/ / / 18 September 2008
Oleh Erdiawan Putra
2008
Dreamworks
Jenis: Aksi, komedi (animasi)
Sutradara: Mark Osborne dan John Stevenson
Pengisi Suara: Jack Black, Dustin Hoffman, Ian McShane, Angelina Jolie
Penulis: Jonathan Aibiel, Glenn Berger
Musik: Hans Zimmer & John Powell
Durasi: 91 menit
MPAA Rating: PG
Untuk tahun ini, ada dua film animasi besar dari studio animasi raksasa bersaing memanaskan ajang musim panas. Dreamworks tampil dengan Kung Fu Panda menaruh slot lebih awal dibanding Wall-E milik Pixar—tetapi Saya menonton Wall-E lebih awal. Ada dua hal kontras dari keduanya: Dreamworks memasang nama-nama beken untuk mengisi suara tokoh-tokoh kartunnya. Dan tema Kung Fu Panda sangat menarik perhatian sejak tahun lalu. Wall-E adalah film nyaris bisu dan ceritanya sekilas kurang menarik—tetapi untuk filmgoer, Pixar tidak perlu promosi untuk membuat filmnya laris. Saya pun percaya pada Pixar.
Memang sosok Panda gendut selalu enak dijadikan bahan olok-olok. Cerita tentang seekor Panda yang terpilih sebagai ahli kung fu jauh lebih menarik dan lucu bagi anak-anak. Dengan promosi jor-joran, walhasil Kung Fu Panda adalah film summer paling terkenal nomor dua di Indonesia setelah The Dark Knight. Semua yang perlu Anda lakukan adalah duduk tenang, bawa pop corn dan soft drink, ajak seluruh anggota keluarga menonton film ini. Anak-anak Anda pasti sangat menyukainya.
Ada kelemahan terbesar film ini: Kung Fu Panda hanya akan terlihat sangat hebat di mata anak-anak saja. Sebuah fabel yang sangat kekanak-kanakan. Menurut Saya pribadi, filmnya bagus, tetapi tidak akan pernah menjadi film luar biasa—walaupun ini adalah film Dreamworks paling menghibur sejak Shrek. Seperti kebiasaan Dreamworks, mereka ingin membuat animasi seperti sebuah serial kartun di tayangan televisi, bukan ingin membuat seperti sebuah cerita rakyat. Hantam sana-hantam sini, humor sana-humor sini, semua orang tertawa. Untuk saat ini, Saya lebih suka film yang membuat Saya sadar apa pesan yang ingin disampaikan para animator. Sebuah film yang membuat Saya tertawa, simpati, merasakan, berpikir dan merenung. Kung Fu Panda belum masuk ke dalam kategori itu.
Diceritakan di suatu tempat di cina, Valley of Peace, hidup seekor panda gendut, Po (Jack Black), yang bermimpi untuk menjadi seorang ahli kung fu. Po bekerja di sebuah rumah makan spesialis mie bersama seekor unggas (James Hong) yang disebutnya ayah (Mengingatkan Saya terhadap film silat cina dulu. Apa bibi yang dipanggil Wong Fei Hung benar-benar bibi baginya?). Di sisi lain, seekor kura-kura tua ahli kung fu, Oogway, memberi tahu Master Shifu (Dustin Hoffman) bahwa harimau besar jahat Tai Lung (Ian McShane) akan berhasil lolos dari penjara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diadakan sebuah pemilihan seseorang yang akan menjadi Pendekar Naga. Lima murid Master Shifu (yang masing-masing mewakili sebuah gaya silat): Macan betina (Angelina Jolie), Bangau (David Cross), Belalang (Seth Rogen), Ular (Lucy Liu) dan Kera (Jackie Chan) ikut berpartisipasi dalam ajang itu. Namun kenyataannya, Oogway justru memilih Po yang tidak bisa melakukan apa-apa selain makan, memasak dan bercanda sebagai sang pendekar Naga—sesuatu yang sangat tidak disetujui Shifu.
Dari awal film yang divisualisasikan dengan grafis 2D, cerita bisa ditebak sampai ke endingnya. Bahkan nilai moralnya pun sudah terbaca hanya dari judulnya saja. Untuk bisa percaya, Saya bisa saja bertanya: mengapa Oogway harus menunjuk Po? Apa karena mata Oogway sudah buram atau karena Po kelebihan lemak? Tidak ada gunanya merenungkan hal itu. Beruntung Kung Fu Panda punya humor dan Jack Black untuk membuat filmnya tetap menarik untuk diikuti.
Akan ada banyak sekali adegan silat yang dengan koreografi menarik dan lucu. Seperti sebuah adegan terbang yang mengingatkan Saya pada Crouching Tiger Hidden Dragon (pedang yang dibawa Po di awal film bukankah terlihat seperti Green Destiny milik Li Mu Bai?). Diakhiri dengan final battle antara Tai Lung dengan Po. Mengejutkan ternyata Kung Fu Panda lebih “cina” dibandingkan The Forbidden Kingdom. Score yang disusun berdasarkan kebudayaan tradisional cina, kembali mengingatkan Saya pada film-film silat cina terutama garapan Ang Lee tadi.
Dari pertama kali diumumkan judul Kung Fu Panda, rasanya tidak masuk akal jika Dreamworks tidak mengajak Jack Black. Cocok atau tidak, gambaran Panda dalam film ini begitu dekat dengan Jack Black yang gendut. Jack Black dengan suara khasnya mampu membuat tokoh Po tidak mati rasa.Dustin Hoffman mengisi suara orang bijak dalam film ini. Suara dingin Angelina Jolie pas dengan tokoh macan yang dibawakan. Begitu juga dengan Ian McShane. Merupakan fakta menarik ternyata vokal berat Seth Rogen, Lucy Liu dan terutama Jackie Chan tidak banyak bersuara untuk film ini. Sedikit menyinggung ras, dalam cerita fabel ini, ada sekelompok badak yang menjaga penjara tempat Tai Lung di tahan. Itu Saya pikir seperti kaum negro di dunia nyata. Michael Clarke Duncan adalah pengisi suara sang pemimpin badak.
Untuk Saya yang pernah mencicipi berbagai jenis humor, candaan-candaan yang dilempar Kung Fu Panda sebenarnya klise, tetapi tetap ampuh. Anak-anak sangat suka gaya slapstick. Beberapa membuat Saya tertawa. Sebagian lagi memang sudah dapat diprediksi sebelumnya. Bagi yang tidak setuju dengan pendapat Saya, Saya sering mendengar Kung Fu Panda sebagai bahan obrolan orang-orang sekitar. Sejauh ini, mereka semua sangat puas dan senang untuk tertawa selama 90 menit melihat Po membawa perut besarnya.

Jack Black menyuarakan ahli kung fu dalam Kung Fu Panda

4 komentar:
"Untuk saat ini, Saya lebih suka film yang membuat Saya sadar apa pesan yang ingin disampaikan para animator. Sebuah film yang membuat Saya tertawa, simpati, merasakan, berpikir dan merenung. Kung Fu Panda belum masuk ke dalam kategori itu."
Really?
Apa alasan Dreamworks menunjuk sosok Panda sebagai tokoh Po?
Apakah diperuntukkan hanya untuk mengundang tawa dengan perutnya yang gendut?
Bukankah masih banyak hewan-hewan gendut lain yang,dengan sentuhan tangan para animator handal bisa menjadi obyek yang mengundang tawa?
Mengapa seekor kura-kura yang dikenal lamban ditunjuk sebagai master kungfu?
Kenapa akhirnya Oogway menunjuk Po?
How about Shifu?
Kenapa badak yang mewakili para penjaga penjara?
Apakah benar mewakili ras kulit hitam?
(saya tidak mau menyinggung kata "negro" mengingat konsekuensinya).
Dan,kenapa harus Kung Fu?
Pertanyaan2 saya terlihat sepele,tapi itulah yang diinginkan Dreamworks agar kita dapat menerjemahkan arti filosofis dari film ini.
Awalnya saya terjebak dengan aksi-aksi humoris yang diusung oleh Po dan kawan2nya. Namun setelah menonton ulang 6 kali,saya baru memahami pesan apa yang ingin disampaikan oleh Dreamworks.
Proses casting film2 Hollywood sangat jauh berbeda dengan di Indonesia,pak.
Pemilihan karakter yang akan digunakan dalam sebuah film tidak menggunakan sistem random.
Hal ini berlaku juga pada film2 animasi.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari karakter yang paling tepat.
Dan, tidak mudah untuk mendapatkan penafsiran yang jelas dari sebuah film apabila anda bahkan tidak dapat memahami setiap karakter dalam film ini.
Saya tidak banyak berbicara mengenai film secara technical karena saya melihat film tidak hanya sebagai bentuk entertainment,tapi juga sebagai apresiasi seni dan filsafat.Orang2 di belakang layar perfilman Hollywood memiliki sense of art yang tinggi dan daya analisa yang akurat,jauh berbeda dengan orang2 yang ada di PH2 ingusan yang menjamur di negara ini.
"Saya tertawa, simpati, merasakan, berpikir dan merenung.Kung Fu Panda belum masuk ke dalam kategori itu."
Maksudnya?
Kalau anda tidak bisa berpikir setelah anda menonton Kung Fu Panda,bagaimana anda dapat menulis kritik tentang film ini?
Kalau anda tidak berpikir,jelas anda tidak akan bisa merenung,merasakan,tertawa dll.
Pahami definisi dari setiap kata,baru anda bisa mengucapkan atau menuliskannya.
Saya punya banyak sekali buku2 pengantar filsafat, seni dan film yang mungkin perlu anda baca.
Thanks
Terima kasih sekali atas respon Anda. Saya sangat mebghargainya.
Pertama, sebenarnya lucu juga mengkritik sebuah kritik.
Baiklah, Kung Fu Panda itu adalah tipikal film dreamworks biasanya (Saya kira Saya tidak perlu menjelaskan ke Anda lagi). Dreamworks memang tidak hanya kartun...ia memiliki sindiran dan apa yg Anda sebut filsafat.
Untuk mengerti yang Anda mengertikan dalam Kung Fu Panda mungkin tidak perlu sampai menonton 6 kali. Karena pesan moral dan filsafatnya sangat jelas sekali terlihat. Tapi memang semakin kita mengerti sebuah film, interpretasi kita semakin dalam DAN interpretasi Anda pun belum tentu sama dengan sketsa yang dibuat sang kreator.
"Saya tertawa, simpati, merasakan, berpikir dan merenung.Kung Fu Panda belum masuk ke dalam kategori itu."
Saya harap Saya tidak berbicara dengan pembenci Pixar.
Tentu Saya berpikir saat mencerna sebuah film. Entah karena Saya terlalu serius saja Saya sampai tidak bisa menikmati candaan-candaan khas dreamworks yang kartunis.
Anda pasti tahu Pixar membuat penontonnya terpukau dengan cerita dan pesan yang ada di dalamnya (maka dari itu disebut idealis). Dreamworks...dia memang membuat pesan moral (film kartun, film anak-anak, film slogan). Tetapi lihat lagi sekali...seberapa dalam pesan yang dibawa Kung Fu Panda?
Semua juga bisa ditemukan di fabel-fabel di seluruh dunia. Kalaupun Anda bisa menyambung-nyambungkan interpretasi di otak Anda sendiri, itu tetap tidak membuat Saya menjadi membanggakan Kung Fu Panda. Bagaimana bisa Saya menyukai film yang memuuat Saya lelah dalam menontonnya?
Semua itu masih kembali ke masalah selera. Saya tidak suka Kung Fu Panda. Lantas apa Saya bisa disalahkan? Roger Ebert tidak bisa menangkap interpretasi A Clockwork Orange...apakah Anda juga mau mengirim buku-buku filosofi Anda ke Chicago???
(Dan satu lagi: justru karena kita tidak berpikir saat menonton Kung Fu Panda, kita menjadi semakin terhibur. Kung Fu Panda tidak sama dengan komedi-komedi cerdas)
Well...
Saya tidak menuntut semua penonton untuk mengerti filosofi dari film Kung Fu Panda. Bagaimanapun,film ini dibuat untuk segala umur. Adalah bergantung pada keahlian animator untuk dapat merealisasikan pesan moral yang ingin disampaikan melalui animasi sehingga mudah dicerna oleh anak2 sekalipun.
Idealis.
Semua artists (termasuk movie makers) adalah idealis. Kalau tidak idealis,tidak akan tercipta sebuah film.
So....bukan hanya Pixar yang idealis.
Memang betul,pada saat pertama kali menonton sebuah film kita bisa mendapatkan pesan moral yang ingin disampaikan oleh film tersebut.Saya menyebutkan 6 kali menonton Kung Fu Panda bukan karena saya mencintai film ini,tapi karena saya ingin menemukan arti filosofis yang sesungguhnya dari film ini. Karena bagaimanapun,film ini berakar dari kebudayaan Cina yang kaya akan pemahaman filsafat.
Saya tidak menuntut semua kritikus untuk memahami filosofi dari sebuah film sampai sedalam itu. Hanya saja,seandainya mereka mau lebih peka,mereka akan mendapati keindahan penafsiran dalam film tersebut
yang mungkin belum mereka temukan.
Ini adalah perspektif saya pribadi. Dan tentu saja,semua orang memiliki perspektif yang berbeda2 pada sebuah film. Adalah wajar apabila saya memiliki perbedaan pendapat dengan mas Joko,mas Yan,mas Ade bahkan Roger Ebert sekalipun. Karena kritikus memiliki karakter yang independen.
Mereka memiliki perbedaan pendapat,tapi mereka sangat mengerti KATA-KATA yang mereka ucapkan/tulisan. Sehingga saya tidak perlu mengirimkan buku2 filsafat kepada mereka.
Maaf, mungkin saya memang terlalu sensitif dengan definisi sebuah kata. Dan saya peka terhadap karakter peran karena lebih banyak berkecimpung dalam dunia casting. Bukan di negara ini.
Semua orang yang saya sebutkan di atas tahu betul opini2 saya. Dengan senang hati saya akan mengundang anda untuk berdiskusi bersama. Anytime.
Senang berkenalan dengan ANda yang bekerja di bagian casting di luar negri. Bagaimana bisa bertemu langsung? Berhubung lapangan kita sangat jauh.
Sebelum itu, Saya mau bertanya...filosofi apa yang Anda dapatkan setelah 6 kali menonton?
Coba kita liat seberapa jauh yang Anda dapat.
DAN
Kata-kata mana dari Saya yang tidak Anda mengerti? Jika saja kalau itu bukan karena penyusunan kalimat yang amburadul, Saya pasti masih ingat apa yang Saya tulis.
coba cek quote ini dari Ebert:
"The story then becomes essentially a series of action sequences, somewhat undermined by the fact that the combatants seem unable to be hurt, even if they fall from dizzying heights and crack stones open with their heads. There's an extended combat with Tai Lung on a disintegrating suspension bridge (haven't we seen that before?), hand-to-hand-to-tail combat with Po and Tai Lung, and upstaging everything, an energetic competition over a single dumpling.
"Kung Fu Panda" is not one of the great recent animated films. The story is way too predictable, and truth to tell, Po himself didn't overwhelm me with his charisma. But it's elegantly drawn, the action sequences are packed with energy, and it's short enough that older viewers will be forgiving. For the kids, of course, all this stuff is much of a muchness, and here they go again."
dan
"Pixar’s “WALL-E” succeeds at being three things at once: an enthralling animated film, a visual wonderment and a decent science-fiction story. After “Kung Fu Panda,” I thought I had just about exhausted my emergency supply of childlike credulity, but here is a film, like “Finding Nemo,” that you can enjoy even if you’ve grown up. That it works largely without spoken dialogue is all the more astonishing; it can easily cross language barriers, which is all the better, considering that it tells a planetary story."
Bagaimana pendapat Anda?
Betul kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk berpikir seperti kita (sebuah filosofi hidup)...di film, semakin kita tahu soal film...justru kita semakin sering memuji flm itu karena kita mengerti mengapa film itu dibuat. Seseorang mengajarkan Saya soal itu. Apa semua orang bisa menemukan letak fun dari Mummy 3? Tidak kan? Mungkin hanya Ebert yang tahu. Apa semua orang bisa menangkap pesan dari War of the Worlds dengan penyampaian yang begitu megah oleh Spielberg? COba hitung dengan jari...
Anda tidak perlu mengirim buku-buku Anda karena mereka pasti tau apa yang mereka perbuat lewat kata-kata. Anda cukup menyampaikan apa filosofi yang Anda dapat. Lihat...apakah orang-orang setuju atau justru menganggap Anda bergerak terlalu jauh.
Sehubungan dengan itu dan idealisme...Wall-E boleh lah dicap terlalu ambisius oleh M2...tapi dimana lagi kita mendapat arti bahwa sau tumbuhan kecil bsa menyelamatkan seisi bumi ini tanpa harus berpikir keras bahwa itu adalah sebuah pesan?
Jika Filsafat yang Anda temukan itu jauh lebih banyak dari yang Saya dapat...bukan berarti Saya yang bodoh, atau Anda yang hebat.
FILM BAGUS TIDAK HARUS BERAT. Justru yang sederhana, terarah dan sukses menyalurkan pesan dan "filsafat" nya lah yang lebih menarik. Saya melihat di situ letak perbedaan idealisme Wall-E dan Kung Fu Panda. Jika di Wall-E sudah seperti 2001: A Space Odyssey, Kung Fu Panda masih terlihat seperti fabel biasa.
Dan Saya harap Anda bukanlah pro Hollywood seperti salah satu pemberi respon di blog ini pada halaman The Mummy: Tomb of the Emperor Dragon. Karena sangat tidak bijak untuk memuja-muja Hollywood sementara begitu merendahkan Indonesia. Mungkin orang-orang Hollywood punya sense of art yang lebih tinggi...dan dimana-mana...industri film (terutama film pop corn seperti Kung Fu Panda) adalah uang.
Poskan Komentar