Sabtu, 01 Mei 2010
The Ghost Writer (2010)
Date Night (2010)
Nilai: B
Sutradara: Shawn Levy
Dalam film action-romantic-screwball comedy ini, dua bintang TV top, Steve Carrell dan Tina Fey, berperan sebagai Phil dan Claire Foster, pasangan suami istri membosankan asal New York yang pada suatu malam kencan, kesalahan pahaman tentang pencurian flashdrive membuat mereka harus berhadapan dengan mafia. Itu adalah pengalaman unik yang tidak terlupakan bagi mereka, sekaligus pengalaman menontonyang cukup lucu dan menghibur bagi kita, penonton. Steve Carrell dan Tina Fey adalah kunci dari atmosfir humor film ini. Kalaupun humor-humor di film ini terasa kering, paling tidak Carrell dan Fey membawakannya secara lepas sehingga tetap saja kelihatan menyenangkan. Yang menarik di sini adalah pengembangan plot yang unik, di sepanjang penyelidikannya, pasangan Foster bertemu beberapa pasangan sebagai refleksi kehidupan rumah tangga mereka (diperankan banyak cameo), dan seorang ahli senjata berotot yang tidak pernah memakai baju (Mark Wahlberg). Tentu sangat menyenangkan sekali menghabiskan waktu di bioskop untuk melihat kolaborasi Carrell-Fey yangs sangat komikal dan menghibur dalam satu layar. (1 Maret 2010)
Ip Man 2 (2010)
Iron Man 2 (2010)
Nilai: D
Sutradara: Jon Favreau
Iron Man pertama tidak hanya film yang menghibur, tetapi juga film yang memiliki kualitas. Saya cinta itu. Sayang sekali Iron Man 2 hanya mengulang kembali film pertamanya-seolah-olah film ini hanya menjual sosok War Machine saja, dan anehnya justru menghilangkan poin-poin yang membuat Iron Man pertama banyak menuai pujian. Kali ini, superhero narsis Tony Stark (Robert Downey Jr.) harus berhadapan dengan pesaing bisnisnya di bidang persenjataan, Justin Hammer (Sam Rockwell), yang bekerja sama dengan fisikawan asal Rusia, Ivan Vanko (Mickey Rourke) yang belakangan menjadi Whiplash. Salahkan naskahnya yang ditulis oleh aktor-menjadi-penulis naskah baru Justin Theroux. Sifat narsis Favreau mulai berkembang, disalurkan dengan menjadi Jar Jar Binks film ini. Plotnya datar dan sama sekali tidak memiliki pondasi yang kokoh. Ditambah dengan diselipkannya banyak sub plot kurang penting yang dipanjang-panjangkan, membuat cerita filmnya tampak ditulis ngawur. Ada yang ingat panjangnya sequence Grand Prix (terlihat di trailernya) yang dijaga oleh satpam-satpam yang lebih memilih mengamankan penonton daripada menolong Tony yang siap dibantai di tengah arena? Atau ulang tahun Stark? Theroux terlalu menggampangkan semuanya sampai mematikan logika film ini sendiri. Di film pertamanya, karakter Tony dibuat justru lebih menarik daripada Iron Man itu sendiri, namun di sini sama sekali tidak terlihat ada perkembangan yang menarik dari Tony. Dan sang antagonis, Hammer…siapa Dia lagi? Oh, hanya pesaing bisnisnya. Dan pameran CGI, yea, pertempuran robot-robot yang sangat panjang di akhir film dengan eksekusi secepat kilat. Sangat membosankan dan tidak ada yang menarik untuk disaksikan lagi. (30 April 2010)
Clash of the Titans (2010)
Nilai: B-
Sutradara: Louis Leterrier
Remake dari film tahun 1981 yang berjudul sama. Clash of the Titans adalah re-imagine dari kisah manusia setengah dewa, Perseus (Sam Worthington). Diceritakan ayah kandung Perseus, Zeus (Liam Neeson), murka karena manusia-manusia yang ia ciptakan kini menantangnya. Ia mendengarkan saran adiknya, Hades (Ralph Fiennes) untuk melepas monster laut Kraken yang akan menghancurkan kota Argos atau kurban berupa putri Andromeda (Alexa Davalos) sebagai gantinya. Apa yang tidak Saya suka dari film aslinya, sudah diperbaiki di versi remakenya. Petualangan Perseus dengan fellowshipnya sudah jauh tampak serius dan meyakinkan. Dan akhirnya si burung hantu robot Bubo hanya tampil sebagai cameo di sini. Tentu di sini terlihat kalau film ini banyak memiliki perubahan dari versi aslinya. Personil fellowship yang lebih berperan termasuk love interest yang diganti menjadi wanita awet muda, Io (Gemma Artherton) dan lain-lain. Arti Clash di sini berhubungan dengan politik para Titans di Olympus. Sejujurnya, untuk latar belakang konfliknya, kali ini Saya lebih suka jika mereka memakai plot aslinya. Persamaannya tentu kedua film ini sama-sama pamer efek visual-dimana ada kemajuan pesat dalam bidang teknologi selama hampir 30 tahun. Dan lihat adegan Medusa yang sekarang cantik dan semakin berbahaya. Standar tapi menghibur, Saya lebih versi ini dibanding pendahulunya. (30 April 2010)
Clash of the Titans (1981)
Nilai: C+
Sutradara: Desmond Davis
Ini adalah salah satu film paling terkenal dari produser/ahli efek visual stop motion Ray Harryhausen yang tahun ini. Temanya sangat menarik, mengisahkan ulang cerita seorang manusia setengah dewa, Perseus (Harry Hamlin), yang terkenal dilukiskan sedang mengangkat kepala Medusa. Ya, Perseus akan menghadapi Medusa berwajah mengerikan (itu menjadi salah satu sequence yang sangat memorable sampai sekarang) untuk menyelamatkan seorang putri, Andromeda (Judi Bowker), yang akan dijadikan kurban untuk raksasa laut Kraken. Akan ada banyak sekali makhluk mitologi yang dipamerkan dengan efek stop motion yang terkadang terlalu berlebihan. Satu hal di film ini yang Saya suka adalah kondisi dewa-dewa di Olympus benar-benar “clash”. Semua dewa terlihat egois terutama pertikaian antara Zeus (Laurence Olivier)-yang merupakan ayah kandung Perseus-, dengan Thetis (Maggie Smith). Di sisi lain, Saya selalu merasa film ini dibuat terlalu konyol, kekanak-kanakan (tetapi mempunyai pemandangan payudara dan pantat wanita) dengan banyak lemparan humor kering bagi sebagian penonton dewasa dan bagian terburuknya adalah penampilan seekor robot burung hantu (robot di jaman itu!?) bernama Bubo. Sebagai penonton yang sekarang sudah bertambah dewasa, Saya sekarang kurang bisa menikmati film ini lagi. Film ini dibuat ulang untuk rilis tahun 2010. (30 April 2010)
How to Train Your Dragon (2010)
Nilai: A
Sutradara: Dean DeBlois & Chris Sanders
Dengan mudah Saya bisa mengatakan kalau How to Train Your Dragon adalah film terbaik yang pernah diproduksi oleh Dreamworks Animation. Saya yang tidak pernah menjadi fans animasi-animasi dreamworks yang biasanya tumpul dan terlalu kekanak-kanakan, tapi sekarang merasa cukup terkejut dengan kisah film ini yang sangat menyentuh hati tanpa perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya lebih untuk versi 3D nya. Dreamworks seperti sudah belajar mengapa animasi Pixar begitu dicintai sampai saat ini. Ceritanya sangat sederhana. Tentang remaja bernama Hiccup (Jay Baruchel), satu-satunya personil bangsa Viking yang tidak punya nyali dan kemampuan untuk membunuh naga. Sampai akhirnya ia bersahabat dengan seekor naga jenis misterius Nightfury yang dinamainya Toothless (Ompong). How to Train Your Dragon memiliki semua yang diharapkan dari sebuah film animasi. Ia memiliki cerita yang menarik tentang keluarga dan persahabatan dengan hewan. Adegan aksi yang sangat menghibur dan memanjakan mata. Serta hubungan antar Hiccup dan si Ompong yang sangat hangat, tentunya menyentuh penonton di semua umur dan khususnya anak-anak akan bermimpi memiliki seekor naga sebagai hewan peliharaan.