Bali.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5398401028660807345?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5398401028660807345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5398401028660807345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5398401028660807345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5398401028660807345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/under-tree.html' title='Under the Tree (Di Bawah Pohon)'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1300100533873685967</id><published>2009-01-03T22:37:00.001-08:00</published><updated>2009-01-07T07:16:33.995-08:00</updated><title type='text'>Bedtime Stories</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 4 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Walt Disney&lt;br /&gt;Jenis: Komedi, Fantasi, Keluarga&lt;br /&gt;Sutradara: Adam Shankman&lt;br /&gt;Pemain: Adam Sandler, Keri Russell, Guy Pearce, Richard Griffiths&lt;br /&gt;Penulis: Matt Lopez &amp;amp; Tim Herlihy&lt;br /&gt;Sinematografi:&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 95 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Saya ingin meminta maaf dulu kepada almarhum Disney dan Adam Sandler keran Saya telah meremehkan film ini. Saya sempat mengatakan bahwa Bedtime Stories hanya akan menjadi film yang mengantarkan Saya tidur di bioskop. Tidak seburuk itu. Boleh Saya diikutkan program anger management. Film live action milik Disney ditambah sang ayah besar, Adam Sandler, ditambah PG hanya akan menghasilkan komedi slapstick konsumsi anak kecil. Slapstick hanya akan lucu jika kita mengalaminya sendiri, bukan lewat cerita dari orang lain, maupun menyaksikan di layar. Dengan kata lain, Bedtime Stories maupun Yes Man sebenarnya sama-sama tidak cocok dengan selera humor Saya. Dan sebelumnya Saya sebagai penulis resensi, merasa sah saja untuk membandingkan film ini dengan produk-produk Sandler sebelumnya milik Columbia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak banyak yang bisa dibahas dalam film ini, sebaiknya Saya gunakan sisa ruang untuk memperkenalkan diri saja. Berbicara mengenai selera humor, silakan Anda tidak percaya dengan Saya. Jim Carrey, humor orang-orang Dreamworks, humor animasi semua umur (terjemahkan: anak-anak), slapstick, dan sejenisnya, bukanlah apa yang Saya cari. Sebagai contoh kecil yang masih agak hangat: Ratusan juta orang tertawa puas dengan Kung Fu Panda, sementara Saya hanya bisa duduk dan menikmati alurnya tanpa diganggu tawa. Apa Saya sudah membuatnya menjadi jelas? Untuk film yang menurut Saya lucu antara lain; Monthy Python and the Holy Grail, A Fish Called Wanda, Snakes On A Plane, semua film milik Tarantino,dll. Anda sudah menangkap kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skeeter (Adam Sandler) adalah anak pemilik hotel yang sekarang hanya menjadi petugas kebersihan—karena bisnis hotel itu sudah menjadi milik pria alergi kuman, Nottingham (Richard Griffiths). Di sana, ia berteman dengan Mickey (Russell Brand), dan sangat ingin mengencani anak Nottingham yang sangat cantik dan seksi (Teresa Palmer). Musuh bebuyutan Skeeter adalah Kendall (Guy Pearce), manajer hotel Nottingham yang sinis dan sentiment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Skeeter, diminta tolong oleh saudara perempuannya, Wendy (Courteney Cox), untuk menjaga anak-anaknya, Patrick (Jonathan Morgan Heit) dan Bobbi (Laura Ann Kesling). Ia tidak sendiran, ada teman sang kakak yang ikut menjadi tukang asuh, Jill (Keri Russell)—dari awal kita tahu, mereka akan mejadi sepasang kekasih nantinya. Anak-anak itu ingin diceritakan dongeng setiap malam, mulai dari dongeng prajurit abad pertengahan, koboi &amp;amp; Indian, ksatria romawi sampai petualangan luar angkasa seperti Star Wars. Masalahnya, bagian-bagian dongeng yang diceritakan itu juga memperngaruhi hidup Skeeter saat cerita sebelum tidur mulai berfleksi menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya rating PG ini sudah jadi pertanda yang aneh kenapa Sandler tidak bersama Columbia setelah melalui banyak film bersama. Tapi ini film Disney, eh? Tapi ada sisi baik mengajak Adam Shankman yang berpengalaman membuat film keluarga The Pacifier dan Cheaper By The Dozen 2. Shankman pernah tenggelam sampai karam saat ia menyutradarai The Wedding Planner dan A Walk to Remember yang tidak ada dagingnya—hanya menjadi sebuah tangkai ataupun tulang kering. Tapi tahu lalu, Shankman baru saja mencetak hits lewat musikal Hairspray yang sangat bagus sekali. Bagaimanapun faktor-faktor baru akibat hijrahnya ke Disney, yang jelas pelawak candaan jorok tentang penis pemenang razzie, sekaligus seorang juri Miss Universe, Rob Schneider, akan kembali menjadi cameo di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai film Disney, Bedtime Stories memiliki pesan moral disamping menghibur dengan caranya yang kekanak-kanakan. Dan dibandingkan Click, moral di Bedtime Stories ini cenderung lebih realistis, dan sangat berguna bagi anak-anak untuk menghadapi kenyataan (Saya tahu Saya bukan penasihat yang baik, dan ini tidak seharusnya ditulis dalam resensi film anak-anak). Saat Skeeter dan Wendy berbicara mengenai “tidak ada happy ending di dunia ini”, menurut Saya, itulah justru pesan moral terbaik yang dikandung film ini. Melebihi slogan yang tersirat dalam dongeng kehidupan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah humor, sudah bisa diprediksi Saya tidak tertawa. Candaan yang aman-aman saja itu, tetap tidak menantang selera humor Saya. Monty Python and the Holy Grail adalah film jenius dengan humor super bodoh. Itu adalah film PG yang tidak layak mendapat rating PG—Saya tidak bermaksud anarki terhadap MPAA, tapi itu film Restricted. Saya sadar tidak akan ada film sadis berating PG seperti itu, termasuk dalam kasus Bedtime Stories. Gaya bercandanya bodoh, dangkal dan kering. Terutama, tikus bermata besar yang bernama Bugsy. Apa gerangan yang lucu dari dia? Tapi Saya tetap menikmati secara keseluruhan. Lantas, mengapa? Karena Saya masih merasakan semangat Disney dalam film ini, setidaknya itu yang bisa menahan Saya daripada mengklik tombol “stop” untuk film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengenai pendapatan film ini, ternyata masih kalah dibanding film keluarga lainnya, Marley and Me, di minggu pertama. Kasihan. Karena biaya Bedtime Stories pasti cukup mahal. Efek visual yang dijual demi menghidupkan fantasi Skeeter sudah cukup jempolan dan dijamin bisa membohongi anak kecil. Bedtime Stories adalah film yang bagus untuk anak-anak. Masih tetap sedikit menggoda lewat peran milik Teresa Palmer. Bawa sekeluarga menonton selama liburan masih ada. Mereka akan mendapatkan persis seperti yang mereka harapkan melalui film keluarga seperti ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1300100533873685967?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1300100533873685967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1300100533873685967' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1300100533873685967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1300100533873685967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/bedtime-stories.html' title='Bedtime Stories'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6413405619521967439</id><published>2009-01-02T21:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T21:51:01.103-08:00</updated><title type='text'>Rope</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: C+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 3 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1948&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Drama, Misteri&lt;br /&gt;Sutradara: Alfred Hitchcock&lt;br /&gt;Pemain: James Stewart, John Dall, Farley Granger, Cedric Hardwicke&lt;br /&gt;Penulis: Arthur Laurents &amp;amp; Hume Cronyn dari naskah karya Patrick Hamilton&lt;br /&gt;Sinematografi: William V. Skall &amp;amp; Joseph A. Valentine&lt;br /&gt;Musik: David Buttolph &amp;amp; Francis Poulenc&lt;br /&gt;Durasi: 80 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rope adalah film Hitchcock yang terpendam di tahun 1948, dan belakangan ini—tahun 1984, sejak universal kembali membangkitkan 5 film Hitchcock antara lain; Rope (1948), Rear Window (1954), The Man Who Knew Too Much (1955), The Trouble With Harry (1956) dan Vertigo (1958)—dan diakui sebagai mahakarya Tuan Hitchcock (dimasukkan ke dalam box set DVD Alfred Hitchcock Masterpiece). Entah akan suka atau tidak, tidak ada salahnya memberi Rope sebuah kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, justru Saya tidak suka dengan salah satu mahakarya dari sutradara yang diakui terhebat yang pernah ada. Bukan karena visual atau style, Saya juga tidak ada masalah dengan alur cerita, hanya saja, Saya tidak terbiasa melihat sebuah rekaman seluloid dari sebuah sandiwara panggung. Tapi Rope benar-benar menunjukkan kepiawaian seorang Hitchcock membuat suatu film yang terlihat terlalu sulit, sangat menantang, dan hampir mustahil dilakukan sebagian orang—sebelum puncak karirnya di dekade 50-an. Hitchcock sendiri mengakui pada suatu wawancara dengan kritikus Roger Ebert bahwa Rope adalah “experiment that didn’t work out”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari naskah drama karya Patrick Hamilton, cerita Rope diangkat dari pembunuhan Bobby Franks, 14, oleh dua siswa homo dari Universitas Chicago, Leopold &amp;amp; Loeb, di tahun 1924. Di versi film, Leopold &amp;amp; Loeb memiliki alias Brandon (John Dall) dan Phillip (Farley Granger). Tidak pernah dijelaskan pada filmnya bahwa mereka memiliki sebuah hubungan homoseksualitas—Saya mencarinya di google, tahun itu, homoseksual dianggap tidak lazim. Tapi kita tahu, bahwa Brandon, sebagai otak kriminal ini, adalah sang pria lengkap dengan sikap pemimpin dan charisma kelakian. Dan Phillip yang selalu takut dan panik adalah sang wanita yang memiliki sifat yang sangat sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan cameo Hitchcock yang berperan sebagai pejalan kaki. Kamera bergerak, kita melihat situasi di dalam ruangan dimana Brandon dan Phillip membunuh teman lamanya yang bernama David dengan mencekik lehernya menggunakan seutas tali. Mereka menyembunyikan mayat David di dalam sebuah kotak yang tidak dikunci dan dihias seolah-olah menjadi sebuah meja makan. Lantas Brandon ingin mengadakan sebuah pesta lengkap dengan sampanye dingin, dan mengundang ayah David, tante David, tunangan David, mantan pacar tunangan David, dan seorang tamu yang salah, mantan guru mereka yang dingin dan teoris, Rupert Cadell (James Stewart). Malam yang indah bagi Brandon. Malam yang busuk bagi Phillip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Saya melihat tidak ada motif membunuh yang jelas, memang motif itu sangat tidak jelas. Itu hanya sebuah pembunuhan yang memiliki tujuan bisa membuktikan mereka telah membunuh, melakukan pekerjaan kriminal dengan sempurna, dan lepas dari itu. Namun, pekerjaan kriminal yang sempurna itu dirusak oleh Cadell dan sikapnya yang selalu memasang kecurigaan dan pandangan anehnya mengenai manusia superior dan berkuasa—yang mempengaruhi pemikiran dua laki-laki itu itu. Ini berdasarkan teori Nietzsche tentang manusia super. Seperti kata Brandon, “menjadi lemah adalah suatu kesalahan” Dan Phillip benar saat mengatakan bahwa pesta ini sebuah kesalahan—dengan mengundang Rupert, mantan pacar David, Ayah dan tante David, tanpa berpikir bahwa mereka akan curiga karena David tidak bisa hadir. Ini seperti mereka ingin membunuh “dan” mengakuinya. Salahkah kah penilaian Saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sama seperti karya Hitchcock sebelumnya, Lifeboat yang konon hanya menggunakan setting di sebuah perahu kecil. Dalam Rope, seluruh cerita mengambil tempat di sebuah ruangan yang cocok buat pesta. Jadi ini mengapa menonton Rope sama saja seperti menonton teater tradisional. Situasi hanya berputar-putar pada orangnya saja, kamera bergerak dari orang satu ke yang lainnya, menangkap segala sesuatu yang dirasakan, diperbincangkan dan dipikirkan salama perayaan kematian itu. Seperti pesta biasanya, membicarakan yang lain-lain, bukan tentang pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rope juga menggunakan gaya real time. Termasuk pergantian pemadangan latar dari sore menjadi malam (menggunakan neon). Ini diperkuat dengan pengambilan long take 10 menit—batas maksimal sebuah film kamera pada saat itu. Berdasarkan wikipedia, hanya ada 10 adegan dalam film ini. Semua adegan itu disusun tanpa diganggu sedikitpun kecuali saat close up James Stewart. Biasanya diakali dengan menaruh kamera dibelakang suatu objek sehingga layar menjadi gelap, lantas gambar adegan berikutnya dimulai ketika kamera mulai bergerak lepas dari objek yang sama, sehingga, kesannya dari adegan-adegan itu menyambung dari satu ke yang lainnya (tidak terpotong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan persiapannya? Hitchcock harus memperkirakan (dan hafal betul) aktor bergerak ke mana, kamera bergerak ke mana, kapan harus memotong sebuah gambar adegan, dan lain-lain. Jadi kamera hanya berputar-putar di sekeliling ruangan, menangkap berbagai emosi dan perbincangan di sana. Close up memang menjadi jarang digunakan, kamera hanya bermain zoom dan pan di ruang yang cukup luas. Itu digunakan secara efektif dan bisa membantu kita mempelajari situasi dan profil karakternya. Efek dramatis dan keintiman tokoh nyatanya tetap bisa juga terekam dengan baik, contohnya adalah pada debat Phillip dan Brandon. Lucu sekali melihat satunya dengan leluasa mempermalukan pacarnya, satunya lagi berdiam dengan wajah super panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, ceritanya tidak menarik untuk Saya saksikan lewat sebuah film (ini sebuah naskah panggung kan?). Tapi Saya tetap respek terhadap film ini. Ini adalah film Hitchcock pertama yang menggunakan Technicolor. Tapi gaya dan visual yang diterapkan Hitchcock sebagai seorang sutradara; semua hal yang inovatif, eksperimental seperti long take ekstrim dan atmosfir real time itu adalah sebuah hal yang sangat unik dan jarang bisa ditemui di film-film biasanya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6413405619521967439?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6413405619521967439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6413405619521967439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6413405619521967439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6413405619521967439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2009/01/rope.html' title='Rope'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-7565648135610618131</id><published>2008-12-30T20:44:00.000-08:00</published><updated>2009-07-19T12:25:02.334-07:00</updated><title type='text'>A Clockwork Orange</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 31 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1971&lt;br /&gt;Warner Bros.&lt;br /&gt;Jenis: Drama, Fiksi Ilmiah&lt;br /&gt;Sutradara: Stanley Kubrick&lt;br /&gt;Pemain: Malcolm McDowell, Patrick Magee, Warren Clarke, James Marcus&lt;br /&gt;Penulis: Stanley Kubrick dari novel karya Anthony Burgess&lt;br /&gt;Sinematografi: John Alcott&lt;br /&gt;Musik: Water Carlos&lt;br /&gt;Durasi: 137 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus saya katakan tentang film ini? A Clockwork Orange adalah film sinting. Film sakit. Film absurd. Film yang membuat Anda tersenyum kecut melihat kegilaan tokoh utamanya, Alex DeLarge (Malcolm McDowell). Sudah menjelma menjadi cult classic. Terpilih dalam 10 film sci-fi terbaik versi AFI. Film ini memang layak dengan gelar itu. Dan film ini sudah mempengaruhi budaya modern. Dalam The Dark Knight, Almarhum Heath Ledger mengambil sample dua sosok anti sosial paling ikonik, Sid Vicious dan Alex DeLarge sebagai inspirasinya untuk menghidupkan tokoh heart-throbber baru, Joker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya Saya tahu film yang Saya tonton ini. A Clockwork Orange dicap sebagai film terkutuk oleh Vatikan karena kekerasan dan seks bisa menyerang moral orang dewasa sekalipun (Saya curiga mungkin sebagian besar karena Alex ingin mencambuk Yesus). Tapi film ini memang penuh dosa. Pada masa peredarannya di bioskop, A Clockwork Orange dikecam banyak pihak sampai membuat Kubrick ingin menarik mahakaryanya ini dari peredaran. Dan MPAA memberinya rating X—yang akhirnya belakangan ini diubah menjadi Restricted. Saya hanya bisa menyampaikan catatan ini saja kepada siapapun yang ingin tahu lebih jauh tentang film ini: “Walaupun mendapat rating R, Saya lebih setuju dengan rating NC-17 itu. Karena A Clockwork Orange memang vulgar, tidak lazim dan sangat ofensif. Saya menonton banyak film sakit. Tapi ini adalah salah satu yang paling mengganggu hidup Saya. Memang benar ini sebuah real horror show”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti karya fenomenal Kubrick sebelumnya, 2001: A Space Odyssey, yang diangkat dari novel karya Arthur C. Clarke, A Clockwork Orang diangkat dari novel karya Anthony Burgess. Ketika pertama kali Kubrick membaca cerita ini setelah disodorkan oleh Burgess, Kubrcik hanya menjawab, “Saya tidak mengerti,” Seperti juga dalam kasus 2001, Kubrick lantas menulis sendiri naskahnya berdasarkan interpretasinya sendiri—yang membuat perbedaan yang kontras antara pembaca novelnya dengan penonton filmnya. Dan (lagi-lagi) sama juga seperti 2001 (dan karya Kubrick lainnya seperti The Shining, Eyes Wide Shut, dll), Kubrick kembali seolah-olah melukis sebuah puisi abstrak di layar. Memang A Clockwork Orange memiliki semacam plot yang jelas. Tetapi bagaimana Anda bisa memahami makna film ini? Interpretasikan sendiri! Ini semacam keadaan “cinta atau benci”, Saya setuju dengan pandangan eksentrik Burgess yang tidak setuju dengan rehabilitasi untuk mengubah kepribadian seseorang. Sedikit catatan: terdapat refrensi berupa buku 2001: A Space Odyssey, ketika Alex dengan kostum kerajaannya, menemui dua gadis di sebuah tempat semacam pasar, yang akan ditidurinya secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin harus berkali-kali Anda mencicipi film ini agar rasanya bisa melekat. Agak sulit bagi masyarakat kita untuk menerima film seperti ini—menempatkan film ini dimana seharusnya ia berada. Ketika Anda mempunyai interpretasi yang pas terhadap cerita ini, Anda merasakan ada hal yang jenius—sebaiknya Saya tidak membeberkan interpretasi Saya terhadap film ini untuk sementara. Walaupun Saya masih menemukan beberapa adegan yang kesannya, tampil hanya dari keinginan Kubrick. Saya masih belum mengerti pandangan Kubrick terhadap adegan itu. Judul A Clockwork Orange bukanlah berarti jeruk jam. Tetapi Orange di sini adalah orang yang berarti manusia. Jadi, manusia yang bekerja seperti jam. Satir sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjil. Komikal. Menyihir. London di masa depan yang tidak terlalu jauh. Cerita berpusat pada tokoh muda bernama Alex DeLarge. Alex digambarkan sebagai anti sosial sampai ke batas ekstrim—yang Saya pikir itu benar, hanya sedikit hiperbol, tetapi tetap masuk akal. Ketertarikan Alex terdapat pada kekerasan, pemerkosaan dan Beethoven. Dan ia juga seorang anak mami. Seperti anak kecil kurang pergaulan (tetapi suka memukul burung), ia hanya berteman (dengan ego pemimpin) dengan tiga teman (disebut droog) anti sosial lainnya membentuk sebuah geng. Kesehariannya adalah meminum susu untuk semangat kekerasan ultra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh menit pertama, hanya menceritakan bagaimana perilaku Alex terhadap dunia. Kekejamannya, memukul gelandangan tua, memperkosa, seks threesome, dan tawuran antar geng. Kita memandang Alex sebagai sosok yang hebat, karena ia memang karismatik. Sisanya, adalah bagaimana pemuda bernama Alex itu dipenjara, kemudian masuk rehabilitasi yang akan mengubah kepribadiannya secara total. Di sini, kita malah dibuat simpati terhadap penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik sekali mengenai karakter Alex itu. Alex diperankan oleh Malcolm McDowell secara dingin dan mengerikan (lihat saja tatapannya pada adegan di awal film setelah overture). Waktu itu, Kubrick sempat mengancam tidak akan membuat film ini jika saja Malcolm menolak tampil. Kubrick benar, Malcolm menggambarkan sosok remaja yang sadis dan kekanak-kanakkan secara bersamaan. Penampilan Malcolm sebagai Alex adalah salah satu penampilan terbaik yang pernah ada (walaupun hanya dinominasikan dalam oscar dan golden globe), khususnya yang pernah dilakukan aktor di bawah 30 tahun (waktu itu, ia berumur 28 tahun). Ekspresi, olah vokalnya…semua seperti seorang anak setan. Saya membaca tentang penyakit anti sosial seperti yang diderita Alex. Di film, tidak disebutkan mengapa Alex menjadi anti sosial (bahkan yang awam tidak paham jika Alex seorang anti sosial). Tapi kita bisa tahu dari sikap-sikapnya itu. Dan karakteristik seorang anti sosial yang ekstrim, semua tercermin dalam sosok Alex dengan sangat jelas dan terang. Bukankah orang tuanya juga tidak menginginkan Alex?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubrick juga menggunakan Alex sebagai narrator dengan gaya orang ketiga. Kita tahu apa yang Alex pikirkan saat itu, kita melihat Alex di layar, dan Alex memandang dunia lewat matanya. Bahkan Kubrick juga memvisualisasikan apa yang Alex pikirkan. Saya menangkap semua itu. Kubrick mempermainkan sudut kamera yang menciptakan sudut pandang yang unik. Dan editing film ini sangatlah bagus (ikut dinominasikan di oscar dalam kategori editing terbaik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubrick sengaja menulis kata-kata slang dalam dialognya. Jangan khawatir. Kubrick bisa mejelaskan itu. Contoh: saat Alex menyebut kata “droogs” di awal film, kamera menjauh dan perlahan-lahan frame menangkap gambar teman-teman Alex dengan ekspresi yang tidak wajar di sebuah Bar Susu. Dan tentang sinematografi, settingnya tidak terlalu futuristik, malah terkesan sedikit post apocalypse. Banyak gambar-gambar penis, pintu rusak, desain rumah yang terlalu rapi. Ditambah desain mobil yang dikendarai Alex seperti sebuah mobil Star Wars. Kostum juga menarik, seragam putih Alex dan para droogsnya sangat inspiratif. Ditambah memakai pelindung penis di luar, alis lebar di mata kanannya, dan bola mata di pergelangan tangannya. Semuanya itu sangat menarik perhatian mata. Memperindah fotografi yang dilukis Kubrick. Itu membuat film ini film artistik yang jahat. Kubrick juga menyerang politik. Bukan satir lagi, ini adalah sebuah sarkasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, dan satu unsur yang sangat lekat, yaitu musik. Kubrick kembali memakai musik-musik instrument klasik seperti pada 2001. Alex adalah pecinta Ludwig Van Beethoven. Terutama simfoni nomor 9. Di film ini banyak ditampilkan gerakan kedua dan keempat dalam simfoni itu. Theme song gubahan Water Carlos sangat menghantui. Dan ada lagu Singin’ in the Rain yang dinyanyikan Alex (disertai meniru gerakan Gene Kelly dalam film itu), sambil memukuli pasangan orang tua. Ini salah satu adegan paling memorable dalam film. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Film ini bukan film untuk semua orang. Saya tidak yakin kalau Anda akan menyukainya. Karena kita sangat perlu berpikiran terbuka menerima film ini. Kalau tidak bisa menikmati saat pertama kali menonton, berikan lagi kesempatan suatu saat nanti. Ketika Anda menemukan titik cerah, Anda sadar kenapa film ini disebut cult, klasik, dan sebuah mahakarya sinema. Dan semoga saja A Clockwork Orange tidak merusak pandangan hidup Anda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="640" height="505"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/7EwT2JHDENE&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/7EwT2JHDENE&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="505"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-7565648135610618131?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/7565648135610618131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=7565648135610618131' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7565648135610618131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/7565648135610618131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/12/clockwork-orange.html' title='A Clockwork Orange'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-4174982237293373332</id><published>2008-12-27T05:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T05:41:52.907-08:00</updated><title type='text'>Rescue Dawn</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/rescue_dawn/rescuedawn_posterbig.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 272px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/rescue_dawn/rescuedawn_posterbig.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: A- &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 27 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;MGM&lt;br /&gt;Jenis: Drama, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Werner Herzog&lt;br /&gt;Pemain: Christian Bale, Steve Zahn, Jeremy Davies, Zack Grenier&lt;br /&gt;Penulis: Werner Herzog&lt;br /&gt;Sinematografi: Peter Zeitlinger&lt;br /&gt;Musik: Klaus Badelt&lt;br /&gt;Durasi: 126 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ikut bersaing dalam panasnya klub bertarung summer 2006 (tepatnya dirilis saat hari kemerdekaan amerika, 4 juli), Rescue Dawn tetap saja terlihat sebagai yang paling menarik (selain Brad Bird dengan menu super lezatnya Ratatouille) karena faktor nama Werner Herzog sebagai jaminan kualitas. Dan salah satu film terbaik summer tahun 2006. Di sini Herzog juga memiliki aktor Christian Bale yang baru saja memaukau penonton lewat Batman Begins dan The Machinist. Tapi penonton pasti tahu, jika mereka hendak menyaksikan sebuah film Herzog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkat dari dokumenter tentang Dieter sendiri yang berjudul “Little Dieter Needs to Fly” tahun 1997. Sudah sejak lama Herzog ingin membuat film ini. Satu dekade berikutnya, Herzog merilis film berdasarkan kehidupan Dieter di hutan—mirip film-film Herzog sebelumnya seperti Aguirre: The Wrath of God dan Fitzcarraldo yang juga berlokasikan di hutan-hutan seperti amazon. Dan sang Batman, Christian Bale, menggantikan posisi Klaus Kinski. Dan melihat ceritamya, Saya memang tahu hanya Herzog yang ingin dan diinginkan untuk memimpin proyek ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pilot navy amerika kelahiran jerman, Dieter Dengler (Christian Bale), menerima tugas untuk melakukan proyek gelap pengeboman di Laos. Dan sebuah kecelakaan menimpa pesawatnya sehingga ia terjebak sendirian di hutan dan menjadi tawanan Viet Cong bergabung dengan lima sandera lainnya. Mereka mulai disiksa secara lahir batin. Hanya diberi makanan sedikit, terkadang disakiti penjaga, dan setiap malam tidur seperti anjing piaraan yang sedang disalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dieter merencanakan upaya melarikan diri dari kamp Viet Cong. Dia ditemani, Duane (Steve Zahn) dalam tindakan nekad yang didasari perencanaan sangat matang, tapi pelaksanaan yang setengah matang ini. Namun, ternyata hutan lah yang merupakan penjara yang sebenarnya. Sisanya adalah tentang gejolak mental dan siksaan fisik selama hidup penuh ketakutan dan keputus asaan di rimba yang sangat tidak bersahabat bagi dua orang Amerika itu. sambil menunggu sebuah fajar penyelamatan—seakan-akan Tuhan sudah meninggalkan tempat itu lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalimat terakhir di paragraf di atas, sudahkah sadar bahwa itu adalah tipikal film-film Herzog? Ya, ciri khas Herzog kembali muncul di sini. Tokoh-tokohnya betul-betul ditekan oleh situasi sampai menghadapi fase terburuk dalam hidup mereka. Benar-benar kompleks. Ceritanya sederhana saja, tetapi digali dengan sangat dalam sekali. Herzog adalah salah seorang pembawa keajaiban dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari barisan cast, Christian Bale adalah salah satu aktor muda terbaik yang dimiliki perfilman saat ini. Tampil sebagai pria yang kurus dan tidak bisa tidur dalam The Machinist, lantas menjadi sosok Bruce Wayne yang dingin dalam Batman Begins (dimana ia tampil sangat berisi). Memang sekarang dia tidak perlu membuktikan apa-apa lagi. Seperti yang dikatakan Bale dalam sebuah wawacara, dia sendiri sudah termasuk kurus (dan kembali subur dalam The Dark Knight). Penampilannya dalam Rescue Dawn sangat matang sekali. Steve Zahn juga tampil sangat meyakinkan. Terutama setelah hanya menjadi badut dalam Sahara, Zahn mengejutkan Saya dengan permainan ekspresi menyedihkannya (Saya serius sangat mengatakan "terkejut"). Bale dan Zahn menunjukkan chemistry menarik sebagai salah satu yang paling berharga. Kuat sekali seperti magnet. Dan Trevor Reznik kembali muncul di film ini sebagai tokoh bernama Eugene (Jeremy Davies). Tuhan, Davies hanyalah rangka yang berjalan. Ingin sekali rasanya mengirimkan makanan hanya untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka naskahnya. Untuk beberapa orang, Rescue Dawn mungkin hanya sebuah film tentang penyelamatan dua pria malang. Tapi sebenarnya ada kualitas di dalamnya. Karena yang menarik adalah bagaimana tokoh-tokoh itu (terutama Dieter dan Duane) memandang bahaya yang sedang dihadapinya, bagaimana bereaksi terhadap hal itu, dan yang paling mengena adalah bagaimana bisa bertahan dengan horror itu. Ketakutan dan gajala paranoid tokoh membuat Saya merinding panas dingin. Tensi ketegangan tetap terjaga sepanjang film. Walaupun, Rescue Dawn masih punya sedikit humor pribadi yang juga berhasil memancing tawa penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat apa yang tidak ingin dilihat. Itulah kenyataan. Untuk beberapa penonton, kisah kelam Rescue Dawn berhasil menghapus masa-masa kejayaan Rambo. Penonton sendiri yang mengatakan kepada Saya. Satu poin lagi muncul pada score dari Klaus Badelt yang kelam dan menyentuh. Memberikan efek dramatisir. Mengisi apa yang kosong, mengosongkan apa yang berisi, kalau gatal, digaruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sederhana, tetapi menegangkan dan memuaskan. Menambah klasik lainnya dari Herzog bersama dengan Grizzly Man dan Mein Liebe Fiend. Saya suka eksekusinya. Kita tahu bagaimana hasil Amerika vs Vietnam. Tetapi Rescue Dawn bukanlah tentang negara. Dan Dieter hanyalah pemuda yang ingin menaiki pesawat menjalankan misi yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Dieter kecil hanya perlu terbang. Ia merasakan kemenangannya sendiri. Sebagaimana penonton juga merasakan sebuah kemenangan saat film mulai berakhir. Saya juga merasakan kemenangan untuknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 360px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/rescue_dawn/_group_photos/steve_zahn8.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Lihat saja betapa menyedihkannya Steve Zahn dan Christian Bale dalam Rescue Dawn&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-4174982237293373332?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/4174982237293373332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=4174982237293373332' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4174982237293373332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4174982237293373332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/12/rescue-dawn.html' title='Rescue Dawn'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-561217920348619135</id><published>2008-12-21T19:54:00.000-08:00</published><updated>2009-06-05T01:24:33.586-07:00</updated><title type='text'>Tropic Thunder</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 22 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Dreamworks&lt;br /&gt;Jenis: Komedi, Aksi, Perang&lt;br /&gt;Sutradara: Ben Stiller&lt;br /&gt;Pemain: Ben Stiller, Jack Black, Robert Downey Jr., Brandon T. Jackson&lt;br /&gt;Penulis: Justin Theroux, Etan Cohen, Ben Stiller&lt;br /&gt;Sinematografi:&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 106 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahap filming, film ini sudah menarik perhatian. Baiklah, kemunculan Tom Cruise awalnya dianggap sebagai sebuah kejutan. Namun Saya tidak merasa berdosa lagi telah membocorkan bahwa Tom Cruise mengambil peran dalam film ini—dan ia mendapat nominasi Golden Globe untuk peran kecilnya. Kontoversi lainnya datang pada Robert Downey Jr. yang memerankan tentara kulit hitam. Ia juga mendapat nominasi Golden Globe untuk perannya ini. Efek sengatan guntur itu pun memudar akibat keterlambatan impor film ini ke daerah tropis seperti Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide film Tropic Thunder muncul dari Ben Stiller ketika ia hanya menjadi figuran dalam Empire of the Sun milik Steven Spielberg. Sudah lama sekali, namun ide ini tidak menjadi usang kan? Ben Stiller perlahan-lahan menyesuaikan idenya ini dengan perkembangan Hollywood—secara film ini adalah tentang Hollywood. Wajar jika ada prediksi, penonton di luar wilayah Amerika yang buta terhadap gosip Hollywood tidak akan menikmati humor-humor di sini—termasuk mereka yang seorang fans Ben Stiller maupun Jack Black. Sebagai tolak ukur, jika Anda tertawa membaca sinopsis film ini, selamat. Anda bisa selamat saat mengikuti peperangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan tiga trailer palsu dari masing-masing tokoh utama dalam film ini. Seorang bintang aksi terpanas yang karirnya sedang menurun, Tugg Speedman (Ben Stiller), komedian spesialis kentut yang terkenal dengan film The Fatties, Jeff Portnoy (Jack Black), dan aktor pemenang lima oscar yang baru saja menuai kontroversi dengan operasi pigmen menjadi hitam, Kirk Lazarus (Robert Downey Jr.), bergabung bersama rapper multi platinum yang menjadi bintang iklan produk minuman Booty Sweat yang sekarang menjadi aktor, Alpa Chino (Brandon T. Jackson) dan seorang pendatang baru Kevin Sandusky (Jay Baruchel) bergabung dalam film perang arahan sutradara Damien Cockburn (Steve Coogan) yang diangkat dari novel berdasarkan kisah nyata karya Four Leaf (Nick Nolte). Awalnya, lima aktor ini mengira bahwa mereka sedang membuat film perang mega budget, Tropic Thunder. Sampai akhirnya mereka sadar kalau mereka terlibat dalam sebuah perang yang nyata di Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor di film ini, kebanyakan mengenai bisnis di Hollywood: sekuel, gay, ras, Platoon, Indiana Jones and the Temple of Doom, Eddie Murphy, tipuan saat pembuatan film Hollywood, aktor Australia yang memukul paparazzi, operasi plastik, oscar, rapper yang menjadi aktor, pecandu heroin, dan lain-lain. Karena temanya juga, akan ada banyak sekali cameo dari selebritis terkenal Hollywood. Namun, tetaplah Tom Cruise yang menarik perhatian karena telah menunjukkan akting terbaiknya sejak Born of the fourth of July dulu. Ya, sikap menyebalkan Cruise di sini lah yang kita butuhkan daripada tingkahnya melompati kursi Oprah. Dan Tropic Thunder bukanlah parodi lagi. Ini adalah sebuah sarkasme. Terutama jika masalah sudah muncul mengenai sistem yang berlaku di Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ben Stiller dengan wajah yang dipasang serius banyak memancing tawa penonton, terlebih saat ia memerankan manusia keterbelakangan mental seperti dalam film Speedman sebelum Tropic Thunder, Simple Jack—mereka membuat seolah-olah film itu nyata. Jack Black tidak lucu dalam film ini. Tapi bukankah Jeff Portnoy mengklaim bahwa dirinya adalah komedian tidak lucu? Robert Downey Jr. kembali berakting sangat prima. Brandon T. Jackson sempat berkata, “Downey Jr. memerankan negro yang lebih baik daripada negro asli,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara sedikit tentang filmografi mini Downey Jr. belakangan ini, ia tampil sangat prima dalam Zodiac, Kiss Kiss Bang Bang dan A Scanner Darkly, dan tahun ini dilanjutkan dengan Iron Man yang Saya cap sebagai aktor terbaik yang memerankan tokoh superhero. Jadi tentu Downey Jr. sudah bangkit lagi menuju level milik Tom Cruise ataupun George Clooney. Bintangnya sangat bersinar sekarang. Jangan pernah masuk penjara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tropic Thunder memiliki beberapa bagian yang lucu. Salah satunya adalah mengenai pertentangan antara aktor aksi dengan aktor kelas oscar tepatnya ketika Lazarus mencoba menggurui Speedman soal berakting untuk academy awards. Semakin kebelakang, Tropic Thunder perlahan-lahan berubah menjadi film aksi perang lengkap dengan klise-klisenya yang sedikit melelahkan akibat durasinya yang agak panjang untuk film seperti ini. Dengan kata lain, Saya bisa mengatakan, ide dan humor-humor dalam film ini cerdas, namun tidak pada pengembangan ceritanya. Untuk pekerja film di Amerika, Stiller mwnyutradarai sebuah film yang membuat mereka menertawakan diri sendiri. Kita tahu kemana saja larinya biaya besar yang dihabiskan untuk film ini. Anda mendapatkan komedi di sini, Anda mendapatkan aksi di sini. Tapi Anda tidak bisa mendapatkan kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan. Tetap saja, ini adalah film terbaik yang pernah dibuat Ben Stiller melebihi Zoolander.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Oh, dan ini adalah film keras yang mendapat rating R. Ya, akan ada darah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-561217920348619135?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/561217920348619135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=561217920348619135' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/561217920348619135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/561217920348619135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/12/tropic-thunder.html' title='Tropic Thunder'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-8890317093232396877</id><published>2008-12-21T00:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-30T05:36:44.836-08:00</updated><title type='text'>The Mist</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dimension_films/stephen_king_s_the_mist/stephenkingsthemist_galleryposter.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 272px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dimension_films/stephen_king_s_the_mist/stephenkingsthemist_galleryposter.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: B- &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 21 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;Dimension Films&lt;br /&gt;Jenis: Horror, Thriller, Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Frank Darabont&lt;br /&gt;Pemain: Thomas Jane, Marcia Gay Harden, Toby Jones, Andre Braugher&lt;br /&gt;Penulis: Frank Darabont dari cerita karya Stephen King&lt;br /&gt;Sinematografi: Ronn Schmidt&lt;br /&gt;Musik: Mark Isham&lt;br /&gt;Durasi: 125 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekilas, tema yang diusung The Mist tidak terlalu menonjol jika disandangkan dengan The Fog, Jeepers Creepers, dan lain-lain. Tapi tunggu sampai Anda melihat duet di balik layar The Mist. Adalah Frank Darabont dan raja cerita horror Stephen King yang sudah menjadi teman akrab sejak lama. Ini adalah ketiga kalinya Darabont memfilmkan cerita milik King setelah &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/shawshank-redemption.html"&gt;The Shawshank Redemption&lt;/a&gt; dan The Green Mile. Film ini bukan lagi tentang penjara, walaupun masih memiliki elemen berupa kabut yang merupakan penjara bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa itu kabut? Dari awal, sebagai pertanda datangnya bencana kiamat ini, munculnya kabut diawali dengan badai keras berkekuatan Tuhan. Memang ada apa dengan kabut itu? Semua tentara kompak nampak seperti berangkat perang, rasa paranoid orang-orang ketika hendak masuk ke dalam kabut, kabut yang bisa menghantam bangunan dan mobil, serta korban berdarah/meninggal ketika mencoba memasuki kabut. Apa yang ada di dalam kabut itu? Monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Drayton (Thomas Jane) adalah salah satu korban yang terjebak di penjara kabut ini setelah poster-poster film hasil lukisannya baru saja dirusak badai itu. Bersama anaknya, Billy (Nathan Gamble), dan tetangganya, Brent Norton (Andre Braugher), seorang pengacara yang diramalkan sukses tetapi menjengkelkan, mereka bertiga berangkat ke supermarket di kota untuk membeli bahan makanan. Namun mereka terjebak oleh adanya kabut yang mengelilingi super market. Ketakutan yang luar biasa menghantui mereka di supermarket. Lebih-lebih setelah mereka diserang monster tentakel. Situasi semakin tidak terkendali ketika seorang fanatik agama bernama Nyonya Carmody (Marcia Gay Harden), mulai membeberkan isi alkitabnya dan mencoba memberitahukan bahwa dunia akan kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling menarik di sini adalah bertentangannya logika dan agama dalam satu arena berupa sebuah supermarket. Di sana terdapat manusia-manusia yang hatinya penuh ketakutan dan kebimbangan. Beberapa dari mereka masih bisa berpikir menggunakan logika, mengikuti David untuk berusaha bertahan hidup. Sisanya menjadi jemaah Nyonya Carmody yang bisa memberikan solusi dengan kata-katanya yang persuasif sampai membicarakan tentang “pengorbanan darah” dan pasrah mengenai kehidupan. Interaksi berupa sekelompok manusia yang paranoid—lengkap dengan sifat dan watak masing-masing, berusaha untuk menanggapi permasalahan yang sedang dilalui adalah satu keunggulan yang dicapai Darabont. Ia mampu menghadirkan kondisi yang kompleks seperti ini sampai memancing emosi penonton—satu keunggulan yang tidak dimiliki film sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sebagai film horror, Darabont juga sukses menciptakan atmosfir mengerikan bagi penonton. Gaya kameranya mewakili sudut pandang kita seolah-olah penonton adalah manusia paranoid itu. Saya menemukan adegan yang sangat memicu detak jantung (beberapa diantaranya memang klise film horror). Jadi, jika untuk sebuah alasan untuk ditakut-takuti Anda ke bioskop, Anda sudah tepat memilih The Mist. Ini akan memuaskan. Sebuah real horrorshow. Walaupun sebenarnya tema mistis cukup kagok. Tetap saja, Anda tidak bisa mengharapkan seperti yang pernah Darabont capai dalam The Shawshank Redemption. Ini bahkan lebih mistis dari The Green Mile. Apa yang dijelaskan seorang tentara tentang bagaimana kabut ini bisa datang, bukan merupakan candaan walaupun penjelasannya sendiri cukup lucu. Bolehlah Anda menyebut ini sebuah fantasi, Saya tetap tidak puas dengan sebab-sebab yang dijelaskan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berkaitan dengan agama, sisi psikologis tentang keputus asaan sangat menarik untuk diikuti. Pahlawan-pahlawan kita di sini bisa saja merasa terguncang setelah apa yang mereka lalui bersama. Dan semua yang mengelu-elukan Mrs. Carmody, menjadi bumerang bagi mereka yang mempunyai otak—termasuk pria kaca mata yang ternyata juara menembak, Ollie (Toby Jones) dan wanita muda yang diperankan Lauria Holden. Ketika ketakutan sudah merasuki pikiran, pandangan sesat pun bisa merubah diri seseorang. Ini satu merupakan satu film yang harus ditonton para umat garis keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk efek khususnya, saat pertama kali badai datang menyelimuti kota yang diambil dengan long shot, itu bisa membuat penonton takjub. Namun ketika monster mulai terlihat, efek visualnya bisa ditertawakan. Film ini termasuk pamer efek visual, bukan robot. Tetap saja yang paling menarik perhatian mata (dan emosi) kita adalah akting Marcia Gay Harden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Sebenarnya Saya ingin membuat tulisan ini menjadi sebuah ulasan. Jadi untuk ke depannya, Saya mengulas kegagalan film ini termasuk yang terdapat pada ending yang dianggap mengejutkan itu&lt;/span&gt;. Endingnya membuat orang tidak bisa tidur sepanjang malam. Tetapi apakah Saya juga tidak bisa tidur? Tidak. Karena Saya tidak puas dengan ending yang diubah dari versi novel King yang menggantung. (bukan karena Saya fans King, Saya belum membaca novelnya, tetapi ending yang dipakai di film bukannya menjadi "shocking", tetapi menjengkelkan. Ada yang ingin mencoba memperbaiki ini?)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita mendapatkan sebuah pesan moral yang sangat berharga pada akhir film. Yaitu kesabaran. Namun, justru kesabaran Saya menjadi hilang ketika tahu kalau logika dalam film ini tidak jalan. Hal ini tidak ada kaitannya dengan tema mistis. Hanya saja, bagaimana bisa seseorang tidak mendengar pemusnahan moster testikel...tentakel (apalah namanya) itu? Dan bagaimana tidak terjadi gempa jika suatu raksasa roboh (sementara ketika sedang berjalan biasa saja. sudah menimbulkan efek gempa)? Itu bagian yang mengejutkan karena sama sekali tidak dijelaskan sehingga ada kesan memaksa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 360px; CURSOR: hand; HEIGHT: 245px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dimension_films/stephen_king_s_the_mist/_group_photos/thomas_jane1.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Sekelompok manusia yang melihat monster dalam The Mist&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-8890317093232396877?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/8890317093232396877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=8890317093232396877' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8890317093232396877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/8890317093232396877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/12/mist.html' title='The Mist'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-6076360694730708056</id><published>2008-12-20T08:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T05:38:07.667-08:00</updated><title type='text'>3 Doa 3 Cinta</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B-&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 20 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;IFI&lt;br /&gt;Jenis: Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Nurman Hakim&lt;br /&gt;Pemain: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Yoga Bagus Satatagama&lt;br /&gt;Penulis: Nurman Hakim&lt;br /&gt;Sinematografi: Agni Ariatama&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 120 menit&lt;br /&gt;Untuk: Dewasa&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kembali menulis resensi film setelah disibukkan kegiatan-kegiatan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ayat-ayat Cinta pada februari tahun ini, seakan-akan film muslim lagi meroket menyaingi komedi seks dan horror. Hanung Bramantyo juga sudah kecanduan membuat film religi. Muncul satu lagi film religi (dan akan terus bermunculan) berjudul 3 Doa 3 Cinta. Yang menarik di sini adalah reuni Nico-Dian, logat jawa, dan embel-embel festival luar negeri yang ditempel di posternya. Belum menang, hanya baru lolos menjadi seleksi resmi. Tidak heran Saya menemukan kalau film idealis macam 3 Doa 3 Cinta menjadi film super sepi di bioskop dengan posisi dianak tirikan oleh film-film pop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Doa 3 Cinta mengisahkan tentang 3 sahabat. Tetapi ada apa dengan cinta? Film ini justru lebih memfokus pada kehidupan di pesantren. Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama) dan Syahid (Yoga Bagus Satatagama). Mereka memiliki kebiasaan menulis doa dan harapan mereka di sebuah tembok—dimana Rian juga memiliki kebiasaan mengintip anak perempuan dari Kyai Wahab (Brohisman). Rian memiliki masalah dengan ketertarikannya dengan dunia sinematografi, terlebih-lebih ketika ia dibelikan handycam dan sering menonton layar tancap di pasar malam. Huda adalah seorang anak yang ingin mencari ibunya yang telah meninggalkannya di pesantren sejak berumur 11 tahun. Perkenalannya dengan penyanyi dangdut amatir, Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo), diharapkan bisa mempertemukan dirinya dengan ibunya. Dan Syahid adalah jemaah garis keras yang sangat ingin mati syahid untuk membunuh orang amerika, maksud Saya: bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai membicarakan casting yang sangat aneh. Pasangan Nicholas Saputra dan Dian Sastro di layar adalah salah satu yang terfavorit sejak Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tahun 2002—salah satu film anak bangsa yang dianggap awal dari kebangkitan kembali film nasional.. Dalam AADC, Nicholas Saputra memerankan tokoh anak SMA. Setelah hampir tujuh tahun berlalu, di sini Nico kembali memerankan anak SMA. Dian Sastro memang menunjukkan goyang satelitnya di film ini, tetapi perlu dicatat: peran Dian di sini hanya sebagai kabel telpon saja. Tidak lebih. Sudah sangat berlebihan jika yang diekspos adalah nama Dian Sastro melebihi Yoga Pratama dan Yoga Bagus Satatagama—yang pasti diyakini menjadi satu-satunya cara meraih penonton yang lebih banyak. Dian Sastro menjadi penyanyi dangdut? Itu sudah melebihi Titi Kamal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Saya menemukan banyak sekali makna yang hendak disampaikan Nurman Hakim lewat film ini. 3 Doa 3 Cinta sebenarnya memiliki potensi yang besar sekali untuk bisa menjadi yang terbaik tahun ini mengalahkan Laskar Pelangi sekalipun. Bahkan jujur saja, Saya sempat merasa terkejut secara berkala ketika satu per satu konflik bermunculan dan dihadirkan dengan sangat menarik. Kita banyak diberikan secuil petunjuk tentang masalah keagamaan dan masalah batin yang disindir Nurman. Sayang semua itu hanya digunakan sebagai pemicu konflik yang kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa ada perkembangan lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral? Tentu saja di film seperti ini, semuanya adalah tentang pesan moral. Di sisi lain, 3 Doa 3 Cinta adalah film serba tanggung. Tanggung menyinggung poligami, tanggung menyinggung aliran sesat, tanggung menyinggung keimanan, dan lain-lain. Dan anehnya, sebagai film, semua pesan moral itu disampaikan secara tersurat, bukan melalui bahasa tubuh, hubungan sebab-akibat dan sebagainya. Itu membuat 3 Doa 3 Cinta menjadi semacam kotbah di bioskop. Tapi berkotbah kok setengah-setengah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian memang sangat cantik dan seksi sebagai penyanyi dangdut (Saya tidak bisa mencari kalimat pembelaan lagi ketika orang-orang menuduh Dian hanya sebagai pemanis dalam film ini. Karena memang begitulah adanya). Namun bintang yang sebenarnya adalah Yoga Bagus Satatagama, yang tampil menarik dan tokohnya sebenarnya sudah sangat sangat sangat menarik untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Coba saja, Syahid adalah seorang fanatik agama yang ikut-ikutan berubah menjadi maniak yang membenci bule, Huda adalah pria yang terlihat seorang campuran jawa-amerika. Sempat memikirkan hal yang menarik tetapi sayangnya tidak disinggung di filmnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat suka tiga perempat pertama film ini sampai akhirnya alur film ini mulai sesat dan kehilangan arah ketika ketiga pemain utamanya mulai memakai kumis palsu. Film ini mulai bingung mencari penyelesaian yang membuat penonton juga bingung ingin dibawa kemana. Seolah-olah cerita menjadi serba baru dan segera ingin mengakhirinya. Penonton tambah dibuat bingung dengan visualisasi berupa kronolois rekaman handycam milik Rian. Disana bisa saja diterjemahkan sebagai jembatan antar bagian-bagian yang kosong pada plot. Seperti Memento. Ditambah adanya petunjuk pada sambungan pada endingnya yang muncul dan hilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja tulisan Saya tidak diterjemahkan mentah-mentah oleh petinggi agama. Nurma sempat mengatakan satu keistimewaan 3 Doa 3 Cinta adalah tokoh baiknya tidak benar-benar orang baik. Dan perkataan itu seharusnya bisa lebih didukung lagi dengan pola sebab-akibat untuk menyampaikan pesannya. Dengan semakin mempertajam kritik agamanya. Tanpa ada selipan sequence muslim homo yang terasa berlebihan itu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya masih tidak bisa melupakan kepuasan yang Saya dapatkan pada pertengahan film ini. 3 Doa 3 Cinta sudah pencapaian yang cukup bagi perfilman Indonesia. Kebalikan dari AADC yang overrated, perlu diketahui, film tidak laku seperti 3 Doa 3 Cinta belum tentu buruk di mata penonton. Namun masih ternyata 3 Doa saja belum cukup mampu membuat Saya cinta terhadap film ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-6076360694730708056?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/6076360694730708056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=6076360694730708056' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6076360694730708056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/6076360694730708056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/12/3-doa-3-cinta.html' title='3 Doa 3 Cinta'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-3986059797871497053</id><published>2008-11-14T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T18:47:50.635-08:00</updated><title type='text'>Casino Royale</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/casino_royale/daniel_craig/royale_earlyposter.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 269px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/casino_royale/daniel_craig/royale_earlyposter.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 14 November 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;Columbia Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Martin Campbell&lt;br /&gt;Pemain: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Judi Dench&lt;br /&gt;Penulis: Neal Purvis, Robert Wade, dan Paul Hagis berdasarkan novel karya Ian Fleming&lt;br /&gt;Sinematografer:&lt;br /&gt;Musik: David Arnold&lt;br /&gt;Durasi: 144 menit&lt;br /&gt;MPAA ating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya pun pernah merasa putus asa ketika menyaksikan Die Another Day. Apakah Bond harus selalu identik dengan film full aksi? Bond memang masih memiliki formula yaitu mobil mewah, gadis cantik dan peralatan canggih. Tapi apa yang baru saja kita lalui di jaman Pierce Brosnan sungguh merupakan mimpi buruk yang akan membunuh franchise Bond itu dengan sendirinya. Jawaban untuk pertanyaan di atas yang sekaligus menjadi saran agar James Bond tidak sampai bunuh diri adalah: James Bond bukanlah karakter untuk seri film bisu yang full aksi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film Bond kedua puluh satu dalam seri legendaris, Casino Royale kembali memberikan Saya harapan terhadap sejauh mana kisah Bond bisa dieksplorasi. Saya tahu, durasinya agak tidak pop, dan tema poker seperti ini akan dianggap membosankan bagi fans bond yang tidak bisa bermain poker. Justru di sini, dengan durasi yang agak panjang, bisa diceritakan siapa itu Bond, mengapa manusia tidak pernah melupakan Bond, dan mengapa inggris sangat memerlukan Bond. Aku cinta itu. Nampaknya pemenang oscar Paul Haggis juga berpengaruh besar terhadap naskah film ini. Dan sutradara Zorro, Martin Campbell, juga merupakan orang yang pertama kali mengarahkan Brosnan dalam film Bond pertama mereka, GoldenEye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sebuah reboot yang diangkat dari novel pertama karya Ian Fleming. Di sini, sangat terlihat bagaimana tokoh Bond yang selama ini tampil apa adanya, ternyata awalnya dibuat begitu kuat dan kokohnya. Sebuah karakter yang sangat menarik. Lantas reboot ini membuat jeda empat tahun bioskop tanpa film Bond. Dan sekaligus menuai kontroversi ketika pemilihan Daniel Craig menjadi Bond terbaru yang menggantikan si karismatik Pierce Brosnan—ya, reboot memang memerlukan sebuah pengganti dalam peran Bond. Daniel Craig dianggap tidak pantas karena ia termasuk yang terpendek diantara pemain-pemain Bond lainnya, dan ia pirang serta memiliki fisik dan wajah yang lebih mirip sebagai tukang pukul. Setidaknya begitulah mengapa ia mendapat kecaman dari banyak fans Bond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki plot, Saya hanya bisa mengatakan bahwa Daniel Craig bisa dikatakan pemeran Bond terbaik. Sean Connery juga bisa disebut yang terbaik. Dan Daniel Craig memerankan Bond yang berbeda. Tetap macho dan jantan, tetapi masih tidak peduli, masih baru mengenal cinta, masih suka main pukul, masih tidak tahu minumannya harus dikocok ataupun diaduk, dan bahkan ia nyaris mati dalam misinya. Nampaknya, aura Jason Bourne justru menggema pada tokoh Bond kali ini. Gaya bertarungnya sangat keras dan brutal. Dan…sekarang Bond sudah bisa kotor, berkeringat, berdarah, dan sisirannya pun acak-acakan seperti anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan sequence hitam putih—sebagai ganti dari rangkaian aksi mindless yang menggelegar seperti pada film-film Bond sebelumnya—yang menceritakan pembunuhan sadis sebelum James Bond (Daniel Craig) mendapat lisensi membunuh dan status 007 nya di dapat. Sebagai bentuk peubahan, adegan Gun Barrell tdidak ditempatkan setelah logo MGM, melainkan sebagai pembuka theme song You Know My Name yang dibawakan Chris Cornell. Sebuah perubahan yang mengejutkan, sekaligus luar biasa dan tepat pada saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bond menjalani misinya untuk mengalahkan banker/akuntan teroris dunia Le Chiffre (Mads Mikkelsen) dalam sebuah permainan poker bertaruhan tinggi di Casino Royale, Montenegro, setelah Le Chiffre mengalami kerugian berupa hutang sebesar lebih dari $100 juta karena kecerobohannya menentang arus penjualan saham. Sebagai pria yang paling hebat bermain poker di organisasi M16, M (Judi Dench) mengutus Bond ke Casino Royale dan sekarang Bond ditemani seorang akuntan cantik dari departemen keuangan, Vesper Lynd (Eva Green), untuk membiayai keberuntungan dan egonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik adalah, pemainan poker baru berlangsung setelah durasi berjalan lebih dari satu jam. Dan berakhir sekitar satu jam berikutnya. Kita masih bisa menemukan intrik-intrik lain seperti agen ganda Mathis (Giancarlo Giannini), pria misterius Mr. White (Jesper Christensen), dan yang paling menarik adalah hati beku Bond yang mulai luluh oleh Vesper. Di sinilah dijelaskan bagaimana Bond jatuh cinta dan mengapa ia menjadi playboy untuk seri-seri berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga dari adegan paling menarik dalam Casino Royale antara lain: saat misi meledakkan pesawat, adegan penyiksaan, dan setiap Bond bangkit dari air laut dan berjalan di pantai membawa tubuhnya yang kekar berotot. Bagian pesawat itu adalah bagian yang paling banyak secara tidak disadari, tidak dimengerti oleh penonton mengapa Le Chiffre justru mendapat keuntungan dengan meledakkan pesawat sendiri (terlalu berkaitan dengan ilmu ekonomi, kata sebagian penonton). Lantas adegan penyiksaan itu memperlihatkan betapa setianya Casino Royale pada novelnya. Dan ketika Bond berciuman di pantai dengan Vesper, langsung mengingatkan Saya pada salah saatu adegan dalam film From Here to Eternity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah dipublikasikan, tidak akan ada Q (berarti tidak ada gadget super canggih) dan Moneypenny. Berarti Bond lebih mengandalkan bogem dan pistol saja—mobil Aston Martin DBS V12 bahkan Aston Martin DB5 tahun 1964 itupun kembali dimunculkan sebagai faktor nostalgia. Betapa perubahan yang drastis dan terlalu Jason Bourne. Dan agen CIA Felix Leither disulap menjadi hitam karena diperankan oleh Jeffrey Wrights. Saya tidak terlalu bermasalah dengan itu, justru Saya sangat menyukainya untuk saat ini. Karena perubahan itu memang sangat diperlukan, asal tidak menjadi permanent (Saya takuti setelah &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/11/quantum-of-solace.html"&gt;Quantum of Solace&lt;/a&gt;, akan masih berlanjut justru malah menjadi menjadi formula baru Bond).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali melihat perbandingan, Saya merasa Casino Royale kembali menampilkan apa yang membuat sebuah film Bond menjadi klasik dan diingat sepanjang masa. Loncat kesana kemari, pemandangan yang eksotis seperti pada film-film Bond tradisional, serta musuh dengan tampilan aneh. Le Chiffre adalah nama yang tak kalah menyeramkan dari Goldfinger, Thunderball atau yang lainnya. Serta nangis darah adalah ciri khas yang juga tak kalah sinting dibanding tangan besi ataupun manusia berputing tiga. Selain itu, Vesper juga mencetak sebagai salah satu gadis Bond terbaik (diperankan Eva Green yang baru saja memamerkan kemaluannya dalam &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/06/dreamers.html"&gt;The Dreamers&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Arnold tetap jarang menggunakan theme song James Bond dari Dr. No karya Monty Norman. Tapi Saya mencintai secara keseluruhan score film ini. Mulai dari track untuk Solange (Caterina Murino—nama Solange tidak pernah disebutkan dalam film) sampai Vesper. Saya juga agak terkejut ketika mantan vokalis Audioslave dan Soundgarden, Chris Cornell ditunjuk untuk mengisi theme song film ini. Awalnya Saya takut akan menjadi sebuah grunge yang depressing, tetapi unsur rock yang dipadu tema dari Arnold membuat You Know My Name terasa sangat pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah yang sakti sangat menolong Casino Royale sebagai penyelamat krisis kualitas pada franchise Bond. Karakterisasi Bond dalam film ini begitu digali secara dalam sehingga Daniel Craig secara sempurna juga bisa menampilkan sebuah karakter Bond yang baru dan paling kompleks. Saya cinta itu. Investigasi yang sangat menarik juga memperkuat jalinan cerita yang ada. Ini seharusnya bagaimana sebuah film Bond dibuat. Apa berarti Casino Royale bukan merupakan film pop? Ah, iklan mobil, jam dan handphone juga ada banyak di sini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mungkin Saya sudah menonton film ini lebih dari tujuh kali. Saya masih merasa bahwa baru ada jiwa dalam karakter Bond sekarang. Itulah yang membuat Casino Royale sebuah film klasik sekaligus film James Bond terbaik sejak On Her Majesty’s Secret Service. Saya merasa dikocok, mungkin sekaligus diaduk selama film ini diputar. Anda tahu apa yang Anda lewatkan, ini sebuah pencapaian luar biasa. Saya peduli akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 360px; CURSOR: hand; HEIGHT: 252px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/mgm/casino_royale/daniel_craig/royale4.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;James Bond baru (Daniel Craig) dalam reboot, Casino Royale&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-3986059797871497053?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/3986059797871497053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=3986059797871497053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3986059797871497053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/3986059797871497053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/11/casino-royale.html' title='Casino Royale'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-524545173146129917</id><published>2008-11-08T18:25:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T18:45:23.585-08:00</updated><title type='text'>Quantum of Solace</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/columbia_pictures/quantum_of_solace/quantumofsolace_galleryposter.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 269px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/columbia_pictures/quantum_of_solace/quantumofsolace_galleryposter.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Nilai: C+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 8 November 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;MGM&lt;br /&gt;Jenis: Aksi&lt;br /&gt;Sutradara: Marc Forster&lt;br /&gt;Pemain: Daniel Craig, Olga Kurylenko, Mathieu Amalric, Gemma Arterton&lt;br /&gt;Penulis: Paul Haggis&lt;br /&gt;Sinematografer: Roberto Schaefer&lt;br /&gt;Musik: David Arnold&lt;br /&gt;Durasi: 105 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13 &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kembali menulis resensi film setelah lama disibukkan kegiatan-kegiatan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Bond ke dua puluh dua. &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/11/casino-royale.html"&gt;Casino Royale&lt;/a&gt; kembali mengangkat keagungan seri film agen rahasia paling terkenal dunia, James Bond, ke dalam jajaran film layak tunggu—setelah dipermalukan habis-habisan dalam Die Another Day. Naskah Casino Royale tulisan Paul Haggis begitu istimewa karena eksperimental terhadap perubahan-perubahan yang harus dibuat, dan karakterisasi yang luar biasa pada tokoh James Bond. Sekarang Quantum of Solace menjawab apa kritik penonton umum yang ditujukan untuk Casino Royale, membuat suatu pertaruhan pada ekspetasi penonton terhadap film Bond, dan beban yang berat setelah baru saja dunia menyaksikan kesaktian Casino Royale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Marc Forster mau tidak mau pasti menimbulkan ekspetasi yang agak tinggi bagi pengamat film sejati. Ditambah naskah yang lagi-lagi buatan pemenang oscar Paul Haggis, premis Quantum of Solace sangat meyakinkan—walaupun sekarang ditinggal desainer produksi langganan film Bond, Peter Lamont. Dan penampilan Daniel Craig sebagai Bond baru yang kasar sangat dinanti penggemar. Masalahnya, Marc Forster bukanlah fans film Bond. Bagaimana pandangannya terhadap film Bond menurut matanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quantum of Solace adalah sebuah sekuel sejati yang melanjutkan situasi pada ending Casino Royale, antara James Bond (Daniel Craig) dan Mr. White (Jesper Christensen). Ceritanya diadaptasi dari cerita-cerita pendek James Bond (yang salah satunya juga berjudul Quantum of Solace) dari anthology For Your Eyes Only. Film langsung dibuka dengan adegan kejar-kejaran mobil yang mampu menahan nafas. Mengingat Marc Forster adalah sutradara film drama, tentu dia berhasil menyaingi aksi yang diciptakan sutradara Zorro dua tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam misi terbarunya (sambil membalaskan dendam pribadinya tentang gadis yang dicintainya, Vesper Lynd), Bond bersama M (Judi Dench) mesti melanggar jalan halus ketika sebuah misteri kebusukan proyek organisasi minyak yang diinginkan Dominic Greene (Mathieu Amalric) mulai tercium. Sambil memiliki satu malam untuk meniduri Strawberry Field (Gemma Arterton), Bond bertemu Camille Montes (Olga Kurylenko), yang juga sama-sama menggunakan Greene untuk mencapai apa yang diinginkan—balas dendam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide bagus ini juga mendapat restu dari cerita &lt;a href="http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/07/chinatown.html"&gt;Chinatown&lt;/a&gt;. Tak lupa Paul Haggis memberikan gejolak psikologis pada emosi Bond yang sedang labil kali ini. Sebenarnya ini ide yang tak kalah bagus. Gejolak psikologi Bond yang mulai diperkenalkan dalam Casino Royale sudah menghapus mimpi buruk citra Bond yang selama ini menjadi film agen rahasia yang full aksi. Jadi Saya merasa dengan perubahan ini, Saya (beserta fans Bond lainnya) kembali merasa bahwa seri Bond perlu dilanjutkan. Juga budaya macam Die Another Day ataupun Quantum of Solace adalah yang perlu dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut disayangkan, Forster sempat mengatakan bahwa Casino Royale memiliki durasi yang terlalu panjang. Semula kita memikirkan bahwa Forster akan membuat film yang padat dengan durasi yang cukup ganjil untuk ukuran film “berbobot” sekarang. Nyatanya Forster tidak bisa membagi waktu antara aksi dan penokohannya. Cukup aneh mengingat Forster adalah jagonya film-film drama. Tapi ia kehilangan arah mengarahkan proyek yang biayanya diestimasi sebesar $230 juta ini. Aksi sepuluh kali lipat dari Casino Royale, mungkin sepuluh kali lebih seru. Tetapi durasi banyak dipangkas (menjadikan Quantum of Solace flm Bond dengan durasi terpendek). Sekarang apa namanya itu? Bond tipikal film terlalu pop corn?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan keberatan jika durasi filmnya ditambah hingga 30 menit asalkan itu ditambah untuk kedalaman konflik, kasus, dan tokoh (bukan aksi lagi). Perlu Saya akui, sekarang Saya jauh lebih mendapat kepuasan jika menonton film yang ditulis dengan baik (contoh: Casino Royale). Aksi dan ledakan yang terlalu banyak sudah tidak terlalu menghibur lagi. Dari awal film, sebenarnya Saya sudah khawatir jika Forster akan termakan oleh aksi yang mindless. Tidak biasanya ia seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini juga disebabkan oleh faktor naskahnya. Ide Quantum of Solace memang sudah bagus. Tetapi untuk ukuran sebuah film panjang, tidak cukup banyak ide menarik yang disisipkan. Saya masih merasakan formula sebuah cerita pendek pada film ini (salah satunya adalah pada endingnya yang membuat satu gedung bioskop merasa tidak siap meninggalkan kursi). Sebagai contoh, ide balas dendam ini selalu bisa dijadikan sesuatu yang menarik jika dieksploitasi dengan lebih intim lagi. Memang karakter Bond beserta konflik batinnya sudah diperkenalkan dalam Casino Royale. Dan mereka seharusnya tinggal mengembangkan saja dalam Quantum of Solace. Nyatanya hasilnya menjadi tidak kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Craig tampil sangar dan panas sebagai James Bond abad 21. Wajah keras, dingin dan machonya sudah menyihir semua penggemar Bond. Dan sekarang, ia bisa saja tampil sempurna—masih belum peduli apakah minumannya dikocok atau diaduk. Tetapi ia tidak dapat kesempatan itu dalam film ini. Kita juga kembali bertemu agen ganda Matthis (Giancarlo Giannini) dan agen CIA Felix Leiter versi hitam (Jeffrey Wright). Dan satu nama yang mengejutkan di jajaran cast, yaitu bintang Divingbell and the Butterfly, Mathieu Amalric. Tokoh Greene yang diperankannya adalah salah satu tokoh Bond yang tidak bagus dalam berkelahi, tetapi memiliki sifat yang menarik. Tentu tidak ikut-ikutan sinting seperti musuh-musuh dalam Bond kuno. Tokoh Greene adalah sosok yang naïf dan ambisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih memiliki perubahan yang belum dikembalikan sejak Casino Royale, Quantum of Solace malah lebih mirip sekuel Jason Bourne daripada James Bond. Bisa dilihat dari jenis aksinya. Moneypenny belum terlihat. Tokoh Q juga tidak terlihat—walaupun diperkenalkan teknologi super canggih dalam film ini. Bahkan Saya tidak mendengar James Bond memperkenalkan diri dengan gaya khasnya. Dan semoga saja setelah Bond menuntaskan misi balas dendamnya, film Bond kembali ke formula yang klasik (setidaknya di sini kita sudah bisa melihat Daniel Craig melakukan Gun Barrell Sequence yang lengkap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu peduli dengan musik pada setiap film Bond. Baris “Vesper” kembali terdengar beberapa kali (Saya begitu cinta score Casino Royale). Yang menjadi pusat perhatian adalah Another Way to Die yang dibawakan pentolan band garasi The White Stripes, Jack White duet tidak biasa bersama Alicia Keys (pertama kali dalam sejarah film Bond, mengalahkan kolaborasi Mark Ronson dan Amy Winehouse). Masih mengusung jenis rock seperti You Know My Name milik Chris Cornell, Another Way to Die sudah mendapat kritikan terlebih dahulu sejak demonya beredar di internet. Jack White sempat mengaku bahwa dirinya menggemari Shirley Bassey dan musik-musik John Barry (theme song On Her Majesty’s Secret Service sempat disebut sebagai favorit pribadinya). Entah mengapa, Another Way to Die, yang sudah mengambil unsur musik Bond klasik. Justru lebih terdengar sebagai salah satu hit single The White Stripes ketika mulai memasuki reff. Apa David Arnold tidak ikut meramu musiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal yang Saya suka juga dari film ini adalah kemablinya gaya Bond tradisional yang terus menloncati berbegai negara selama investigasinya. Berbicara soal Bond tradisional, Quantum of Solace juga seperti dibuat sebagai tribute kepada film-film Bond klasik. Beberapa adegan langsung mengingatkan Saya pada film Bond favorit Saya seperti Goldfinger dan From Russia With Love dengan aksi di atas airnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini tidak busuk—Saya masih bisa menikmati setiap aksi di awal-awal film—, tetapi tetap saja mengecewakan harapan yang sudah terbangun pasca Casino Royale. Quantum of Solace tidak akan dianggap sebuah film Bond klasik. Mungkin akan hanya dianggap sebagai film Bond ke dua puluh dua (mari kita berharap James Bond tidak akan kembali ke dalam film seperti ini). Atau mungkin Saya perlu menonton ulang lagi untuk memastikan hasil kerja Marc Forster dengan lebih cermat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Maaf jika melihat perubahan nilai, Saya merasa tidak bisa membohongi diri sendiri.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 360px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/columbia_pictures/quantum_of_solace/_group_photos/gemma_arterton1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Tukang pukul di dekat kebun stroberi&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-524545173146129917?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/524545173146129917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=524545173146129917' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/524545173146129917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/524545173146129917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/11/quantum-of-solace.html' title='Quantum of Solace'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-110377103264112009</id><published>2008-10-02T05:49:00.000-07:00</published><updated>2008-11-21T19:00:20.301-08:00</updated><title type='text'>Laskar Pelangi</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: B+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 2 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Miles Films&lt;br /&gt;Jenis: Drama&lt;br /&gt;Sutradara: Riri Riza&lt;br /&gt;Pemain: Zulfani, Ferdian, Veris Yamarno, Cut Mini&lt;br /&gt;Penulis: Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana berdasarkan novel karya Andrea Hirata&lt;br /&gt;Sinematografi:&lt;br /&gt;Musik: Titi Syuman, Aksan Syuman&lt;br /&gt;Durasi: 120 menit&lt;br /&gt;Untuk: Semua Umur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir bisa memastikan kalau 2008 adalah tahun terbaik yang pernah dimiliki industri kebangkitan film Indonesia setelah sempat mati suri. Karena paling tidak untuk saat ini ada tiga film terbaik buatan Indonesia menghiasi bioskop-bioskop tanah air. Setelah Ayat-Ayat Cinta februari lalu, film klasik Indonesia, Nagabonar, kembali dirilis dengan remaster gambar dan suara. Lantas sekarang ada adaptasi novel laris karya Adrea Hirata yang ditangani oleh Riri Riza (dengan masuknya Salman Aristo yang juga menulis naskah Ayat-Ayat Cinta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riri Riza adalah salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Indonesia sekarang. Dia lebih kritis menelaah suatu ide. Seperti Hanung Bramantyo dan Garin Nugroho, Riri Riza dulunya adalah pembuat film dokumenter. Awalnya Saya tidak tertarik dengan film ini karena terkesan mengekor film pemenang piala citra Denias: Senandung di Atas Awan. Namun dengan masuknya sutradara idealis seperti Riri, Saya merasakan adanya potensi yang besar dari film ini. Sebelum ini, Riri sempat membuat film Indonesia bagus macam Gie dan 3 Hari Untuk Selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Saya perlu menceritakan kembali plot film ini? Ini garis besarnya. Laskar Pelangi menceritakan tentang kesempatan pendidikan yang bisa didapat anak-anak miskin di Belitong, tahun 1979. Sekolah Dasar Muhammaddiyah adalah adalah sekolah tidak laris—yang hanya memiliki murid berjumlah 10 orang. Bisa bertahan hanya karena tegarnya staff pengajar dalam membantu keterbelakangan. Semangat mengajar Bu Muslimah (Cut Mini) juga semakin diperkuat oleh semangat belajar siswa-siswanya yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat ironis mendengar bahwa film dengan setting lingkungan miskin, menghabiskan biaya sebesar 12 milyar. Uang itu dihabiskan untuk membangun kembali sekolah, dan menciptakan setting Belitung tahun 1979. Dan disamping itu, bintang-bintang terkenal seperti Lukman Sardi, Tora Sudiro, Mathias Mucus, Cut Mini, Alex Komang, dan lain-lain berhasil direkrut menjadi peran pembantu untuk meramaikan film ini. Aktor anak-anak dalam film ini direkrut dan kemudian dilatih aktingnya. Sedikit catatan, tiga bintang Berbagi Suami yang turut tampil di sini adalah Jajang C. Noer, Lukman Sardi, dan. Dan Mathias Mucus kembali berperan dalam film sejenis setelah sebelumnya membintangi Denias. Mira Lesmana yakin bahwa Laskar Pelangi akan mencapai box office Indonesia. Dan ramalan itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pastinya sangat banyak bagian pada novelnya yang dipotong untuk keperluan filmnya, Saya masih melihat Laskar Pelangi seperti novel pada layar. Sub plotnya sangat banyak yang tumpang tindih. Seperti contoh, apa adegan anak-anak mencari dukun itu terlihat wajar di layar? Seharusnya banyak sekali adegan yang bisa dipotong tanpa menghilangkaV eseni ceritanya. Aturan tiga babak tidak benar-benar tampak. Saya tidak tahu klimaksnya dimana. Apa di lomba cerdas cermat atau lomba tarian karnaval itu. Hal yang juga terjadi pada Ayat-Ayat Cinta. Tapi khusus di film ini, interaksi antar 10 siswa ini begitu hidup. Saya cinta itu. Masing-masing tokoh memiliki ciri khas pada karakternya. Ikal adalah tokoh utama, Mahar yang cinta musik, Lintang yang jenius. Beberapa siswa lainnya adalah Borek yang maniak otot, Trapani yang maniak terhadap ibunya, ataupun Harun yang keterbelakangan mental (di novelnya diceritakan dia memulai SD ketika berumur 15 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan daerah pedalaman Belitong, hasil fotografi yang diselipkan beberapa kali dalam film begitu menawan. Hutan, batu dan pelangi. Satu adegan ketika Laskar Pelangi pertama kali melihat pelangi di atas danau, membuat seisi bioskop terkejut secara refleks. Kita melihat kerjaan melelahkan Director of Photography film ini. Menata ulang bangunan seperti 30 tahun yang lalu. Refrensi poster Soeharto sebagai presiden justru memancing tawa penonton. Dan Saya perhatikan satu adegan yang melibatkan Kepsek Muhammaddiyah, Pak Harfan (Ikranegara), menggunakan blur yang keras pada latar kehijauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak pada film ini memberikan performa yang baik. Bahkan lebih baik daripada aktor-aktris remaja yang sudah biasa tampil di televisi. Untuk pendukung yang memliki nama besar, cukup mengejutkan mendengar mereka berbicara dengan logat tradisional kental selama dua jam. Tokoh Muslimah, Lintang, Mahar dan Ikal adalah pencuri perhatian dalam film ini. Karakternya menarik dan dibawakan dengan pas. Selain itu, dialog-dialog yang mereka lontarkan lucu karena terkesan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal unik yang Saya garis bawahi dalam film ini. Penggunaan efek ketika menggambarkan adegan dramatis kekaguman Ikal pada kuku indah seorang gadis. Penggunaan slow motion yang menggigit terutama pada tarian suku asmat yang dipimpin seorang siswa yang cinta musik. Ada juga sebuah adegan persilangan antara sekolah modern yang menggunakan kalkulator dan SD Muhamaddiyah yang memakai lidi dalam berhitung. Anda bisa lihat sendiri hasilnya. Lantas satu adegan unik yang mengacu pada refrensi Rhoma Irama bersama Sonetanya—mungkin ini seperti Elvis Presley atau Jimi Hendrix di Indonesia pada waktu itu. Anak-anak memeragakan satu adegan musikal dangdut dengan gerakan yang terlihat sangat terarah dan lip sync yang terlalu terang untuk dilihat. Mengingatkan Saya pada film-film Rhoma dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mencari kesalahan dalam film ini, rasanya siapapun pasti tahu kesalahan terbesar ada pada miscasting dari Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa. Sebenarnya Saya awalnya agak meragukan Ario Bayu, tetapi di sini dia menjadi hitam (tidak seputih ketika tampil di Kala). Ikal yang berkulit gelap, rambut keriting dan bermuka tradisional, tiba-tiba menjadi putih, berambut lurus dan berwajah modern ketika besarnya. Saya pun masih tidak percaya bahwa itu adalah Ikal dewasa. Dan sayang sekali kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada temav-teman Ikal setelah dewasa. Paling tidak dengan memakai tulisan sebagai epilog. Saya menemukan hal yang sangat menarik sekali seperti Trapani yang berakhir di rumah sakit jiwa karea ketergantungan terhadap ibunya. Sayang sekali untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soundtrack yang dibawakan Nidji sebenarnya cukup populer. Satu hal yang Saya suka dari film ini, adalah penggunaan soundtrack yang sangat bijak. Lebih banyak menggunakan score yang disesuaikan (dan menyesuaikan) mood. Menghindari kesan hingar bingar Ayat-Ayat Cinta yang menempelkan suara Rossa dimana-mana.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan persiapan yang sangat lama, dan pengambilan gambar yang konon hanya mengambil waktu satu minggu seperti film-film terakhir Rudi Soedjarwo, cukup membuahkan hasil yang patut dibanggakan oleh Riri Riza dan Indonesia. Film ini sangat inspiratif, membuka mata kita terhadap dunia khususnya apa yang terjadi di Indonesia. Dan banyak sekali pesan moral yang terkandung untuk direnungkan bersama. Saya yakin sampai akhir tahun, tidak akan ada film Indonesia yang lebih Saya sukai dibanding Laskar Pelangi. Di jaman krisis film bagus di Indonesia, keberadaan Laskar Pelangi adalah sebuah harta karun. Sebuah senandung di atas awan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-110377103264112009?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/110377103264112009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=110377103264112009' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/110377103264112009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/110377103264112009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/10/laskar-pelangi.html' title='Laskar Pelangi'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5139754311560633657</id><published>2008-10-02T05:45:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T04:50:40.093-07:00</updated><title type='text'>Bangkok Dangerous</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/lions_gate_films/bangkok_dangerous/bangkokdangerous_galleryposter2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/lions_gate_films/bangkok_dangerous/bangkokdangerous_galleryposter2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 2 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Lionsgate&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Kriminal&lt;br /&gt;Sutradara: Oxyde Pang Chun &amp;amp; Danny Pang&lt;br /&gt;Pemain: Nicolas Cage, Shahkrit Yamnarm, Charlie Yeung, Panward Hemmanee&lt;br /&gt;Penulis: Jason Richman berdasarkan naskah karya Pang bersaudara&lt;br /&gt;Sinematografi: Decha Srimanta&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Musik: Brian Tyler&lt;br /&gt;Durasi: 95 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Nicolas Cage menggunakan gaya rambut buruknya. Setelah sempat dihina dengan ditampilkannya gaya rambut kontroversialnya itu dalam Next dan National Treasure 2, Cage tidak juga jera. Ternyata film Bangkok Dangerous sudah selesai produksi akhir tahun 2006. Aktor pemenang oscar ini terlihat tampak sangat menikmati dalam bermain film-film ringan dibanding harus menggali kembali kemampuan aktingnya. Apalagi dia bermain dalam sebuah film berjudul Bangkok Dangerous!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan judul yang terkesan seperti film kelas dua, Bangkok Dangerous adalah remake dari film Thailand berjudul sama yang merupakan debut kolaborasi Oxyde dan Danny Pang di tahun 1999. Hebatnya, setelah dibawa ke Hollywood dengan bintang aksi Nicolas Cage, Bangkok Dangerous versi bule ini kembali disutradarai Pang bersaudara. Melelahkan bukan? Atau justru menjadi tugas yang mudah? Pang bersaudara sempat unjuk gigi di Hollywood lewat film horror The Messengers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya mengenai seorang pembunuh bayaran professional, Joe (Nicolas Cage). Dia punya empat prinsip hidup sebagai hitman. Uang menghasilkan persaingan. Dan pihak yang menyewanya, biasanya memenangkan persaingan. Untuk tugasnya kali ini, Joe pergi ke Bangkok untuk empat kepala, lantas berencana pergi tanpa meninggalkan jejak dan identitas. Dia mencari mitra seorang pencopet, Kong (Shahkrit Yamnarm), untuk membantunya di Bangkok. Dengan bantuan seorang penari klub, Aom (Panward Hemmanee), tugas seharusnya menjadi lebih mudah. Namun seiring Joe berkenalan dengan apoteker tuli bisu, Fon (Charlie Yeung), yang mewarnai hidupnya, Joe menyadari bahwa ini saatnya untuk berhenti menjadi pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih setuju bahwa Bangkok Dangerous ini dijadikan sebagai prekuel Bangkok Dangerous versi Thailand. Bagaimana tidak? Kita masih menemui tokoh bernama Kong, Aom dan Fon. Hanya saja Joe disini bukanlah bule. Belakangan Saya tahu mengapa Pang Brothers kembali membuat film yang hampir sama. Mungkin selain karena mereka tiak ingin citra Bangkok Dangerous dirusak oleh sutradara yang tidak memiliki pandangan sejenis, mereka ingin karyanya dikenal luas di Amerika. Sebelum The Departed, berapa orang Amerika mengenal Infernal Affairs?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok Dangerous bukanlah film fine art yang menciptakan euforia bagi penggemar film-film berseni. Tapi setidaknya sebagai film hiburan, Bangkok Dangerous bisa menghibur dengan gaya baku tembak yang klasik. Pang bersaudara menghadirkan keeksotisan Thailand secara nyata. Mengingatkan Saya pada versi film Miami Vice, suasana Bangkok yang dihadirkan bukanlah tarian atau musik tradisional yang terdengar seperti musik tradisional Bali. Tetapi keeksotisan Thailand yang terkenal dengan pelacuran dan klub malam. Pang bersaudara secara jujur mengekspos Thailand apa adanya. Justru penonton senang dengan goyangan pinggul para gadis hiburan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terlalu suka film ini, tapi Saya masih belum bisa menyebutnya film payah. Rasanya lebih menarik jika Nicolas Cage lah yang memiliki cacat tubuh seperti tuli bisu (dalam versi thailand, karakter utama Kong adalah yang tuli bisu). Sekarang tuli bisu itu terjadi pada tokoh Fon yang akan menjadi love interest bagi Joe. Kisah cinta ini tidak sampai merusak jalinan cerita keseluruhan. Yang justru menjadi bagian yang tidak Saya suka adalah plot guru-murid antara Joe dan Kong begtu diekspos. Itu membuat filmnya begitu mudah ditebak. Terutama pada bagian eksekusi yang sedikit melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum sempat menyaksikan versi tradisional Bangkok Dangerous sampai sekarang, dan melihat plotnya, Saya pikir versi asli itu lebih menarik. Saya tidak mengerti mengapa Pang bersaudara menghilangkan daya tarik film mereka sendiri dengan membuatkan karakter guru bagi Nicolas Cage. Film ini bukanlah tipikal full aksi seperti kesan yang ditinggalkan posternya. Tetapi banyak menceritakan tentang hubungan guru-murid tadi. Walaupun beberapa adegan aksi itu menarik seperti ketika adegan kejar-kejaran di sungai. Terkadang, Saya pun memerlukan kehadiran film ringan dan kurang bagus seperti ini di bioskop. Terutama saat invasi film-film Indonesia tidak jelas itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5139754311560633657?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5139754311560633657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5139754311560633657' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5139754311560633657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5139754311560633657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/10/bangkok-dangerous.html' title='Bangkok Dangerous'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-25045402582761440</id><published>2008-09-26T02:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T02:12:23.294-07:00</updated><title type='text'>Sky High</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/walt_disney/sky_high/skyhigh_bigposter.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/walt_disney/sky_high/skyhigh_bigposter.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 24 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;Walt Disney&lt;br /&gt;Jenis: Fantasi, Komedi, Aksi&lt;br /&gt;Sutradara: Mike Mitchell&lt;br /&gt;Pemain: Michael Angarano, Danielle Panabaker, Kurt Russell, Kelly Preston&lt;br /&gt;Penulis: Paul Hernandez, Bob Schooley, Mark McCorkle&lt;br /&gt;Sinematografi: Shelly Johnson&lt;br /&gt;Durasi: 99 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disney kembali memproduksi film bertemakan keluarga superhero setelah The Incredibles. Dengan tidak adanya nama Brad Bird dan Pixar, ditambah payahnya poster dan trailernya (Untuk promosi saja sudah mencantumkan efek yang super kasar), Sky High sudah dipandang sebelah mata. Film ini tidak seburuk itu. Kita masih bisa melihat ciri khas film Disney tentang pesan moralnya, dan kenikmatan yang dicari sari film sejenis (beberapa bagian The Incredibles yang ingin kita lihat secara live action). Jika Anda lebih dulu melihat “kelanjutan” dari Sky High yang berjudul Zoom (dibintangi Tim Allen), Sky High masih lebih baik dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan X-Men, Sky High adalah sekolah luar biasa khusus untuk murid-murid dengan kekuatan luar biasa. Tokoh utama kita adalah Will Stronghold (Michael Angarano)—anak dari pasangan superhero terhebat di dunia, Commander (Kurt Russell) dan Jetstream (Kelly Preston). Sampai sekarang, Will masih belum tahu kekuatannya apakah dia akan super kuat seperti ayahnya atau bisa terbang seperti ibunya. Sehingga di hari pertamanya di Sky High, Coach Boomer (Bruce Campbell) menggolongkan Will ke dalam kelompok sidekick. Di sana, Will bersama teman masa kecilnya, si gadis tumbuhan Layla (Danielle Panabaker) berteman dengan beberapa siswa sidekick lainnya. Di hari pertama juga Will sudah mendapat musuh besarnya, si pemarah yang berapi-api, Warren Peace (Steven Strait). Dan di hari pertama juga, Will mulai jatuh cinta dengan gadis telekinetic ketua OSIS Sky High, Gwen Grayson (Mary Elizabeth Winstead). Selanjutnya, film menyorot tentang kehidupan Will di sekolah dengan pandangan sebagai anak dari pasangan superhero yang hebat, tetapi dia masih takut untuk mengaku pada orang tuanya bahwa dia tidak punya kekuatan super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu membuatnya sebagai sebuah film remaja. Saya bisa mengatakan itu. Selain temanya yang kebanyakan dihabiskan untuk membahas kehidupan remaja, pubertas dan persahabatan, Sky High lebih banyak menggunakan lagu-lagu yang hingar bingar seperti yang sering ditemui pada rom-com remaja lainnya—sebagai ganti dari penggunaan score. Dan ada satu adegan khas, yaitu pesta anak muda (mungkin dijuluki pesta bujang dalam American Pie). Sky High adalah salah satu dari film (benar-benar memiliki mood) remaja yang bagus sejak Can’t Hardly Wait sepuluh tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya sangat mudah ditebak sampai akhir. Will jatuh cinta pada Gwen, dan Danielle cemburu. Daripada membuat tokoh Will meninggal, maka sudah pasti nanti Will akan mendapatkan kedua kekuatan orang tuanya. Dan tokoh-tokoh dengan kekuatan aneh seperti Zach yang bisa menyala, lantas manusia yang bisa mencair, dan gadis yang bisa berubah menjadi marmot (untuk apa semua kekuatan itu?), semua sudah diatur berdasarkan tantangan yang mereka hadapi di akhir film. Tapi Saya bisa menyadari bahwa itu bagian dari pesan moral yang ingin disampaikan. Selain itu, masih banyak juga pelajaran yang didapat, bermula dari tanggapan Layla terhadap “klise film” penggolongan superhero di SMA (apa itu seperti rasisme?), bahkan baris sakti yang diucapkan Layla terhadap Jetstream yang hendak menawarkannya daging,”Ibu Saya berbicara pada hewan, mereka tidak suka jika dimasak,” Dasar film Disney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Saya bukan datang ke bioskop untuk merenungkan film ini. Saya tidak akan berusaha mencari kesalahan-kesalahan yang ada. Sky High mencari jalur aman dari hinaan, berangkat dari cerita yang sederhana dan klise, hanya ditambahi sedikit kekuatan agar terlihat super. Tidak banyak pertanyaan yang bisa diajukan, tetapi Sky High membuat hampir semua jawabannya lewat tokoh-tokohnya yang kartunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Saya ingin hiburan, dan secara mengejutkan film ini memberikan apa yang diinginkan penonton. Dari awal, saat satu per satu murid baru disuruh memperlihatkan kemampuannya, lantas adegan ketika Will bertengkar dengan Warren Peace. Ada yang kurang? Oh, banyak sekali kekuatan super yang ditampilkan di sini. Superman, Human Torch, Flash, Mr. Fantastic Four, sedikit cameo dari Spider-Man, dan lain-lain. Satu hal aneh, dua siswa badung (biasanya diggambarkan sebagai cowok football) yang suka bersikap jahil pada murid-murid baru khususnya kaum nerd, adalah Speed dan Lash. Lash yang kurus kering bisa membuat badannya melar seperti karet, sedangkan Speed yang aslinya memiliki perut yang melar, justru bisa berlari kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa humor yang bisa memancing tawa penonton remaja. Tapi dua yang benar-benar mengocok perut Saya (yang mungkin tidak disadari oleh sang film maker) adalah ketika seorang nerd kecil bernama Larry berubah menjadi sosok raksasa batu. Efeknya yang patut ditertawai terlalu murahan untuk dipamerkan. Dan mereka sepertinya bangga akan hal itu. Kedua adalah pesta dansa akhir tahun pelajaran di SMA (ya, seperti film-film remaja biasanya), ketika yang lainnya berpakaian rapi dengan mengenakan gaun dan tuksedo, Commander Stronghold dan Jetstream justru datang dengan kostum superhero mereka yang norak. Mereka melambaikan tangan kepada siswa-siswi lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya punya alasan sentimentil untuk menyukai film ini. Tiga alumnus Sky High mulai dikenal sekarang. Michael Angarano baru saja menjadi bule ahli kung fu dalam The Forbidden Kingdom, Steven Strait mendapat peran sebagai manusia purba dalam 10,000 BC, dan Mary Elizabeth Winstead sempat menjelma sebagai anak Bruce Willis dalam Live Free or Die Hard. Winstead juga sempat menjadi objek pembantaian Kurt Russell dalam Death Proof milik Quentin Tarantino. Saya hanya suka saja menonton film ini karena untuk beberapa alasan sebagai film fantasi, Sky High sangat masuk akal. Sekarang Saya tidak bisa lepas dari pembuka lagu True milik Spandau Ballet.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/walt_disney/sky_high/_group_photos/michael_angarano15.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Keluarga pahlawan super yang bahagia dalam Sky High&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-25045402582761440?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/25045402582761440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=25045402582761440' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/25045402582761440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/25045402582761440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/sky-high.html' title='Sky High'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-952695668321028292</id><published>2008-09-26T02:44:00.000-07:00</published><updated>2008-11-21T18:50:16.489-08:00</updated><title type='text'>Eurotrip</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 25 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;Dreamworks&lt;br /&gt;Jenis: Komedi&lt;br /&gt;Sutradara: Jeff Schaffer&lt;br /&gt;Pemain: Scott Mechlowicz, Jacob Pitts, Michelle Trachtenberg, Travis Wester&lt;br /&gt;Penulis: Alec Berg, David Mandel, Jeff Schaffer&lt;br /&gt;Sinematografi: David Eggby&lt;br /&gt;Durasi: 89 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating:R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari produser Road Trip dan Old School, lahirlah film yang mirip dengan Road Trip, hanya saja lokasinya adalah eropa, Eurotrip. Roadtrip dianggap sukses. Apakah Eurotrip menggunakan formula yang sama dengan Road Trip? Itu pasti. Apakah terjadi semacam pengulangan? Saya bisa katakan iya. Tetapi sejelek apapun Eurotrip, film ini masih lebih lucu dibanding Road Trip. Dan sejelek apapun baik Road maupun Euro, film-film jenis ini menjadi favorit para remaja (bahkan termasuk film direct to video!) karena ulah American Pie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama berangkat dari ide konyol, diceritakan Scott Thomas (Scott Mechlowicz) baru saja diputuskan pacarnya, Fiona (Kristin Kreuk), di hari kelulusannya. Kembali ke rumah, Scott mendapatkan bahwa teman akrab asal Berlin, Mieke, yang dikenalnya secara online ingin “merencanakan pertemuan” dengannya di Amerika. Merasa ketakutan, Scott yang mengira Mieke adalah nama laki-laki (dikatakan itu sebenarnya seperti Michelle untuk di Jerman), segera menghinanya. Dan setelah menyadari bahwa Mieke adalah seorang gadis yang cantik, lucu dan cerdas, Scott merencanakan pertemuan dengannya di Berlin. Perjalanan tidak akan semulus yang dibayangkan. Bersama sobatnya, Cooper (Jacob Pitts), dan si kembar Jamie (Travis Wester) dan Jenny (Michelle Trachtenberg), mereka meninggalkan benua amerika yang sopan, menuju petualangan seks liar di eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat persamaan dengan Road Trip. Terutama pada karakter-karakternya. Scott pasti adalah tokoh yang sial. Jacob Pitts mengambil peran badung Seann William Scotts dulu. Dan siapa yang menjadi bocah lugunya? Datang tokoh Jamie. Satu nama yang paling terkenal diantara aktor-aktor lainnya adalah Michelle Trachtenberg. Melihat dia di Ice Princess, apakah sempat terpikir bahwa Trachtenberg awalnya bermain dalam komedi mesum macam Eurotrip? Sedangkan ada beberapa nama yang lumayan terkenal sebagai tokoh pendukung. Yaitu sang Lana Lang sebagai boneka seks yang kotor, dan Vinnie Jones sebagai ketua Hooligan Manchester United. Oh, dan satu lagi lihat penampilan cameo Matt Damon (serius, itu adalah Matt Damon dalam trilogy Bourne) sebagai penyanyi band punk berkepala plontos. Bagiannya adalah adegan paling mengejutkan di sepanjang film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa bagian yang menarik sepanjang perjalanan mereka di London, Paris, Bratislava, Vatikan, Berlin dan Amsterdam. Mereka harus menendang bola robot, berkenalan dengan pria prancis homo, melihat si kembar berciuman, bertelanjang ria di pantai bugil, dan lain-lain. Ya, sepertinya itu akan menjadi perjalanan yang menarik…awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian keinginan untuk melucu membunuh segalanya—apa yang ingin dilihat penonton dari film seperti ini. Seperti contoh adalah ketika Cooper pergi ke klub Vandersexxx, apakah yang Anda harapkan adalah lelucon penyiksaan seksual secara brutal oleh dua pria berotot? Kecuali ketika Cooper mandi di kolam bersama gadis telanjang, itu lah yang seharusnya dijadikan sample untuk adegan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali menontonnya empat tahun yang lalu dan setuju bahwa ini adalah komedi terlucu di tahunnya. Mungkin juga ini adalah komedi terlucu di tahunnya. Tapi setelah melihat kembali isi filmnya, Saya berubah pikiran. Saya tidak lagi tertawa sekeras itu. Bukan karena Saya sudah tahu humornya, tetapi beberapa humor dalam film ini terasa begitu klise. Dan terlalu banyak menjurus ke humor orang homo. Saya lelah mendengar itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini film sampah. Tetapi gaya eksploitasinya tidak berlebihan seperti American Pie 4 dan 5. Yang perlu dilakukan hanyalah duduk dan tidak memikiran apa-apa. Urusan suka atau tidak, itu belakangan. Coba saja beri film ini satu kesempatan. Dan lihat apakah film tipe Anda? Eurotrip tidak sepenuhnya memakai gaya American Pie. Justru beberapa humor non-joroknya lah yang efektif. Sesuatu yang aneh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dreamworks_skg/eurotrip/michelle_trachtenberg/euro.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Michelle Trachtenberg di pantai bugil dalam Eurotrip&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-952695668321028292?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/952695668321028292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=952695668321028292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/952695668321028292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/952695668321028292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/eurotrip.html' title='Eurotrip'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5269443915432040698</id><published>2008-09-20T23:24:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T02:41:31.195-07:00</updated><title type='text'>The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/universal_pictures/the_mummy__tomb_of_the_dragon_emperor/themummy3_galleryposter.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/universal_pictures/the_mummy__tomb_of_the_dragon_emperor/themummy3_galleryposter.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 21 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Universal Pictures&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, Komedi, Horror, Fantasi&lt;br /&gt;Sutradara: Rob Cohen&lt;br /&gt;Pemain: Brendan Fraser, Maria Bello, Jet Li, Luke Ford&lt;br /&gt;Penulis: Alfred Gough dan Miles Millar&lt;br /&gt;Sinematografi: Simon Duggan&lt;br /&gt;Musik: Randy Edelman&lt;br /&gt;Durasi: 95 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG-13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Saya minta ampun pada kaisar naga: film apa yang baru saja Saya tonton? Mummy terbaru adalah kuburan. Dan kisah Mummy memang seharusnya dikubur saja lewat film ini. Saya sudah menyangka dari awal akan potensi maksimal film ini dan betapa buruknya hasil yang akan dicapai Mummy ketiga. Dari perpindahan setting dari mesir ke cina saja sudah memberikan aba-aba bahwa para produser sudah kehilangan akal sehat mereka. Lantas Rachel Weisz menolak tampil dan posisinya digantikan aktris Maria Bello. Entah apa alasan yang sebenarnya. Dan kursi sutradara dua film Mummy sebelumnya, Stephen Sommers, diambil alih oleh Rob Cohen yang terakhir membuat film Fat-Failure, Stealth. Satu-satunya yang membuat Saya tertarik hanyalah dua pengarang cerita Spider-Man 2, Alfred Gough dan Miles Millar, membuat naskah untuk film ini. Tapi jangan pernah membanding-bandingkan Spider-Man 2 dengan Mummy 3!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor adalah sekuel The Mummy Returns yang merupakan film pertama yang Saya tonton di bioskop. Dua film Mummy sebelumnya juga sebenarnya kurang bagus. Tapi banyak yang terhibur karenanya. Tidak dengan yang satu ini. Saya lelah sekali dengan suguhan aksi dan efek yang murahan. Hebatnya film ini masih penuh semangat sampai ke penghujung. Masuknya Jet Li juga merupakan penanda bahwa film ini tidak seharusnya menjadi sekuel The Mummy. Tomb of the Dragon Emperor hanya sebuah film lain yang memakai embel-embel The Mummy sebagai tameng komersil. Saya akan lebih tertarik jika Tomb of the Dragon Emperor memakai embel-embel King Kong. Tidak ada mumi di sini. Bukankah mumi itu adalah mayat raja mesir yang diawetkan dan seluruh tubuhnya dibalut? Kenyataannya Jet Li hanya berperan sebagai kaisar yang bisa berubah menjadi naga berkepala tiga (dan juga makhluk seperti King Kong) yang jiwanya dikutuk. Seandainya definisi itu ternyata sudah ditambahkan ke dalam arti kata mumi, siapa yang tahan melihat mumi bisa kung fu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal film, diceritakan dengan narasi bagaimana sang kaisar naga (Jet Li) yang tamak bisa terkutuk menjadi batu oleh seorang penyihir wanita yang hidup abadi, Zi Juan (Michelle Yeoh). Saya melihat ada bangunan yang berbentuk seperti piramida di cina sebelum masehi. Di sequence ini, ada satu adegan yang mempertemukan dua ahli silat Jet Li dan Michelle Yeoh. Kesempatan itu tidak dipergunakan dengan baik. Kamera yang cepat dengan editan yang ketat merusak pertarungan apa yang diharapkan penonton. Cohen perlu memaksimalkan potensi aktor-aktrisnya. Juga efek CGI memakan adegan pertarungan yang seharusnya bisa menjadi memorable itu. Film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan The Mummy sebagai pembuka kisah. Sampai ke akhir film, kita tidak melihat Imhotep (dulu diperankan Arnold Vooso), melainkan hanya tengkorak, prajurit batu, dan makhluk-makhluk gaib macam manusia salju himalaya, Yeti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju ke London, 1946, pasangan petualang Rick O’Connell (Brendan Fraser) dan Evelyn (Maria Bello) sudah sepakat untuk berhenti mencari artifak. Sekarang justru, anak mereka yang sudah tumbuh dewasa, Alex (Luke Ford), melakukan eksplorasi dan menemukan kuburan sang kaisar naga. Pasukan cina yang dipimpin oleh Anthony Wong, berusaha menghidupkan kembali sang kaisar naga menuju keabadian untuk memimpin pasukan menaklukan dunia dengan membawa tubuhnya ke kolam keabadian. Kembali, Rick dan Evy harus menempuh perjalanan jauh. Dengan konvoi dari Alex, kakak Evy yang biasanya menjadi badut dalam tim—Jonathan (John Hannah), dan seorang gadis oriental misterius yang suka bermain-main dengan senjata tajam, Lin (Isabella Leong). Mereka menempuh perjalanan ke cina, lalu ke himalaya dan sempat menemukan kota hilang Shangri-la, untuk menghalangi kebangkitan kembali sang kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brendan Fraser masih terlihat muda—tidak berubah dari penampilannya di The Mummy Returns. Jadi Luke Ford justru terlihat seperti adik bagi Rick. Petualangan ayah dan anak (ditambah ibu, ditambah lagi keharmonisan keluarga yang ganjil) ini langsung mengingatkan semua orang pada petualangan keluarga Indiana Jones yang mengecewakan 3 bulan yang lalu. Lain bintang, lain karakter. Maria Bello menggambarkan tokoh Evelyn yang sama sekali berbeda dengan penggambaran Rachel Weisz dulu. Saya tidak mengatakan lebih baik atau lebih buruk. Saya pun rindu pada Evelyn yang diperankan Weisz (ketidak hadiran Weisz tidak tergantikan oleh aktris lain, Jadi pemilihan Maria Bello pun tidak bisa Saya sebut miscasting). Evelyn di sini jauh lebih ceria, kekonyolannya menyaingi suaminya dalam beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai tiga dari lima tokoh protagonis sentral berwujud sebagai pelawak, Tomb of the Dragon Emperor maunya lebih menyerempet lagi ke jenis komedi. Patut disayangkan selera humornya tidak bagus. Celetukan-celetukan Rick dan terutama Jonathan sama sekali tidak bisa mengundang tawa. Seingat Saya, selama humor tersebar di sepanjang film, Saya hanya tertawa sekali saja yaitu ketika Rick memainkan bola kristal sang kaisar naga itu. Selebihnya, Saya jarang sekali mendengar penonton lainnya tertawa. Apa itu yang dinamakan perjalanan yang menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya suka Fraser kembali memerankan Rick dengan lepas. Tentu itu belum termasuk tantangan. Hanya saja, Fraser dan Bello terlihat percaya diri dengan kapasitas porsi mereka. Lain lagi dengan kisah cinta Alex dan Lin—yang merupakan anak dari Zi Juan dan Jendral Ming (Russell Wong), orang kepercayaan sang kaisar (apa itu termasuk spoiler?). Ada saja sub plot seperti ini. Tapi faktor kegagalan utama adalah kesalahan judul untuk mengatur pikiran penonton. Saya pun tidak siap menerima jika ternyata Lin bisa memanggil Yeti, atau Jet Li benar-benar bisa menjadi naga (makhluk-makhluk ini divisualkan dengan tidak beres untuk film berbiaya $175 juta). Semua cerita bodoh dan ide yang dipaksakan ini membuat Tomb of the Dragon Emperor menjadi episode terburuk dari Mummy.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-5269443915432040698?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/5269443915432040698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=5269443915432040698' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5269443915432040698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/5269443915432040698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/mummy-tomb-of-dragon-emperor.html' title='The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-4040902954889057420</id><published>2008-09-19T08:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T02:47:45.141-07:00</updated><title type='text'>Kung Fu Panda</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dreamworks_skg/kung_fu_panda/kungfupanda_galleryteaser.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dreamworks_skg/kung_fu_panda/kungfupanda_galleryteaser.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nilai: B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 18 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Dreamworks&lt;br /&gt;Jenis: Aksi, komedi (animasi)&lt;br /&gt;Sutradara: Mark Osborne dan John Stevenson&lt;br /&gt;Pengisi Suara: Jack Black, Dustin Hoffman, Ian McShane, Angelina Jolie&lt;br /&gt;Penulis: Jonathan Aibiel, Glenn Berger&lt;br /&gt;Musik: Hans Zimmer &amp;amp; John Powell&lt;br /&gt;Durasi: 91 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: PG&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahun ini, ada dua film animasi besar dari studio animasi raksasa bersaing memanaskan ajang musim panas. Dreamworks tampil dengan Kung Fu Panda menaruh slot lebih awal dibanding Wall-E milik Pixar—tetapi Saya menonton Wall-E lebih awal. Ada dua hal kontras dari keduanya: Dreamworks memasang nama-nama beken untuk mengisi suara tokoh-tokoh kartunnya. Dan tema Kung Fu Panda sangat menarik perhatian sejak tahun lalu. Wall-E adalah film nyaris bisu dan ceritanya sekilas kurang menarik—tetapi untuk filmgoer, Pixar tidak perlu promosi untuk membuat filmnya laris. Saya pun percaya pada Pixar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sosok Panda gendut selalu enak dijadikan bahan olok-olok. Cerita tentang seekor Panda yang terpilih sebagai ahli kung fu jauh lebih menarik dan lucu bagi anak-anak. Dengan promosi jor-joran, walhasil Kung Fu Panda adalah film summer paling terkenal nomor dua di Indonesia setelah The Dark Knight. Semua yang perlu Anda lakukan adalah duduk tenang, bawa pop corn dan soft drink, ajak seluruh anggota keluarga menonton film ini. Anak-anak Anda pasti sangat menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kelemahan terbesar film ini: Kung Fu Panda hanya akan terlihat sangat hebat di mata anak-anak saja. Sebuah fabel yang sangat kekanak-kanakan. Menurut Saya pribadi, filmnya bagus, tetapi tidak akan pernah menjadi film luar biasa—walaupun ini adalah film Dreamworks paling menghibur sejak Shrek. Seperti kebiasaan Dreamworks, mereka ingin membuat animasi seperti sebuah serial kartun di tayangan televisi, bukan ingin membuat seperti sebuah cerita rakyat. Hantam sana-hantam sini, humor sana-humor sini, semua orang tertawa. Untuk saat ini, Saya lebih suka film yang membuat Saya sadar apa pesan yang ingin disampaikan para animator. Sebuah film yang membuat Saya tertawa, simpati, merasakan, berpikir dan merenung. Kung Fu Panda belum masuk ke dalam kategori itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan di suatu tempat di cina, Valley of Peace, hidup seekor panda gendut, Po (Jack Black), yang bermimpi untuk menjadi seorang ahli kung fu. Po bekerja di sebuah rumah makan spesialis mie bersama seekor unggas (James Hong) yang disebutnya ayah (Mengingatkan Saya terhadap film silat cina dulu. Apa bibi yang dipanggil Wong Fei Hung benar-benar bibi baginya?). Di sisi lain, seekor kura-kura tua ahli kung fu, Oogway, memberi tahu Master Shifu (Dustin Hoffman) bahwa harimau besar jahat Tai Lung (Ian McShane) akan berhasil lolos dari penjara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diadakan sebuah pemilihan seseorang yang akan menjadi Pendekar Naga. Lima murid Master Shifu (yang masing-masing mewakili sebuah gaya silat): Macan betina (Angelina Jolie), Bangau (David Cross), Belalang (Seth Rogen), Ular (Lucy Liu) dan Kera (Jackie Chan) ikut berpartisipasi dalam ajang itu. Namun kenyataannya, Oogway justru memilih Po yang tidak bisa melakukan apa-apa selain makan, memasak dan bercanda sebagai sang pendekar Naga—sesuatu yang sangat tidak disetujui Shifu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal film yang divisualisasikan dengan grafis 2D, cerita bisa ditebak sampai ke endingnya. Bahkan nilai moralnya pun sudah terbaca hanya dari judulnya saja. Untuk bisa percaya, Saya bisa saja bertanya: mengapa Oogway harus menunjuk Po? Apa karena mata Oogway sudah buram atau karena Po kelebihan lemak? Tidak ada gunanya merenungkan hal itu. Beruntung Kung Fu Panda punya humor dan Jack Black untuk membuat filmnya tetap menarik untuk diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada banyak sekali adegan silat yang dengan koreografi menarik dan lucu. Seperti sebuah adegan terbang yang mengingatkan Saya pada Crouching Tiger Hidden Dragon (pedang yang dibawa Po di awal film bukankah terlihat seperti Green Destiny milik Li Mu Bai?). Diakhiri dengan final battle antara Tai Lung dengan Po. Mengejutkan ternyata Kung Fu Panda lebih “cina” dibandingkan The Forbidden Kingdom. Score yang disusun berdasarkan kebudayaan tradisional cina, kembali mengingatkan Saya pada film-film silat cina terutama garapan Ang Lee tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertama kali diumumkan judul Kung Fu Panda, rasanya tidak masuk akal jika Dreamworks tidak mengajak Jack Black. Cocok atau tidak, gambaran Panda dalam film ini begitu dekat dengan Jack Black yang gendut. Jack Black dengan suara khasnya mampu membuat tokoh Po tidak mati rasa.Dustin Hoffman mengisi suara orang bijak dalam film ini. Suara dingin Angelina Jolie pas dengan tokoh macan yang dibawakan. Begitu juga dengan Ian McShane. Merupakan fakta menarik ternyata vokal berat Seth Rogen, Lucy Liu dan terutama Jackie Chan tidak banyak bersuara untuk film ini. Sedikit menyinggung ras, dalam cerita fabel ini, ada sekelompok badak yang menjaga penjara tempat Tai Lung di tahan. Itu Saya pikir seperti kaum negro di dunia nyata. Michael Clarke Duncan adalah pengisi suara sang pemimpin badak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk Saya yang pernah mencicipi berbagai jenis humor, candaan-candaan yang dilempar Kung Fu Panda sebenarnya klise, tetapi tetap ampuh. Anak-anak sangat suka gaya slapstick. Beberapa membuat Saya tertawa. Sebagian lagi memang sudah dapat diprediksi sebelumnya. Bagi yang tidak setuju dengan pendapat Saya, Saya sering mendengar Kung Fu Panda sebagai bahan obrolan orang-orang sekitar. Sejauh ini, mereka semua sangat puas dan senang untuk tertawa selama 90 menit melihat Po membawa perut besarnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://l.yimg.com/img.movies.yahoo.com/ymv/us/img/hv/photo/movie_pix/dreamworks_skg/kung_fu_panda/jack_black/kungfu7.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Jack Black menyuarakan ahli kung fu dalam Kung Fu Panda&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-4040902954889057420?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/4040902954889057420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=4040902954889057420' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4040902954889057420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/4040902954889057420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/kung-fu-panda.html' title='Kung Fu Panda'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-1890835449501042926</id><published>2008-09-05T08:07:00.001-07:00</published><updated>2008-09-05T08:19:31.000-07:00</updated><title type='text'>12 Angry Men</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;Nilai: A+&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;/ / / 4 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1957&lt;br /&gt;Orion Nova Productions&lt;br /&gt;Jenis: Courtroom Drama, Thriller&lt;br /&gt;Sutradara: Sydney Lumet&lt;br /&gt;Pemain: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Martin Balsam, Ed Begley&lt;br /&gt;Penulis: Reginald Rose&lt;br /&gt;Sinematografi: Boris Kaufman&lt;br /&gt;Musik:&lt;br /&gt;Durasi: 96 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: Not Rated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan keraguan yang beralasan lagi, selama Saya menonton 12 Angry Men, itu adalah salah satu pengalaman menonton lewat format home video paling memuaskan dan tak terlupakan sepanjang hidup Saya. Bagaimana tidak? Durasi memang sebentar (96 menit termasuk credit), tetapi Reginald Rose tahu kasus apa yang ingin ia bangun, Sydney Lumet tahu dimana dia harus meletakkan kamera dan memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Dari dua belas tokoh dalam film, semuanya terurus dengan baik. Kedua belas tokoh tersebut memiliki karakter dan latar masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Angry Men adalah film layar lebar pertama Lumet. Berdasarkan naskah program TV yang juga ditulis oleh Reginald Rose. Bersama sang aktor utama, Henry Fonda, mereka sepakat untuk menanam investasi untuk film ini. Memang hanya Fonda satu-satunya aktor yang terkenal di sini. Saya tidak ragu itu juga berdampak buruknya pendapatan film ini. Dan di oscar sendiri, 12 Angry Men tidak memenangkan apa-apa kecuali tiga nominasi untuk naskah, sutradara dan film terbaik. Itu bukan merupakan sebuah penghakiman. Nyatanya, Saya sangat cinta film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pembunuhan keji terjadi. Seorang anak akan dijatuhkan hukuman mati atas tuduhan membunuh ayahnya. Ada dua saksi dari pria tua dan seorang wanita beserta barang bukti sebuah switch blade yang tertancap di dada sang ayah. Dua belas juri memasuki sebuah ruangan untuk memutuskan apakah anak itu bersalah atau tidak. Semua setuju atau hukuman dicabut, nyawa anak itu ada pada suara kedua belas pria ini. Ketika sebuah pemungutan suara diadakan, sebelas orang mengatakan bersalah dan juri nomor 8 (Henry Fonda) masih memiliki keraguan yang beralasan untuk memberikan suara untuk mengakhiri hidup anak itu. Ramalan cuaca mengatakan hari itu adalah hari terpanas dalam tahun itu. Dan bagi dua belas pria di dalam ruangan juri, hari terasa semakin panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sebuah long take yang diawali dari kredit awal. Diambil dari sudut atas, hampir sepuluh menit kita melihat sebuah pembicaraan yang mengalir dengan alami sebelum sebuah perdebatan dimulai. Itu adegan yang Saya pikir sulit untuk diambil—mengatur dua belas orang dalam ruangan juri di dunia milik Lumet. Adegan itu sangat jenius dan efektif dalam waktu yang bersamaan. Mengapa susah-susah membuat long take? Saya menjadi semakin diyakinkan film ini memakai real time, satu setengah jam di depan TV Saya sama dengan satu setengah jam di dalam ruang juri tersebut. Dengan kata lain, ini adalah film yang mengambil set selama satu setengah jam penuh di dalam ruang juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kasus yang awal dianggap “open and shut case” oleh banyak juri, yang kemudian semakin diperdebatkan oleh dua belas pria marah ini. Mereka dipilih juga karena tidak ada relasi dengan si tersangka. Apapun keputusannya, itu tidak membawa baik keuntungan maupun kerugian pada diri mereka. Juri nomor 8 berpikir bahwa mereka seharusnya tidak bisa memutuskan hidup-mati seseorang hanya dalam waktu 5 menit—paling tidak mengambil waktu satu jam. Selama satu jam ke depan, bukan hanya logika yang jalan pada diri dua belas orang itu. Tapi emosi, amarah, ego dan kebencian menguasai pikiran mereka. Terutama, pria paling pemarah dalam ruangan, juri nomor 3 (Lee J. Cobb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diperhatikan, 12 Angry Men adalah sebuah drama pengadilan. Bisa Saya sebut thriller karena Lumet juga membangun ketegangan diantara amarah yang memuncak. Tapi 12 Angry Men bukanlah film misteri. Sampai akhir, kita tidak pernah tahu pasti apakah si anak betul-betul membunuh bapaknya, bagaimana sebenarnya reka ulang kejadian itu, apalagi investigasi atas kejadian pembunuhan kelas satu tersebut. Seperti yang dikatakan karakter yang dimainkan Fonda, “Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan mungkin,” 12 Angry Men hanya ingin membuktikan sebuah kasus sederhana, dengan pemecahan yang tak kalah sederhana, tetapi bisa membuat semua orang bertindak main hakim sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang merupakan pencapaian brilian adalah bagaimana dua belas tokoh dalam film ini begitu hidup. Kita ambil contoh seperti film pertama X-Men yang justru kewalahan memperkenalkan tokoh-tokohnya sehingga ceritanya tidak berkembang. Atau banyak juga contoh film yang justru tidak bisa mengurus tokoh utamanya yang hanya berjumlah empat. Dalam 12 Angry Men, kita tidak hanya tahu, tapi kita juga menyadari bahwa ada dua belas kepribadian berbeda yang terlibat dalam satu kasus, dalam satu ruangan. Itu adalah sebuah sihir yang bekerja pada pekerjaan jenius Lumet, yang membuat film 12 Angry Men muncul sebagai sebuah drama yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti salah satu tokoh favorit Saya, juri nomor 4 (E.G. Marshall). Dia adalah salah satu tokoh paling dingin, sangat sulit berkeringat (walaupun sudah memakai jas). Memakai akal sehat dan mencoba sama sekali tidak melibatkan emosi dan perasaan sentimentil terhadap si tersangka. Dia begitu yakin bahwa si tersangka bersalah—berdasarkan logika. Tetapi, tetap menghormati keputusan anggota juri lain—juga seperti juri nomor satu (Martin Balsam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juri nomor sepuluh (Ed Begley), seorang pria rasis dan pemarah. Saya hampir lupa mengatakan bahwa kedua belas pria ini berkulit putih, dan si tersangka bukanlah orang amerika asli. Juri nomor sepuluh sering melimpahkan kesalahan si tersangka dengan alasan, “Dia terlahir sebagai seorang pembohong,” Dan ironisnya, seorang juri yang duduk disebelahnya, juri nomor sembilan (George Voskovec), adalah seseorang yang terlihat bukan asli amerika juga—Saya melihat wajah dan logatnya. Ketika Saya sudah menganggap film ini adalah sebuah karya cerdas dan realistis, Saya merasakan film ini siap untuk direnungkan lebih jauh lagi. Lantas muncul di pikiran Saya bahwa mungkin si juri nomor sembilan merasakan sakit hati atas perkataan juri nomor delapan. Ia hanya memendamnya—dan mencoba tidak memperlihatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak tokoh yang menarik. Seperti juri nomor dua (John Fiedler) yang terkesan lemah dan kutu buku, ada juri nomor empat (Jack Klugman)—si kurus yang pemarah. Juri nomor tujuh yang tidak sabar ingin menonton base ball. Juri nomor sembilan sebagai yang orang paling tua di sana—belum tentu orang paling bijak. Juri nomor tiga masih tokoh favorit Saya di sepanjang film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini memang siap untuk direnungkan lebih jauh seperti yang Saya katakan tadi. Ketika logika berjalan, semua orang tidak bisa menghindari fakta. Itu salah satu faktor yang membuat 12 Angry Men semakin menarik untuk diikuti. Kasus dibangun oleh Rose secara manusiawi. Dan Lumet membangun emosi dalam film dengan baik sehingga membuat film ini semakin lama semakin menegangkan. Salah satu film paling menghibur yang paling memuaskan selera Saya. Bisa saja Saya (atau juri nomor tiga maupun empat) katakan tidak mungkin ada seseorang yang melupakan judul film yang mereka tonton di bioskop belakangan ini. Atau bisa saja gaya menusuk si bocah berbeda dengan gaya tarung pisau. Akhirnya semua itu kembali ditepis dengan pernyataan karakter Fonda, “Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan mungkin,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit memperhatikan penempatan kamera dan hasil pekerjaan Boris Kaufman. Satu ruangan untuk satu film. Diatur sedemikian rupa. Tidak mewah, kipas angin sulit dihidupkan, keadaan tidak rapi. Menimbulkan kesan gerah di hari terpanas tahun itu. Semua orang berkeringat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;12 Angry Men bukan hanya sebuah film, tetapi sebuah pengalaman. Mungkin saja To Kill A Mockingbird lebih menjadi favorit semua orang (dan American Film Institute) ketimbang film ini. Tapi Saya yakin sekali, 12 Angry Men sanggup memberikan sesuatu yang berbeda yang tidak dapat dicari dari film lain. Ini adalah salah satu film paling memuaskan menurut pandangan pribadi Saya. Untuk berbagai alasan yang Saya beberkan di atas, mungkin Saya tidak akan bosan menonton film ini hingga untuk ke dua belas kalinya. Tanpa keraguan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2317918344307339559-1890835449501042926?l=erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/feeds/1890835449501042926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2317918344307339559&amp;postID=1890835449501042926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1890835449501042926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2317918344307339559/posts/default/1890835449501042926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2008/09/12-angry-men.html' title='12 Angry Men'/><author><name>Erdiawan Putra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_KjmHHyFGiHg/S-7l3pXFMRI/AAAAAAAAAC4/OCXXmwb0iis/S220/image201005130014sdgsdg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2317918344307339559.post-5749651379474814245</id><published>2008-09-05T08:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T12:22:23.270-07:00</updated><title type='text'>Crumb</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Nilai: A+&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/ / / 5 September 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994&lt;br /&gt;Sony Pictures Classic&lt;br /&gt;Jenis: Dokumenter&lt;br /&gt;Sutradara: Terry Zwigoff&lt;br /&gt;Pemain: Robert Crumb&lt;br /&gt;Musik: David Boeddinghaus&lt;br /&gt;Durasi: 119 menit&lt;br /&gt;MPAA Rating: R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dari popularitas film ini. Di Indonesia, Crumb bukan film yang terkenal. Dirilis terbatas di Amerika. Bahkan Saya tidak akan pernah tahu film ini jika seseorang tidak memberi tahu keberadaan film ini. Lantas Saya juga jarang melihat Crumb digunakan sebagai refrensi yang dibuat pengamat film (khususnya dokumenter) di Indonesia. Sebabnya sangat sederhana: Mereka belum menonton film ini. Saya beruntung bisa mengetahui Crumb. Ternyata, itu salah satu film (dokumenter) paling hebat yang pernah dibuat. Mengerikan dan memiliki energi. Sebuah film yang akan selalu tertanam dalam fantasi Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Crumb adalah salah satu komikus paling terkenal era 60-70an. Untuk di dunia, namanya kalah akrab dengan Stan Lee. Crumb bukanlah penulis komik pahlawan super. Tidak ada Spider-Man atau Iron Man dalam karyanya. Dia malah memilih untuk membuat tokoh yang absurd dan tidak ingin dilihat. Bahkan karya-karyanya cenderung mengarah pada kritik sosial, humor satir dan pornografi. Yang ada dalam fantasinya adalah wanita burung besar, negro telanjang, wanita tanpa kepala, dan hal-hal aneh lainnya. Biasanya dia menggambar dengan sedikit manipulasi untuk memperbesar kaki, pantat dan payudara. Meski demikian, Crumb ternyata pria yang terkenal dengan: 1) Logo “Keep on Truckin” 2) Mr. Natural 3) Fritz the Cat. Film ini mengulas sejarah dan pengaruh Robert Crumb hingga secara intim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terry Zwigoff sudah kenal Crumb sejak lama. Dia hampir bunuh diri dan Crumb menyelamatkannya dengan cara membiarkan dirinya difilmkan—Crumb juga menyelamatkan hidup banyak orang melalui goresan penanya. Saya melihat Zwigoff tidak membuat film ini begitu stylish, hingar bingar, dan penuh humor seperti karya Michael Moore. Gaya film ini seperti rekaman handycam (apa Saya benar?). Musiknya sebagian besar hanyalah bunyi piano—dan theme-nya sangat menghantui. Zwigoff tidak menjelma menjadi sineas berselera humor. Tetapi kunci keberhasilan film juga terdapat pada Robert Crumb yang berbicara seperti tidak ada kamera, tidak tahu malu, menjadi diri sendiri, dan dialah yang memancing humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua fantasi Robert datang dari masa lalunya yang tidak bersahabat. Mempunyai ibu seorang pecandu, dan ayahyang sadis dan seperti tyrant. Robert, bersama dua saudara laki-lakinya, Charles (yang tertua), dan Max, hidup dalam dunia komik—dua saudarinya menolak untuk ikut direkrut dalam film. Charles adalah penyebab Robert suka membuat komik. Dia pernah membuat komik sendiri. Tapi sekarang, diantara mereka bertiga, hanya Crumb lah yang kaya dan terkenal. Charles yang dulunya tampan, sekarang menjadi tambun, kehilangan minat membuat komik dan tinggal bersama ibunya, tidak pernah meninggalkan rumah—sampai akhirnya bunuh diri setahun setelah difilmkan. Max tinggal di San Francisco, mengisolasi diri, meditasi dengan duduk berjam-jam di atas papan berisi paku. Mereka berdua tipe manusia anti-sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti masa kecil Saya, Saya juga tumbuh sebagai pengkhayal seperti mereka bertiga. Saya mungkin bisa menjadi Robert atau berakhir dengan bunuh diri seperti Charles. Untungnya Saya tetap tegar karena kondisi keuangan keluarga Saya jauh lebih mapan ketimbang keluarga Crumb di masa lalu. Saya merasa beruntung. Bagaimana ternyata reaksi orang tua Robert melihat pekerjaannya? Hasil pekerjaan pertama Crumb (dia juga mendapat rilis pertama komik underground Zap Comics), membuat ayahnya tidak mau berbicara lagi dengannya. Dan Robert tidak bisa disalahkan akan hal itu. Masa lalunya membuat dia, Charles dan Max menjadi terobsesi dengan seks. Biasanya Robert juga mendapatkan inspirasi dari fantasi seksnya. Robert sempat mengakui bahwa sewaktu kecil, dia pernah  tertarik secara seksual oleh karakter Bugs Bunny, lantas beralih pada Sheena, Queen of the Jungle. Dan dia pernah menjadi compulsive mastubator—suatu masa dimana ia masturbasi 4 sampai 5 kali sehari. Dan Charles juga masturbasi 4 sampai 5 kali seminggu pada masa remajanya, sehingga ia tidak pernah terangsang lagi sekarang, dan yang paling mengerikan, ia tidak yakin ingin kembali tertarik dengan seks—dia masih perjaka, tidak pernah melakukan hubungan seks seumur hidupnya. Satu hal sebagai bukti nyata akibat kondisi keluarga yang tidak bahagia, baik Crumb maupun Saya tidak pernah merasakan cinta terhadap lawan jenis. Tidak merasakan cinta atau cemburu. Hanya ketertarikan secara seksual. Baiklah cukup tentang masa lalu Saya. Itu hanya untuk menggambarkan bagaimana Saya melihat keluarga Saya melalui layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Crumb tidak hanya hadir sebagai sosok aneh dibalik cerita anehnya. Dia juga adalah sosok eksentrik di kehidupan nyata. Berdasarkan nara sumber lainnya (mantan pacar, mantan istri, dan istrinya sekarang), Crumb adalah pria yang agak aneh
